Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Mengungkapkan.


''Rah, udah siapa?'' tanya Alif.


Rahmi tersenyum mengangguk pada suaminya. Hari ini mereka mengumpulkan orang-orang terdekat mereka untuk memberi sebuah kejutan. Entah seperti apa respon mereka. Lagi pula tema-nya Reoni tapi tidak diterangkan reoni apa.


Alif berjalan lebih dulu sementara Rahmi berjalan dibelakang Alif dengan menunduk. Jantungnya berdebar setelah sekian lama akan bertemu keluarganya lagi.


Mereka berkumpul di ruang tamu rumah Alif yang telah direnovasi hingga dapat ditempati oleh semuanya.


''Terima kasih telah bersedia datang ... Saya ingin mengatakan sesuatu,'' ucap Alif yang membuatnya menjadi pusat perhatian. Tapi tak ada yang menyadari sosok kecil yang bersembunyi dipunggung kekar tersebut.


''Alah! Gak usah basa-basi! Gw mau makan, Alif!'' teriak seseorang mengacaukan suasana tengang yang ada.


Plak.


Tina memukul tenguk Kelvin yang sembrono. Selain manja dia juga tidak peka terhadap situasi.


'Bukan teman gw,' ucap Ryan dalam hati.


Matanya yang bagaikan elang menangkap sosok kecil yang bersembunyi dibelakang Alif. Matanya menyipit tidak suka, namun rasanya tidak asing melihat caranya berdiri.


'M-mirip... Adik!' Ryan menggeleng, ia harus segera menerima kepergiannya. Dia tidak boleh berlarut dalam kesedihan.


''Saya meminta maaf telah membohongi kalian,'' ucap Alif membuat semua orang bingung.


''Membohongi apa?'' tanya Heira.


Set.


Alif menggeser tubuhnya memperlihatkan sosok yang dari tadi bersembunyi dibelakangnya.


Degh.


''Apa maksudnya ini ALIF!'' teriak Heira maju kedepan.


''Maaf semua, aku tidak apa-apa. Aku berada diluar negeri selama ini untuk pengobatan,'' ucap Rahmi berjalan kearah Heira.


Tes.


Greb.


Heira langsung memeluk Rahmi dengan erat.


''Syukurlah, syukurlah kamu tidak apa-apa ... Jangan pernah lakukan itu lagi!''


Heira menangis dipundak Rahmi, rasanya bagaikan mimpi melihat adiknya kini berdiri didepannya.


Drab.


Suara langkah pelan itu kini menjadi pusat perhatian. Ryan berdiri beberapa meter dari mereka yang sedang meluapkan rasa rindu.


''Star ... Ini beneran Kamu?'' tanya Ryan dengan keraguan tapi matanya tak bisa berhenti mengeluarkan buih-buihnya.


Rahmi melepaskan pelukannya menatap sang kakak yang mempertanyakan kehadirannya. Diantara yang tidak bisa menerima kepergiannya yang paling parah adalah Ryan dirinya terlalu menyayangi hingga tidak bisa menerima kepergiannya. Kini ia mempertanyakan kehadirannya agar tidak menghancurkan harapannya yang melambung tinggi.


''Kak Ryan gak mau peluk Star?'' tanya Rahmi sambil memiringkan kepalanya sama dengan sosoknya ketika kecil untuk meminta dipeluk.


''Hah. Kamu benar-benar gak berubah,'' ucap Ryan memeluk Rahmi dengan erat.


''Maaf Kak. Aku tau kakak sulit menerima ini semua,'' ucap Rahmi menepuk-nepuk punggung sag kakak. Sampai sekarang rasanya ia masih berada dibalik punggung yang selalu memanjakannya sebagai sosok adik yang manja.


''Tapi ... Ini semua pasti ulah si sialan itu,'' ucap Ryan tajam hingga menusuk kejantung Alif.


Kakak iparnya itu pasti tidak akan diam saja karna apa yang ia lakukan.


''Sudahlah Ryan. Mari nostalgia lagi,'' ucap Adelya membuat semuanya mengangguk.


''Maaf, Rahmi. Aku gak akan melakukan kejahatan lagi,'' ucap Adelya mengulurkan tangannya.


Rahmi menyambut tangan itu dengan senyum senang. Akankah ia bahagia untuk seterusnya.


''Eith. Aku juga mau nostalgia!'' ucap Aminah memisahkan mereka dan memeluk Rahmi dengan erat.


''Rah, Gw udah nikah. Dan lo harus tau siapa suamiku!'' seru Aminah.


Degh.


'Ah, gak boleh negativ thinking,' ucap Rahmi dalam hati.


''Jeng! Ini Dika!'' ucap Aminah riang.


Siapa yang menduga takdirnya jatuh pada sahabat kekasihnya.


''Heheh, senang bertemu denganmu. Masih inget aku, kan? Salah satu Sahabatnya Alif.''


Rahmi mencoba mengingat-ingat. Dika adalah orang yamg merawatnya ketika ia berada dirumah sakit akibat perbuatan Alif yang mengurungnya dalam ruangan gelap saat itu.


Dika mengangguk. Suara panggilan mengalihkan perhatian mereka.


''Rahmi ... Aku minta maaf atas perbuatanku,'' ucap Zahra dengan Abby disampingnya.


''Benar aku yang melakukannya. Mengambil ginjal ayah angkatmu lalu memberikannya pada Abby. Tapi hal itu juga atas persetujuan Ayah angkatmu,'' ucap Zahra apa adanya.


Lama Rahmi tidak menjawab membuat suasana menjadi canggung.


''Lalu kenapa aku dinikahkan?'' tanya Rahmi.


''Untuk melindungimu dari sepupumu yang menjadikanmu eksperimennya,'' ucap Abby mendekati menantunya hingga menyisahkan beberap langkah.


''Begitu, yah,'' ucap Rahmi tak terkejut sama sekali. Karna sudah berlalu tak ada gunanya terlalu berlarut-larut.


''Abby harus jaga kesehatan agar melihat kami bahagia,'' ucap Rahmi dengan senyum tulusnya.


Abby juga Zahra ikut tersenyum. Meski Rahmi tak mengatakan sudah memaafkannya. Tapi senyum tulusnya sudah menjawab bahwa ia memaafkannya walau butuh waktu untuk memaafkan mereka sepenuhnya.


''Kok lo masih hidup Star?'' tanya Kelvin tanpa menyaring pertanyaannya.


Plak.


Tina memukul kepala direktur yang tidak berguna itu.


''Maaf, Rahmi. Kelvin memang gak bisa menyaring kata-katanya,'' ucap Tina mengantikan Kelvin meminta maaf.


''Gw salah apa memang?'' tanya Kelvin mengelus kepalanya yang nyeri.


''Diam!'' bentak Tina membuat Kelvin langsung tutup mulut.


''Syukurlah Nona sehat juga terlihat lebih dewasa sekarang.''


Rahmi berbalik mendengar suara yang tak asing. Dia perempuan tua yang bekerja dirumahnya yang telah berperan sebagai ibu pengganti untuknya, Rahmi akan selalu bersembunyi dibelakangnya ketika takut, Bibi Hani yang lebih sering bersamanya saat Alif tidak mencintainya.


''Bi!''


Rahmi berlari memeluk Bibi Hani, rasanya telah sangat lama tidak melihat wajah yang penuh kasih sayang itu.


Rahmi mengobrol dengan mereka melupakan suaminya yang berdiri dipojokan dengan satu orang laki-laki yang hanya memandang sambil menghela napas.


''Kenapa gak kesana?'' tanya Alif. Dia sengaja mengundangnya karna ia telah menyelamatkan nyawa istrinya.


''Aku gak mau melakukan hal merepotkan,'' ucapnya malas.


Rasanya salah mendengar jawaban tersebut.


''Cukup lihat dari jauh ia masih hidup sudah cukup,'' ucapnya tersenyum kecil.


''ALAS KAKI KEMARI!!'' panggil Heira membuatnya mendumel.


''Alaska ketua!!'' ucapnya menghampiri Heira.


''Apaan?!'' ketusnya.


''Gak usah sok-sok'an deh bocah! Nih Rah, dia juara tiga bela diri! Hebatkan! Lebih hebatnya lagi motivasinya untuk melindungi orang berharga sepertimu, Hahahah,'' tawa Heira membuat Alaska malu.


''Benarkah?!'' tanya Rahmi senang.


Dengan malu-malu Alaska menjawab,'' Iya. Saat aku melihat beritanya aku memutuskan untuk menjadi kuat dan melindungi orang yang ku sayangi.''


''Eit! Rahmi sudah ada yang punya loh,'' ucap Heira menggoda Alaska.


''Aku tau!!'' ucapnya cepat. Ia hanya menganggapnya teman berharga tidak lebih.


''Hahah... iya, iya, seterah deh,'' ucap Heira.


Alif datang ditengah mereka membuat suasana canggung.


''Kenapa?'' tanya Rahmi.


''Kalian gak mau makan dari tadi mengobrol terus?'' tanya Alif dengan senyum profesional.


''Yah, ini gw duduk,'' ucap Heira mengambil kursi untuk didudukinya secepat kilat.


''Mari pindah tempat buat duduk,'' usul Alaska.


Mereka duduk dimeja bundar dengan makanan ditengah-tengah meja.


Setelah mereka duduk tak ada yang berbicara diantara mereka membuat suasana menjadi runyam. Orang-orang telah makan tinggal mereka yang dari tadi sibuk mengobrol.


''Nanti lanjut cerita! Saatnya makan!'' ucap Alaska memecah keheningan yang ada.


Mereka pun makan dalam kesunyian yang ada.