Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Desa Lawu


Ryan, Kelvin juga Alif, mereka saling memandang dengan pikiran masing-masing. sudah pertemuan keberapa kali mereka untuk bertemu membahas perkembangan pencarian Rahmi.


''Hasilnya nihil ...,'' ucap Kelvin menghela napas panjang. Ia sudah seperti detektif internasional bekerja siang dan malam tanpa henti.


''Apa ada kabar, Lif?'' tanya Kelvin.


Alif menggeleng, ia sudah melacak ponsel Rahmi tapi tak ada yang bisa ia gunakan.


''Iya bagaikan hilang diujung pelosok bumi,'' gumam Kelvin.


Ryan diam saja, ia larut dalam pikirannya.


''Kau menemukan sesuatu?'' tanya kelvin melihat Ryam diam saja.


Ryan menggunakan satu tangannya menompang wajahnya. Ia tampak berpikir keras.


''Pelosok bumi ...,'' gumamnya pelan.


''Mungkin Rahmi pergi kerumah bundanya,'' ucap Ryan melantur.


''APA?!!''


Kelvin juga Alif terkejut mendengar ucapan Ryan.


''Kenapa? Aku hanya memikirkan kemungkinannya,'' ucap Ryan memiringkan kepalanya bingung. Kenapa dua makhluk didepannya begitu kaget mendengarnya.


Ryan mencoba kembali memikirkan ucupannya.


TING!


Sebuah lampu akhirnya menyala diotak Ryan.


''RAHMI KERUMAH BUNDANYA!!!'' teriaknya terkejut sendiri hingga berdiri.


''Kenapa kau tidak bilang sejak awal ... jangan-jangan kau sudah tau?'' selidik Kelvin.


Ryan memutar bola matanya malas. Bila ia tau dari awal, ia juga tak akan repot seperti ini.


''Tapi itu baru kemungkinannya,'' ucap Ryan kembali duduk dengan menjatuhkan tubuhnya.


Alif menatap Kelvin juga Ryan, mereka benar-benar orang yang Rahmi kenal. Bahkan mereka mengenalnya lebih lama dibanding dirinya. Selama pencaharian, ia hanya bisa melakukan hal-hal kecil. Berbeda dengan Ryan dan Kelvin, mereka memutar otak mereka bagai neraka untuk menemukan Rahmi.


Ia bahkan tidak tau apa-apa mengenai istrinya itu. Setiap ia pulang kerumah, rasanya sepi juga tidak nyaman. Setelah pertemuan ia akan lebih sering melamun, mata Alif telah terbuka bahwa ternyata ia tak tau apapun mengenai istrinya.


''Baiklah kita pergi kesana bersama saja!!'' ucap Kelvin memutuskan.


Selama mengobrol dengan Ryan yang lebih tepatnya berdebat. Kelvin tau ekspresi Alif yang menyesal tidak mengenal Rahmi lebih awal.


Alif menatap mereka, apa mereka juga mengajaknya.


''Kenapa begitu? Kita juga butuh kamu bujuk Rahmi,'' ucap Kelvin memutar bola matanya malas.


''Jangan jadi anak ABG yang lagi dimabuk asmara,'' sindir Ryan melihat Alif bagai habis diputus cinta.


....


''Nah silahkan diminum,'' ucap Heira menyajikan teh untuk Daniel.


Daniel mengangkat gelasnya dan meminum tehnya.


''BHUAHHH!! PANAS KAMBING!!'' Dengan kesal Daniel kembali meletakkan gelas tehnyam


Lidahnya terasa terbakar. Pasti Heira sengaja tidak memberitahunya.


'Dasar gadis sialan yang tidak tau terima kasih,' umpatnya didalam hati.


''Pfft!!! Hahah... Makanya jangan langsung nyerobos minum aja!!'' tawa Heira meledek.


''Kaukan tidak bilang!!!''


Heira hanya menyingungkan senyum jahilnya.


''Kuenya datang ...,'' ucap Rahmi menghampiri mereka dengan sepiring kue.


''Tuh!! lihat tuh kalem!! Gak kaya lo bar-bar!'' ucapnya menyindir.


Heira hanya tersenyum menyeramkan dengan memberikan isyarat bahwa Daniel harus diam kalau masih sayang dengan nyawanya.


''Gadis tomboy,'' gumam Daniel berbisik tapi terdengar oleh Heira juga Rahmi.


''HAH!!! Sudah!! sudah!! sudah!!!'' ucap Heira kesal.


Rahmi duduk disebelah Heira, ia mendengarkan percakapan mereka dengan baik.


''Hei ... Kau tidak akan menyesal keluar?'' tanya Daniel melantur.


Heira menghela napas, ia juga lelah.


''Tidak ... Aku tidak akan menyesal. Bila aku tidak berhenti, bagaimana bisa aku akan bertemu adikku yang manis ini,'' ucapnya kemudian memeluk Rahmi dengan gemas.


Daniel yang melihat betapa sayangnya Heira pada Rahmi tak bisa mengatakan apapun lagi.


....


BRUMMM!!


''Ah!!''


Ia turun dari mobil melihat mobilnya yang terjebak dengan lumpur.


''Terus sekarang bagaimana?'' tanya Ryan pada Alif.


Alif menepuk kepalanya, mau tak mau ia harus mengatakannya.


''jalan kaki ....''


''AAPAAA!!!!'' teriak Kelvin terkejut. Ia mana bisa jalan dijalanan yang super duper becek itu.


Tapi marah-marah pun tak berguna.


Bam!


Kelvin keluar dari mobil, ia melihat bahwa mobilnya beneran nyembur kedalam lubang genangan air yang dalam.


Selamat tinggal kemewahan.


Akhirnya mereka berjalan untuk bisa sampai didesa bunda Rahmi dulu tinggal.


Kaki yang sudah terasa mau putus itu baru melewati setengah jalan.


''AKHH!! TIDAK ADA SINYAL!!!'' Teriak Kelvin frustrasi. Tak ada sinyal, tak ada bantuan, taka da air, rasanya mati lebih menyenangkan.


''Setengah jalan lagi ...,'' ucap Ryan melihat peta.


''Kau dapat dari mana?'' tanya Kelvin.


''Bikin, karna disinikan pelosok pasti tak ada jaringan,'' ucapnya percaya diri.


Kelvin menyiyir, sedangkan Alif menghela napas panjang lelah.


Tak jauh dari mareka, ada sebuah trak sedang lewat.


''Eh!!! Itu!! Kejar!!'' ucap Alif menarik mereka.


Kelvin juga Ryan ikut berlari.


''PAK!!! BERHENTI!!!''


Mobil itu berhenti, napas mereka tersenggal-senggal.


''Lif ... Ngapain?!!'' Tanya Kelvin.


''Pak kedesa Lawu berapa?'' tanya Alif menghiraukan mereka.


Ia tampak berpikir, kemudian menaikan sepuluh jari kakinya.


''sepuluh juta ... Nih,'' ucap Alif memberikan uangnya langsung!


''Weh doe!! Orkay sih! Ta waseng 100 ribu doang dikasihnya 10 jeti,'' ucapnya menepuk jidatnya (Astaga, oranga kaya sih. Ku minta 100 ribu dikasihnya 10 juta)


''Kurang yah?'' tanya Alif tak paham.


''Ho'oh tidak!, Naik-naik!!'' ucapnya sumringan.


Alif mengajak Kelvin juga Ryan untuk naik.


''Hah? Serius loh?!! Tapi ... Tapikan,'' ucap Kelvin melonggo.


Ryan tampak berpikir, memang ini lebih efektif dibanding jalan kaki. Akhirnya Ryan naik bersama Alif, tinggal Kelvin yang masih ragu.


''MAU NAIK TAK?'' Tanya supirnya.


Mau tak mau Kelvin menerima uluran tangan dari Alif juga Ryan.


''Beeeee!!!''


Kelvin menahan dirinya untuk tak berteriak saat para kambing itu mendekatinya. Benar! Mereka naik trak pengangkut KAMBING!!!.


Setelah perjalanan yang melelahkan, mereka akhirnya sampai didesa lawu.


''Ryan rumah bundanya Rahmi dimana?'' tanya Kelvin lemas.


Ah dia berharap saat sampai akan disambut dengan air mandi yang hangat, juga makanan yang hangat untuk disantap.


''Tidak tau,'' ucap Ryan tersenyum pada Kelvin.


JDAR!!!


Bagai tersambat petir, Kelvin langsung terjatuh dengan lemas.


''Kita tanya orang sekitar,'' ucap Alif menghampiri seorang warga.


''Ryan ... Kenapa kau begitu yakin Rahmi ada disini? Kenapa tidak utus orang saja dulu,'' tanya Kelvin.


''Siapa yang yakin?'' tanya Ryan balik.


BAM!


'Hah? Aku dimana ... aku siapa?'


''Katanya ada diujung desa, nanti langsung kelihatan karna hanya rumahnya yang punya pagar dengan lampu yang terang benderang,'' ucap Alif.


Malam sudah akan tiba, mereka harus bergengas kesana.


Mereka berjalan sampai setengah jam lebih hingga sampai diujung desa. Benar saja bahwa hanya ada satu rumah yang paling terang cahayanya.


Tok, tok.


Ryan mengetuk pintu rumah. Tak lama keluarlah penghuni rumah.


''Eh?!!''


BAM!


Belum mengatakan apapun, Heira sudah menutup pintu lebih dulu.


'Siapa? Apa mereka sudah gila mengirim mafia?'


''Kak ada apa?'' tanya Rahmi melihat Heira seperti melihat hantu.


''Jangan lupa tutup jendela yah?''


''Sudah ditutup kok,'' ucap Rahmi tersenyum.


'Aduh gimana nih ...'


Heira mengintip sedikit ap mereka sudah pergi.


'Aduh kok belum pergi!!'


Rahmi membuka pinti lebar-lebar hingga Heira terjungkal kebawah.


Ryan, Kelvin juga Alif langsung menghindar. Al hasil Heira mencium tanah kelahirannya.


Deg!


''Rah-''


BAM!!


Pintu ditutup oleh Rahmi. Tak lama kemudian pintu terbuka, Rahmi langsung menarik Heira masuk kerumah kemudian menutupnya lagi.


BAM!


Melihat sikap Rahmi, sepertinya mereka tidak punya kesempatan. Dan mereka terpaksa mencari tempat untuk mereka tinggali.


''Hufft ... Besok kita datang lagi,'' ucap Alif pada Ryan juga Kelvin.