
Ia memejamkan mata, dan menelan ludah. Di balik
rias wajahnya, wajahnya tampak pucat. Dibukanya lagi matanya, lalu ia tersenyum malu pada Eloise.
”Bisakah anda percaya bahwa... perasaan seperti itu memang mungkin ada?” tanyanya.
”Ya, saya rasa itu mungkin,” kata Eloise Hope.
”Tak pernah melupakan , menunggu terus
berencana dan berharap dan juga bertekad dalam hati dan pikiran untuk akhirnya mendapatkan apa yang kita ingini. Ada pria yang seperti itu, Miss Hope.”
”Ya... wanita juga ada.”
Karen menatapnya lekat lekat.
”Saya berbicara tentang kaum pria , tentang Peter Hamilton. Yah, begitulah keadaannya. Mula mula saya membantah. Saya tertawa, dan menolak untuk menanggapinya dengan serius. Lalu saya katakan bahwa dia gila. Malam sudah larut waktu dia kembali. Kami berbantahan terus. Dia tetap
masih... bertekad.”
Ia menelan ludahnya lagi.
”Sebab itu, saya kirimi dia surat singkat esok paginya. Saya tak bisa mendiamkan persoalan itu begitu saja. Saya harus menyadarkannya bahwa apa yang diingininya itu... tak mungkin.”
”Itu memang tak mungkin.”
”Tentu saja itu tak mungkin! Dia datang. Dia tak mau mendengarkan kata kata saya. Dia tetap
berkeras. Saya katakan bahwa itu tak ada gunanya, bahwa saya tidak mencintainya, bahwa saya benci padanya.”
Ia berhenti, dan bernapas dengan berat. ”Saya terpaksa bersikap kasar padanya mengenai hal itu. Maka kami pun berpisah dalam keadaan marah. Dan sekarang... dia meninggal.”
Eloise bisa melihat Karen mempertemukan kedua
belah telapak tangannya, dilihatnya pula jemarinya yang membengkok, dan bonggolbonggol jemarinya yang berrtonjolan. Tangan itu besar dan tampak agak kejam. Emosi kuat yang dirasakan oleh Karen dirasakan pula oleh Eloise. Bukan rasa sedih, bukan juga dukacita melainkan rasa marah. Rasa marah orang egois yang dikecewakan, pikir Eloise.
”Bagaimana, Miss Hope?” Ia sudah dapat
menguasai suaranya lagi, nadanya halus. ”Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya menceritakan kejadian itu, ataukah saya simpan sendiri saja? Itulah yang terjadi yah tapi agak
sulit memercayainya.”
Eloise Hope menatapnya, lama... sambil berpikir.
Menurut pendapatnya, Karen Clark tidak menceritakan kebenaran, namun tak dapat dibantah bahwa di baliknya ada ketulusan. Hal itu memang terjadi, pikir Eloise, tapi kejadiannya tidak seperti itu.
Tiba tiba Eloise sadar. Kisah itu benar, tapi dibalikkan. Karen-lah yang tak bisa melupakan Peter Hamilton. Karen-lah yang merasa
dikecewakan dan ditampik. Dan sekarang ia bagaikan seekor harimau betina yang kehilangan mangsanya dan tak sanggup menahan
kemarahannya dalam diam. Maka diciptakannyalah suatu kebenaran yang diubahnya sendiri, untuk mengobati rasa harga dirinya yang terluka, dan memuaskan dambaannya yang menyakitkan terhadap seorang pria yang tak mungkin lagi diraihnya. Tak mungkin dia, Karen Clark, tak bisa mendapatkan apa yang diingininya! Maka dibalikkannyalah keadaan yang sebenarnya.
Eloise Hope menarik napas dalam dalam, lalu
berbicara, ”Sekiranya semua itu ada hubungannya dengan kematian Peter Hamilton, saya rasa anda harus berbicara. Sekiranya menurut anda tidak ada, saya rasa anda berhak menyimpannya sendiri.
Dan menurut saya, bisa saja hal itu tidak berhubungan dengan kematian tersebut.”
Ia ingin tahu apakah Karen kecewa.
Dibayangkannya bahwa dalam keadaannya sekarang, Karen tentunya ingin melemparkan kisahnya untuk dicetak di surat surat kabar. Tapi Karen datang padanya , mengapa? Apakah untuk mengujicobakan ceritanya? Untuk mengetes reaksinya? Atau untuk memanfaatkannya, mendorongnya supaya menyampaikan cerita itu pada orang orang lain?
Eloise Hope tidak dapat menerka apakah reaksinya yang biasa biasa saja telah mengecewakan Karen. Wanita itu bangkit, lalu mengulurkan tangannya yang panjang dan terawat baik.
”Terima kasih, Miss Hope. Apa yang anda katakan
seseorang tahu.”
”Saya menghargai kepercayaan anda, Miss Clark.”
Setelah Karen pergi, Eloise membuka jendela jendelanya. Bau harum membawa akibat buruk padanya. Ia tak suka wewangian Karen. Memang mahal, tapi terlalu menusuk, dan terlalu kuat, seperti kepribadiannya.
Sambil mengibaskan tirai tirai jendelanya, ia bertanya tanya sendiri, apakah Karen Clark yang
telah mmembunuh Peter Hamilton.
Ia pasti ingin membunuhnya dan Eloise yakin itu. Ia
akan senang sekali menarik picu pistol dan akan senang sekali melihat laki laki itu terhuyung lalu jatuh.
Tapi di balik kemarahan yang penuh rasa dendam itu, ada sesuatu yang dingin dan tajam, sesuatu yang menunggu kesempatan, suatu otak cerdas yang dingin dan penuh perhitungan. Betapapun ingin Karen Clark membunuh Peter Hamilton, Eloise ragu apakah ia mau mengambil risiko itu.
**********
Panggilan kepolisian sudah berlalu. Peristiwanya
hanya merupakan formalitas biasa. Meskipun sudah diberi peringatan mengenai hal itu sebelumnya, semua orang masih saja merasa
kecewa dan tak senang.
Pemeriksaan itu ditunda selama tiga minggu, atas permintaan polisi.
Natasha datang dari London bersama Mrs. Ricardo dengan mobil sedan sewaan. Ia
mengenakan baju hitam panjang dan topi yang tak pantas untuknya. Ia tampak gugup dan bingung.
Sebelum masuk lagi ke mobil sedan itu, ia berhenti
sebentar karena Julia menghampirinya.
”Bagaimana keadaanmu, Natasha sayang? Kuharap kau bisa tidur nyenyak. Kurasa keadaan berjalan sebaik yang kita harapkan, bukan? Menyesal sekali kau tidak menginap di The Blossom lagi, tapi aku mengerti benar betapa menyedihkan semua ini.”
Dengan suaranya yang ceria, dan sambil menatap kakaknya dengan pandangan menegur, karena tidak memperkenalkannya sebagaimana mestinya, Mrs. Ricardo berkata,
”Ini gagasan Miss Roberts untuk menyewa mobil ini pulang-pergi. Mahal memang, tapi kami pikir itulah yang terbaik.”
”Oh, benar sekali,”
Mrs. Ricardo merendahkan suaranya.
”Saya akan langsung membawa Natasha dan anak anak ke Devon. Dia memerlukan istirahat dan ketenangan. Wartawan wartawan itu! Anda tahu, kan! Mereka berkerumun seperti semut di sekeliling rumahnya.”
Seorang anak muda menjepretkan kameranya, dan
Alice Ricardo dengan cepat cepat mendorong kakaknya ke dalam mobil, lalu mereka berangkat.
Orang orang masih sempat melihat sebentar wajah
Natasha di bawah tepi topinya yang jelek itu. Wajah itu hampa, linglung, sekilas ia tampak seperti seorang anak yang kurang waras.
Amy Owen bergumam dengan suara halus,
”Kasihan dia.”
Ryan berkata dengan kesal, ”Apa yang dilihat orang orang pada diri Peter Hamilton? Wanita itu hancur dan patah hati. Pasti sangat menderita sekali dia."
"Dia benar benar berada di bawah pengaruh suaminya,” kata Amy.