Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Bekal


Rahmi tidur begitu lama, Ia sempat sakit namun segera turun karna bibi sering datang mengecek kondisinya.


Rahmi terbangun setelah tidur panjang yang lama.


Rahmi berjalan turun, seolah semua kejadian kemarin adalah mimpi.


''Nona sudah bangun?!! Nona tidak apa-apa?!!'' tanya Bibi khawatir, ia berlari menghampiri Rahmi.


''Saya tidak apa, Bi!!'' ucap Rahmi memaksakan senyumnya.


Meski bayangan kejadian kemarin terus menghantuinya.


Kryyukkk.


''Pftt, Nona lapar?''


Wajah Rahmi memerah, ia memang belum makan.


''Tunggu sebentar Bibi siapkan makanannya,'' ucap Bibi berbalik pergi.


Rahmi naik kemeja makan menunggu kedatangan bibi.


Setelah menunggu bebeberapa saat, makanan itu datang beserta para pelayan lain.


Rahmi tampak antusias untuk menyantap makanan itu.


Syut.


Rahmi tiba-tiba menurunkan sendoknya, pandangannya menjadi sendu.


''Ada apa Nona?'' tanya Bibi khawatir.


Rahmi menggeleng pelan, ia mengambil sendok itu lagi dan mulai makan dengan pelan.


''Nona ...,'' gumam Bibi pelan melihat semangat Rahmi tiba-tiba hilang.


''Bi, Rahmi tidak apa makan disini?'' tanya Rahmi. Ia makan dimeja makan yang biasa Alif gunakan.


Mendengar penuturan Rahmi Bibi tersenyum kecil.


''Tuan tidak akan marah, Nona."


Rahmi menatap Bibi yang yakin dengan jawabannya.


''Rahmi ingin mengucapkan terima kasih ... Tapi Rahmi tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa,'' ucap Rahmi menunduk sedih.


Bibi mendekati Rahmi dan mengelus kepalanya.


''Nona bisa buatkan makanan untuk tuan, sepertinya tuan juga rindu masakan Nona. Tadi pagi tuan buru-buru pergi kekantor ... Tidak sempat makan sama sekali,'' ucap Bibi memberikan saran.


Rahmi tampak sumringan mendengar ucapan Bibi.


''Baik!! Rahmi akan memasak untuk Alif!!!'' ucap Rahmi semangat.


Rahma menghabiskan makanannya dengan cepat kemudian pergi bersama Bibi kedapur. Ia juga belajar memasak makanan baru dari Bibi.


''Bi apa Alif akan senang?'' tanya Rahmi.


Bibi melihat Rahmi dan mensejajarkan posisinya.


''Tuan pasti senang dapat makanan dari Nona yang manis,'' ucap Bibi tersenyum sambil mencubit pipi Rahmi dengan pelan.


''Tapi ....'' Rahmi tampak takut apalagi Alif tidak begitu suka dengannya. Bagaimana jika Alif malah marah dan memukulnya.


''Nona tenang saja ... Hal buruk yang Nona pikirkan tidak akan terjadi,''ucap Bibi menyakinkan Rahmi.


''Sungguh?''


Bibi mengangguk dengan percaya diri. Rahmi akhirnya percaya kepada pada Bibi, mungkin saja Alif memang tidak seburuk itu. Buktinya ia menyelamatkannya dari penculikan.


''Baiklah! Rahmi akan pergi mengantar makanan ini,'' ucap Rahmi girang.


Rahmi berjalan dengan kaki kecilnya dengan begitu semangat untuk menemui Alif.


''Ayok pak supir kita temui Alif!!'' ucap Rahmi senyam-senyum.


Rahmi tampak begitu senang menanti pertemuannya dengan Alif.


Sesampainya diperusahaan, gadis itu langsung berlari keluar, kemudian memelan menjadi berlari kecil. Rahmi terus melangkah dengan cepat seolah ingin memakan jarak yang harus dilewatinya.


Brak!!


''Aduh ....'' Rahmi meringkis kesakitan.


Tersadar dari keterkejutan, ia melihat bekal makanannya dengan cepat.


''Hiks hancur ...,'' gumam Rahmi pelan.


''Kalau jalan tuh liat-lia!!!'' ucapnya kesal kemudian pergi tanpa minta maaf.


Rahmi diam dengan sedih, padahal ia sudah berharap begitu tinggi alif akan menerimanya dengan senang hati.


Tes.


''Hiks ... Ami cuma mau ber-terima kasih,'' ucap Rahmi pelan dengan wajah yang menunduk begitu dalam.


Rahmi berjalan perlahan menuju ruangan alif seolah tak menanti pertemuan mereka.


''Nona Rahmi ingin bertemu tuan?'' tanya sekertaris Alif melihat Rahmi hanya berdiri didepan ruangan Alif tanpa niat ingin masuk.


Rahmi mendongkak-kan kepalanya menatap orang yang mengajaknya berbicara. Terlihat matanya yang sembab dengan hidung yang merah serta pipi yang merah seperti habis menangis.


''Nona ... Nona masuk saja, nanti saya panggilkan tuan. Tuan sedang rapat sekarang,'' ucap sekertarisnya menjelaskan.


Rahmi mengangguk pelan, namun ia tak menggerakkan kakinya sama sekali.


''Nona ...?''


''Hufft.''


Sekertarisnya berjalan mendekati Rahmi dan membukakan pintu untuknya.


Cklek.


''Nona tunggu didalam saja,'' ucap sekertarisnya lagi.


Rahmi menatapnya dengan ragu, tapi memang benar menunggu didalam lebih baik dari pada diluar yang diperhatikan oleh orang yang lewat.


Rahmi akhirnya masuk dengan melangkah pelan. Ia berjalan kearah sofa dan duduk disana.


Rahmi menunggu dan menunggu hingga tanpa sadar ia tertidur.


Cklek.


Degh!


''Kau!? Sedang apa kau disini??!!''


Rahmi langsung terbangun dengan takut ia menyembunyikan bekal ia dibawanya. Rahmi menunduk takut.


Drap!


Drap!!


Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Rahmi menutup matanya takut.


Sret.


Tidak terjadi apapun, Rahmi membuka matanya perlahan. Ia melihat Alif menatap bekal yang dibawanya dengan lekat.


Alif tak bicara apapun, ia membawa bekal itu bersamanya dan menaruhnya diatas meja.


Hening terjadi, Alif sibuk dengan laptopnya. Perlahan mata Rahmi menjadi mengantuk dan ia kembali kedalam alam mimpinya.


Dhuk!


Kepala Rahmi terjatuh kesandaran sofa. Alif mengalihkan pandangannya mendengar suara tersebut. Alif menatap Rahmi yang tetidur lelap, terlihat diujung matanya bekas air mata. Alif menatap wajah Rahmi lekat, menghentikan pekerjaannya sejenak.


Sret!


Alif bangun dan menghampiri Rahmi, ia menaruh kepala Rahmi disebuah bantal kemudian menyelimutinya dengan jasnya. Alif kembali kekursinya melanjutkan pekerjaannya.


...


Syung.


Brak!!


Rahmi menggerakkan tubuhnya berbalik posisi tapi ia malah terjatuh.


Alif terkejut, ia melihat Rahmi yang bangun kesakitan.


''Sakit ...,''keluh Rahmi.


Degh!


Rahmi teringat ia ada dikantor Alif, dengan takut ia menatap Alif yang menatapnya juga.


''Ekhm!'' deheman Alif.


Rahmi segera bangun dan duduk dengan rapi, ia mengambil jas Alif dan menaruhnya dengan rapi.


Rahmi melihat bekal yang dibawanya sudah kosong, dengan hati-hati ia bertanya, ''Enak?''


Alif melirik Rahmi kemudian melirik kotak bekal itu.


''Hnm.''


Jawaban Alif membuat Rahmi bertanya-tanya enak apa tidak. Rahmi menatap apa yang dilakukan Alif.


''Lain kali tidak usah kemari,'' ucap Alif dingin.


Degh!


Rahmi menunduk dalam, ia tau pasti akan begini. Alif tidak senang ia datang tanpa keinginannya.


Syut.


Greb.


Alif menarik tangan Rahmi keluar dari ruangannya, ia menariknya keruangan sekertarisnya.


'Rahmi salah ... Tolong jangan sakiti Rahmi'


Rahmi meringkis kesakitan saat Alif menariknya dengan kencang.


Bam!


Alif membuka pintu itu dengan kuat, membuat sang empu terkejut setengah mati.


''Antar ia pulang!''


Rahmi menatap sekertaris itu. Benar, apa yang ia harapkan dari Alif.


''B-baik''


Alif melepaskan cengkramannya, ia pergi tanpa kata apapun lagi.


Rahmi menatap kepergian Alif, sedih rasanya.


''Nona mari saya antar pulang.''


Rahmi mengangguk dan mengikuti langkah sekertaris itu.


''Nona jangan sedih ... Tuan sebenarnya hanya khawatir dengan Nona.''


Rahmi tersenyum sinis benarkah ia khawatir atau malah benci melihatnya.


Sekertaris yang tidak Rahmi ketahui namanya itu membuka pintu mobil untuk Rahmi, Rahmi naik dan duduk dengan tenang. Selama perjalanan Rahmi terus merenung memikirkan perkataan sekertaris Alif. Benarkah Alif khawatir.


Disisi lain Alif menatap bekal yang sudah kosong itu dan jasnya yang sudag dilipat rapi oleh Rahmi. Pandangannya menjadi sendu.