Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Tunangan


Beberapa setelahnya Alif keluar rumah sakit.


''Rahmi ... Kita pulang, yah?'' tanya Alif menatap mata Rahmi.


Rahmi mengangguk pelan. Ia tersenyum menatap mata laki-laki yang juga menatapnya.


''Ekhm,'' deheman Heira memecahkan suasana romantis diantara mereka.


''Nih kopernya ambil,'' ucap Heira menyerahkan koper Rahmi.


Pasangan suami istri didepannya ini selalu lupa kondisi sekitar bila sudah menyangkut pasangannya.


Rahmi mengambil kopernya kemudian menaruhnya dibagasi mobil.


Heira melambaikan tangan melihat mobil Alif sudah semakin jauh. Ia tersenyum lega melihat senyum mengambang diwajah adiknya.


''Rahmi ... semoga bahagia.''


...


Hari-hari telah kembali seperti semula. Rahmi dan Alif sudah semakin dekat, tak jarang mereka usil sendiri.


JRENG!!


''AHKK!! SINGKIRIN CACINGNYA!!'' teriak Rahmi berlari masuk kerumah.


Alif terkekeh melihat Rahmi. Ia bercocok tanam tapi takut dengan cacing yang ada ditanah.


Dengan usil Alif mengambil cacing tersebut dan memperlihatkannya pada Rahmi.


''HAAHHAHA!!''


''Singkirin gak!!!'' bentak Rahmi kesal.


Alif membuang cacing tersebut dan mengangkat tangannya bahwa ia sudah tak memegang apapun lagi.


''Sudahkan? Ayok cuci tangan,'' ajak Alif.


Rahmi berjalan dengan cepat agar Alif tidak bisa mengejarnya.


Karna Rahmi suka tanaman, Alif memberikannya bibit bunga. Merasa sangat senang, Rahmi mengajak Alif menanamnya bersamanya. Akan seperti apa bunga itu tumbuh Rahmi sangat menantikannya.


Cress.


Rahmi membersihkan tangannya diwestafel.


Syut.


''Hm... ''


Alif membersihkan tangannya dengan Rahmi. Ia seperti memeluknya dari belakang.


Deg, deg.


Rahmi dapat merasakan debaran jantung Alif yang begitu cepat. Rahmi mendongkak melihat Alif yang membersihkan tangannya diatas tangan Rahmi.


Glek.


Pipinya terasa panas. Dilihat dari mana pun Alif memang sangat tampan.


Rasanya debaran jantungnya lebih cepat dari Alif.


Greb.


Alif memeluk Rahmi secara tiba-tiba, ia tersenyum melihat wajah terkejut Rahmi dari pantulan cermin.


''L-lepas ... ''


Alif tidak melepasnya Ia malah memeluknya semakin erat dengan senyum jahilnya.


''ALIF!!''


Alif langsung melepaskan pelukannya, tapi senyumnya tidak luntur sama sekali. Melihat sikap Alif Rahmi cemberut dengan penuh kekesalan.


Set.


'S-sakit!!' jerit Alif dalam hati.


Rahmi tersenyum melihat perubahan ekspresi Alif. Ia mencubit lengannya dengan gemas.


Alif hanya dapat tertawa canggung melihat senyum senang yang Rahmi keluarkan.


''Nona, Tuan, waktunya makan,'' suara Bibi terdengar dari kejauhan.


Rahmi langsung berjalan keruang makan tanpa mempedulikan Alif. Selama makan Rahmi menggigit daging yang ia makan dengan ganas sambil menatap Alif dengan sinis.


Bagi Alif kelakuan Rahmi malah seperti kucing yang ngambek.


''Nanti tersedak, Rah.''


Belum beberapa menit Alif mengucapkannya Rahmi beneran tersedak daging.


''Tuh, kan. Makanya jangan geyel,'' ucap Alif memberikan gelas berisi air pada Rahmi.


Rahmi menerima gelas tersebut dan meminumnya hingga habis. Mana tau ia akan tersedak kalau berprilaku seperti itu.


Melihat bibir manyun Rahmi, Alif menyunggingkan senyumnya.


''Awas bibirnya kucium.''


Hup!


Rahmi menutup mulutnya dengan tangannya. Ia ogah banget dicium sama Alif.


''Nanti suka kalau diliatin terus,'' ucap Alif merasa Rahmi menatapnya seperti ingin melubangi tubuhnya dengan tatapan matanya.


Bibi tiba-tiba datang kemudian berbisik diteliga Alif.


''Kita selesain makannya,'' ucap Alif menatap Rahmi.


Rahmi mengangguk patuh dan segera menghabiskan makanannya.


Setelah selesai makan, Rahmi naik kekamar mengganti pakaiannya. Alif bilang mereka akan bertemu seseorang.


tinnnn.


Rahmi berlari dengan cepat karna Alif sudah membunyikan klakson mobilnya beberapa Kali.


Rahmi duduk disamping Alif dengan napas tersenggal-senggal.


Mobil melaju dengan cepat. Rahmi menatap ekspresi datar Alif.


'Apa Alif marah?'


''Kamu marah?''


''Tidak.''


''Bohong... ''


''Tidak.''


''Enggak... ,'' ucap Alif melirik Rahmi yang manyun.


''Ekhm. Kamu kali yah marah, Rah,'' ucap Alif tersenyum.


''Gak!''


''Pftt.''


Mendengar kekehan Alif, Rahmi mencubit lengannya.


''Sakit, Rah. Kamu suka banget cubit aku, yah.''


''Heheh,'' Rahmi tertawa kecil mendengarnya.


Obrolan kecil mereka adalah kebahagian untuk Rahmi. Setelah penyiksaan yang ia dapatkan, Alif tidaklah sejahat yang ia pikirkan.


'Apa semuanya akan bertahan... '


Rahmi menggeleng dengan cepat. Bersyukur, ia harus bersyukur dengan kebahagiannya sekarang.


''Kita sampai.''


Rahmi menatap gedung tinggi yang terlihat begitu megah.


''Kita ngapain disini, Alif?''


''Makan,Rah.''


Alif turun dari mobil kemudian memutarinya.


''Ayo.'' Alif mengulurkan tangan pada Rahmi.


Rahmi menggapai tangan Alif kemudian turun secara perlahan.


''Rahmi pikir kita akan bertemu seorang yang penting.''


''Iya. Kita ketemunya sambil makan.''


Rahmi mengangguk pelan. Meraka memasuki gedung yang menjulang tinggi tersebut. Didalamnya sangatlah mewah berbeda dengan luarannya yang hanya memperlihatkan gedung pencakar langit tersebut dengan datar.


Mereka langsung naik lift kelantai tertinggi.


Ting.


Pintu lift terbuka memperlihatkan pemandanga yang lebih memesona dan hanya ada beberapa meja disana.


''kenapa, Rah?'' tanya Alif melihat Rahmi hanya berdiam diri tanpa ingin bergerak.


Rahmi menggeleng pelan, ia cuma terkagum melihatnya. Siapa yang akan. bertemu dengannya? melihat dimana ia akan bertemu pasti orang yang sangat penting.


''Star!!''


Tanpa sadar ia memanggilnya seperti sedia kala.


Rahmi diam dengan ekspresi sulit diartikan. Apa yang ia lihat didepannya.


Ryan dengan penampilan lebih rapi memanggilnya star? Perempuan yang pernah menyakitinya duduk disebelahnya dengan seorang perempuan lain yang terlihat elengan. Dirinya terasa berbeda sendiri. Gamis warna merah muda dengan jilbab panjang warna merah jambu sangat berbeda dengan mereka. Rambut tergerai dengan gaun yang terihat mewah.


''Rah?'' Alif menatap Rahmi, apa yang ada diotak kecil istrinya itu hingga begitu murung.


Rahmi mengalihkan pandangannya, ia menatap Alif dari bawah hingga keatas. Stelan hitam yang cocok untuknya juga rambut yang tersisir rapi.


Rahmi meremas pakaiannya dan mengigit bibir bawahnya. Ia tidak suka pertemuan ini. Dirinya juga ingin berkumpul dengan orang yang mirip dengannya.


''Rah... '' lirih Alif.


Rahmi melihat mata khawatir Alif. Ia sebisa mungkin tersenyum.


Alif menghela napas panjang kemudian mengusap kepala istrinya itu. Apapun yang dipikirkan Rahmi, Alif tidak suka ekspresinya tadi.


Mereka duduk dimeja bundar. Suasana canggung yang melanda dipecahkan oleh Ryan.


''St- Rahmi... Lama tidak bertemu,'' ucap Ryan pelan.


Rahmi menganggukkan kepalanya. Ia tidak tau apa yang harus ia jawab.


Ryan tersenyum kecut melihat respon Rahmi. Jarak diantara mereka semakin terbentang.


''Aku ingin memperkenalkan pada kalian... Ini Adelya dan juga tunanganku April.''


Rahmi menatap mereka, saat matanya bertemu entah mengapa Rahmi langsung merinding.


''Semoga lancar sampai pelaminan,'' ucap Alif.


Ryan tersenyum dan mengangguk pelan.


''Star... Ku dengar kamu lupa ingatan, yah?'' tanya April dengan senyumnya.


Rahmi diam saja membuat keadaan menjadi canggung.


''Haha... Kamu benaran gak ingat?''


Alif memincingkan matanya, ia tidak suka dengan pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.


''Ah... Maaf bila saya salah bicara. Melihat orang yang dulunya dekat denganku kini tak mengenalku rasanya sedih,'' ucapnya dengan ekspresi sedih.


''Star... Masih ingat sampai mana?''


Alif menatap Ryan. Bisakah tunangannya itu diam.


''April... Sudah! Adikku tidak ingat apapun!''


April hanya tersenyum mendengar ucapan Ryan.


Rahmi menatap sekelilingnya. Rasanya sesak dan tidak mengenakkan.


Alif menatap ekspresi Rahmi. Memang benar pertemuan ini seolah tak begitu berarti. Ryan juga tak terlalu mempedulikan tunangannya itu.


Rasanya ini hanya formalitas. Yah, mungkin saja mereka menikah politik. Melihat hubungan kerja sama antara Ryan juga ayah dari April sangat mungkin ini adalah pernikahan bisnis.


Dalam kecanggungan tesebut datanglah seorang pelayan mengantarkan makanan.


Rahmi makan dengan perlahan. Ia tak selera makan meskipun yang tersaji makanan kesukaannya.


''Nih, makan.'' Alif memberikan udang rebus yang sudah ia buka kulitnya.


Rahmi tersenyum kemudian mengangguk. April melihat intraksi keduanya dengan tajam.


''Star bukankah kau benci udang?''


Alif memincingkan matanya. Perempuan didepannya benar-benar mencari masalah.


''Tidak. Aku suka udang, lagipula namaku Rahmi bukan star.''


''Maaf. Kamukan lupa ingatan,'' ucapnya tersenyum miris.


Rahmi memilih melanjutkan makannya. Rasanya ia akan emosi bila terus meladeninya.


Pertemuan itu selesai dengan cara kurang mengenakkan. Selama perjalanan pulang, Alif selalu menggerutuk.