Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Kesasar.


''Loh, Alif mana?''


Rahmi melihat kesana-kemari tapi tak menemukan keberadaan Alif.


Saat melihat pertunjukan tarian hujan tadi orang-orang langsung berdesakkan untuk melihat lebih dekat. Sepertinya ia terpisah karna itu.


Rahmi berjalan kesekitar yang agak sepi agar bisa melihat dengan jelas. Tubuhnya yang kecil diantara orang-orang tinggi membuatnya tak dapat melihat apapun.


Rahmi melihat kearah keramaian tapi tak menemukan keberadaan Alif. Rahmi mengambil handphonenya dan menghubungi Alif. Panggilannya tidak masuk, mungkin tidak terdengar karna berisik. Rahmi mengirim pesan pada Alif mungkin ia akan ditemukan lebih cepat setelah Alif membacanya.


Aku didekat toko bunga.


Rahmi memperhatikan bunga yang ada ditoko. Ia tidak membawa apapun, ketika Alif datang ia akan menyuruhnya untuk membelikannya.


''Nona kesasar?''


Rahmi membalikkan wajahnya. Ia menatap laki-laki tinggi dengan rambut pirang, pakaian serba hitam yang mirip premen.


'Jangan lihat sampulnya.'


''Yah, saya tersesat.''


''Mau saya antar?''


''Tidak usah! Suami saya pasti akan mencari saya,'' tolak Rahmi secar halus.


''Tenang saja. Saya akan mengantar nona sampai rumah.'' Pria itu mendekati Rahmi dan memegang pundaknya.


Plak!


Rahmi refleks menampar wajahnya.


''Kau!! Beraninya!!''


Dia mencengkram tangan Rahmi membuatnya kesakitan.


''Ikut aku!''


Dhuk.


Sebuah tangan memegang pundak pria tersebut dan dalam sekejap mata ia terjatuh kelantai.


''Alif!''


Rahmi langsung berlari kearah Alif dan memeluknya dengan erat.


''Aku takut.''


Alif memeluk Rahmi menenangkannya.


''Sudah tidak apa, Rah.''


''Kamu! Cari masalah denganku?!!''


Alif tidak menghiraukan laki-laki pirang tersebut. Ia menelpon polisi untuk mengurusi masalahnya.


Wiyyiuuuuu.


Suara siren polisi membuatnya terkejut.


Jreng.


Tangan pria itu langsung diborgol tanpa seucap kata pun.


''Terima kasih telah melaporkannya! Kami butuh karna nama anda untuk menindak lanjutinya!''


Alif memberikan kartu namanya yang membuat polisi itu cukup tercenggang.


''Ada apa?'' tanya Rahmi berbalik melihat polisi tersebut.


''Tidak! Maaf tidak mengenali anda!''


Polisi itu membukuk kemudian pergi dengan pria yang telah kurang ajar tersebut.


''Alif kenapa lapor polisi?''


''Dia penjahat yang sering melecehkan orang-orang sekitar sini dan suka merusak fasilitas umum.''


''Ho'oh... Lalu polisi itu kenapa kaget melihat Alif?''


''Karna saya ganteng,'' ucap Alif bangga.


Nyuttt!


Rahmj mencubit lengan Alif membuat sang empu kesakitan.


''Karna saya ceo yang digosipkan mengakuisi perusahaan medis dalam satu tahun.''


''Apa?!! Jangan bilang karna aku?!''


Alif mengalihkan pandangannya. Ucapan Rahmi benar, karna istrinya. Ia berinvestasi dalam dunia medis untuk istrinya yang sakit.


''Kak Ryan tersaingi dong!''


''Engak... Aku gak bisa kalahin kakakmu, Rah. Dia gak masuk dunia medis. aewalnya kepengen katanya, tapi keduluan sama aku. Jadi dia nyerah aja karna dipikir buat apa lagi, aku saja sudah cukup katanya.''


''Kakak kok murah hati banget? padahal dulu dia sering ngoceh akan jadi nomor satu dalam hal apapun.'' ucap Rahmi menautkan tangannya didagunya dengan berpikir keras.


''Mungki harapannya pupus karna kamu, Rah,'' ucap Alif enteng.


Tak.


Rahmi menginjak kaki Alif sekuat-kuatnya


''Kan, kamu yang rencanain!''


''Iya, iya, iya. Aku yang salah.''


''Aku mau bunga!'' ucap Rahmi dengan pupil eyesnya.


''Terus?'' tanya Alif menggoda Rahmi.


''Ih! Beliin!!! Aku gak ada duit! Masa kamu miskin hingga gak bisa beliin aku bunga walau sebiji doang!'' omel Rahmi.


Alif terkekeh, ia mengusap kepala Rahmi kemudian masuk kedalam tokoh. Alif berhenti sebelum benar-benar masuk kedalam, ia melirik Rahmi kemudian menunjuknya.


''Tunggu sini! Awas kalau jalan-jalan sembarangan kurantai kaki kamu!'' ancam Alif dengan menakut-nakuti.


''Seterah Rahmi dong! Jadi duda baru tau rasa kamu!'' ucap Rahmi menghentak-hentakkan kakinya kesal.


2 menit Rahmi menunggu, ia jadi jengkel karna Alif tak keluar-keluar juga.


Setalah 3 menit Alif baru keluar dan langsung ditatapi dengan tatapan maut.


''Rah, ini bunganya. Jangan ngambek,'' bujuk Alif. Ia memberikan bucket bunga besar dengan 100 tangkai bunga mawar merah.


''Makasih!'' singkat Rahmi dan langsung menarik bunga tersebut kesisinya.


Alif menarik tangan Rahmi menuju tempat selanjutnya yaitu restorant yang terkenal enak steaknya.


''Suka?'' tanya Alif melihat Rahmi makan dengan lahap.


''Suka! pesankan aku lagi!'' ucap Rahmi membuat Alif melongo. Rahmi telah makan 3 piring steak dan masih belum kenyang.


''Jangn menatapku seperti itu! Steaknya dikit gak bikin kenyang gak kaya makan nasi,'' ucap Rahmi pelan mau tak mau Alif harus menurutinya.


Pesenan mereka akhirnya datang steak jumbo dengan kepiting goreng yang dibubui.


Alif menelan ludahnya melihat Rahmi makan dengan ganas.


''Aku lama dirumah sakit rasanya aku kembali hidup.''


Alif hanya dapat tertawa canggung melihat porsi Rahmi yang telah menghabiskan 10 piring makanan dengan menu berbeda.


''Gak takut gendut, Rah?''


Sring.


Pandangan mata Rahmi bagaikan pedang yang siap membelah tubuhnya.


''Gak! Gak bakal gendut!'' ketus Rahmi.


''Iya, iya gak bakal.''


Alif membayar bill mereka kemudian keluar dengan mengenggam tangan Rahmi.


Tiba-tiba Rahmi berhenti melangkah. Alif berbalik menatap Rahmi.


''Kenapa, Rah?''


''Capek, ngantuk, gendong.''


Alif menghela napas, ia berjongkok kemudian dengan wajah sumringan Rahmi naik.


Belum lama Rahmi naik kepunggung Alif ia sudah tertidur.


''Kenyang yah, Rah.''


Tak ada sautan dari sang empu.


Alif menaruhnya dikursi penumpang. Melepaskan jasnya kemudian melipatnya menjadi bantal untuk menyangah kepala Rahmi.


Alif mengendarai mobilnya kembali kerumah. Saat sampai Alif mengendong Rahmi naik kekamar mereka.


''Rah, tidur yang nyenyak,'' gumam Alif melepaskan jasnya juga kerudung Rahmi biar tidak kepanasan.


Alif duduk dengan membuka laptopnya. Ia harus memesan tiket pesawat dan mengurus kepulangannya. Ia juga harus memikirkan cara memberitahu mereka tentang Rahmi.


Bagaimana bila ia melakukan kesalahan yang berujung pertengkaran lagi. Apalagi Ryan suka emosi kalau menyangkut adiknya.


Media juga akan tahu cepat atau lambat karna mereka tak bisa menyembunyikannya selamanya.


'Apa aku pindah negara saja?' pikir Alif.


Tapi keluarganya akan jauh darinya. Ryan juga bisa marah-marah jauh-jauh dari adiknya. Atau ia bisa minta Ryan untuk pindah atau minta restunya agar bisa pergi jauh.


'Pusing, masalahnya ada sama Abby dan Ryan.'


Selama ini ia menyembunyikan Rahmi rapat-rapat tidak berkomunikasi dengan siapa pun agar tidak ketahuan.


Ryan juga terlalu overthinking. Musuhnya dimana-mana tapi ia tidak begitu peduli.


'Apa seharusnya kuberitahu saja saat aku merencanakannya.'


''Hahh... Terlalu rumit, sedikit yang tahu saat itu lebih baik untuk mengurangi resiko. Aku tidak mau mempertaruhkan nyawa Rahmi.''


''Chayana sepupu Rahmi juga terkena obat yang sama tapi kenapa Rahmi begitu parah...''


Degh.


'Rahmi objek eksperimennya! Dosisnya berbeda! Tingkatnya juga berbeda! Gila! Dasar perempuan gila! Dia melakukannya tanpa rasa kasihan!'


Alif melirik Rahmi yang tertidur.


'Rah, bagaimana bisa kamu tetap tersenyum dalam kondisi seperti itu.'


''Henghh!''


Rahmi meringkuk hingga memeluk lututnya. Terkadang pemandangan itu menyayatnya. Perasaan sepi hingga hanya memiliki diri sendiri untuk bertahan.