
Saat membuka mata yang pertama kali Rahmi lihat adalah langit-langit ruangannya. Rahmi menengok kesamping, ia melihat Alif yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Merasa diperhatikan, Alif melihat kearah Rahmi. Gadis itu telah sadar dan menatapnya dari tadi.
Alif menutul laptopnya kemudian berjalan mendekati Rahmi.
''Mau pulang?''
Rahmi mengalihkan pandangannya dan mengangguk pelan.
...
Rahmi tiba dirumah, ia tersenyum kecil melihat bibi yang sibuk didapur.
''Bi!!'' seru Rahmi menghampiri Bibi.
''Nona? Nona kenapa kemari? Nona lapar?'' tanya Bibi tersenyum pada Rahmi.
Rahmi menggelang pelan dan dengan semangat ia berucap, ''Rahmi mau bantu Bibi''
Bibi cukup terkejut, tapi tak lama kemudian ia mengangguk.
Alif menatap Rahmi yang asik didapur. Gadis itu seolah melupakan segala hal yang menimpanya, senyumnya yang begitu lebar seolah mengatakan ia paling bahagia.
Alif naik keatas pergi kekamarnya.
Brak.
Alif memandang sekeliling, ia menggempalkan tangannya. Perlahan terlihat sebuah darah menetes dari tangannya.
Alif menghela napas panjang, kemudian melihat tangannya yang berdarah. Ia mengambil kotak p3k dan mengobatinya.
''Shh'' Alif meringkis saat tangannya terkena obat.
''Seberapa sakit tanganmu yang terkena pecahan kaca ...," Gumam Alif dengan wajah sedih.
...
Setelah selesai menyiapkan makanan Rahmi menyusunnya diatas meja, ia tampak senang melihat pekerjaannya telah selesai.
''Nona bisa panggilkan tuan diatas ...,'' ucap Bibi.
Rahmi tampak ragu, tak apakah bila ia yang memanggil Alif.
''Ayo Nona, nanti makanannya dingin,'' ucap Bibi mendorong Rahmi untuk segera memanggil Alif.
Rahmi berjalan keatas dengan ragu. Saat sampai didepan kamar Rahmi, ia memejamkan matanya dan mempersiapkan hatinya.
Tok,tok,tok.
''Masuk''
Rahmi membuka pintu, ia mengedarkan pandangannya. Alif duduk dikursi meja kerjanya yang ditutupi oleh sebuah pembatas. Kamar itu gelap dan terlihat berantakan.
'' ada apa?''
Rahmi mengalihkan pandangannya keasal suara tersebut. Alif memundurkan sedikit kursinya biar Rahmi dapat melihatnya karna pembatas yang menghalangi.
''A-anu ... Ma-makanannya s-sudah s-siap!!'' ucap Rahmi gugup. Wajah Alif terlihat samar karna hanya pencahayaan laptopnya saja yang ada.
Syyt.
Alif berdiri dan menghampiri Rahmi.
Tuk.
Rahmi terkejut saat membuka matanya Alif sudah ada didepanya menatapnya begitu intens.
''Kenapa?''
Rahmi menggeleng pelan. Alif terus berdiri didepan Rahmi, membuatnya bingung dan salah tingkah.
Puk!
Alif memegang pundak Rahmi, membuat sang empu terkejut sekaligus takut.
Set!
''Eh?!!''
''Jangan menghalangi jalan,''ucap Alif melangkah pergi.
Jadi dari tadi Alif menunggu Rahmi untuk bergeser agar ia bisa lewat. Tapi karna Rahmi tidak peka, jadi ia yang menggesernya.
''Cepet jalan!''
Rahmi segera mengejar Alif, ia berjalan dibelakang Alif.
Alif melihat meja makan yang telah rapi, ia berhenti melihat makanan yang begitu banyak tersaji disana.
Tuk.
Rahmi tidak sengaja menabrak Alif, ia memegang jidatnya dan menatap takut pada Alif.
Alif hanya melirik sekilas, kemudian ia duduk dimeja makan.
Rahmi berjalan perlahan untuk pergi.
''Mau kemana?''
Rahmi berhenti dan berbalik. Alif menatapnya dengan tajam, Rahmi takut dengannya.
''G-gak kemana-mana,'' ucap Rahmi setengah berbisik tapi masih bisa didengar oleh Alif.
''Makan sini! Saya tidak mau makanannya mubazir,'' ucap Alif membuat Rahmi sedikit bernapas lega.
Rahmi menatap makanan yang dimeja, memang makanannya lebih banyak dari pada biasanya.
Akhirnya Rahmi duduk, meski agak jauh dari Alif.
Alif menghela napas berat, ia akhirnya mulai makan. Sementara Rahmi ia takut untuk makan.
''Makan!'' ucap Alif tegas.
Rahmi tersentak, kemudian dengan hati-hati ia mulai makan. Hening hanya terdengar dentuman sendok dan suara kunyahan makanan.
Alif telah selesai makan. Ia menatap Rahmi yang makan dengan lahap. Padahal ia tampak takut saat awal makan tadi, tapi sekarang gadis itu makan tanpa berpikir akan kehadirannya.
''Huk!''
Rahmi buru-buru mengambil air dan meminumnya.
Rahmi menatap dengan takut-takut. Apakah Alif akan marah padanya.
''Enak?'' tanya Alif.
''ENAK!!'' ucap Rahmi spontan. Ia menutup mulutnya setelah sadar apa yang dilakukannya.
'Apa yang kulakukan ... Alif ... Marah?'
Rahmi melirik Alif, ia tercengang Alif tersenyum padanya.
''Rahmi sudah selesai!!'' ucap Rahmi segera berdiri, kemudian berlari kearah Bibi.
Rahmi bersembunyi dibelakang Bibi dan mengintip Alif dari belakang.
Bibi menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rahmi.
Alif beranjak kemudian pergi kekamarnya.
Bibi membereskan meja makan dengan Rahmi yang bersembunyi dibelakangnya.
''Tuan sudah pergi'' ucap Bibi.
Rahmi melepaskan pegangan-nya dari rok Bibi. Ia melihat sekitar apa Alif benaran sudah tidak ada. Tidak menemukan tanda-tanda, Rahmi menghela napas lega.
Rahmi pun membantu Bibi membereskan meja makan.
...
Alif melihat jam, sudah larut malam. Ia menghentikan aktivitasnya, kepelanya terasa berdenyut. Padahal masih banyak dokumen yang harua diperiksanya.
23:56.
Tenggorokannya terasa haus. Alif memutuskan turun kedapur.
Alif turun kedapur dan mengisi sebuah teko untuk dibawa keatas. Saat melewati lorong kamarnya, ia mendengar suara isak tangis meski tidak terlalu terdengar dengan jelas.
Alif melihat pintu kamar Rahmi yang tidak tertutup rapat.
''Rahmi?''
Alif masuk kekamarnya, ia melihat Rahmi memeluk selimutnya begitu erat dengan wajah memerah serta tubuh yang mengigil.
Alif mengangkat tangannya memeriksa suhu tubuhnya.
''Panas sekali,'' gumam Alif.
''Hiks ... K-kak,'' ngingau Rahmi.
Alif duduk diranjang Rahmi, ia duduk lama dengan tangan yang tidak bisa diam.
Tuk.
Alif tersentak Rahmi mendekatkan tubuhnya.
''Dingin,'' ngingau Rahmi.
Alif turun diranjang dan berjongkok menatap mata yang terpejam itu.
''Maaf ... Maafkan aku,'' gumam Alif pelan.
Ia keluar dari kamar Rahmi, kemudian ia kembali dengan sebuah baskom dan juga kompres.
Ia menggopres kepala Rahmi dan mengecek suhu tubuhnya.
''Sudah mendingan."
Alif menatap mata itu. Dulu ia begitu benci mata yang menatapnya dengan penuh pengharapan, tapi mata itu kini menatapnya dengan ketakutan.
''Jangan pergi ... T-tetaplah disini''
Tes.
Air mata turun dari pelupuk matanya. Alif menepuk-nepuk pundak Rahmi.
''Aku tidak akan pergi."
...
Pagi telah datang, cahaya matahari telah menyusup masuk kedalam kamar yang ditinggali oleh dua orang manusia.
Alif membuka matanya, lehernya terasa sakit. Ia tidur dengan terduduk dengan kepala diranjang Rahmi.
'Ah gawat! Aku lupa dokumen yang harus kucek!'
Alif segera berdiri, namun ia berhenti karna ada yang menariknya.
Alif berbalik, ia melihat tangan Rahmi yang menarik bajunya. Padahal mata gadis itu masih terpejam, tapi genggamannya begitu kuat.
Syut.
Alif melepaskannya dengan perlahan. Ia segera pergi kekamarnya.
Tak lama kemudian hari yang semakin terik mengusik Rahmi yang tertidur begitu nyenyak.
''Huahmm''
Rahmi merengangkan tubuhnya. Ia bermimpi indah semalam, ia bermimpi Alif tidaklah seburuk yang dipikirkannya. Alif menemaninya sepanjang malam, menjaganya serta merawatnya.
Rahmi tidak tau bahwa itu semua bukanlah mimpi tapi sebuah kenyataan.
...
''La..la.. La.''
Rahmi menyiram tanaman begitu riang, bagaikan hari yang begitu indah.
''Nona senang sekali ini hari,'' ucap Bibi.
''Hehehe,'' cenggir Rahmi.
Dari kejauhan Alif tersenyum melihat Rahmi yang sehat. Padahal badannya panas sekali semalam.