
Hari berikutnya Rahmi kembali ikut pergi keperusahaan. Tentu saja karna Kelvin yang mengajaknya.
Selama menunggu ia berada diruangan Alif. Alif tampak sibuk dengan dokumen yang bertumpuk. Rahmi baru tau, kalau Alif memakai kacamata jika sedang bekerja.
Meski mereka jarang bicara, Alif tak lagi sering bersikap kejam padanya. Ia berubah, tapi Rahmi tidak tau apa yang berbeda.
Rahmi menatap dirinya yang kecil. Hatinya terasa sesak setiap mengingat orang-orang yang mempertanyakan kenapa ia menikah di umurnya yang masih muda. Bukan keinginannya menikah dengan cepat, ia juga punya mimpi.
''Kalau bosan, pergilah jalan-jalan,'' ucap Alif tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang dibacanya.
Rahmi melirik Alif sejenak kemudian ia memalingkan wajahnya.
Rahmi akhirnya bangun dan berjalan keluar untuk jalan-jalan. Ia berjalan melihat-lihat, ternyata dilantai itu hanya ada ruangan Alif dan sekertarisnya, ada juga ruang dapur dan satu ruangan yang Rahmi tidak tau.
''Hnm, Rahmi haus.''
Rahmi berjalan ke tempat ia tadi melihat air. Rahmi mengambil air hangat dan meminumnya.
Duhk.
Saat Rahmi berjalan keluar, bertabrakan dengan seaeorang dan dokumen yang dibawanya jatuh berantakan.
''Owh tidak!!''
Ia membereskan dokumennya dengan cepat. Rahmi ingin membantu untuk mengambil dokumen itu.
Plak.
Tangan Rahmi langsung dipukul dengan keras. Ia memandang Rahmi dengan sinis.
''Apa yang kau lakukan disini?!''
Dengan takut Rahmi menjawab,'' Saya hanya mengambil air."
Dia memandang tidak suka dengan Rahmi. Dari awal ia memang sudah tidak suka dengannya, bukan karna Rahmi tidak sengaja menabraknya.
''Lebih baik jangan berkeliaran ... Entah kau akan merusak berapa banyak barang dengan tanganmu yang kotor,'' ucapnya sinis kemudian pergi keruangan Alif dengan dokumen yang dibawanya.
Rahmi melihat tangannya, ia mengenggam kedua tangannya.
''Tanganku tidak kotor,'' gumam Rahmi dengan sedih.
Rahmi kembali berjalan melihat tempat-tempat yang tak pernah ia lihat. Karna tubuhnya kecil ia jadi tidak terlihat sering berjalan kesana kemari.
Deg!
Ia berbalik melihat sosok kecil yang berjalan dengan mata berbinar melihat hal-hal yang baru.
''Kau!! Berhenti!!'' teriaknya.
Rahmi segera berhenti dan berbalik.
''Star ... Kau masih hidup?'' ucapnya dengan wajah penuh kebencian.
Rahmi memiringkan kepalanya bingung. Star? Siapa itu, ia tak kenal dengan nama itu.
''Tidak perlu pura-pura bodoh!! Meski kau menutupi rambutmu, aku tetap akan mengenalmu!!!'' ucapnya dengan emosi, ia mencengkram tangan Rahmi dengan keras membuat Rahmi kesakitan.
''Le-lepas!!''
''Adel!! Adelya!!''
Ia berbalik kemudian melepaskan cengkramannya. Ia menatap sinis orang yang menghentikannyan.
''Kelvin ...,'' gumamnya.
''Lama tidak bertemu ...,'' ucap Kelvin mengulurkan tangannya dengan senyum profesionalnya.
Adelya hanya menatap tangan itu dengan pandangan sinis. Ia tak menyangka bahwa gadis yang ada didekat Kelvin itu masih hidup. Dia pikir, ia sudah mati karna hilang tanpa kabar lebih dari beberapa tahun.
''Kau datang buat bahas kerja sama yah?'' tanya Kelvin basa-basi.
Adelya menaikkan alisnya tersenyum menyendir.
''Kau pikir aku datang buat main-main sepertimu!'' ucapnya menujuk-nujuk Kelvin.
Kelvin sama sekali tidak peduli, toh seberapa keras Adelya berusaha ia tak akan bisa menang darinya. Karna ia terlahir dari keluarga yang sudah ditetapkan tidak bisa tersaingi dari awal, tapi ia tetap percaya dengan kemungkinan lain.
Adelya Akhirnya pergi dengan kesinisan dimatanya sepanjang ia melangkah.
''Rahmi tidak apa?''tanya Kelvin.
Rahmi mengangguk pelan sambil tersenyum, kemudian ia mengucapkan terima kasih.
''Terima kasih sudah menolong saya."
Kelvin mengangguk kemudian ia berlutut dihadapan Rahmi.
''Hati-hati saat bertemu dia."Rahmi menggangguk dengan cepat, melihat sikapnya tadi juga dia memang bukan orang yang baik.
''Kita keatas bersama,'' ucap Kelvin dengan senyum lebar. Rahmi mengangguk dan mengikuti Kelvin.
...
''Kau senang?'' tanya Alif disela-sela kehinangan yang ada. Mereka sedang dalam perjalanan menuju pulang kerumah.
Rahmi tersentak, ini pertama kalinya Alif mengajak-nya mengobrol.
Alif menatap dari kaca spion kemudian kembali fokus kedepan. Keheningan kembali datang diantara mereka.
Mobil berhenti disamping rumah. Rahmi turun dan segera berlari kekamarnya. Ia masih takut dengan Alif, ia sering memimpikan ruangan gelap tak berujung sepanjang malam.
Phuak.
Rahmi memeluk bantalnya erat.
''Hari ini ... Semuanya Aneh,'' gumam Rahmi
Rahmi bangun dan segera kekamar mandi, setelah selesai. Rahmi berjalan kedapur, ia ingin makan.
''Makan disini saja,'' ucap Alif menghentikan langkah Rahmi.
Rahmi mematung tak percaya, makan dengan orang yang selalu membencinya.
''Sa-say ma-ma-kan di-da-p-pur sa-saj-a,'' ucap Rahmi takut.
Alif diam saja, ia memperhatikan sosok kecil yang menunduk takut padanya.
Alif tak lagi bicara, Rahmi dengan perlahan berlari kedapur.
Dhuk.
''Aduh!!''
Rahmi terjatuh karna berlari tanpa melihat kearah depan.
''Aduh Nona tidak apa?'' tanya Bibi Hani membantu Rahmi untuk bangun.
Rahmi mengangguk kemudian ia memeluk Bibi Hani.
''Nona kenapa?'' tanya Bibi khawatir.
Rahmi menggeleng pelan, ia hanya ingin memeluk Bibi.
''Nona lapar?''
Rahmi melepaskan pelukannya dan mengangguk antusias.
''Baiklah, tunggu bibi ambilkan,'' ucap Bibi kemudian menyiapkan makanan keatas meja dapur.
Rahmi duduk dengan antusias menunggu, ia sangat suka masakan bibi. Rasanya mengingatkan-nya pada ibunya yang memasak dulu.
''Nah silahkan dimakan nona,'' ucap Bibi tersenyum hangat.
Rahmi menatap Bibi yang hanya berdiri menarik tangannya untuk duduk.
''Kita makan sama-sama, Bi!'' ucap Rahmi dengan senyum lebar menampakkan giginya.
''Tapi nona ... ,'' ucap Bibii ragu-ragu.
''Tidak apa ....''
Akhirnya Bibi mengangguk dan mereka menikmati makanan itu bersama.
Alif diam memandang pemandangan yang dilihatnya. Rahmi yang bahagia bersama Bibi, sedang dia makan ditempat besar seorang diri, rasanya sedikit menyesakkan.
Alif berbalik pergi tak ingin melihat lebih jauh lagi.
Setelah selesai makan Rahmi teringat akan tanamannya yang ia tanam. Ia segera berlari kehalaman melihatnya.
''Wah ... Sudah tumbuh!! Sudah tumbuh!!'' girang rahmi melihat tumbuhan hijau tumbuh diatas tanah yang telah digalinya.
Dengan perasaan senang Rahmi mengambil air dan menyiramnya.
''Tumbuhlah besar dan sinari aku dengan cahayamu,'' gumam Rahmi.
''Nona sedang apa?'' tanya Bibi.
Rahmi menengok dan memperlihatkannya pada Bibi.
''Sudah tumbuh, Bi!''
Bibi melihat apa-nya yang sudah tumbuh dan ternyata Rahmi menanam tanaman meski Bibi tidak tau apa yang ditanamnya.
''Apa yang nona tanam?''
''Rahmi tanam ... Apel, mangga, pepaya, semangka ... ,'' Rahmi tampak berpikir ia tidak ingat apa saja yang telah ditanamnya. Ia hanya mengambil biji buah yang ada dibuah-buahan dan menanamnya.
Bibi mengusap kepala Rahmi gemas kemudian ia pergi melanjutkan pekerjaannya.
Rahmi memandang tanamannya, tiba-tiba ia teringat akan kejadian tadi pagi.
'Star ... Sebenarnya siapa?'
'Rasanya tidak asing.'
Rahmi memandang cukup lama melamun.
kau masih hidup?!
Apakah ia seharusnya mati dalam kecelakaan itu atau itu bukan sekedar kecelakaan, tapi sebuah rencana pembunuhan.