Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Festival malam


Rahmi yang biasa main dihalaman rumah, untuk pertama kalinya keluar main dihalaman depan.


Rahmi melihat kearah depan, semua orang tampak sibuk. Ia jadi penasaran ada apa gerangan.


Rahmi berlari masuk kedalam rumah bertanya kepada Bibi.


''Bi!! Diluar berisik, ada acara apa?''


Bibi mengalihkan pandangannya dan tersenyum.


''Festival Nona."


Rahmi tampak berbinar mendengar kata Festival.


''Rahmi mau pergi!!!''


Bibi yang memotong sayur seketika berhenti, ia memegang pundak Rahmi dan dengan serius melarangnya.


''Lebih baik Nona dirumah. Diluar bahaya, tuan juga bisa marah."


Mendengar larangan Bibi Rahmi menjadi murung.


Melihat Rahmi yang menunduk dengan sedih, bibi jadi merasa kasihan.


''Baiklah, tapi Nona jangan lama-lama juga jangan jauh-jauh,'' ucap Bibi menyerah.


''Terima kasih Bi!!!'' seru Rahmi.


Rahmi berlari kekamarnya, ia tidak sabar mendatangi festival itu.


Rahmi sibuk memilih baju yang akan digunakannya, tanpa sadar kakinya menabrak sebuah meja dan laci meja itu menjadi terbuka.


Dhuk.


Rahmi melihat isinya, ia melihat sebuah handphone yang masih terbungkus rapi.


'Ah Rahmi baru ingat!!'


Rahmi mengambil handphone itu dan menatapnya lekat. Itu handphone yang Abby berikan untuknya, ia sama sekali lupa karna tidak ada waktu untuk memperhatikannya saat itu.


Rahmi mulai menyalakan handphone itu dan entah mengapa ia langsung pintar menggunakannya. Nalurinya mengajarinya cara menggunakan benda itu.


Tiba-tiba Rahmi teringat tujuan awalnya. Ia segera kembali fokus memilih baju festival. Setelah menemukan yang pas, Rahmi membawa tas kecil dan mengisinya dengan uang serta memasukkan handphonenya kesana.


Rahmi berlari turun dari tangga, ia menghampiri Bibi dalam keadaan rapi.


''Bi!! Rahmi mau pergi sekarang!!'' serunya.


Bibi melihat Rahmi yang telah rapi menghela napas. Sepertinya ia tak mungkin bisa mematahkan semangat gadis itu.


''Nona pulang sebelum tuan pulang, ya?''


Rahmi mengangguk, kemudian ia segera berlari keluar.


Langit yang sudah mulai menggelal malah terlihat indah dengan cahaya lampu yang mereka buat.


Dengan mata berbinar Rahmi melangkah keluar dari rumah besar itu.


Rahmi tidak bisa berhenti tekagum melihat orang-orang berjalan dengan pakaian adat mereka. Iring-iringan asalkan budaya yang memukaunya.


Rahmi ikut berjalan meski ia tidaklah berpakaian sama dengan mereka. Ia berjalan dipinggir bukan dibarisan. Ia berjalan dengan riang.


Sosoknya yang terlihat kecil dan imut tentu mendapat perhatian dari orang-orang.


Saat iring-iringa itu melawati sebuah pasar atau tempat acaranya. Rahmi berhenti lebih dahulu dibanding mereka. Rahmi masuk kedalam pasar, melihat kesana kemari.


Matanya menangkap sebuah makanan yang terasa harum diciumnya.


''Ini apa?''


Pedagang itu tersenyum menanggapi pertanyaan Rahmi.


''Ini siomay ... Mau?''


Rahmi mengangguk pelan, ia membuka tasnya dan memberikan uangnya.


''Nona mau harga berapa?''


Rahmi tampak berpikir. Beli semuanya takutnya kebanyakan, beli sedikit takutnya kurang.


''Tidak banyak, tidak dikit!'' ucap Rahmi.


Pedagang itu terkekeh mendengar jawaban Rahmi. Baru kali ini ia dapat pembeli seperti Rahmi.


''Ini Nona,'' ucap pedagang itu memberikan siomaynya juga uang sisanya.


Rahmi melihat uangnya yang sisa 70 ribu. Berarti siomaynya 30 ribu karna uangnya 100 ribu.


Rahmi berjalan sambil makan siomay. Ditengah-tengah pasar terdapat sebuah panggung dan disana terdapat sebuah acara pementasan.


Rahmi terus asik hingga lupa akan pesan Bibi, yaitu pulang sebelum Alif pulang. Rahmi memandang penari yang sedang menarikan sebuah tarian daerah. Tariannya memukau Rahmi, hingga gadis itu tak berkutik sama sekali.


Greb!!


...


Alif telah pulang dari kantornya, ia melihat rumah yang seperti biasanya. Tapi ia tidak melihat Rahmi yang berkeliaran, mungkin gadis itu telah tidur pikir Alif.


''Tuan mau makan?''


Alif mengangguk pelan, ia makan dengan tenang.


Bibi khawatir Alif sudah pulang tapi Rahmi tak kunjung pulang.


Setelah Alif selesai makan, ia tak curiga Rahmi tidak ada dipenglihatannya. Bibi bernapas lega dan berharap Alif tidak mencarinya sampai gadis itu benar-benar pulang.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Bibi akan ke festival mencari Rahmi.


Saat Alif akan memasuki kamarnya, ia melihat Kamar Rahmi yang setengah terbuka dan terlihat agak berantakan. Alif membuka pintu lebar-lebar. Tapi Rahmi tidak ada dikasur, juga saat makan tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Lalu bibi yang tampak tidak fokus dari tadi serta terlihat gelisah.


Drab!


Alif langsung menyadari ada yang salah. Ia berlari turun kebawah.


''Bi!! Rahmi mana?!!!''


Bibi tersentak mendangar pertanyaan Alif. Bagaimana ini, ia bisa dipecat. Dengan ragu-ragu juga takut Bibi menjawab.


''Nona kefestival'' ucap Bibi memejamkan mata takut kena amukan Alif.


Drab!!


Drab!!


Alif berlari keluar, ia tidak peduli dengan hal lain selain rahmi. Bagaimana bisa ia belum pulang sedangkan hari sudah semakin malam.


Alif mencari Rahmi seperti orang gila. Ia khawatir pada Rahmi, padahal gadis itu baru mengalami penculikan, percobaan pembunahan. Tapi kenapa ia masih berani keluar bahkan hingga larut malam.


Mata Alif akhirnya menangkap sosok kecil yang menatap penuh kekaguman pada penari yang ada dipanggung.


Greb!!


Alif menarik tangan Rahmi dan langsung menariknya pergi.


''Sakit!!''


Rahmi melihat cengkraman Alif yanf begitu kuat. Ia terkejut dirinya tiba-tiba ditarik.


'Alif marah?'


Rahmi ketakutan saat melihat wajah Alif yang menyeramkan.


Saat sampai rumah, Rahmi melihat Bibi yang menunduk. Rahmi menatap Bibi seperti meminta tolong. Tapi apa yang bisa ia lakukan.


Alif menyeret Rahmi menuju kamarnya. Ia melempar gadis itu kedalam kamarnya gelap.


''Renungkan kesalahanmu!!'' ucap Alif tajam kemudian menguncinya.


degh, degh.


Jantung Alif berpacu dengan cepat. Ia terjatuh dibalik pintu ia mengunci istrinya.


'Kenapa kau keluar ... Bagaimana jika kau diculik ... Jika ada yang ingin menyakitimu ....'


Alif tersenyum miris. Padahal orang yang paling menyakitinya adalah dirinya, tapi ia malah bersikap seperti orang yang paling peduli dengannya.


Rahmi bangun secara perlahan. Tubuhnya sakit dilempar secara kasar, ia melihat tangannya yang memerah karna ditarik begitu kuat dengan alif.


Rahmi menatap sekitar, kamar Alif lebih luas dibanding semua kamar lainnya. Samar samar Rahmi berjalan kekasur, ia menyalakan lampu yang ada disampingnya.


Akhirnya Rahmi menemukan cahaya, ia takut, sangat takut dengan kegelapan.


Tes.


Air matanya turun, ia takut sendirian tapi tak ada yang mau menemaninya, ia takut kegelapan tapi tak ada yang meneranginya.


Rahmi naik kekasur Alif, kasur yang selalu ditidurinya. Baunya tericium disana, perlahan Rahmi memejamkan matanya. Ia tak merasa sendirian, seolah Alif menemaninya.


Tes.


''Rahmi tau salah kok. Rahmi tidak seharusnya keluar karna berbahaya, Rahmi salah pulang terlambat. Tapi Rahmi juga mau melihat dunia luar,'' gumam Rahmi sebelum matanya terpejam.


Disisi lain Alif terduduk didepan pintu kamarnya. Ia merasa kesal dengan dirinya sendiri.


''Tangannya pasti sakit telah kutarik secara paksa,'' gumam Alif pelan sambil menunduk.


Malam terlewati dengan Rahmi yang tertidur dikasur Alif dan Alif yang tertidur didepan pintu kamarnya.


Pagi telah datang, Alif membuka pintu kamar. Ia melihat Rahmi yang masih tidur dengan mata sembab.


Ia berjalan perlahan untuk bersiap kekantor. Setelah ia rapi pun Rahmi belum bangun. Alif mendekati Rahmi, ia memeriksa apa gadis itu sakit.


Alif bernapas lega, Rahmj tidak sakit mungkin hanya kelelahan.


Alif berjalan keluar kamar dan menutupnya. Ia tidak menguncinya lagi agar Rahmi bisa keluar untuk makan dan kembali kekamarnya.