Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
April.


Disebuah rumah besar. Disaat semua orang orang bercanda tertawa dengan riang. Diujung rumah itu jauh dari rumah utama didekat rumah para pelayan. Ada sebuah rumah kecil yang dihuni oleh dua perempuan.


''Mah! Rumah ayah ramai sekali!! April mau kesana!'' serunya kepada bundanya.


Fiona hanya dapat memandang dengan sedih kepada putrinya. Dirinya begitu malang harus diperlakukan dengan begitu tidak adilnya. Fiona yang merupakan bunga kampus melakukan kesalahan hingga merusak segala mimpinya, kehadiran April menjadi petaka untuknya. Paksaan dari Andra membuatnya tersiksa dalam penjara yang megah. Ia menerima hinaan dari orang-orang. Statusnya pun tak lebih dari istri sah dan merupakan pelakor dalam rumah tangga Andra dengan syakira.


''Nak, kita tunggu ayah saja, yah?'' bujuk Fiona pada putrinya.


''Hmph!'' Gadis 16 tahun itu memalingkan wajahnya, kenapa ia selalu diperlakukan seperti itu.


April menatap dari kejauhan. Ia membenci chanaya yang selalu mendapatkan segalanya semantara ia harus hidup dalam diam.


'' Huk, huk.''


April meliht wajah pucat mamanya.


''Mah, mama tidak apa?'' tanya April.


Fiona tersenyum, ia mengatakan pada putrinya ia baik-baik saja.


...


Malam sudah tiba tapi ayah yang ia tunggu tidak datang-datang. Rumah utama tampak berisik hingga terdengar kesana. April menatap ibunya yang tertidur lelap. Ia berjalan hati-hati keluar dari rumah. April tersenyum begitu lebar dapat keluar dari rumah.


Gadis itu mengintip dari balik pintu dapur. Dirinya tertegun melihat kue raksasa yang ada dimeja.


April melihat sekitar yang sedang sepi. Ia naik kemeja melihat kue itu.


Selamat ulang tahun putriku Chanaya.


Deg!


April menahan emosinya, dirinya cemburu juga tidak suka. Ayahnya hanya datang sesekali melihatnya dirumah yang seperti penjara itu. Tak pernah sekalipun April merayakan ulang tahunnya. Ayahnya juga selalu memandangnya dengan sinis


Apa salahnya dengan ibunya, bukan keinginannya untuk terlahir. Ibunya tidak salah apapun, tapi kenapa harus diperlakukan sedemikian kejamnya.


April menjatuhkan kue itu kelantai hingga membuat kebisingan. Ia segera berlari keluar kemudian bersembunyi.


''Huahahhhh kueku rusak, Ayah!!'' tangis Chanaya langsung dibujuk oleh Andra.


''Kita beli yang baru yah, Nak!!''


April menggempalkan tangannya, tak pernah sekalipun ia diperlakukan dengan lembut oleh ayah kandungnya itu.


Set.


April berlari pulang kerumahnya dengan air mata yang terjatuh dipelupuk matanya. Andra melihat keluar, ia menangkap sosok kecil yang berlari begitu cepat.


'April.' Ekspresinya tampak sedih. Ia juga tau dirinya tak pernah merayakan hari lahir putrinya itu. Tapi syakira begitu membencinya, ia dapat membunuh putrinya kapapun. Pilihan yang ia punya hanya menyuruh mereka tinggal disudut rumah dalam diam. Mengawasi dari dekat, berharap suatu hari nanti akan ada perubahan.


Pagi telah datang, rumah utama telah dihiasi untuk merayakan hari ulang tahun Chayana.


April hanya menatap dari jendela. Ia juga ingin merasakan pesta, dimana semua orang menyelamatinya, memberinya hadiah, dan diberikan kasih sayang oleh kedua orang tuanya.


Melihat April yang memandang kearah rumah utama Fiona mengusap kepala putrinya.


''Keluarlah melihat-lihat sebentar. Sebentar saja.''


April tersenyum senang, ia mengucup pipi ibunya kemudian berlari keluar.


April melihat dengan hati-hati agar tidak ketahuan. Ia berjalan-jalan dengan begitu senang. April mengambil sedikit makanan kemudian keluar dengan mengendap-endap.


Dhuak!


''Aduh!'' jerit April.


April segera bangun dan melihat siapa yang ia tabrak. seorang perempuan dengan ramput digulung dengan jepitan pita biru malam dengan bintang-bintang, pakaian yang menjutai lebar kebawah dengan renda yang dipenuhi kelipan bintang juga sebuah anting berbentung bintang.


''Star!! Ada apa?!!''


Star melihat kedalam, ia tersenyum kepada April.


''Kak Ryan sama Kak Kelvin duluan saja!'' ucap Star setengah berteriak.


''Kamu... Anak pembantu?'' Star memiringkan kepalanya melihat April.


April menggempalkan tangannya, ia juga anak ayah tapi kenapa selalu dia yang dideskriminasi.


''Sepertinya bukan! Aku Rahmi, panggil saja Star,'' ucap Star mengulurkan tangannya.


Untuk pertama kalinya ada yang bersikap ramah dan mengulurkan tangan untuknya.


''Aku April.''


''Wah!! Kamu anaknya pamankan!!'' seru Star.


April langsung tertegun kemudian mundur beberapa langkah.


'Apa yang akan dia katakan. Anak haram, anak pelakor.' April menunduk, ia tidak ingin melihat tatapan menghina dari orang yang baru saja ia anggap teman.


''Nih, Hadiah!''


April mendongkak melihat kotak besar yang diberikan oleh Star.


''Bukankah itu untuk chanaya?''


Star menggeleng pelan.


''Bukan! Dia sudah punya hadiah, ini untuk sepupuku yang satunya... ''


April menunjuk dirinya dan diangguki oleh Star. April juga sepupunya, meski ia tidak tau mengapa dia tertutup tapi Star tau dia punya dua sepupu dari pamannya itu.


''Aku sepupumu?''


Star mengangguk, ia mengenggam tangan April untuk mengajaknya masuk kepesta ulang tahun Chanaya.


''Tidak! saya tidak mau pergi!!'' ucap April kemudian berlari pergi.


April tidak mau dihina didalam sana. Tidak semua orang menerima dirinya.


Hingga malam acara itu belum selesai juga. April mengintip kejendela dirumah utama, ia mencari Star.


Star tengah mengobrol dengan Chanaya.


Set.


''Saya akan menjadikan Chayana pewaris.''


''Bagaimana dengan putri pertamamu? Bukankah seharusnya ia yang menjadi pewaris!''


''Syakira tak akan menyetujuinya, sebagiannya akan kuberikan pada Star.''


''Apa?! Kenapa harus putriku?!''


''Karna-''


''Papa!!''


''Chanaya! jangan lari-lari!''


Tes.


Padahal ia putri pertama tapi kenapa ia diperlakukan begitu tidak adil. Chayana hidup dirumah utama, sementara ia hidup diujung halaman, Chayana sekolah ditempat elit sedangkan ia sekolah dengan kekurangan, kasih sayang, bahkan hingga posisi yang harusnya dimilikinya sebagai anak pertama.


April membenci Chanaya juga Star. Ia berjalan kembali kerumahnya.


''Mah... ,'' panggil pelan April.


Tak ada sautan, April memasuki kamar ibunya. Ibunya terbaring dengan damai.


''Mah... ''


deg.


April merasakan dingin dari tubuh ibunya.


''Mahh!!'' ia menguncang tubuh ibunya tapi tak ada respon.


Tes.


''Tidak! MAMAH!!!''


Malam itu saat semua orang berbahagia, April kehilangan ibunya. Di pagi hari tiada yang mempedulikan gadis yang telah menderita dengan tubuh sang Ibu yang telah dingin.


Semua orang tertawa dan tersenyum membicarakam kemegahan pesta ulang tahun Chanaya.


April berjalan lunglai dari rumahnya kerumah utama. Ditengah jalan ia melihat Chanaya juga Star yang ada didepan pagar. Mereka ingin menyebrang kejalan depan untuk membeli es krim.


Terbesit dipikirannya untuk melakukan hal jahat.


'Kalau ia mati... Semuanya akan jadi milikku!'


Drab!


Set!!


TINNN.


BRAKK!!


Chanaya didorong kejalan, mobil besar menabraknya hingga terlempar.


Cresss.


Deg!


Darah keluar dari kepala Chanaya. April terkejut dengan tindakannya.


Star gemetaran melihat kecelakaan didepan matanya, ia melihat jelas bagaimana Chanaya tertabrak.


'Tidak! tidak ada yang boleh tau!!'


Set!


April langsung berlari pulang kerumah memeluk tubuh sang ibu yang telah dingin


''Hiks... April takut, mah!''


Tangannya gemataran, napasnya tersenggal-sengal.


Brak.


Rahmi terjatuh dengan ketakutan melihat darah yang ada didepannya.


''CHANAYA!!!''


Andra langsung berlari kearah putrinya. Sekerumunan orang datang melihat Chanaya.


Star dituduhi ingin membunuh sepupunya. Tapi disaat itu ada orang lain yang melihatnya.


Kelvin! Ia melihatnya secara langsung.


''Adikku tidak begitu!!!'' tuding Ryan tidak terima.


''April! Kak April yang mendorongnya!!'' seru Star.


Andra langsung mendatangi rumah April. Tapi didalam sana April tengah menangisi ibunya.


''Ayah... Ibu telah pergi,'' ucap April dengan tangis.


'Tidak! tidak mungkin April! Ia tengah berduka... '


Glek.


Andra mengusap kepala April untuk pertama kalinya.


Karna hal ini, Star tidak bisa membersihkan namanya. Tak ada bukti April yang melakukannya karna pada saat itu ibunya tiada. Orang-orang berpikir tidak mungkin dirinya karna ia tengah menangisi ibunya pergi menemui sang pencipta.


Awal penderitaan Rahmi berawal dari sebuah tuduhan yang tidak ia lakukan. Kemanapun ia pergi orang-orang berbisik tentangnya.


Prestasi yang selalu dipuji orang seketika menghilang, menyisahkan kedengkian.


2 tahun setelahnya. Chanaya telah sembuh dengan kondisi pincang dan terus menorehkan luka bahwa ia tak berhak jadi pewaris.


Situasi berbalik. Tuhan seolah mendukung April, ia masuk jurusan Farmasi mempelajari obat-obatan hingga ia bereksperimen membuat obat kegilaan.


Rencananya dimulai, Ia mendekati Adelya untuk mendukungnya nanti, ia membuat Star menjadi gila akan kecelakaan yang merengut orang tuanya. Kecelakaan itu juga rencananya, hingga kecelakaan pengasuhnya. Tapi Star tidak mati-mati membuat emosinya memuncak.