
Setelah saat itu, akhirnya Rahmi keluar lagi untuk berbelanja tapi kali ini dia pergi dengan Bibi Hani.
''Nona ingin membeli sesuatu? Biar Bibi yang belikan. Nona dirumah saja,''ucap Bibi Hani khawatir.
''Tidak apa, Bi. Rahmi juga ingin jalan-jalan,'' ucap Rahmi dengan antusias.
Bibi Hani menghela napas, ia menggandeng tangan Rahmi agar mereka tidak terpisah.
''Wah ...."
Rahmi melihat kesana kemari, berbeda dengan market tempatnya membeli dulu. Mereka pergi kepasar tradisional, disana lebih ramai dan berantakan.
''Ini pertama kalinya nona kemari, yah?''
Rahmi mengangguk pelan, dengan senyum antusiasnya ia mengatakan, ''ayok, Bin! Apa saja yang harus kita beli?'' Rahmi begitu antusias ingin melihat kesana.
''Baik, baik. Mari Bibi antara gadis kecik yang tak sabaran ini,'' ucap Bibi mengusap kepala Rahmi dengan gemas.
Rahmi menatap apa saja yang Bibi lakukan. Beda dengan market yang tertera harganya, disana mereka menanyakan harganya, juga menawarkan harganya yang tak mungkin terjadi di market.
''Nona ingin beli sesuatu?'' tanya Bibi melihat Rahmi hanya diam dan terus memerhatikan-nya.
Rahmi menggeleng pelan, tiba-tiba matanya tertuju pada satu hal yang menarik.
''Bi, itu apa?'' tanya Rahmi.
''Ah, itu ... Mereka pedagang yang meramal dari telapak tangan. Lebih baik Nona tidak terlalu percaya terhadap hal seperti itu,'' ucap Bibi menasehati. Rahmi mengangguk, ia memerhatikan yang pedagang itu lakukan. Pedagang itu terus memerhatikan Rahmi membuat Rahmi menjadi merinding ketakutan.
''Apa lagi yang akan Bibi beli?''
Bibi tampak berpikir sejenak kemudian Bibi dengan senyumnya menunjuk sebuah tokoh,'' Bibi akan pergi beli tepung. Nona tunggu saja disini sebentar, karna disana ramai sekali."
Rahmi mengangguk ia menunggu didepan tokoh sambil melihat-lihat orang berlalu-lalang.
''Anda tidak akan bisa hidup lama ...."
Rahmi menengok kearah suara yang mengatakan hal aneh padanya. Padagang itu tersenyum miris menatap Rahmi. Pedagang yang meramal yang menatapnya tadi saat ia bersama bibi.
''Kenapa kau mengatakan itu?''
Pedagang itu tersenyum dan mendekati Rahmi, ia mengatakan didepan wajah Rahmi, ''karna musuhmu banyak."
Sret!
''Humph!!!''
Rahmi membelalakkan matanya. Mulutnya dibekam dengan kuat, perlahan ia kehilangan kesadarannya.
''Aku tidak pernah percaya takdir."
Disisi lain Bibi dengan senyumnya kembali untuk menghampiri Rahmi.
''Nona pasti suka kue manis in-''
''Nona?''
Deg!
Bibi melihat sekitar, ia sebisa mungkin berusaha tenang. Mungkin saja Rahmi pergi jalan-jalan karna bosan menunggunya.
''Nona?!!''
Biba mencari disekitar tokoh, namun tak menemukan tanda-tanda Rahmi.
''Ya Allah ... Nona ada dimana!!!''
Bibi menunduk dengan sedih, khawatir serta cemas sesuatu yang buruk terjadi pada Nona. Tiba-tiba mata Bibi tertuju pada tempat peramal tadi yang kosong.
'Astagfirullah gak boleh soudzon.'
'Tapi ... Nona gak mungkin pergi begitu lama ....'
Bibi teringat bahwa peramal itu memang selalu mengawasi mereka, seolah menunggu kesempatan. Meski berpikir yang buruk, Bibi cukup berpikir positif bahwa memang itu hanya 'Kebetulan.'
''Bibi harus kasih tau tuan!!'' ucap Bibi berlari pulang kerumah.
Saat sampai dirumah, bibi buru-buru mencari Alif.
''Kalian liat Tuan?''
Para pelayan lain menggeleng, salah satu dari mereka menjawab, ''Tuan belum pulang. Biasanya, kan Tuan pulang sudah Isyah atau maghrib atau sebelumnya."
Bibi mengigit bibirnya gugup, bagaimana dengan nona-nya sekarang.
'Telpon.'
Bibi buru-buru berlari ketelpon rumah menghubungi Alif.
Tut.
Tut.
Detik, menit, Bibi semakin khawatir karna tak kunjung tersambung.
''Hiks ... Nona bagaimana sekarang ...,'' gumam Bibi terduduk lemas.
''Bi Hani kenapa? Nona kenapa?'' tanya pelayan yang lebih muda.
''Yana ... Sepertinya No-nona di-diculik,'' ucap Bibi pelan.
Degh!
Bibi diam tak menjawab menandakan bahwa ia tak bercanda sama sekali.
''Kita keluar cari Nona. Saya akan coba pergi keperusahaan tuan untuk melapor,'' ucap mereka membagi tugas masing-masing. Bila Rahmi hilang, mereka bisa saja dipecat.
''Bibi dirumah saja menunggu, Nona."Bibi mengangguk pelan. Ia berdoa semoga Rahmi baik-baik saja.
...
Tok, tok.
''Tina, Aku kan sudah bilang ... Aku tidak mau ikut rapat yang membosankan,'' ucap Kelvin kesal. Ia membalik posisinya untuk melanjutkan tidurnya.
Cklek.
Mendengar pintu terbuka Kelvin bangun dengan wajah kesalnya. Diruangan itu atmosfernya langsung berubah dingin. Dilantai ruangannya ada satu kamar tempat beristirahat tapi malah disalah gunakan oleh Kelvin untuk bersantai.
Glek!
Kelvin menelan ludahnya berat, orang yang berdiri didepannya sambil memandangnya sinis. Mata yang cemerlang dengan sikap yang tak suka basa-basi, jangan lupa anting yang dipakainnya berbentuk bintang yang pasti langsung dikenali
''Ryan ... Hahahah, Apa kabar?'' tawa canggung Kelvin.
Sret.
'Hingg!!'
Kelvin kaget Ryan langsung duduk disebelahnya.
''Apa ia bahagia?''
'Hah?'
Kelvin tampak berpikir sejenak 'apa ia bahagia?' ia memutar otaknya untuk siapa pertanyaan itu.
Ting.
''Oh ... Tentu saja ... R.A.H.A.S.I.A."
Sring.
Degh!
''Hahah bercanda-bercanda,'' ucap Kelvin takut dengan mata elang yang tajam itu siap menerkamnya.
''Lebih baik cari tau sendirikan?''
''lagi pula ini bertemuan setelah cukup lama,'' ucap Kelvin menatap dengan sendu.
Ryan mengikuti arah pandang Kelvin, benar sudah lama hingga rasanya meluap-luap.
''Tapi ... Aku tidak akan pernah siap melihat wajah ketakutannya melihatku,'' ucap Ryan menunduk dalam.
Puk, puk,puk.
''Percayalah. Star sudah berubah, dia lebih sering tersenyum sekarang,'' ucap Kelvin dengan senyum lebarnya penuh keyakinan.
Ryan tersenyum kecil kemudian mengangguk pelan.
...
''Tolong izinkan saya masuk bertemu tuan!!!''
''Maaf tanpa tanda pengenal atau ada izin tak diizinkan masuk,'' ucap petugas keamanan menahan pelayan dari rumah Alif.
Pelayan itu sama sekali tidak bisa bertemu dengan Alif, belum masuk saja ia dicegat. Rasanya ingin menangis, bagaimana bila mereka terlambat dan tidak bisa menyelamatkan nona mereka.
Pelayan itu melihat jam yang ada ditangannya. Jam tuannya pulang tidak lama lagi, lebih baik ia pulang dan mencari dibeberapa jalan. Akhirnya ia tetap tidak menemukan Rahmi dan tidak pula bertemu dengan Alif.
Bibi dirumah terus menunggu kabar Alif pulang, atau ditemukannya Rahmi.
Ya allah lindungilah gadis kecil yang selalu tersenyum itu.
Ckelk.
Pintu terbuka, Alif datang dengan wajah lelahnya. Ia sibuk seharian mengurus rapat kesana kemari hingga tidak memiliki waktu mengecek panggilan dari rumah yang berturut-turut.
Alif diam dengan perasaan tidak enak saat melihat rumah yang sepi. Kemana semua para pelayan, padahal ia sudah menambah beberapa pelayan lagi. Apalagi Bibi yang terlihat begitu gelisah duduk dikursi ruabg tamu seolah menunggu kehadirannya.
''Tuan ... No-nona diculik!!!''
Degh!
''Bi-bibi ngomong apa?'' tanya Alif berjalan mendekati Bibi.
''Hiks, No-nona hilang ... Nona tidak ada saat saya kembali dari pasar,'' ucap Bibi pelan dengan menunduk takut.
''Kenapa baru melapor sekarang?!!''
''Saya sudah menelpon dari telpon rumah tapi tidak tersambung."
Alif membuka handphonenya dan benar terdapat panggilan tak terjawab sebanyak seribu kali.
Alif menelpon bawahannya dan memberikan perintah.
''CEPAT CARI RAHMI!!''