
cklek.
Heira menaruh bukunya, ia siap menyambut kepulangan adiknya.
Deg!
''RAH!!''
Ia menghampiri Rahmi dan menanggkup kedua wajahnya agar dapat melihatnya dengan jelas.
''Adikku kenapa?''
Rahmi menggeleng pelan, ia berjalan meletakkan beras dan masuk kekamarnya.
''Pasti sih bangong!!'' ucap Heira melipat kedua lengannya dan bersiap untuk memberantas penjahat.
...
''WOIII KELUAR LO!!!''
Kelvin yang sedang duduk manis sambil minum kopi terkejut hingga kopinya tumpah.
''AKHHH!!! Siapa sih yang teriak-teriak!! Dasar Nenek lampir,'' umpatnya kemudian turun dari balkon rumah.
Saat turun ia langsung dihadapkan dengan Heira dengan muka garangnya.
'Buset!! Kaya mau makan orang aja.'
''Apaan?'' tanya Kelvin melipat kedua tangannya.
''APAAN-APAAN!! LO-KAN YANG BIKIN ADEK GW NANGIS!!!''
'Weh bisa bahasa gaul juga nih kampung.'
Heira memicingkan matanya, ia sudah marah-marah tapi orang yang didepannya malah sibuk sendiri.
PLAK!
''Aduh ....''
Kelvin melihat apa yang menimpa wajanya yang tampan itu. Ia mengambil benda yang dilemparkan padanya dengan geram.
''APA?!!'' garang Heira menantang.
''Heh cewek kampret! bisa-bisanya lo lemparin gw sandal!!!'' ucap Kelvin melempar balik.
Syut.
Heira hanya menggeser sedikit lemparan itu sudah meleset.
''Siapa yang nangis Hah?!!''
''ADEK GW-LAH!!!'' teriak Heira kencang.
Kelvin menutup kupingnya, padahal ia tidak teriak-teriak nanya tapi malah dijawab dengan teriakan maut.
''Iya ... Siapa adek lo-nya?'' tanya Kelvin kesal.
''Yah siapa lagi ... Rahmi Afifah,'' pelan Heira.
''Hah??!!!''
'Tunggu dulu!! Sejak kapan Ryan punya saudara galak kaya dia ....'
''Oi!!''
Tak ada respon Heira siap untuk melemparkan sandalnya lagi.
''Kamu ... Siapanya Ryan?'' tanya Kelvin membuat Heira melongo.
''Mana gw tau kambing!!''
''Lah terus elu saudaranya siape heh?!!''
''Yah saudaranya Rahmi!''
''Nah Rahmi adeknya Ryan!!''
''Eh ....''
''Loh ....''
''GW ANAK BUNDANYA KAMBING!!'' ucap Heira kesal dan memukul Kelvin.
Setelah puas Heira langsung pulang kerumah untuk melihat adeknya.
Tok, tok, tok.
''Masuk Kak''
Heira masuk dengan membawa sepiring nasi goreng. Ia menghampiri Rahmi yang duduk meringkuk dipinggir kasur.
''Rah ... Makan yah?''
Rahmi mengambil piring itu dan makan secara perlahan.
Tes.
Air matanya jatuh.
''Kakak mau denger cerita gak?''
''Apa?''
''Ada seorang gadis yang baru saja kehilangan orang tuanya. Tapi ia tak sempat berduka sama sekali karna ketika ia bangun dari sakitnya ia sudah akan dinikahkan dengan orang yang tak dikenal. Ia berada ditempat asing dan akan bertahan hidup disana. Ketika ia menikah tidak ada yang baik, ia tak dianggap, disiksa, dihina, juga dipermalukan. Apakah ia salah membenci suaminya yang sudah meminta maaf?''
Heira memeluk Rahmi berusaha memberi kekuatan.
''Tidak! tidak ada yang salah... Membenci, mencintai, memberi, memaafkan, semuanya adalah hak kita. Tak perlu alasan yang besar."
''Apa itu alasan kau kabur kemari?''
Rahmi mengangguk pelan.
''Banyak ... Aku lelah dengan segalanya. Ingin hidup bebas sama seperti saat bunda ada.''
Heira sadar bukan cuma ia yang rindu sosok mereka tapi Rahmi juga.
...
''Wajahmu kenapa?'' tanya Ryan pada Kelvin.
''Kena pukul sama gorila,'' ucap Kelvin malas. Ia mengobati lukanya yang terasa nyeri.
''Dari mana?'' tanya Ryan melihat Alif lewat.
Alif tidak menjawab dan hanya berlalu saja melewatinya.
Tak lama kemudian Alif keluar dengan penampilan sudah rapi.
''Mau kemana?'' tanya lagi Ryan.
''Ketemu Rahmi."
Ryan langsung berdiri dan mengikuti Alif.
''Kel gak mau ikut?''
Memikirkan akan bertemu Heira Kelvin menggeleng dengan cepat.
...
Tok, tok, tok.
''Assalamualaikum.''
''waalaikumussalam.''
Pintu terbuka, terlihat Rahmi dengan pakaian sederhana serta kerudung coklat susu yang lebar hingga lengan tangannya.
''ADEK, SIAPA?'' teriak Heira.
''Bukan siapa-siapa kak!!'' ucap Rahmi agak kencang.
Cklek.
Rahmi menutup pintu dan menatap kedua laki-laki yang ada didepannya.
''Star ... Ayok pulang''
''Aku bukan star!''
''Rahmi, kita pulang yuk kerumah kita.''
Rahmi memandang Alif. Rumah kita? sejak kapan ia menganggap dirinya sebagai penghuni rumah itu.
Syut.
Greb.
Alif langsung menahan tangan Rahmi.
''Kumohon ... Maafkan aku, demi Abby''
Degh!
''Kau mengancamku?'' tanya Rahmi berbalik.
''Tidak ... Tapi Abby akan sedih bila ia tau,'' ucap Alif menatap mata Rahmi.
Rahmi tidak dapat mengatakan apapun. Ia masuk kedalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat.
''Kenapa Rah?'' tanya Heira.
''Tidak apa kak,'' ucap Rahmi berjalan kekamarnya.
''hm?''
....
Disiang yang cerah Heira tengah tidur dengan nyenyak diatas sofa dengan buku diwajahnya.
Tok, tok, tok.
Tok, tok, tok.
Lama kelamaan suara ketukan semakin keras dan cepat.
''ISH! SIAPA SIH!!!'' geram Heira.
Cklek.
Rahmi keluar dari kamarnya dengan mengucek-ucek matanya. Sepertinya ia juga terbangun karna suara ketukan.
BAM!!.
Heira membuka pintu rumah dengan cepat.
SYUTT!
Bunga bertaburan jatuh dari atas. Seorang laki-laki dengan kacamata hitamnya memberikan sebuket bunga pada Heira.
''Kau ngapain?'' tanya Heira sinis.
''Membujukmu lagi,'' ucapnya membuka kacamatanya.
''AKU TAK AKAN KEMBALI!!!''
BAM!!
Heira menutup pintu dengan keras.
''Kenapa kak?''
''Ada orgil didepan'' ucap Heira kembali berjalan kesofa untuk melanjutkan tidurnya.
''WOI KUKANG!! DENGERIN DULU NAPA!!'' teriak nya kencang.
''Kak itu didepan?'' ucap Rahmi tak enak.
''Biarin aja!'' ucap Heira kembali menutup wajahnya dengan buku.
''WOI BUKA!!BUKA!!''
Heira melempar bukunya dan membuka pintu.
''Minta dihajar!!!''
BUGH!!
PLAK!!
SYUT!!
''Beres ...,'' ucap Heira meski ia dapat tamparan diwajahnya setidaknya ia sudah membuat laki-laki itu babak belur.
Ia segera berbalik pulang, ia tak akan menyerah begitu saja. Dijalan ia melewati seseorang yang menatapnya dengan insten.
''Dia bawa bunga ...'' gumam Alif pelan. Ia melihat penantaran rumah yang dipenuhi bunga.
Ia datang lagi untuk membujuk Rahmi. Ia sudah membulatkan tekadnya akan membawa Rahmi pulang bagaimanapun caranya.
Tok.
Tak ada sautan Alif mengetuk lagi.
Tok.
Tok.
Tok.
Rahmi yang duduk sambil membaca buka membuka pintu karna Heira sudah berkelana hingga keujung dunia.
''Assalamualaikum.''
''Waalaikumussalam.''
Rahmi hanya menatap tanpa mengatakan apapun lagi.
''Aku ingin bicara sebentar,'' ucap Alif mengulurkan tangannya.
Rahmi menatap tangan itu cukup lama hingga ia meraihnya. Entah apa yang akan dikatakan Alif untuk membujuknya.
Mereka berjalan hingga tiba disebuah taman kecil yang ada didekat desa. Alif dan Rahmi duduk dibangku taman yang sudah usang itu.
''Kita pulang yah?'' bujuk Alif.
''Tidak!!''
''Rahmi.. Maaf, Beri aku kesempatan,'' ucap Alif mengenggam tangan Rahmi terlihat dimatanya keseriusan.
Rahmi tidak menjawab. Bisakah ia memberi kesempatan pada suaminya itu.
''Rah, Ayok pulang. Kumohon,'' ucap Alif mencium tangan Rahmi.
Blush.
Wajah Rahmi langsung memerah, ia melirik Alif diam-diam.
'Mungkin aku bisa memberinya kesempatan lagi.'
Lama Rahmi tidak menjawab, Alif mendekatkan tubuhnya.
''Pulang Rahmi! Kalau kau tak mau pulang apapun caranya aku sendiri yang akan membawamu pulang!!'' ucap Alif didepan wajah Rahmi.
Tes.
Sebulir bening keluar dari mata Rahmi.
Degh.
Spontan Alif memeluk Rahmi.
''Maaf! Aku tak bermaksud seperti itu ... Pulang yah?'' ucap Alif lembut.
''Hiks ...."
Air mata Rahmi turun begitu deras, rasanya sulit menjawab.
''Kalau tidak jawab aku anggap iya,'' ucap Alif menatap mata Rahmi.
Syut.
Sebuah bunga besar yang entah dari mana diberikan oleh Alif.
''Aku tak pernah memberimu bunga ... Maaf,'' ucapnya menyesal.
Rahmi memegang bunga itu begitu erat. Mungkin ini sebuah harapan baru untuknya.
''Besok kita pulang,'' ucap Alif memutuskan kemudian menarik tangan Rahmi.
Ia mengantar Rahmi sampai rumahnya.
''Besok aku akan datang lagi, lalu kita pulang,'' ucap Alif tersenyum hangat pada Rahmi.
Rahmi memandang wajah Alif yang tersenyum padanya, tanpa sadar bibirnya terangkat, '' Iya."