Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Kepergian


Rahmi berubah menjadi dingin. Suasana rumah yang hangat karna kedatangannya menjadi terasa dikutub utara. Rahmi lebih sering keluar menyendiri dibanding dirumah berkumpul dengan Abby juga Alif.


Ia butuh ketenangan untuk memahami segalanya. Ia butuh waktu menyinkronkan ingatannya yang kembali.


Puzzel itu kini tersusun rapi tinggal bagian bagaimana ia bisa mengenal Adelya juga April. Ingatannya berkabut dengan mereka, ingatan lain jelas tapi hanya tentang mereka yang ia tidak ingat kapan mereka bertemu.


Adelya adalah sahabat April yang merupakan sepupunya meski terasa agak jauh ia juga tidak ingat mengapa. April mengatakan mereka dekat tapi tidak ada kedekatan diingatannya.


Apakah ini ingatannya yang Asli? atau hanya ilusi?


Rahmi memandang langit yang lagi-lagi cerah. Setiap melihat langit ia akan teringat kecelakaan yang ia alami.


Senyum pahit mengambang diwajahnya. Satu-satunya yang ia pertanyakan, apakah Ryan benar-benar tidak tulus menyayanginya? Didalam ingatannya Ryan sangat menyayanginya. Kelvin... Ia hanya sekedar teman Ryan yang usil juga nakal.


Rasanya aneh... Yang mana yang harus ia percayai, semuanya atau tidak sama sekali.


Tapi ia yakin satu hal. Alif memang bejat, ia memanfaatkannya demi kepentingan pribadinya. Sikapnya mulai berubah sejak saat Ryan juga Kelvin sering menghubunginnya.


Rahmi menelan ludahnya. Sulit baginya untuk menerimanya sekarang. Setiap melihat Zahra ia akan teringat perkataan Laila yang mengatakan mereka mengambil ginjal Ayah angkatnya.


Rasanya pilu melihat yang kita anggap berharga menusuk kita dari belakang.


Tes.


Untuk kesekian kalinya air matanya menetes. Penderitaannya terasa tidak berharga bagi mereka.


''Karna mereka awalnya adalah orang asing. Mari tempatkan kembali pada tempatnya.''


...


Awalnya Alif ingin tinggal lebih lama karna sebelumnya Rahmi sangat senang berada disana. Tapi melihat perubahannya, Alif memutuskan untuk segera pulang.


Alif ingin bertanya tapi ia tidak siap dengan jawaban yang akan keluar dari bibirnya istrinya.


Mereka pulang lebih cepat. Suasana perjalanan terasa begitu dingin. Rahmi tak lagi duduk didepan, ia duduk dibelakang dengan diam.


Pandangnya selalu terfokus keluar jendela. Matanya tak pernah terlihat melihat dengan jelas, ia begitu sering melamun.


''Rah, mau mampir makan siang??''


''Gak.''


Alif tersenyum kecut. Padahal mungkin saja Rahmi akan senang bila ia mengajak makan.


Rasanya menyedihkan berada disituasi yang buruk ini. Alif pikir ia sudah cukup dekat dengan Rahmi. Rasanya mereka semakin menjauh. Baru kemarin mereka saling menyatakan perasaan masing-masih dan saling memperhatikan satu sama lain. Mengapa semuanya berubah sekejap mata.


Sampai dirumah pun tidak ada yang berubah.


Sret!


Degh!


''Rahmi... Kamu mau kemana?'' tanya Alif melihat Rahmi mengeluarkan barangnya dari kamar.


''Pindah!''


Alif mencengkram tangan Rahmi ia tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.


''LEPAS!''


Degh!


Alif tersentak, kemana istrinya yang lemah lembut. Tatapannya menyalang sangat berbeda dengan yang dulu.


''Rah... ,'' lirih Alif berusaha menahan koper Rahmi.


Tak.


Rahmi menyentak tangan tersebut kemudian berjalan kekamarnya dan menutupnya rapat-rapat.


Mata Alif menyipit, ia tidak suka dengan situasi ini. Rasanya mengesalkan hingga ia ingin mengurung istrinya itu dikamarnya hingga tak ada yang dapat melihatnya.


Alif berusaha mengontrol dirinya untuk tidak memonopoli istrinya. Biarkan Rahmi tenang hingga mereka kembali berbicara.


Perasaan dihatinya terasa berkecamuk. Tapi cinta tidak boleh dipaksakan agar tidak menjadi duri. Ia tidak mau melihat lagi tatapan ketakutan juga kebencian dimata istrinya seperti saat itu.


Deg.


'K-kebencian... '


Alif baru terpikir bukankah tatap istrinya tadi adalah tatapan permusuhan, kebencian, kemarahan, kekecewaan yang bercampur aduk.


Tidak! Bila dibiarkan terus seumur hidup mereka tidak akan bisa akur.


'Apa yang harus kulakukan untuk mengubahnya... '


Ia tidak mau mengurung Rahmi agar tidak pergi tapi juga tidak bisa membiarkan semuanya begitu saja.


'Tapi dari mana sumbernya'


Alif teringat awal perubahan Rahmi. Dia sepertinya bertemu dengan seseorang. Dia harus mencari tau apa yang terjadi. Istrinya tidak mungkin berubah tanpa alasan. Bahkan hingga Abby juga ia beri tatapan dingin.


Alif pergi keperusahaannya juga untuk menenangkan diri. Ia harus berpikir bagaimana selanjutnya. Tidak ada yang akan berubah jika ia tidak berusaha memperbaikinya.


Didalam kamar Rahmi membuka isi kopernya. Ia ingat mempunyai stempel perusahaan yang ia dapat dari kakeknya juga sebuah surat harta warisan dari kedua orang tuanya, bukan cuma itu ia juga teringat akan sebuah kartu yang diberikan ayahnya dan masih ia simpan meski ingatannya perlahan terikis ia terus menyimpannya sebagai beda berharga. Meski ia tidak ingat tapi nalurinya merespon dengan baik.


Alif memandang seisi rumah. Apakah keputusannya sudah tepat untuk pergi. Tapi ia juga dapat berbohong dan tetap merasakan kebahagian dengan cinta yang ia miliki.


Tes.


''Bodoh. cinta itu palsu dan kau mengharapkannya,'' gumamnya pelan.


''Apa lagi yang harus kau pertahankan Rahmi... Suami yang memanfaatkamu? Atau mertua yang membunuh kedua orang tuamu? Tidak ada lagi alasan bagimu mempertahankan pernikahan ini.''


Ia tidak bisa berbohong ia kecewa hingga rasanya kegelapan menelannya hingga kejurang kehancuran yang menusuknya setiap detik.


Jujur ia ingin mempertahankan pernikahannya. Tapi bila ia bertahan akankah ia bahagia bila setiap melihat wajah suaminya ia akan teringat segalanya. Waktu tidak bisa menghapus ingatannya. Ia akan selalu merasa bersalah pada Heira, bahagia dengan anak yang membunuh kedua orang tuanya.


Bila sewaktu-waktu ia sudah tidak berguna dan Alif bosan dengannya, bisa saja ia akan diusir dan diperlakukan dengan buruk.


Nyuttt.


Rahmi memegang dadanya yang terasa nyeri. Cinta yang ia miliki sekarang juga menyiksanya, salahkan dirinyaa mencintai orang yang salah. Rahmi tidak akan pernah kuat bila masa itu akan datang. Ia tidak mau tersakiti lagi dan lebih dalam.


''Ayo pergi. Setelah semua selesai... Berkeliling dunia juga tidak buruk.''


Malam semakin larut, Rahmi menunggu hingga Alif pulang dan rumah sudah sepi. Rasa enggan untuk pergi membuat hatinya gudah. Ia selalu goyah dengan keputusannya demi cinta semu yang ia miliki. Cinta yang tak abadi dan dapat berubah-ubah.


Brak.


Mendengar suara pintu tertutup Rahmi menunggu lima menit lagi baru keluar. Ia mengintip sekitar yang sudah gelap, begitu pun dengan kamar Alif.


Rahmi menganggkat kopernya agar tidak ada yang mendengar suaranya. Semilir angin berhembus dirumah itu. Rahmi menatap rumah itu untuk terakhir kalinya. Ia tidak akan pernah kembali lagi kesana.


Dret.


Suara pintu rumah yang terbuka membuat jantung Rahmi berdetak dengan cepat. Ia buru-buru keluar dengan sesekali menengok kebelakang apakah ada yang menyadarinya kepergiannya.


Trang!


Saat membuka pagar suaranya begitu berisik.


Mendengar suara pagar terbuka Alif mengintip dari jendela besar. Awalnya ia pikir suara tadi adalah pelayan atau angin yang berhembus dengan kuat.


Deg!


Dalam kegelapan yang remang-remang dengan cahaya bulan. Ia melihat sosok yang dikenalnya berjalan dengan membawa koper.


Drab!


Alif berlari dengan cepat untuk menyusul istrinya yang akan pergi.


''RAH!!


Terlambat pagar sudab ditutup. Alif buru-buru membuka pagarnya.


Trang.


Saat pagar terbuka Rahmi sudah naik kesebuah mobil hitam. Ia melirik Alif sejenak kemudian mengalihkannya kearah lain.


Tes.


'Kenapa kau mengejarku dengan wajah yang kehilangan... Ah! Pasti kau sedih karna telah kehilangan catur yang begitu berguna.'


''RAHMI!!!''


Alif mengejar mobil itu, ia tidak mau menyerah begitu saja. Bisa saja ia akan kehilangan kesempatannya seumur hidup.


''Pak, lebih cepat!'' Rahmi melirik ke kaca spion dimana jarak mereka semakin jauh.


Dhuak.


Alif terjatuh dengan jidat yang berdarah. Tapi hatinya lebih sakit, tak bisakah istrinya melihatnya bahwa ia tulus.


Alif menatap kelangit yang perlahan mulai dituruni hujan. Alif bangun dan berjalan perlahan menuju rumahnya.


Alif pulang dalam keadaan basah. Saat sampai dilantai atas ia melihat lorong yang sunyi, Alif melangkah kehadapan pintu kamarnya. Ia diama begitu lama hingga berbalik masuk kepintu kamar istrinya.


Ruangan itu terlihat berantakan, ada pecahan kaca juga bunga yang kelopaknya berserakan.


''Kenapa kaca ini bisa pecah.''


Pandangan Alif tiba-tiba langsung tertuju pada ranjang yang penuh darah.


Degh.


'Apa Rahmi terluka lagi!'


Alif ingat setiap ada yang pecah istrinya itu akan memunggutnya dengan tangannya tanpa memikirkan darah yang menetes dari jarinya.


Syut.


Didalam mobil Rahmi melihat seluruh tangannya yang diperban, wajahnya pun memiliki luka yang sudah ia plaster.


Diatas sebuah kasur terlihat sepuncuk surat. Alif langsung mengambil surat tersebut dan membacanya.


Terlihat darah menetesi suratnya dengan sebuah serpihan air.


'Apa Rahmi menangis.'


...Untuk Alif, suamiku. Jika kamu membaca surat ini. Itu artinya aku sudah pergi, aku benci padamu, sangat benci!...


Alif meremas surat itu hatinya terasa ditusuk pedang mengetahui istrinya membencinya.


...Kamu memanfaatkanku dengan kejam!! cintamu palsu!! segalanya palsu!! Hatiku terluka dan sudah tidak dapat menerimanya... Pilihlah orang lain, gugatan cerai akan segera kukirim ... Dari mantan istri...


Deg!


Sebenci itukah istrinya padanya hingga belum bercerai ia sudah menganggap dirinya sebagai mantannya.


Alif menghubungi sekertarinya. Ia memerintahkannya menyelidiki penyebab semua ini terjadi. Ia tidak percaya ini tidak ada hubunganya dengan orang lain.