
Dhuk.
''Huahhhh!!!''
Seorang pemuda terjatuh dari duduknya karna kapal yang ditumpanginya menabrak sesuatu.
Ia mengintip apa yang ditabraknya.
''AHHHH!!! MAYAT!!!'' teriaknya bersembunyi.
Perlahan ia kembali memunculkan kepalanya.
'Haruskah aku menolongnya? tapi bagaimana kalau aku dikira yang membunuhnya?'
Iya menatap kondisi tubuh yang melayang di air.
'Ahhhh!! jiwa kemanusiaanku tak bisa menolak!'
Ia menarik tubuh itu keperahu kecilnya. Ia mendayung perlahan ketepian.
.....
''ALASKA!!!!''
Teriakan menggema ditempat itu didepan halaman.
''Huahhhh!! Apa salahku!!!'' teriaknya berlari.
''Siapa suruh kamu kabur kemarin dan sekarang pulang bawa masalah!!!'' ucapnya berlari mengejar laki-laki yang masih terlihat remaja itu.
''Mau bagaimana lagi aku kasihan!!!''
Setelah kejar-kejaran yang tak berarti itu. Ia menghampiri Alaska.
''Kau!! Hah.... Besok ketua akan datang mengecek tempat ini.. Apa yang harus kita katakan!!'' ucapnya tajam.
Alaska menggaruk kepalanya yang tak gatal. Iya melirik perempuan yang terbaring dikasur.
''Jadi ia masih hidup?''
''Tidak tau'' ucapnya dengan wajah bodoh.
''Hah... Baiklah nanti kukirim dokter,'' ucapnya pergi meninggalkan Alaska.
''OH YAH... INGAT LATIHAN!!!'' teriaknya sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
''B-BAIK!!!'' teriaknya dengan tertekan.
''Aduh perempuan itu juga kasihan''
''m..m.mm.''
''Hm?''
Alaska mendekatkan tubuhnya sepertinya ia mendengar sesuatu.
''A...l..i..f''
''Alif?''
Jreng!!!
''Masih hidup??!'' kejut Alaska.
Tak lama kemudian datang seorang dokter memeriksanya. Dokter itu mengganti pakaian yang dipakainya dengan yang kering.
...
''SELAMAT DATANG KETUA ARNADA!!''
Ia melihat sekitar yang bersih. Banyaknya para anggota baru dan anggota lama yang masih bertahan.
''Hm...''
Drab!
Drab!
Seluruh pandangan beralih pada pandangan seseorang yang berlari tergesah-gesah.
'Alaska!!!'
Arnada menatap dengan insten, bisa-bisanya ada yang terlambat.
''Maaf-maaf!!'' ucap Alaska tertawa canggung.
Arnada tidak mempedulikannya, ia berjalan mengelilingi tempat itu, dari asrama, dapur tempat latihan, tempat pertemuan hingga sebuah tempat yang lain dari yang lain.
''Tempat apa ini, Jean?''
''Ini tempat mediang Askala, ketua periode terdahulu ketiga dari sekarang'' ucapnya.
Arnada masuk kesana melihat, tempat itu bersih bahkan ada bekas air dari sebuah sumur.
''Siapa yang tinggal disini?''
''Heheh saya!'' ucap Alaska tanpa sungkan.
''Alaska!!'' bentak Jean.
Alaska menjulurkan lidahnya tak peduli.
''Sudah jean tak apa,'' ucap Arnada.
Jean pengurus cabang bela diri yang mengurus bagian selatan.
Arnada masuk melihat sekitar. Tempat itu memang kuno, tiada pintu didepan hanya sebuah renda yang menutup tempatnya.
Degh!
Pandangannya tertuju pada perempuan yang terbaring dikasur.
''Maaf ketua.. in-'' Jean tersentak melihat Arnada langsung mendekati perempuan itu dan mengusap kepalanya.
''Rahmi..,'' gumamnya pelan.
''Kenapa ia bisa ada disini?!!'' ucap Arnada tajam.
Glek.
''Saya menemukannya dilaut,'' ucap Alaska dengan menuduk.
''Ini adikku.''
Ucapan Arnada membuat mereka semua terkejut.
''Heira!!''
Wakilnya menatapnya dengan tajam.
''Apa?!! Akukan sudah pernah bilang!! aku kembali untuk adikku!!''
Karla menelan ludahnya, ia tak menyangka Heira sangat menyayangi adik angkatnya.
Karla awalnya tak menduga Heira akan kembali dan langsung merombak seluruh struktur pengurus Bela diri yang ada.
Heira Arnada namanya menguncang seluruh dunia bela diri. Perempuan dengan kemampun tak terkalahkan, memenangkan kompetisi bela diri selamat 7 tahun berturut-turut.
''Kau ingin aku menghabisimu?''
Karla menggelengkan kepalanya.
''Itu terserah padaku!'' ucap Heira duduk samping Rahmi.
''Ketua...'' jean menjadi bingung.
''Jean aku akan disini, Karla urus sisanya,'' ucap Heira pelan.
Heira baru menjabat sebagai ketua selama setahun, kematian orang tuanya membuatnya berhenti tapi tak ada yang dapat menggantikannya. Selama kepergian Heira Karla wakilnya terdahulu mengejarnya bagai orang gila.
...
Setelah mereka semua pergi tinggal-lah Heira dengan Rahmi.
''Kupikir kau pergi untuk bersenang-senang...,'' ucap Heira pelan.
Namanya terkenal dengan Arnada tapi orang terdekatnya memanggilnya Heira.
Setelah kembali Heira manaruh murid-muridnya disekitar Rahmi. Setelah melihat bahwa Rahmi sudah tidak butuh dirinya, ia pergi melakukan tugasnya.
Jika ia tau akan seperti ini, ia akan terus mengawasinya.
Heira menatap tubuh munggil yang tampak pucat itu.
Setelah melihat dengan insten ia melihat perban dibagian dada Rahmi.
Syut.
''JEAN!!''
Heira berlari mencari Jean.
''Kenapa adikku tidak dibawa kerumah sakit?!!!'
''K-kami...''
''Karna biaya...,'' ucap Alaska tanpa ingin menutupi apapun.
''Bukankah biaya selalu masuk tiap bulan? dan mana biaya lainnya?'' tanya Heira tajam.
''Murid tak ada lagi yang mau masuk. biaya tak pernah sampai kemari, kami bertahan dengan uang pribadi dan juga bekerja'' jelas Alaska.
''Kenapa tak ada laporan?''
Jean juga Alaska diam. Jean guru disan tak mungkin mengatakan keburukan perguruan bela diri yang berdiri sebagai inti.
''Karla.. Bukankah aku sudah bilang, mereka yang seperti ini harus disingkirkan!''
''Tapi mereka memiliki pengaruh pada perguruan!''
''Bodoh! pengaruhnya sudah tidak berguna dengan tabiatnya!''
''Tapi perguruan akan mengalami krisis keuangan!''
''Hah? tapi mereka menggelapkan danakan?''
''Kalau kau tak mau... Aku yang akan turun tangan!!''
...
Setelah Heira turun tangan. Banyak anggota baru yang masuk, pemasukan tiap bulan kembali stabil. Kekacauan terjadi dalam beberapa waktu dan Rahmi sudah dikirim kerumah sakit.
''Kami sangat bersyukur pasien bisa bertahan sampai sekarang meski dibawa dalam waktu yang sudah sangat terlamat. Luka tusukannya beruntung tidak mengenai jantung dan tidak terlalu dalam.. Ini adalah sebuah keajaiban dalam dunia medis. Tubuhnya tenggelam dan sudah mengambang tapi ia masih bertahan diterjang badai''
Heira menganggak entah apa yang sudah dilalui adiknya itu.
Ia menatap dari kaca jendela ruang rawat dimana Rahmi terbaring dengan penompang hidup.
''Aku akan selalu menunggu.. dan menunggu,'' ucap Heira pelan.
...
Beberapa minggu kemudian.
''Anda tidak boleh berlarian!!!''
Alaska mengejar perempuan yang baru saja keluar rumah sakit itu.
''Hahah akhirnya bisa keluar juga!'' girangnya.
Dhuk.
Rahmi menabrak seseorang didepannya.
Sring!
Rahmi menelan ludahnya melihat Heira menatapnya dengan tajam.
''Heheh... Kakak...,'' ucap Rahmi pelan tersenyum polos.
Heira menghela napas kemudian tersenyum sambil mengusap kepala Rahmi.
''Jangan lari lagi.. Istrihatlah sejenak''
Rahmi mengangguk, ia duduk dipagar batu yang tidak terlalu tinggi dengan Heira.
Rahmi tampak senang dengan mengayungkan kakinya.
Heira yang melihat kelakuan Rahmi tersenyum pahit.
Saat Rahmi pertama kali bangun, ia menatap dengan kosong.
''Rah.. Kamu baik-baik saja?''
Rahmi menatapnya tak lama kemudian ia tersenyum.
''K-kak...ak H..eir..a''
Setelah beberapa hari Rahmi sering melamun. Heira pikir ia ingin pulang.
''Mau pulang?''
''Pu..lang... Dimana rumahku...'' gumamnya dengan sendu.
Degh!
''Kerumahmu dengan suamimu''
''Suami? Aku sudah menikah?''
Pandangan Rahmi terlihat aneh.
''Rumahkukan sama dengan Kakak,'' ucap Rahmi tersenyum begitu lebar.
Saat Rahmi tidur Heira memanggil dokter untuk memeriksanya.
''Meski bidang ini bukan bidang saya. Tapi saya dapat memeriksanya bahwa masalah psikisnya cukup parah''
''Lalu ingatannya?''
''Ingatannya kacau dan hanya mengingat beberapa hal yang bisa ia dapat dengan kondisinya''
''Kak..''
Heira tersadar. Ia melihat Rahmi yang menatapnya dengan khawatir.
''Tidak apa kakak akan melindungimu.''
Rahmi memiringkan kepalanya bingung.