
''Kak, Rahmi berangkat dulu,'' ucap Rahmi mencium punggung tangan suaminya.
''Iya, hati-hati. Jangan lupa kabari kalau ada apa-apa.''
Rahmi mengangguk. Ia segera pergi menghampiri Ryan yang menunggunya dari tadi.
Beberapa hari sebelumnya saat reoni pertemu mereka Ryan mengajak Rahmi pergi berdua dan Alif tidak boleh ikut sebagai permintaan maafnya membohonginya.
Mau tak mau Alif harus mengiyakannya.
Mobil itu kini melaju dengan cepat menuju suatu tempat yang tidak Rahmi ketahui.
3 jam berlalu
Kota megah mulai tergantikan dengan perbukitan tinggi yang hijau dengan ladang padi yang luas.
Meraka tiba disebuah desa yang lebih modern dari desa yang lain. Mungkin beberapa tahun lagi akan berubah menjadi kota.
Mobil mereka memasuki sebuah gerbang yang terlihat megah. Luasnya daerah tersebut tak dapat diperkirakan. Ryan juga Rahmi turun dari mobil.
''Kak, ini pesantren, kan?''
Ryan mengangguk. Ia memandang ke sekeliling. Danau didepan sebuah rumah megah yang ditinggali seorang Kyai kini sudah berganti pemilik.
''Mari, Star,'' ajak Ryan menggulurkan tangan dan disambuti oleh Rahmi dengan senyumnya.
Saat melewati pohon besar, Rahmi mendongkak keatas.
''Pohon mangga? besarnya... berapa tahun dia berdiri?'' gumam Rahmi.
''Pohon ini memiliki sejarah besar,'' ucap Ryan menarik perhatian Rahmi.
''Kenapa?''
''Tempat pertemuan Nenek buyut dengan kakek buyut. Awal keluarga mahesa yang berganti menjadi pengusaha. Dulu kita ini orang yang menekuni bidang agama. Hingga menantunya harus para perempuan atau laki-laki solehah,'' ucap Ryan tersenyum melihat pohon mangga tersebut.
Rasanya luar biasa menyaksikan pohon itu yang masih berdiri namun menyimpan kenangan mereka dari genarasi ke generasi.
''Apa nenek dan kakek buyut bahagia?'' tanya Rahmi membuat Ryan tertawa.
''Sangat! Kakek dan nenek suka bercerita. Katanya nenek dan kakek buyut gak pernah pisah. Walau dijodohkan mereka saling mencintai.''
''Ho'oh.''
''Ryan!! Kenapa gak kemari?!?!'' teriak seseorang dari rumah besar tersebut.
Ryan segera kesana dengan menarik tangan Rahmi.
''Assalamualaikum, Hamzah.''
''Waalaikumussalam warahmatullah.''
''Afifah sudah besar ternyata,'' ucapnya.
''Dia pernah datang ketika kamu lahir, Star. Perkenalkan ini paman Hamzah sepupu Ayah,'' ucap Alif memperkenalkan.
''Salam kenal Paman,'' ucap Rahmi dengan senyumnya.
''Na'am, na'am.''
''Ayo masuk,'' ucapnya mempersilahkan.
Selama disana Hamzah banyak bercerita tentang latar belakang keluarga mereka.
Ternyata Ia dengan keluarga Alif berbesan saat nenek moyang mereka yang otomatis Alif adalah keluarga jauhnya.
Nenek dan kakek mereka memiliki jalan yang berbeda. Kakeknya mewarisi perusahaan sang ayah yang seorang pembisnis sementara neneknya menikah dengan seorang pembisnis yang membuat mereka tidak ada yang menuruskan jalan keluarga secara turun temurun sebagai ustadz dan ustadzah. Maka jatuhlah pada sepupu mereka yang menjalani jalan tersebut. Dari abad keabad yang berubah membuat mereka menjadi keluarga pembisnis, tapi hal tersebut tidak membuat aturan calon menantunya harus sholehah tersingkirkan. Terkadang terjadi pertentangan dengan keluarga mereka tentang calon menantu yang harus disetujui oleh keluarga yang mengurus pesantren sesuai tradisi. Kini semua telah berjalan kembali hingga pertentangan itu berhenti. Hijrahnya Rahmi membuat keluarganya kembali akur.
''Kakak kenapa bawa Rahmi kesini?'' tanya Rahmi.
Ryan tersenyum sambil memandang dengan jauh.
''Asal usul mahesa telah kembali. Keluarga yang jauh harus mendekat untuk tidak saling melupakan. Saat kamu tiada, tidak ada satupun yang datang dari sini. Mama yang terlahir dari sini pasti akan sedih.''
''Mamah dari sini?''
''Iya... paman Hamzah adalah Kakak angkat mama. Mamakan yatim piatu sehingga dirawat oleh paman yang merupakan keluarga jauh mama juga.''
''Artinya mama menikahi sepupunya dong!''
''Pfftt. Benar sekali! Ia menikahi sepupunya sendiri,'' ucap Hamzah.
Mereka bertiga dulu adalah teman bermain yang dirawat oleh Kyai umar. Mempelajari kitab kuning dengan mendalam hingga jalan mereka berbeda.
Ayah Rahmi memilih meneruskan bisnis keluarganya. Ibu Rahmi memilih meraih mimpinya sebagai pelukis dan ia menjalankan kewajibannya meneruskan jalan Kyai Umar.
''Bibi Hafsah mana?'' tanya Ryan.
''Aduh, biasa dia mah pergi ketempat santri cerita-cerita.''
''Ummul?''
''Dikamar main game sama temennya.''
Paman Hamzah menghela napas panjang. Putrinya cuma satu tapi nakalnya minta ampun.
''Paman gak boleh nyerah,'' ucap Ryan terkekeh.
''Iya, paman tau.''
Rahmi melihat sekitar. Pemandangan diluar jendela terlihat indah.
''Itu pohon rambutan... Mau makan?''
Rahmi mengangguk dengan pelan. Mereka duduk diteras-teras dengan rambutan yang sudah dipetik.
Saat malam mereka makan bersama. Ummul agak sedikit pendiam sedangkan Hafsah sama dengan ibu pada umumnya, cerewet.
Saat pagi hari mereka kembali kekota. Hari yang luar biasa menurut Rahmi. Kebahagian sederhana dari sebuah keluarga.
''Star... Kamu harus bahagia,'' ucap Ryan disela-sela waktunya mengemudi.
''Kakak kenapa bilang begitu aku pasti akan bahagia,'' ucap Rahmi tersenyum lebar.
Ryan menatap dengan sedih. Rasanya terlalu cepat adiknya besar.
''Kakak kenapa mengatakannya seolah akan pergi?''
Rahmi mengusap matanya yang berair. Mungkin selama ini ia rindu kebersamaan seperti waktu kecil. Kebersamaan mereka kemarin menyadarkan Rahmi bahwa telah banyak tahun terlewati begitu saja.
''Siapa yang tahu, Star.''
Perkataan Ryan langsung membuat Rahmi menangis.
''Kakak gak boleh pergi!'' ucap Rahmi memegang tangan Ryan.
Set.
Mobil Ryan berhenti, ia berbalik menatap mata sang adik yang telah sembab.
Greb.
Ryan memeluk Rahmi dengan erat. ia menghapus air mata yang jatuh dari pelupuk mata sang adik.
''Star... Maafkan Kakak. Kakak tak akan pernah mengatakannya lagi.''
Rahmi mengeratkan pelukannya, pelukan hangat yang ia rindukan dari tahun yang telah ia lewati tanpa kehadirannya.
...
Mobil mereka telah sampai. Alif telah menanti sang istri dengan rindu. Padahal baru sehari tapi Alif sudah tidak tahan untuk bertemu sang istri.
Saat turun dari mobil Rahmi seperti enggan untuk berpisah. Mata sembabnya membuat Alif mengerutkan keningnya.
''Star. Tuh suami kamu,'' ucap Ryan melirik sang adik yang tak mau melepaskan genggamannya.
''Huahhhh!!''
Tangis Rahmi pecah ia memeluk sang kakak begitu erat didepan suaminya.
''Rah?'' panggil Alif.
''Aku gak mau pisah dari kakak!!''
Bam!
Seperti tersambar petir ucapan Rahmi membuat wajah Alif seketika berubah menjadi buruk.
''Rah? Kamu gak bercanda?!''
''Aduh bagaimana, nih. Kayanya kamu harus rela deh, Alif,'' ucap Ryan menambah-nambahi.
''Rah... Rah.''
Rahmi menengok dengan enggan.
''Aku gak mau,'' ucap Rahmi pelan.
''Star... Mau ikut kakak?'' tanya Ryan.
''Mau!''
Set.
Alif langsung menarik Rahmi kedalam pelukannya.
''Gak! Gak boleh! kamu punyaku sekarang!'' ucap Alif menatap Ryan sinis.
''Yah... Kalau gitu aku ngalah deh. Mau pulang dulu. Dadah,'' ucap Ryan santai.
Alif menatap kepergian Ryan begitu saja. Alif pikir akan ada perang besar tapi malah semudah itu.
''Ekhm,'' deheman Rahmi membuat Alif tersadar.
''Kenapa, Rah?''
''Lepas!''
Alif melepaskan pelukannya. Ia tersenyum sumringan kepada Rahmi.
''Gak usah senyum-senyum, hmph!''
Rahmi berbalik masuk kerumah dengan menghentak-hentakkan kakinya.
''Rah! tunggu!'' ucap Alif mengejar Rahmi.
''Gak!''
...
Malam telah tiba mengantikan siang yang terik. Rahmi duduk dikasur memandang kejendela. Alif masuk dengan membawa nampan berisi susu.
''Kenapa, Rah?''
Rahmi menengok. Ia tersenyum kepada Alif kemudian kembali memandangi bulan purnama.
''Langitnya indah.''
''Nih, minum susu dulu. Aku buatin buat kamu,'' ucap Alif menyerahkan gelas tersebut.
Rahmi menerimanya kemudian meminumnya hingga habis.
''Kak, apa kebahagian kita ini akan abadi?''
Alif duduk disebelah Rahmi menyandarkan kepalanya Di bahunya dan ikut memandangi bulan.
''Gak... Pasti ada saatnya kita berduka. Senang sedih itu wajar. Entah kapan takdir akan menempatkan kita kembali kesituasi sulit. Kita sebagai manusia hanya dapat menjalaninya tanpa kehilangan arah. Rah, masa depan memang menakutkan tapi juga membahagiakan.'' Alif tersenyum memandangi sang bulan.
''Aku takut kehilangan apa yang kumiliki sekarang. Keluarga, kerabat, teman-teman yang berharga... juga dirimu,'' ucap Rahmi menatap sang suami.
Alif menatap kembali mata yang penuh kekhawatiran.
''Rah, meski nanti aku tidak ada. Kamu harus tetap melangkah tanpa aku, tersenyum. Cukup ingat bahwa cinta kita telah melalui banyak hal. Kita manusia tak dapat mengubah takdir, menerima dan mengikhlaskan saja itu sudah cukup untuk menjadi tumpuan kebahagiaan,'' ucap Alif menangkup wajah sang istri agar lebih dekat dengannya.
Perkataan Alif memang benar. Rahmi tidak bisa mengubah takdir yang telah tertulis.
Bila perpisahan akan datang, kuharap tidak begitu menyakitkan. Aku akan mengenangnya sebagai ingatan berharga yang kumiliki hingga kita dipertemukan kembali.