
''Aku ingin bertanya sesuatu... Bagaimana kau merencanakan kecelakaan Bibi pengasuh?'' tanya Ryan pada April dibalik jeruji besi.
''Kenapa kau penasaran?''
''Aku hanya tidak ingin semua yang terlibat hidup bebas!''
April tersenyum miring mendengarnya.
''Aku menyabotasi sebagian rem mobil Chandra. Memberitahunya Bahwa putranya harus dijemput secepatnya bila nyawanya ingin aman. Kemudian aku memberitahu ayah angkat Star untuk melewati jalan yang akan memungkinkan mereka sampai lebih cepat. Cuaca saat itu mendung hingga mendukung rencanaku. Aku meyabotase kedua mobil agar meningkatkan kemungkinan kecelakaan.''
''Kenapa harus Chandra?''
''Karna ia kerabat jauh mahesa. Bila gagal tuduhannya akan menjadi percobaan pembunuhan kepada pewaris utama demi menjadi pewaris selanjutnya.''
''Kenapa kau memberitahuku begitu mudah?''
Tes.
April membalikkan tubuhnya.
''Perlakuanmu saat itu membuatku jatuh hati. Meski aku tau mungkin saja itu kebohongan, aku tetap mempertaruhkan segalanya.''
Ryan terdiam, mungkin yang kejam bukanlah April tapi Takdir yang mempermainkan mereka dalam kejamnya dunia.
''Maafkan Aku... Lalu Heira bukan kekasihku. Dia hanya berarti karna Star menyayanginya, tidak lebih.''
Entah apa maksud Ryan mengatakan hal itu pada April.
''PERGI!! JANGAN KATAKAN HAL APAPUN LAGI!!''
Set.
Ryan benar-benar pergi.
''Bodoh! Kau mudah sekali dibodohi Ryan... ,'' gumam April pelan. Ia menghapus air matanya.
April benci dirinya yang sama bodohnya dengan Ryan. Ia tidak bisa membedakan ketulusan Star saat itu, juga kebohongan Ryan. Cinta tak perlu alasan, takdir terkadang yang berperan dalam cinta.
Wajahmu cantik memakai apapun, April ayo tersenyum jangan cemberut. Nah, Ryan datang menemui tunangannya! jreng!! bunga untuk April!!!
Segelintir kebahagian itu hanya bisa digenggam oleh April dibalik jeruji besi. Ia tidak akan meminta pengampunan dari Ryan maupun Alif. April sadar bahwa dia sudah terlalu jauh untuk kembali.
...
''Bagus! Apa yang kau katakan? Kekasih? jangan main-main!!'' tuding Heira pada Kelvin.
''Bukankah benar? Kau dan Ryan kekasih?''
Plak.
Heira menjitak kepala Kelvin.
''Bodoh kami hanya berteman karna memiliki adik yang sama!''
''Btw, kamu sehat yah? Gak gila?!''
''APA!!''
BHUK!
Satu bongeman didapat oleh wajah Kelvin.
''Kalian berhenti bertengkar!'' ucap Ryan. Datang-datang sudah disambuti oleh mereka yang bertengkar.
''Ho'oh sudah pulang mantan tunangan,'' Sindir Heira.
Ryan tak menjawab pandangannya menjadi sendu.
Dhuk.
Kelvin menyikut Heira. Bisa-bisanya ia mengatakan itu.
Dhuk.
Heira ikut menyikutnya. Ryan seperti habis putus cinta saja. Mungkin saja Ryan telah jatuh cinta dengan musuhnya.
Bhuk.
''Ayolah mari kita ke perguruannya Heira!!'' Seru Kelvin merangkul Ryan.
Ryan menatap dengan datar. Heira menghela napas panjang melihat sikap Kelvin yang seenaknya.
''Yo Arnada! Cepat antar kami!!'' ucap Kelvin dengan senyum bangganya.
''Berisik!'' Heira masuk kedalam mobil, ia yang menyetir mobil sedangkan kedua laki-laki itu duduk dikursi penumpang.
'Dasar laki-laki gak berguna! masa aku yang disuruh nyetir?! Gak modalan banget sih!'
''Ekhm! Cepet jalan!'' ucap Kelvin dengan kaya Angkuhnya membuat Heira naik pitam.
'Sialan! Rasakan ini!!'
BRUMMM!!!
''Buset!'' kejut Kelvin.
Heira tersenyum puas.
Tinnn.
''WOI MOBIL DIDEPAN!!'' jerit Kelvin.
''Pfft!''
Set!
Dhuak.
Mobilnya berbelok kekanan secara paksa menabrak pembatas jalan dan naik ke jalanan berlawanan arah.
''KUTU KUPRET NYARI MATI LOH!! A'A MASIH MAU HIDUP!'' ucap Kelvin protes.
''Diam Ih!!''
BRUM!!
TRANG!
''HEIRRA GW BELUM MAU MATI!!!'' Kali ini Ryan yang teriak, bagaimana tidak Heira membalikkan mobilnya hingga terbang kebawah dimana mereka berada dijalan tol meski belum naik sampai atas.
''MAMA ANAK BANYAK DOSA!!'' ucap Kelvin memeluk Ryan.
Mobil Heira mendarat dengan goresan pembatas jalan. Ia tidak peduli karna dua manusia yang menyuruhnya menyetir itu akan membayarnya.
Sret.
Bam!
Jidat Ryan juga Kelvin membentur kursi.
''YANG BENER KE!!!'' protes Kelvin.
Bam!
Heira turun dari mobil, ia membuka pintu mobil untuk kedua manusia yang cuma numpang duduk itu.
''Nyeeee... CEPET TURUN!!''
Kelvin juga Ryan turun dengan cepat.
''Selamat datang ketua Arnada!!
''Mau ikut latihan gak?'' tanya Heira.
''Wah bagus tuh!'' ucap Kelvin senang.
Ryan melotot mendengar jawaban Kelvin. Temennya ini gila atau bagaimana, dia saja lemah untuk mengangkat galon! Sekarang ia mau sok-sok'an ikut latihan.
''Mari ikut sini.''
''Kelvin!''
''Sudah ikut saja!'' ucap Kelvin menarik Ryan.
15 menit kemudian.
Brak!
''Aku capek!! GAK MAU IKUT LAGIIIIIII!'' ucap Kelvin membuat Ryan malu dengan sikapnya.
''Bodoh! tutup mulutmu! kamu baru mengayunkan tanganmu 20 kali!'' Ryan menatap sinis Kelvin. Salahnya sendiri mau ikut latihan.
''Hiyat!!''
''CUKUP'' ucap Arnada.
''BAIK KETUA!''
Heira berbalik kepada dua temannya. Benar-benar membuat malu sebagai ketua.
''Kamu lihat itu?''
Kelvin juga Ryan menatap arah tunjuk Heira.
''Hah? Apaan?'' tanya Kelvin dengan wajah bodohnya.
Plak.
Heira menjitak kepala Kelvin.
''Itu lihat cewek itu! masa lu cowok kalah sama dia sih!'' sindir Heira.
''Yah mau bagaimana. Gw-kan anak kesayangan mama!!'' ucap Kelvin polos.
Heira juga Ryan melotot mendengarnya.
''KALIAN SEMUA BUBAR!!''
Para muridnya langsung bubar. Heira bisa kehilangan harga dirinya gara-gara Kelvin. Mulutnya gak bisa disaring dikit napa.
''RYAN BAWA PULANG TEMANMU!!''
''Tendang aja!''
''kalian kok jahat banget! Anter gw napa!''
''GAK!'' ucap Heira dan Ryan bersaman.
''Asemlah! kutelpon Tina aja, deh! Cuma ia yang pengertian.''
Drtt.
Syut.
''WOI!''
Astaga! Tuan gak perlu teriak!!
''Antar gw pulang!''
Gak! saya sudah izin cuti!
''Apa!! Siapa yang ngizinin!''
Nyonya!
"Ahhhh!! TINA JEMPUT!!!''
Tina menutup kupingnya. Punya majikan gak tau diri memang merepotkan.
IYAH! JANGAN TERIAK!
''Kamu juga teriak," ucap Kelvin pelan.
Tut.
Panggilan terputus. Heira juga Ryan menatap Kelvin.
''Kenapa?''
Heira juga Ryan menggeleng cepat.
'Berapa gaji Tina untuk mengurus bocah ini,' ucap Heira didalam hati.
Selain tampangnya yang bisa dibanggakan, kekuasaan dengan uang yang ia punya Kelvin hanyalah manusia manja yang tidak bisa apa-apa tanpa sekertarisnya.
Pippp.
Kelvin menengok melihat mobil Tina yang sudah sampai.
Tina turun dengan membawa payung. Ia memayungi Kelvin dan memberikannya kacamata.
'Anak manja' ucap Ryan dan Heira didalam hati.
''Nih minum!''
Kelvin menerima minuman yang diberikan Tina. Ia menikmati perhatian yang diberikan oleh sekertarisnya itu.
Heira juga Ryan menepuk jidatnya.
''Dahh aku pulang dulu!''
Heira hanya tersenyum canggung dengan melambaikan tangannya sedangkan Ryan sudah mematung.
'Dia bukan temanku!' ucap Ryan dalam hati.
''Kau mau apa sekarang?'' tanya Heira pada Ryan karna Kelvin sudah pulang.
''Yah, memang harus apa lagi?'' tanya Ryan balik membuat Heira jadi kesal.
''Kalau gitu urus dirimu saja!'' Heira berjalan pergi meninggalkan Ryan dilapangan seorang diri.
Hari sudah gelap, Heira berjalan-jalan untuk melihat situasi sekitar.
'Semua aman tak ada yang mencuri...ngaka?'
Heira berjalan kelapangan melihat sosok laki-laki yang duduk ditanah dengan memandang langit.
''Ryan? Kenapa gak pulang?! Lo ngapain disini!''
Ryan menatap Heira kemudian kembali menatap langit.
''Aku kangen Star... Dia suka banget sama langit malam... Apa ia juga merasakan yang kurasakan... ''
Heira ikut duduk disamping Ryan, ia ikut melihat langit biru tanpa tertutupi awan dengan bintang yang berkalap-kelip diangkasa luas.
''Dulu Rahmi juga suka memandang langit.''
Tanpa sadar mereka telah bercerita panjang tentang Adik mereka. Dalam kehinangan, mereka tertawa mengenang masa lalu. Terkadang situasi berubah menjadi sedih. Menguatkan diri masing-masing agar tidak jatuh. Belajar menerima bahwa setiap kehidupan pasti memiliki akhirnya.