
Setelah kejadian dihari itu, hubungan Rahmi dan Alif menjadi canggung. Beberapa kali saat mereka bertemu keduanya malah menghindar.
''Nona kenapa?'' tanya Bibi melihat Rahmi hanya menatap makanannya.
''Rahmi keringat Abby,'' ucap Rahmi pelan.
Mengenai masalah ini Bibi tidak bisa mengatakan apa-apa, ia hanya bisa menepuk-nepuk pundak Rahmi memberinya kekuatan.
''Abby kangen Rahmi gak?'' gumamnya.
''Tentu saja nona,'' ucap Bibi menghibur.
Rahmi tersenyum kecil.
'Apakah Abby baik-baik saja ... Zahra bilang penyakit abby cukup parah,' ucap zahra sedih.
''Nona kalau kangen sekali bisa minta izin tuan untuk bertemu,'' saran Bibi.
Rahmi tampak berpikir, memang yang dikatakan Bibi dapat menjadi jawaban solusinya. Tapi apakah tidak apa-apa, karna Alif dan Abby sedang bertengkar.
Degh, degh.
Rahmi memegang dadanya yang berdenyut kencang. Bayangan ruang kegelapan dan air yang kolam adalah trauma yang menakutkan untuknya. Rasa dingin yang menusuk terkadang masih ia rasakan, mimpi terseret dari kolam hingga keatas masih sering terbayang dikepalanya.
Lorong kamar yang sepi bagaikan tempat keramat untuknya. Rasa sesak karna sendirian juga kelaparan yang tak kunjubg hilang. Semuanya terasa seperti kejadian baru saja.
Rahmi memegang lengannya erat. Wajahnya memucat dengan kesakitan.
''Nona tidak apa?'' tanya Bibi khawatir.
Rahmi tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum kepada Bibi.
''Rahmi tidak apa kok,Bi!''
Rahmi akhirnya memakan makanannya. Setelah selesai ia duduk ditaman belakang sambil memandang langit.
Langit yang cerah membuat senyumnya mengambang. Rahmi duduk tak jauh dari kolam berenang. Tangannya terkadang masih gemetaran setiap mengingat kejadian itu.
''Tidak apa ... semua sudah lewat,'' gumamnya pelan.
Rahmi terus berada ditaman, menikmati semilir angin yang bertiup. Ia tidak memikirkan apapun, pikirannya kosong. Menikmati hari dengan tidak melakukan apapun atau tidak memikirkan apapun.
'Rasanya ... lebih nyaman.'
Tanpa terasa langit yang biru mulai kejinggaan.
'Alif akan segera pulang,' pikir Rahmi.
Ia beranjak dari duduknya memasuki rumah.
Benar saja, Alif sudah tiba dirumah dan sedang mengobrol dengan Bibi.
Merasa ditatapi Alif mengalihkan pandangannya. Ia berjalan mendekati Rahmi dan berdiri didepannya.
Greb.
Rahmi memejamkan matanya, takut Alif akan memukulnya.
Tidak merasakan apapun Rahmi membuka matanya perlahan.
Rahmi menatap dengan terkejut, Alif melihat lukanya dengan wajah khawatir.
''Aku belikan salep,'' ucapnya kemudian memberikan sebuah salep kecil pada Rahmi.
Rahmi menerimanya dan mengenggamnya dengan erat. Melihat wajah Alif entah keberanian dari mana ia mengutarakan keinginannya.
''Rahmi pengen ketemu Abby,'' ucap Rahmi pelan.
Alif diam, ekspresinya tak bisa diartikan. Alif berbalik pergi, namun langkahnya terhenti.
''Besok aku antar,'' ucapnya kemudian kembali melangkah pergi.
Rahmi sama sekali tak dapat menyembunyikan wajah senangnya. Ia senang sekali hingga senyumnya begitu lebar.
''Nona jangan keliatan bangey juga atuh,'' ucap Bibi terkekeh melihat tingkah Rahmi.
Rahmi menyengir kecil dan menyenggol Bibi.
''Aduh Nona."
Bibi dan Rahmi tertawa ringan.
...
Pagi-pagi sekali Rahmi sudah bersiap untuk pergi. Ia bahkan mengecek bawaannya yang tak seberapa beberapa kali. Dengan semangat membara ia turun pergi kedapur. Disana Bibi tengah sibuk memasak dengan pelayan lain. Semua orang sibuk pagi-pagi untuk berberes-beres.
''Bi!'' seru Rahmi.
Bibi mengalihkan pandanganya dan tersenyum melihat Rahmi bagaikan anak ayam yang ingin bertemu induknya.
''Nona mau makan?''
Rahmi mengangguk antusias, ia duduk dimeja dapur sambil menunggu makanan dibawa oleh Bibi.
''Ekhm."
Deheman itu mengalihkan perhatian Rahmi.
Glek.
Rahmi menelan ludahnya berat melihat Alif dengan pakaian santainya menatapnya dengan intens. Sepertinya ia hanya akan memakai itu untuk pergi bertemu abby.
Dengan spontan Rahmi menunduk menatap dirinya yang kekanak-kanakan. Pakaian yang terlalu ngejreng dengan tas kecil berbentuk hewan yang berbulu. Ingin rasanya kembali kekamar berganti pakaian. Ia tak akan pernah dikira istri dari suaminya karna penampilannya juga tubuhnya yang kecil.
''Tuan juga lapar?'' tanya Bibi menghampiri Alif.
Alif melirik Rahmi sekilas kemudian berbicara dengan Bibi dengan suara yang begitu kecil hingga Rahmi tak mendengarnya.
Bibi mengangguk pelan. Alif segera berbalik dan pergi.
Rahmi menatap dari kejauhan dengan sedih. Kenapa juga ia berharap Alif akan menghampirinya.
Rahmi menggeleng pelan kemudian menyemangati dirinya karna akan bertemu Abby setelah sekian lama.
Rahmi menunggu sambil memperhatikan Bibi. Tapi Rahmi tiba-tiba terheran-heran, semua makanan dibawa kemeja makan tanpa menyisahkan apapun untuknya.
''Untuk Rahmi?'' tanyanya saat Bibi lewat.
Dengan senyum kecil Bibi menunjuk meja makan dan mengatakan,'' Tuan gak mau Nona makan disini."
Rahmi melonggo mendengar ucapan Bibi. Jadi dia harus pergi kesana makan bersama Alif.
Rahmi mesih tidak enak dekat-dekat dengan Alif. Meski hubungan mereka berubah, tapi dirinya juga kadang takut kejadian itu kembali menimpanya.
''Nona laparkan?'' tanya Bibi dan diangguki oleh Rahmi.
''Yaudah, Nona makan sama tuan sana,'' ucap Bibi menatap mata Rahmi yang terlihat khawatir.
Rahmi mengangguk pelan. Dirinya memang lapar, bila tidak makan disana. Ia tak akan bisa makan karna ini perintah dari Alif.
Akhirnya mau tak mau ia tetap duduk dan makan bersama Alif.
Tapi sudah kebiasaan Rahmi bila ia sudah makan, ia akan melupakan banyak hal. Tentu saja ia lupa sedang makan dengan Alif, hingga lagi-lagi ia makan dengan lahap.
Setelah selesai makan, Rahmi baru tersadar dimana posisinya sekarang. Ia melirik Alif dengan hati-hati, tapi Alif seperti tidak begitu peduli dengannya.
Rahmi segera turun dari kursi kemudian berjalan dibelakang Alif.
Perjalan dari rumah mereka kerumah Abby memakan waktu 2 jam.
Tapi waktu itu terasa cepat karna Rahmi asik memainkan handphonenya.
Alif melirik Rahmi dari kaca depan mobil, Ia melihat Rahmi yang tersenyum-senyum menatap handphonenya.
''Kemarikan ponselmu,'' ucap Alif tegas.
Rahmi tersentak, ia menyerahkan handphonenya dengan sedih. Ia takut Alif akan menghancurkannya atau membuangnya. Rahmi terus menunduk hingga ia tidak tau Alif menyimpan nomornya disana.
''Ini ambil.'' Alif menyerahkan handphone tersebut kepada Rahmi.
Rahmi mengambil handphonenya dan membalik-baliknya untuk mengeceknya apa ada yang rusak.
Alif menatap kelakuan Rahmi, ia hanya bisa menghela napas kasar. Karena ini semua juga bermula dari dirinya.
...
Alif memberhentikan mobilnya dirumah besar yang sederhana itu.
''Kita sampai?'' tanya Rahmi sambil mengucek-ucek matanya, karna ia baru bangun dari tidurnya.
Alif mengangguk pelan dan turun dari mobil. Rahmi juga membereskan barangnya dan bersiap untuk turun.
Cklek.
Rahmi terkejut, Alif membukakan pintu mobil untuknya. Ini pertama kalinya Alif melakukan hal tersebut.
Rahmi turun dengan hati-hati. Ia memandang sekitar, tempat itu tidak berubah.
Alif menatap pemandangan tersebut cukup lama.
''Ayok masuk,'' ajak Alif.
Rahmi kembali terkejut, Alif mengulurkan tangan kepadanya. Rahmi menerima uluran itu dengan ragu-ragu, tapi ia tetap mengenggamnya.
''Assalamualaikum,'' ucap Alif didepan pintu.
''Waalaikumsalam warahmatullah,'' jawab Abby.
Ia membuka pintu, alangkah terkejutnya ia melihat Rahmi juga Alif datang.
''Abby ... Kami pulang,'' ucap Alif pelan sambil menunduk.
''Iya ... Mari masuk, Nak,'' ucap Abby tersenyum senang.
Alif menyalami tangam Abbynya, juga Rahmi mengikuti cara Alif salim.
Tiba-tiba hening terjadi. Abby dan Alif sama-sama diam, tapi tersorot dimata mereka begitu banyak hal untuk dikatakan.
''Alif ... mi-''
''Abby sudah maafkan,'' ucap Abby tersenyum hangat pada Abbynya.
Mendengar jawaban Abbynya bahkan sebelum ia mengakui kesalahannya malah membuat Alif semakin merasa bersalah.
''Kalian sudah lama tidak bertemu Abby ... Tidak ada yang ingin memeluk Abby?'' tanya Abby merentangkan tangannya.
Rahmi dengan sumringannya langsung berlari memeluk Abby.
''Kangen!!''
Abby mengangguk, ia tau Rahmi pasti kangen dengannya.
Abby menatap Alif, berharap putranya juga mau memeluknya.
Dengan perlahan Alif berjalan dan memuluk ayahnya.
''Semoga kalian bahagia untuk selamanya,'' gumam Abby.
Setelah mereka saling memeluk dalam waktu yang sama, Rahmi bersuara karna tercengat oleh kedua orang pria yang memiliki tubuh besar dibanding dirinya.
''Rahmi sesak!!'' serunya mengakhiri pelukan hangat itu.
''Ho'oh ... Abby lupa ada Rahmi,'' ucap Abby mengusap kepala Rahmi gemas dan terkekeh.
Alif ikut tersenyum melihat keakraban mereka.
Alif memandang keluar pintu rumah Abby. Disana terlihat bangunan yang menjulang tinggi, itu adalah asrama para santri.
''Abby masih mengajar?'' tanya Alif.
Abby menatap putranya dan tersenyum bangga.
''Tentu saja ... Abby belum tua sekali untuk pensiun''.
Alif menghela napas, Ia tau Abby-nya keras kepala.
''Alif pergi sebentar,'' ucap Alif berjalan keluar.
''Assalamualaikum."
''Waalaikumsalam."
Tiba-tiba Rahmi menatap Abby dengan mata berbinar. Ia punya segudang keingin tahuan juga pertanyaan untuk ditanyakan pada Abby.
Melihat tatapan Rahmi, Abby hanya terkekeh kecil melihat antusiasnya Rahmi.
...
Waktu berlalu cepat. Akhirnya Rahmi belajar sesuatu yang baru dari Abby.
''Assalamualaikum,'' ucap Alif kembali dari luar.
''Waalaikumussalam warahmatullah,'' ucap Abby dan Rahmi bersamaan.
''Allahuakbar, allahuakbar.''
Mendengar seruan adzan Rahmi kembali menatap Abby dengan antusias.
''Abby waktunya sholatkan?'' tanya Rahmi. Ia baru saja belajar tentang kewajiban muslim yaitu sholat, puasa, juga zakat.
''Abby ayok sholat dimasjid!!'' ucap Rahmi menarik Abby, ia juga menarik Alif pergi ketempat wudhu.
''Lihat!! Lihat Rahmi berwudhu!!''
Gadis itu begitu antusias memperlihatkan hasil belajarnya.
''HO'OH ... Gadis kecil ini sudah pintar,'' ucap Abby tersenyum senang.
Setelah selesai, Rahmi pergi kekamarnya yang dulu. Dan benar saja yang dikatakan Abby semua kamar punya kerudung sholat.
Rahmi keluar kamarnya dengan antusias, ia memperlihatkan apa yang ia kenakan.
''Abby, Alif. Lihat Ami!!!''
Abby dan Alif mengalihkan pandangannya, Rahmi terlihat lucu mengenakan kerudung sholat itu karna terlalu besar.
''Yaudah mari pergi!'' ajak Abby.
Rahmi segera berlari lebih dulu berjalan didepan mereka.