
Drt, drt.
Rahmi yang tengah tidur siang terbangun dengan deringan handphonenya berkali-kali. Ia mengambik handphonenya kemudian melihat siapa yang menelponnya.
''Abby!!'' Rahmi langsung terbangun kemudian mengangkatnya.
''As-''
''Rahmi!! Abby jatuh sakit!! Cepat pulang!!'' ucap Zahra panik.
Drab! drab!
Tanpa menunggu lama Rahmi berlari turun dan menghampiri sopir yang ada dihalaman.
''Antar saya keperusahaan, Alif. Sekarang!!''
''Baik, Nona!''
Mobil mereka melaju dengan kecepatan tinggi, akan tapi ditengah jalan malah terjadi kemacetan.
Rahmi berusha menelpon Alif tapi tak pernah ada panggilannya yang masuk. Bila sudah bekerja Alif sangat susah dihubungi.
''Pak, bisa nerobos gak?''
''Bisa, Nona. Tapi nanti saya dimarahi tuan.''
''Lakukan saja. Nanti saya yang mengurusnya.''
sopir tersebut mengangguk dan melakukan apa yang dikatakan oleh Rahmi.
Ckitt!
Mobilnya hampir menabrak mobil lain, juga tertabrak dari belakang.
''Jalan terus.''
Suasana tengang akan kemacetan tak berlangsung lama. Setelah melawati kemacetan panjang gedung HNM Groub telah terlihat.
Saat mobil berhenti diparkiran Rahmi langsung berlari masuk kedalam.
Beberapa orang memperhatikannya naik ke lift menuju ruangan Alif.
Cklek.
Ruangan Alif kosong. Rahmi keruangan sekertarisnya tapi tak menemukan apapun.
'Rapat,' itu yang terpikirkan oleh Rahmi.
'Haruskah aku pergi atau tidak... '
Rahmi sulit memutuskan, tapi dirinya juga diburu oleh waktu. Akhirnya ia tetap harus pergi kesana.
Rahmi menatap ruangan didepannya yang bertuliskan Meeting. Rasanya menakutkan untuk mengetuknya.
Tok, tok.
Alif yang memiliki pendengaran yang tajam dapat mendengar ketukan kecil itu.
Meeting tetap berlanjut tanpa ada yang mendengarnya.
Tok, tok.
Alif menghela napas. Ia meminta asistennya untuk membuka pintu meeting.
Saat pintu terbuka semua mata langsung tertuju pada perempuan yang terlihat gugup dengan mengenakan pakaian sederhana.
''Siapa yang berani menganggu meeting proyek Pemasaran,'' ucapnya tajam melihat perempuan itu.
Alif mengalihkan pandangannya melihat siapa yang dimaksud.
Degh!
''Rah! Kenapa kemari?' tanya Alif langsung menghampiri Rahmi.
Rahmi menunduk, ia takut Alif akan memarahinya.
''A-abby sakit... Kita pulang, Yah?'' mohon Rahmi.
Alif berbalik tanpa mengatakan apapun. Melihat sikap Alif, Rahmi menelan pil pahit yang bernama kekecewaan. Ia menuduk dengan meremas pakaiannya, memang apa yang ia harapkan.
''Rapatnya sampai sini saja.''
Rahmi langsung mengangkat kepalanya. Alif tersenyum sambil mengenggam tangannya.
''Jangan selalu berpikir negatif, Rah.''
Rahmi mengangguk pelan. Melihat tangan yang digenggam Alif, guratan kemerah-merahan terlihat dikedua pipi Rahmi. Senyumnya mengambang, apa tidak masalah bila ia berharap lebih?
...
Rahmi terburu-buru memasukkan kopernya kebagasi. Melihat Rahmi sulit mengangkat kopernya Alif turun dari mobil kemudian membantunya.
''M-makasih.''
''Rah... Kalau ada apa-apa setidaknya bilang sama Aku,'' ucap Alif pelan.
Rahmi mengangguk dan segera masuk kemobil.
Didalam mobil tidak ada yang berbicara. Rahmi menelpon dihandphonenya ke nomor Abby.
''Zahra, Abby bagaimana?''
''Sudah ditangani di UGD. Kami dirumah sakit Bayuwangi.''
Tut.
''Abby dirumah sakit bayuwangi.''
Alif melirik sejenak dan tidak mengatakan apapun.
Suasana yang sunyi membuat Rahmi sedih. Jujur ia ingin Alif memperhatikannya, ia ingin dimanja-manja olehnya. Tapi mana berani ia mengatakannya bahwa ia ingin mengobrol walau sekedar masalah sepele. Sikap Alif yang terkadang menjadi pendiam juga dingin terasa menusuk dihatinya.
Ckit.
Mobil berhenti disebuah jalan yang sunyi. Disebelah kiri dan kanan persawahan yang luas.
Alif melirik Rahmi, lagi-lagi ekspresi itu yang ia perlihatkan.
''Rahmi!!''
Rahmi tersentak mendengar suara Alif yang meninggi. Jantungnya berdebar takut, ia memejam matanya.
Greb.
''Rah, Kenapa lagi?'' tanya Alif lembut.
Dia tidak habis pikir dengan istrinya itu. Bila ia ingin mengatakan sesuatu, ia bisa minta padanya.
Alif menghela napas panjang kemudian melanjutkan perjalanan.
''Hiks.''
Suasana selama perjalanan semakin tengang karna Rahmi menangis tanpa mengatakan apapun begitu juga dengan Alif. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia berhenti dulu untuk menenangkan istrinya.
Ckit.
Akhirnya ia tidak tahan mendengar isak tangis Rahmi.
''Rahmi... Kenapa?'' suara lembut itu membuat mata Rahmi yang sembab melihatnya.
Mata Rahmi seolah mengatakan beribu-ribu kata yang tidak bisa ia ucapkan.
''Yaudah kita berhenti sejenak dulu,'' ucap Alif menyandarkan kepalanya kekursi.
''Jangan!''
''Saya gak bisa menjalankan mobil sedangkan kamu menangis, Rah!''
Rahmi menunduk, air matanya turun semakin deras.
''Kenapa sih, Rah?!'' tanya Alif mulai kehabisan kesabaran dengan Rahmi.
''Ma-maaf sudah menyusahkan... Saya cuma ingin menangis... ,'' lirih Rahmi tak mau menatap mata Alif.
''Rahmi... Aku tau bukan itu jawabannya.''
Rahmi diam, benar yang Alif katakan bukan itu jawabannya.
''Kita gak lanjut jalan kalau kamu gak ngomong.''
Degh!
''S-saya... Cuma ingin diperhatiin... Rahmi sedih karna Alif bersikap dingin.''
''Pftt.''
Alif pikir apa yang akan dipikirkan Rahmi. Rupanya istrinya itu hanya kesepian ia tidak bicara banyak. Sebenarnya ia khawatir dengan Abby makannya ia banyak diam.
Melihat Alif yang tertawa Rahmi semakin ingin menangis dengan kencang.
''Shut! Jangan menangis... Gak gitu, Rah. Aku cuma kepikiran Abby. Maaf yah gak perhatiin kamu,'' ucap Alif lembut menenangkan badai dihati istrinya.
Blush.
Seketika wajah Rahmi memerah, ia benar-benar kekanak-kanakkan.
''Kita jalan lagi. Bila begitu ajak saya ngobrol, Rah.''
Rahmi mengangguk, rasanya sesuatu yang hangat berdesir dihatinya. Senyumnya pun mengambang.
''Kak... Masih lama?''
''Dikit lagi.''
''Wajah Rahmi merah gak?'' Alif melirik Rahmi. Jangan ditanya wajahnya merah padam dengan mata sembabnya.
Melihat senyum Alif, Rahmi semakin malu. Ia menangis didepan Alif dengan wajah yang merah.
Suasana mobil menjadi hangat. Rahmi jadi sedikit cerewet, ia mulai mengeluarkan apapun yang terlintas pada pikirannya.
Tidak lama setelahnya mereka sampai. Alif juga Rahmi segera masuk kerumah sakit tersebut. Mereka sudah melihat Zahra yang menunggu dengan khawatir.
''Zahra gak kerja?''
''Engak hari ini aku cuti mau nemenin Abby... Tapi-'' Zahra tak lagi melanjutkan kalimatnya.
Alif, Rahmi juga Zahra sama-sama menunggu pintu UGD terbuka.
Tin.
Pintu UGD akhirnya terbuka setelah 2 jam lebih tertutup.
''Bagaimana keadaan Ayah saya, Dok?'' tanya Alif.
''Pasien sudah ditangani. Darah tingginya tiba-tiba naik, kami sudah melakukan penanganan dan tidak perlu sampai dirawat. Tapi juga masih harus istirahat.''
Mereka mengangguk dan melihat kondisi Abby.
''Abby!!''
Zahra langsung berlari menghampiri Abby. Rasanya separuh jiwanya terasa hilang.
''Abby gak apa.''
Tiba-tiba wajah Zahra langsung berubah garang.
''Abby sih dibilangin geyel! Zahra-kan sudah bilang jangan makan daging sapi banyak-banyak!!''
Abby hanya dapat tertawa canggung mendengar omelan Zahra.
Beberapa jam setelahnya Abby sudah dibawa pulang.
Kini mereka semua berkumpul dikamar Abby. Abby terbaring dikasurnya dengan ketiga orang yang menatapnya khawatir, Zahra, Alif serta Rahmi.
''Abby gak apa,'' ucap Abby pada mereka.
Alif menghela napas. Rasanya juga sedikit kesal bahwa Abbynya jatuh sakit karna keteledorannya.
Zahra keluar kamar untuk menyiapkan makanan untuk Abby. Semenjak peninggalnya ayahnya Zahra menjadi akrab dengan Abby sehingga ia sering berkunjung.
Alif memutuskan untuk keluar, tinggal-lah Rahmi dengan Abby. Abby menatap menantunya itu, ia dapat melihat mata sembab Rahmi.
''Apa Alif menyakitimu, Rahmi?''
Rahmi buru-buru menggeleng, ia tidak boleh membuat mereka bertengkar lagi.
''Ini... Lain kok, Abby.'' Terlihat guratan merah dipipinya. Mana bisa ia jawab bahwa ia menangis karna Alif tidak memperhatikannya.
''Hm?'' Abby tersenyum melihat tingkah Rahmi. Seperti hubungan mereka telah membaik.
Lalu setelahnya mereka mengobrol panjang. Tanpa Rahmi sadari seseorang selalu memantaunya.
Hari-hari berlalu, kondisi Abby sudah agak membaik. Tapi Zahra kekeh tak mau Abby bergerak dulu sebelum sembuh total.
Terkadang ada beberapa santri datang untuk menjenguk kyai mereka yang jatuh sakit.
Rahmi keluar dari kamar Abby yang sudah tertidur lelap setelah meminum obat.
''Permisi... bisa bicara sebentar.''
Rahmi menatap seorang gadis didepannya. Ia mengangguk kemudian megikuti jalan gadis tersebut pergi.