
''Wah!!'' Rahmi takjub melihat pemandangan langit malam dari atas kapal, laut yang luas dan dalam begitu gelap, tapi sinar bulan yang memantul diatas air laut begitu menawan.
''Suka?''
''Suka!!'' ucap Rahmi berbalik kepada Alif.
Mereka sekarang ada ditengah laut dengan sebuah kapal pesiar besar.
Alif berdiri disamping Rahmi sambil memandang langit, langit malam ini memang lebih terang dari malam sebelumnya.
''Mau makan sekarang?''
Rahmi menatap Alif kemudian mengangguk.
syut.
Mereka berjalan menuju meja makan yang ada diatas tempat tertinggi diantara semua tempat yang ada, juga tempat paling indah karna dapat melihat laut dengan jelas.
Makanan sudah tersedia diatas meja, serangkaian makanan seafood tertata rapi disana.
Set.
Alif menaruh udang yang sudah dikupas diatas piring Rahmi.
''M-makasih,'' ucap Rahmi pelan.
Alif tersenyum begitu menawan membuat Rahmi menjadi tersipu. Ia makan dengan menunduk, pipinya terasa panas. Seharian ia hanya berjalan-jalan dengan Alif.
'Kencan.. Bukankah ini kencan?'
Blush!
Wajah Rahmi memerah sampai keujung telingannya.
Dhuar!
Sebuah kembang api menyala nyala dilangit.
''Mau liat?'' tanya Alif saat melihat mata Rahmi yang terkagum-kagum
Rahmi mengangguk antusias. Alif bangkit dari duduknya kemudian mengulurkan tangan pada Rahmi. Rahmi menerima uluran tangan tersebut dengan senyum mengambang diwajahnya. Mereka pergi keujung kapal.
Dhuar.
Syut... Dhuar.
Saking cantiknya Rahmi tidak sadar melepaskan tangan Alif dan berlari keujung kapal.
Shhss.
Angin bertiup kencang menciptakan ombak kecil pada kapal hingga bergerak terombang-ambing.
"Hati-hati..," ucap Alif pelan, senyumnya mengambang saat melihat wajah Rahmi berseri-seri menatap kembang api yang berkelap-kelip dilangit.
Sring!
Dari kejauhan seorang pelayan menatap Rahmi dengan insten. Ia menatap seorang perempuan dari kejauhan. Perempuan itu mengangguk dam dengan cepat pelayan itu berlari ke arah Rahmi.
JLEB!
TRESSS!
TES!
TES!
DEGH!!
''RAHMI!!!"
DHUK
BYUAR!!!
Rahmi menatap sebuah benda tajam yang menanjap didadanya. Darah yang mengalir terasa panas.
'Sakit!'
Sebuah pisau menanjap didada Rahmi, darah langsung keluar dengan deras membasahi pakaiaannya. Kemudian Rahmi terdorong jatuh kelaut.
''Huk!!''
Air masuk kedalam rongga mulutnya. Ia memberontak dengan kuat, perlahan tenaganya terkuras hingga tiada gerakan lagi.
Alif langsung berlari menolong Rahmi tapi terlambat Rahmi sudah jatuh lebih dulu.
Alif melihat pelayan itu yang sudah kabur setelah melempar pisaunya kelaut.
Deg! Deg!
Jantungnya terasa berhenti setelah melihat tidak ada pergerakan dari laut tempat Rahmi terjatuh. Alif melompat dari atas kapal.
BYUAR!!
"TOLONG ADA YANG JATUH!!!"
Semua orang panik dan tim penyelamat segera datang.
'dingin'
'Rahmi..'
Alif berenang semakin dalam menyusuri sekitar mencari Rahmi.
'Huk!'
Napasnya mulai habis, ia naik kepermukaan
Byar.
Alif melihat sekitar tapi tak menemukan tanda apapun
'tidak! TIDAK!'
Alif menyelam lagi mencari hingga kedasar laut. Dinginnya laut bagaikan ribuan tusukan pisau yang menusuk kulitnya. Tapi laki-laki itu hanya memikirkan istrinya.
'Dingin.. Gelap.. Kenapa yah?' perlahan kesadaran Rahmi termakan oleh laut.
Darah mengalir deras dari dadanya membuat air menjadi warna merah darah.
Dalam gelap laut Rahmi semakin tenggelam dengan air yang masuk ketubuhnya.
Alif terus mencari hingga tim penyelamat datang dan menariknya keatas.
Syut.
''Anda tak apa?'' tanya Tim penyelamat kepada Alif.
''Lepaskan,'' ucap Alif pelan.
''Kami akan segera memanggil tim medis'' ucapnya menarik Alif kekapal tim penyelamat.
''AKU BILANG LEPASKAN!!'' marah Alif, ia akan terjun kelaut lagi.
''Apa yang Anda lakukan!! Jangan bunuh diri!!'' ucap para tim penyelamat menahan Alif sekuat tenaga.
''ISTRIKU TENGELAM!! LEPASKAN AKU!!'' Alif memberontak hingga lepas dari mereka.
Byuar.
''Kapten bagaimana ini?'' tanya temannya.
Byuar.
Kepala tim ikut terjun ke laut. Ia melihat Alif dengan gigihnya tanpa alat bantu apapun berenang menyelusuri sekitar kapal.
Ia terus mengikuti Alif agar bila terjadi hal tidak terduga ia bisa menyelamatkannya.
Byuar.
Alif berenang keatas karna napasnya sudah diambang batas. Wajahnya memerah dengan mata entah karna sedih atau napasnya yang tersenggal-senggal.
Alif berenang kepada tim penyelamat, ia naik sendiri dan menyelimuti dirinya dengan kain yang mereka bawa.
''Pinjamkan aku ponselmu,'' ucap Alif pada seorang dari mereka.
Ia memberikan ponselnya dan menelpon bawahannya.
''Ken, aku ada dilaut bagian barat dari kota, kirim tim pencaharian tingkat SSSS kemari sekarang juga!!!''
''Siapa tuan?''
''Istriku!''
Tut.
Alif tampak berpikir haruskah ia memberitahu Ryan.
'Semakin banyak akan lebih cepat'
Drt.
Drt.
Lama baru panggilan tersebut masuk.
Disaat pencarian Rahmi beberapa hari yang lalu mereka bertukar nomor untuk lebih mudah dihubungi bila ada perkembangan.
''Siapa?''
''Alif.. Rahmi jatuh kelaut dengan tusukan pisau didadanya, ia tenggalam 1 jam yang lalu. Tim penyelamat belum menemukannya, kirim pasukanmu cari sekarang!'' ucap Alif menjelaskannya secara detail
Ryan tidak mengatakan apapun tapi terdengar suara barang-barang rusak disana.
Tut.
15 menit setelahnya
Ryan tiba lebih dulu, ia menghampiri Alif dan mencengkram kerah bajunya
Greb!
''APA YANG KAU LAKUKAN HAH!!!''
Alif hanya diam saja.
SSHSHSHSH.
Helikopter dengan lambang keluarga Ryan berdatangan tanpa henti.
Pencaharian itu terjadi secara besar-besaran.
Dari laut terdengar suara, itu mungkin bawahan Alif yang mulai mencari, dari kejauhan terlihat segerombolam kapal kecil dengan kelajuan tinggi menyusuri laut, mereka tim yang ditugaskan oleh Ken sekertarisnya.
Ryan melepas pegangannya, ia melihat Alif juga basah kuyup bahkan bibirnya begitu pucat, tangannya dingin, sepertinya ia sudah berusaha.
''Maaf..,'' ucap Alif pelan menunduk.
''Tidak! Bukan salahmu, aku tak pernah cerita... Bahwa adikku selalu diincar,'' ucap Ryan memasang alat penyelamnya.
Byur.
Ia menyelam kelaut mencari adiknya.
Alif ia duduk dengan menghadap laptopnya, ia mengecek cctv karna pelakunya pasti tidak berada jauh.
''Cih!''
Alif terlihat begitu marah semua cctv mati dam tidak memiliki riwayat rekaman satupun. Seperti sudah direncanakan dengan sempurna.
'Siapa? Aku baru kemarin memesan tempat ini, informasinya terlalu cepat. Orang dalam!'
Alif menutup laptopnya, sepertinya ia harus menyelidikinya secara hati-hati agar tidak seperri sebelumnya.
Pelakunya kabur keluar negeri tanpa meninggalkan jejak apapun.
Ufuk matahari sudah terlihat tapi belum ada yang menemukan Rahmi.
....
Beberapa hari mereka mencari namun tak menemukan apapun. Mereka menemukan benda tajam yang digunakan untuk menusuk Rahmi setelah beberapa hari pencaharian
Berita besar melanda media. Setelah perjanjian kerja sama antara perusahaan Alif dengan Ryan setelah memboming karna pertengkaran mereka dimana-mana, kini berita itu lebih memboming lagi dengan berita serangkaian helikopter Ryan terbang kepesisir juga mobil yang melambangkan perusahaan Alif melaju kencang kepesisir pantai.
BAM!
Kelvin datang keruang kerja Ryan dengan wajah kesal.
''Tidak bisakah kau tenang sedikit!!! Kau mau membuatku sakit kepala dengan beritamu!! Karyawanku jadi sibuk mendapatkan beritamu!''
Syut.
Ryan mengangkat wajahnya yang pucat juga mata panda yang begitu gelap dibawah matanya.
''A-ada apa?'' tanya Kelvin merasa ada yang tidak beres.
''Star.. Ditikam dan jatuh kelaut''
Deg!
''A-apa?!!''
Ryan bangkit dari duduknya pergi meninggalkan Kelvin dengan keterkejutannya.
...
Syut.
Semilir angin bertiup menerpa wajah Alif, ia memandang laut yang berkilau.
''Kau menemukan sesuatu?'' tanya Ryan.
Alif menatap Ryan sinis.
''Benarkah kau menyayangi adikmu?'' tanya Alif.
Ryan menyipitkan matanya.
''Kau pikir apa?!! Aku benci adikku dan mencoba membunuhnya untuk mengambil segalanya?'' ucap Ryan dengan penuh amarah.
''Lalu apa ini!!'' ucap Alif melempar serangkaian kertas pada Ryan.
Ryan memunguti kertas yang jatuh kemudian membacanya.
Deg!
''Gak! gak mungkin!!!''
''Lalu apa? aku berbohong?'' sinis Alif.
Ryan menatap Alif dengan datar. Ia berbalik pergi membawa kertas itu dengam meremasnya begitu erat.