Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 48


”Mengapa? Laki laki itu egois. Memang teman bergaul yang baik, tapi...” Ryan tidak menerus­kan kata katanya. Lalu ia bertanya, ”Bagaimana pendapatmu mengenai Hamilton, Amy?”


”Pendapatku?” Amy berpikir sebentar. Akhir­nya ia


berkata, ”Kurasa aku menghormatinya.” Ia merasa agak heran akan kata katanya sendiri.


”Menghormatinya? Kenapa?”


”Yah, dia pandai sekali dalam pekerjaannya.”


”Kau mengingatnya sebagai seorang dokter?”


”Ya.”


Mereka tak sempat berbincang lagi. Graciela akan mengantar Amy kembali ke London dengan mobilnya. Ryan akan kembali ke The Blossom


untuk makan siang sebentar, dan setelah itu berangkat naik ke­reta api petang bersama dengan Shawn. Sepintas lalu Ryan berkata pada Amy, ”Kapan-­kapan kau harus keluar untuk makan siang.”


Amy berkata bahwa ia akan se­nang sekali, tapi ia tak bisa keluar lebih lama dari satu jam.


Ryan tersenyum manis padanya, ”Oh, itu akan merupakan kesempatan khusus. Aku yakin mereka akan mengerti.”


Lalu Ryan pun pergi menghampiri Graciela. ”Aku


akan meneleponmu, Graciela.”


”Ya, teleponlah, Ryan. Tapi mungkin aku akan


banyak keluar.”


”Keluar?”


Graciela tersenyum mengejek padanya.


”Untuk mengubur kesedihanku. Apa kau pikir aku


akan duduk saja di rumah dan bermuram durja?”


Lambat lambat Ryan berkata, ”Aku tak dapat memahamimu akhir akhir ini, Graciela. Kau lain sekali.”


Wajah Graciela melembut. Tanpa diduga, ia berkata, ”Ryan tersayang,” lalu cepat cepat


men­cubit lengannya.


Setelah itu ia berpaling pada Julia Cavendish, ”Aku


masih boleh datang kalau aku ingin, ya, Julia?”


”Tentu, Sayang. Lagi pula, dua minggu lagi akan ada panggilan lagi.”


Graciela pergi ke tempat ia memarkir mobilnya, di


lapangan pasar. Koper kopernya dan koper koper Amy sudah ada di dalamnya. Mereka masuk ke mobil, lalu berangkat.


Mobil itu mendaki jalan perbukitan yang pan­jang,


lalu keluar di jalanan, di tepi celah. Di bawah mereka, daun daun yang berwarna cokelat dan keemasan tampak bergoyang goyang sedikit di hari musim gugur yang dingin dan kelabu itu.


Tiba tiba Amy berkata, ”Aku senang kita su­dah


tidak di sana lagi dan juga sudah tidak berada di dekat Julia lagi. Meskipun dia baik sekali, ka­dang kadang dia membuatku takut.”


Graciela sedang melihat dengan tajam ke kaca spion mobil yang kecil.


Tanpa minat dia berkata, ”Julia memang suka berlebihan dalam bicara dan bahkan pada pembunuhan sekali­pun.”


”Tahukah kau, selama ini aku tak pernah memikirkan tentang pembunuhan.”


”Untuk apa? Itu memang bukan sesuatu untuk dipikir­­kan. Itu merupakan suatu perkataan yang terdiri atas sepuluh huruf, kalau kita harus mengisi teka teki silang, atau suatu hiburan yang


menye­nangkan untuk dibaca di buku. Tapi jika kejadian yang sebenarnya...”


Ia berhenti.


Amy menyambung, ”Sungguh sungguh nyata! Itulah yang mengejutkan kita”


”Kau tak perlu terkejut,” kata Graciela. ”Kau tidak


terlibat di dalamnya. Mungkin kaulah satu satunya


orang yang tidak terlibat.”


Kata Amy, ”Sekarang kita sudah berada di luarnya.


Kita sudah pergi.”


”Sudah pergi?” gumam Graciela.


Ia melihat ke kaca spion lagi. Tiba tiba ditekankannya kakinya ke pedal gas. Mobil bereaksi dengan cepat. Ia melihat ke spedometer. Mereka lari dengan kece­patan lebih dari enam puluh. Sebentar kemudian, jarum mencapai delapan puluh.


Amy menoleh ke samping, ke sosok Graciela.


Tidak biasanya Graciela mengemudikan mobil


de­ngan sembrono. Ia memang suka kecepatan, tapi jalan yang berliku liku ini tidak sesuai untuk ngebut. Dilihat­nya senyum kecut di bibir Graciela.


Kata Graciela, ”Coba kau menoleh ke bela­kang,


Amy. Kaulihatkah mobil yang jauh di be­lakang itu?”


”Ya.”


”Itu mobil Toyota.”


”Oh, ya?” Amy tidak berminat.


”Mobil mobil itu biasanya kecil, pemakaian


”Tidak cepat, ya?”


Heran, pikir Amy. Graciela selalu terpikat oleh


mobil mobil dan kemampuannya.


”Seperti kukatakan, mobil mobil itu tidak cepat,


tapi mobil yang itu, Amy , berhasil


mempertahan­kan jarak­nya, meskipun kita lari dengan kecepatan delapan puluh lebih.”


Amy menoleh padanya dengan terkejut.


”Apakah maksudmu...?”


Graciela mengangguk. ”Kurasa mereka polisi. Mereka menggunakan mesin mesin khusus untuk mobil mobil yang kelihatannya biasa biasa saja.”


”Maksudmu, mereka masih mengawasi kita semua?” tanya Amy dengan bingung.


”Kelihatannya begitulah.”


Amy merinding.


”Graciela, mengertikah kau mengenai revolver yang


kedua itu?”


”Tidak. Dengan demikian, Natasha bebas. Selain itu, hal tersebut tidak menambahkan apa-apa.”


”Tapi kalau itu satu di antara pistol pistol William....”


”Kita belum tahu apakah itu salah satu milik William atau bukan. Ingat, pistol itu belum ditemukan.”


”Ya, memang belum. Mungkin saja itu milik orang


luar. Tahukah kau siapa yang ingin kuba­yangkan telah membunuh Peter, Graciela? Perem­puan itu.”


”Karen Clark?”


”Ya.”


Graciela tidak berkata apa apa lagi. Ia mengemudi


terus, matanya memandang ke jalanan di


hadapan­nya.


”Apakah menurutmu, itu mungkin?” desak Amy.


”Ya, mungkin saja,” kata Graciela.


”Jadi kau tidak menduga...”


”Tak baik menduga sesuatu karena kita ingin menduga­nya. Yang penting adalah penyelesaian yang sempurna, hingga kita semua bebas!”


”Kita? Tapi...”


”Kita semua terlibat , ya, kita semua. Bahkan kau


pun terlibat, Amy tersayang, meskipun me­reka akan me­nemukan kesulitan besar untuk


mene­mukan motif mengapa kau menembak Peter! Aku ingin yang dituduh adalah Karen. Tak ada yang lebih menyenangkan hatiku daripada melihat dia memainkan sandiwaranya dengan bagus di tempat terdakwa, seperti kata Julia!”


Amy dengan cepat cepat melihat ke arahnya.


”Graciela, apakah semua ini membuatmu me­rasa


den­dam?


Maksudmu,” Graciela berhenti sebentar ”karena aku mencintai Peter?”


”Ya.”


Sambil berbicara, Amy menyadari dengan pe­rasaan


agak terkejut bahwa itulah pertama kalinya kenyataan itu diungkapkan dengan kata kata.


Me­reka semua, Julia dan William, Amy, bahkan


Ryan, telah menerima kenyataan bahwa Graciela mencintai Peter Hamilton.


Tapi tak seorang pun pernah mengungkapkan hal itu dengan kata kata, bahkan menyindirnya pun tidak. Tak ada yang berbicara. Graciela agaknya


se­dang berpikir. Lalu ia berbicara dengan suara


se­perti orang merenung, ”Tak dapat kujelaskan pada­mu bagaimana perasaanku. Mungkin aku sendiri pun tak tahu.”


Kini mereka sedang melewati Aston Bridge.


”Sebaiknya kau mampir ke studioku, Amy,” kata


Graciela ”Kita minum teh dulu dan makan , setelah itu kau kuantar ke rumahmu.”


Di London, cahaya petang yang singkat sudah mulai pudar. Mereka berhenti di depan studio, dan Graciela memasukkan kunci ke lubang pintunya. Ia masuk, lalu menyalakan lampu.


”Dingin,” katanya. ”Sebaiknya kita hidupkan pemanas. Ah, sialan, aku sudah berniat membeli korek api di jalan tadi.”


”Tak bisakah dengan pemantik?”


”Pemantikku tidak beres, lagi pula sulit me­nyalakan


api gas dengan pemantik. Tunggu saja di sini. Di sudut jalan ada seorang tua yang buta. Aku biasanya membeli korek api dari dia. Aku takkan lama."