Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 56


Eloise Hope mengeluarkan suara yang menyatakan ke­prihatinan. Dengan suara sedih, Inspektur Larkspur ber­kata lagi, ”Jadi kelihatannya perbuatan orang luar. Sese­orang yang, katakanlah, mendendam pada Dr. Hamilton, dan yang sama sekali tidak kita ketahui! Seseorang yang tidak kelihatan dan tak bisa didengar telah men­curi pistol itu dari ruang kerja, dan setelah menem­bak Peter Hamilton, pergi lagi lewat jalan setapak, ke jalan umum. Sese­orang yang telah menaruh pistol itu di pagar anda dan kemu­dian menghilang begitu saja!”


”Apakah anda menghendaki sidik jari saya, Inspektur?”


”Boleh juga. Saya baru ingat, Miss Hope, bahwa


Anda berada di tempat itu, dan secara umum anda meru­pakan tokoh yang paling dicurigai da­lam perkara ini!”


*************


Pengurus mayat berdeham, dan memandang


de­ngan prenuh harap pada ketua juri.


Yang ddipandangi hanya menunduk, melihat sekilas kertas yang dipegangnya. Jakunnya turun naik, menan­dakan kegelisahan­nya. Dengan suara berhati hati dibacanya, ”Kami putuskan bahwa almarhum telah menemui ajalnya karena pembunuhan yang diren­canakan oleh seseorang


atau beberapa orang yang tak dikenal.”


Eloise Hope mengangguk dengan tenang. Ia duduk di sudut, di dekat dinding.


Tak mungkin ada keputusan yang lain.


Di luar gedung, suami istri Cavendish berhenti sebentar untuk beramah tamah dengan Natasha Hamilton dan adiknya.


Natasha mengenakan pakaian hitam yang dipakainya sebelumnya. Wajahnya tetap


menunjuk­kan ekspresi bingung dan sedih yang kentara sekali. Kali ini tak ada mobil sedan. Jasa kereta api cukup baik, kata Alice Ricardo. Mula mula naik kereta api cepat ke Exeter, dan dari sana dengan mudah mereka bisa naik kereta api jam dua lewat tiga puluh ke Devon.


Sambil menjabat tangan Natasha, Julia Cavendish bergumam, ”Kau harus tetap berhubungan dengan kami, sayang. Bagaimana kalau suatu hari nanti kita makan bersama di London? Kau sekali sekali pergi berbelanja juga, bukan?”


”En... entah, ya,” kata Natasha.


”Kita harus cepat cepat, Sayang,” kata  Alice Ricardo. ”Ingat kereta api kita.” Dan Natasha pun berbalik dengan wajah lega.


Amy berkata, ”Kasihan Natasha. Satu satunya hal positif akibat kematian Peter adalah dia terbebas dari kesukaanmu untuk beramah tamah, Julia.,”


”Kau jahat sekali, Amy. Tak ada orang yang bisa


ber­kata bahwa aku tak mencoba.”


”Makin kau coba, makin parah saja kau, Julia.”


”Yah, pokoknya senang sekali mengingat se­mua su­dah berlalu, bukan?” kata Julia Cavendish sambil me­mandang mereka dengan wajah berseri seri.


”Kecuali bagi In­s­pek­tur Larkspur tentunya. Aku benar benar kasihan pada­­nya. Me­nurut


kalian, apakah dia akan terhibur ka­lau kita


meng­undangnya untuk pulang dan makan siang bersama? Mak­­sudku sebagai seorang tamu, tentu.”


”Kupikir sebaiknya tak usah, Julia sayang,” kata William Cavendish.


”Mungkin kau benar,” kata Julia Cavendish merenung. ”Lagi pula, makanan hari ini tidak cocok untuk ins­pektur Larkspur. Daging domba dimasak dengan kacang panjang, dan waffel yang enak sekali dan renyah buatan Mrs. Richmod. Itu sama sekali tak cocok bagi Inspektur Larkspur. Bistik enak yang tidak terrlalu matang, dan sebuah tar apel tanpa macam macam atau mungkin apel yang digoreng dengan te­pung, yang akan kusuruh siapkan untuk Inspektur Larkspur. ”


”Nalurimu tentang makanan memang selalu baik, Julia sayangku."


”Yah, kupikir sebaiknya kita mengadakan se­macam


perayaan. Senang sekali, ya, karena semua­ selalu berakhir dengan baik?”


”Ya.”


”Aku tahu apa yang kaupikirkan, William tapi jangan


khawatir, nanti siang akan kuurus.”


”Apa lagi rencanamu, Julia?”


Julia tersenyum.


.


”Tak apa-apa, Sayang. Hanya ingin meluruskan apa


yang tak benar.”


William Cavendish menatapnya dengan ragu.


Waktu mereka tiba di The Blossom, Morris keluar


untuk membukakan pintu mobil.


”Kami khawatir memikirkan Anda, Nyonya,” kata Morris.


”Kau baik sekali, Morris,” kata Julia sambil masuk


ke ruang tamu utama, ”tapi itu sebenarnya tak perlu. Aku sebenarnya menyukai semua ini, sebab begitu berbeda dari yang sudah biasa bagi kita. Tidakkah kau merasa, Shawn, bahwa peng­alaman seperti ini bisa meluaskan pikiran kita? Pasti berbeda sekali dengan di Harvard.”


"Aku belajar di Cambridge,” kata Shawn dengan nada dingin.


Dengan linglung Julia Cavendish berkata, ”Ah, 


lomba dayung tradisional itu! Itu khas Inggris, bukan?” 


Lalu ia berjalan ke arah pesawat telepon.


Diangkatnya alat penerima telepon, lalu ia ber­kata 


lagi, ”Aku benar-benar berharap kau akan datang dan menginap di sini lagi, Shawn. Soalnya sulit sekali untuk saling mengenal, gara gara adanya pembu­nuhan itu.  Dan sulit sekali untuk berbincang bin­cang mengenai hal hal intelek.”


”Terima kasih,” kata Shawn. ”Tapi kalau aku libur 


lagi, aku akan pergi ke Roma—ke Royal International School di  sana.”


Julia Cavendish berpaling pada suaminya. 


”Siapa yang mengepalai kedutaan di sana


se­karang,  ya? Oh ya, Thomas Mort. Kurasa Shawn tidak akan menyukai mereka. Gadis gadis di sana terlalu lincah. Mereka main hockey dan cricket dan suatu permainan lucu yang bolanya dimasukkan ke jala.”


Kata katanya terputus. Ia melihat ke alat pene­rima 


telepon yang masih dipegangnya.


”Mau apa aku dengan benda ini?” 


”Mungkin akan menelepon,” kata Ryan. 


”Kurasa tidak.” Julia meletakkan kembali benda itu. 


”Kau suka pesawat telepon, Shawn?”


Itu pertanyaan khas Julia, pikir Shawn dengan kesal. 


Pertanyaan yang tak mungkin bisa diberi jawaban yang masuk akal. Dengan nada dingin dijawabnya bahwa menurut dia, benda itu berguna.


”Maksudmu, seperti mesin gilingan daging?” kata Julia Cavendish. ”Atau tali karet. Bagaimanapun juga, orang tidak akan...”


Kata katanya terputus karena Morris muncul di


pintu, memberitahukan bahwa makan siang su­dah tersedia.


”Kau suka daging domba, kan?” tanya Julia Cavendish pada Shawn.


Shawn mengakui bahwa ia sangat suka daging domba.


”Kadang kadang kupikir Julia agak kurang wa­ras,”


kata Amy waktu ia sedang berjalan jalan dengan


Ryan, naik ke arah hutan.


Domba dan tart-nya enak sekali. Dan karena


peme­riksaan pendahuluan sudah berakhir, beban berat terasa hilang.


Sambil merenung Ryan berkata, ”Menurut pendapatku, Julia sebenarnya punya otak


cemer­lang yang pasti amat berguna dalam perlombaan mencari kata kata yang hilang.”


”Meskipun demikian,” kata Amy dengan te­nang,


”aku kadang kadang cukup takut pada Julia.”


Sam­bil agak bergidik ditambahkannya, ”Akhir akhir ini tempat ini membuatku takut.”


”The Hollow?”


Edward berpaling