
Alif datang kerumah sakit. Ia datang dengan membawa bunga untuk Rahmi. Dia datang pagi-pagi sekali.
Cklek.
Degh!
Ruangan itu telah kosong. Bahkan terasa dingin seolah sudah lama ditinggali.
Alif segera berlari menuju resepsionis.
''Kemana pasien yang ada diruang 536?''
''Sebentar saya cek.''
Alif menunggu dengan khawatir. Apa Ryan membawa Rahmi pergi.
''Pasien telah dipindahkan kerumah sakit lain,'' ucap-nya.
''Kerumah sakit mana?''
''Maaf kami tidak tahu.''
Alif keluar dari rumah sakit, ia meremas bunga yang dibawanya. Alif membuang bunga itu ketong sampah. Ia segera bergegas keperusahaannya, bila ryan dapat membawa rahmi pergi. Maka ia juga bisa membatalkan kerja sama mereka.
...
Rahmi menatap tajam orang yang didepannya. Ia meringkuk sambil memeluk lututnya.
''Ami makanlah ...,"ucap Ryan berusaha menyuapi Rahmi.
Rahmi memalingkan wajahnya enggan.
Ryan menghela napas, ia menaruh makanannya disamping.
''Aku mau pulang,'' ketus Rahmi.
Ryan menyipitkan matanya, setelah apa yang dilakukan Alif ia masih mau kembali dengannya.
''Disini rumahmu!''
''BUKAN!!! Aku tak menengenalmu!!'' ucap Rahmi lirih tapi ia juga tak yakin dengan ucapannya.
''Akukan sudah bilang!! AKU KAKAKMU!!''
Degh!
Syut.
Rahmi menutup wajahnya, hatinya sakit dibentak seperti itu.
''Maaf ... Aku tak sengaja,'' ucap Ryan pelan.
Ia ingin mengenggam tangan Rahmi, tapi melihat Rahmi yang enggan. Ia akhirnya mengurungkan niatnya.
Ryan keluar dari ruangan itu. Ia bertemu dokter didepan pintu.
Ryan menatapnya sekilas kemudian melanjutkan langkahnya.
Rahmi menatap dokter yang memeriksanya. Meski sudah sadar, tubuhnya terkadang terasa lemas dan sakit yang tak mau berhenti.
Tapi berada diruangan ini membuatnya merasa dipenjara. Tangannya seperti dirantai, setiao kata dan tindakannya selalu diawasi.
Rahmi berpikir cukup lama. Kabur, itu yang ia inginkan. Ia ingin pergi jauh, jauh sejauh-jauhnya dari kehidupannya.
Ia rindu hidupnya dengan bundanya dulu. Keluarga sederhana dipedesaan yang dalam, suasana yang masih jauh dari kata peradaban modern.
Tapi bisakah ia kabur? Setiap hari akan ada dokter juga suster yang mengeceknya. Penjaga juga pasti ada dibeberapa tempat. Rasanya sulit untuk kabur, kemana ia bisa pergi.
Andai ia tak mengalami kecelakaan.
Nyutt.
Rahmi menahan kepalanya yang terasa berdenyut. Ia mengingat kecelakaan kedua orang tuanya. Hari itu hujan deras, ia dengan bundanya akan pergi kerumah kerabat lain.
Namun hujan begitu deras dengan jalanan yang tidak seimbang.
Ckittt.
Kecelakaan terjadi, merengut nyawa orang yang ia sayang. Disana pula ia bertemu dengan Abby dan awal dari segalanya.
Tanpa ia sadari malam telah tiba. Suasana rumah sakit menjadi sepi.
Rahmi menatap kejendela yang bertiup angin semilir malam.
Syut.
...
Ryan datang untuk menjenguk Rahmi. Ia sudah siap akan respon negatif dari adiknya.
''Ra-''
Ryan menatap sekeliling yang terlihat sepi. Ia pergi ketoilet.
''Rahmi?''
Tidak ada sautan, Ryan langsung berlari keluar.
Rahmi ... Ia hilang.
Hilangnya Rahmi membuat Ryan juga Alif menjadi bermusuhan
''Kau yang menculiknya!'' tuding Alif.
''Hah? Bukankah kau yang menculiknya?'' ucap Ryan sinis.
''Jangan mempermainkan-ku!!'' ucap Alif.
''Kau pikir aku main-main'' sinis Ryan.
Selama beberapa hari mereka bertengkar. Tak jarang mereka ditemukan saling memukul ditempat umum.
''KEMANA KAU MEMBAWANYA!!!'' Teriak Alif kesal.
''KAU YANG MENCULIKNYA!!!'' tuding Ryan.
Keduanya memandang sinis. Tak lama setelah lempar hinaan mereka bertengkar.
''BERHENTI BERTENGKAR!!!'' ucap Kelvin melerai mereka.
Ia sudah kesal dengan mereka yang bertengkar selama satu minggu terakhir.
Tiada henti berita tentang mereka yang bermusuhan muncul. Ia juga ikut terlibat hingga sulit keluar kemana-mana karna paparazi yang mengerumuninya setiap melihatnya.
''DIA YANG MULAI!!'' ucap mereka bersamaan. Mereka kembali memandang dengan sinis satu sama lain. Dan tak lama kemudian mereka kembali saling melemparkan pukulan.
''Ada yang pernah melihat Rahmi ...,"ucap Kelvin membuat Ryan juga Alif berhenti bertengkar.
''DIMANA?!!''
Kelvin menutup kupingnya dan menyuruh mereka untuk duduk. Meski enggan mereka juga akhirnya duduk bersama ditaman itu.
''Dipinggiran perbatasan kota ... Meski didekat perkampungan disitu cukup modern... Nara sumber mengatakan melihat Rahmi menikmati sebuah festival dengan begitu gembira. Ia sempat menduga bukan Rahmi karna ia tidak terlihat sakit sama sekali''.
Kelvin mengeluarkan sebuah foto, foto yang memperlihatkan Rahmi memakai topi menutup sebagian kepalanya. Difoto itu Rahmi terlihat tersenyum begitu lebar.
''Tunggu!! Siapa yang mengenggam tangannya!!!'' ucap Alif setelah melihat foto itu secara seksama.
''Aku juga kurang tau ... Aku akan memeriksanya lagi nanti,'' ucap Kelvin sambil menaruh tangannya didagunya. Kemudian ia memandang kedua orang didepannya.
''Kalian juga jangan bertengkar saja. Apa bertengkar menyelesaikan masalah? Kita punya musuh dimana-mana ... Jangan membuat sejarah baru,'' ucap Kelvin menyindir.
Memang mereka telah membuat sejarah baru, pengusaha muda ditemukan bertengkar dipinggir jalan hingga merusak barang-barang masyarakat sekitar, kira-kira seperti itu topik majalah yang sampai sekarang dibanjiri pertanyaan dan pemesanan.
Mereka telah mencetak sejarah dalam keluarga masing-masing. Permusuhan secara terang-terangan didepan publik. Sungguh memalukan, meski Kelvin juga termasuk pencetak sejarah nama keluarga dengan sikapnya yang buruk. Setidaknya ia tak pernah merusak citra perusahaannya.
''Kenapa kau tidak langsung menangkapnya?!!'' tuding Ryan tajam.
Kelvin menaikkan bahunya tidak tau.
''Kalau semudah itu akukan sudah membawanya didepan kalian biar kalian tidak bertengkar lagi hingga membuat sejarah kelam dalam dunia bisnis'' ucap Kelvin menyandarkan bahunya dan menghela napas panjang.
''Aku akan menyuruh bawahanku mencarinya!'' ucap Ryan.
''Jangan ikut campur!! aku yang akan mengirim bawahanku mencarinya!!'' ucap Alif tajam.
Mereka memandang dengan sinis.
''CUKUP!!''
''Aku sudah melakukannya tapi tak ada hasil. Ia hilang tanpa jejak, hanya sebatas itu yang kita temukan,'' ucap Kelvin menghembuskan napas panjang.
''Kalian berhenti bertengkar!! bekerja samalah!!'' ucap Kelvin memberi saran.
''Aku dengan dia?'' tanya Ryan tajam.
''CIIHH!!'' keduanya memalingkan muka tak setuju.
''Mau ketemu apa tidak?'' tanya Kelvin menaikkan alisnya.
Mereka enggan pun harus mau. Akhirnya mereka berdua saling mengangguk bahwa setuju untuk bekerja sama.
....
Dipelosok desa yang terdalam, dimana masyarakat jauh dari kata modern. Pencahayaan yang masih memakai lilin karna listrik dianggap mewah. Mata pencahariannya dengan bertani atau nelayan. Hanya beberapa orang yang memiliki alat elektronik dirumahnya.
Ditengah hamparan rumput sesosok gadis memakai topi tengah memandang langit biru yang cerah.
''Rahmi!!''
Rahmi menengok, ia tersenyum melihat perempuan yang berlari kearahnya.
''Jangan lari-lari ... aku juga tak akan kabur,'' ucap Rahmi tertawa riang.
''Gak mau!!! kamu akan ninggalin aku!!'' ucapnya tidak mau kalah.
Dengan iseng Rahmi berlari.
''RA!!'' kesalnya. Ia berlari mengejar Rahmi.
''Hahah ... Ayo tangkap aku!'' tawa Rahmi sambil menghindar.
Ia kabur, pergi jauh dari segalanya, bersembunyi dibalik hutan dipelosok desa yang jauh dari peradaban.
Disini pula ia merangkai kebahagian sebuah keluarga yang telah rusak.