
Meraka telah kembali kerumah mereka. Rahmi terlihay agak sedih harus berpisah dengan Abby.
Alif hanya melihat Rahmi yang tak bersemangat.
''Makan!''
Rahmi tersadar dari lamunannya, ia memandang makanan yang didepannya dengan lemah. Ia tidak nafsu makan sama sekali.
Rahmi hanya makan sedikit kemudian kembali kekamarnya.
...
Pagi-pagi Rahmi sudah dibangunkan. Ternyata pagi ini ia akan dibawa kekantor lagi oleh Alif. Entah itu kelvin atau ryan atau bahkan orang lain lagi.
''Nona belum makan ... bagaimana ini,'' gumam Bibi khawatir.
Rahmi menatap Bibi bingung.
''Kenapa, Bi?'' tanya Rahmi.
''Tuan perginya pagi sekali, tapikan tadi Nona lambat bangun ... Sudah tidak ada waktu makan ataupun memasak,'' ucap Bibi sedih.
''Bibi jangan khawatir. Rahmi bisa beli makanan dijalan,'' ucap Rahmi menenangkan Bibi.
''Nona tidak apa?''
Rahmi mengangguk menyakinkan Bibi. Melihat Bibi yang tersenyum, Rahmi segera pergi sebelum Alif memanggilnya.
Benar saja Alif sudah menunggunya dari tadi. Rahmi langsung masuk kemobil dan mereka berangkat.
...
Mereka sampai di HNM Groub. Alif turun dari mobil, ia menunggu Rahmi turun. Tapi Rahmi tidak turun-turun.
Alif menghela napas, ia membuka pintu mobil. Ternyata Rahmi tertidur lelap didalam mobil sehingga ia tidak turun.
''Rahmi ...," panggil Alif.
Rahmi membuka matanya perlahan.
''Rahmi lupa!!'' ucapnya spontan melihat Alif.
Rahmi menatap dengan takut-takut.
''Turun!''
Rahmi segera turun dari mobil. Ia buru-buru mengikuti Alif.
Rahmi dan Alif pergi keruangan paling atas yaitu ruang direktur.
Alif duduk dikursinya sementara Rahmi duduk disofa. Tak lama kemudian datanglah sekertaris Alif, Ia melirik Rahmi sejenak.
Mereka mengobrol cukup lama. Merasa bosan, Rahmi memainkan handphonenya.
''Kamu tunggu saya kembali,'' ucap Alif kemudian pergi dengan sekertarisnya.
Rahmi mengangguk pelan. Tiba-tiba perutnya bunyi, ia lapar. Rahmi menatap sekeliling tapi tidak menemukan ada yang bisa ia makan.
Rahmi memutuskan mencari diluar. Ia keluar ruangan Alif. Ia berjalan mencari tempat makan.
Rahmi turun kelantai paling bawah dan mengelilinginya.
''Apa yang kau cari?''
Rahmi menenggok, ia melihat gadis muda dengan pakaian karyawan menghampirinya.
'Mungkin Rahmi bisa minta tolong,' pikirnya.
Dengan ragu-ragu Rahmi akhirnya bertanya.
''Saya lapar ... Dimana ada penjual?''
''Saya tau tempatnya ... kamu ikut saya saja,'' ucapnya menuntun Rahmi berjalan dengannya.
Sampailah mereka ditempat kantin perusahaan.
Rahmi duduk disalah satu bangku dengan perempuan tersebut.
''Kamu ingin pesan apa biar saya pesan-kan''.
''Tidak!! tidak usah ...,'' ucap Rahmi menolak.
''Lebih baik saya saja, saya tau segala macam yang ada,'' ucapnya menyakinkan Rahmi.
Akhirnya Rahmi mengangguk. Ia tersenyum melihat Rahmi telah setuju.
''kamu mau pesan apa?''
Rahmi tampak berpikir, ia melihat kantin itu. Dia benar-benar tidak tau apapun.
''Saya tidak tau ... Kamu boleh pilihkan untuk saya,'' ucap Rahmi tersenyum lebar.
''Baiklah tunggu sini,'' ucapnya kemudian pergi untuk memesan makanan.
Rahmi menatap dengan senyum lebar. Ia tidak menduga akan bertemu orang baik dan mau menolongnya. Rahmi tidak menaruh curiga sama sekali dengan perempuan itu.
Tak lama kemudian ia datang dengan dua buah mangkuk juga sebuah jus.
''Aku belikan bakso. ..,'' ucapnya kemudian manaruhnya dihadapan Rahmi.
''Berapa?''tanya Rahmi, ia sudah siap untuk mengeluarkan uangnya.
''Tidak usah... Anggap saja untuk perkenalan kita''
''Namaku Rahmi...''
''Zara...''
Rahmi menatap apa yang ada didepannya. Sebuah bakso yang terlihat enak untuk dimakan, tanpa menunggu lama ia pun menyantap bakso itu.
Zara memperhatikan Rahmi, ia juga segera menyantap baksonya.
Zara menghabiskan makanannya lebih dulu. Ia melihat jamnya kemudian segera berdiri.
''Maaf saya sudah harus pergi,'' ucap Zara kemudian ia buru-buru pergi.
Rahmi mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Rahmi segera menghabiskan makanannya. Ia harus segera kembali sebelum Alif datang dan melihatnya tidak ada.
glek.
Rahmi meminum jus itu hingga tak bersisa. Ia segera berdiri, namun kepalanya tiba-tiba sakit.
Tes.
Darah mengalir dari hidungnya.
Tubuhnya tiba-tiba terasa panas, perutnya terasa sakit.
''HUK!!''
Rahmi memegang mulutnya yang terasa sakit dan memuntah sesuatu.
Degh!
'Darah.'
Tak lama kemudian ia merasakan sakit disekujur tubuhnya.
Brak!
....
Cklek.
Alif mengedarkan pandangannya, ia tak melihat sosok Rahmi sama sekali. Alif menulusuri ruangan itu, namun hasilnya nihil Rahmk tak ada disana.
Alif mengambil handphonenya dan menelpon sekretarisnya.
''Ren, cari rahmi!''
Tut.
Alif menghela napas, ia duduk dikursinya. Kemudian Alif mengecek cctv ruangannya dan cctv yang ada diperusahaannya.
Degh!
Alif buru-buru berlari. Ia melihat cctv kantin dimana Rahmi terjatuh pingsan disana.
...
''Siapa ini kasian sekali ...,'' ucap karyawan yang melihat kondisi Rahmi.
Mereka hanya mengerumuninya tanpa ada satupun yang ingin menolongnya. Mereka takut menjadi tersangka, apalagi kondisi Rahmi yang terlihat mengganaskan.
Alif menerobos kurumunan itu dan segera menghampiri Rahmi.
Badannya membiru dengan mulut yang juga menghitam. Alif langsung menggendong Rahmi membawanya kerumah sakit.
''MINGGIR!!'' teriak Alif membuat para karyawan yang mengerumuninya segera menyingkir.
'Tolong bertahanlah ....'
Disaat yang bersamaan Ryan dan Kelvin sudah sampai diperusahaan Alif.
Alangkah terkejutnya mereka, saat mereka melihat Alif menggendong Rahmi berlari kemobilnya.
Ryan mematung dengan keterkejutannya. Mereka berpas-pasan dipintu lobby perusahaan.
''Ryan!!! Star!!!'' ucap Kelvin menepuk-nepuk bahu Ryan panik.
Sret.
Tanpa berpikir Ryan berlari kemobilnya mengejar Alif yang membawa Rahmi kerumah sakit.
''WOI!!! TUNGGU!!'' teriak Kelvin.
Brummm!
''Huk!!''
''Tungguinnn!!!'' teriak Kelvin.
Ia ditinggal sebelum sempat membuka pintu mobil Ryan dan ikut naik. Mobil Ryan melaju begitu kencang.
''Tuan ... Itu mobil kita,'' ucap Tina menunjuk mobil Kelvin.
''Oh iya ... lupa,'' ucapnya nyengir.
''Lebih baik tuan naik sekarang agar tidak tertinggal,'' ucap Tina menyarankan.
Kelvin langsung naik mobilnya diikuti oleh Tina.
Saat akan menjalankan mobil, tangan Kelvin terhenti.
''Aku yang jalanin?''
''Enggak ... setan,'' ucap Tina kesal.
''Owh ...,'' ucap Kelvin loading.
''TUAN CEPET JALAN!!!'' ucap Tiba gregetan.
''Oke!oke!!'' ucap Kelvin kemudian ia segera menjalankan mobilnya.
Brum!!
Tanpa diduga Kelvin langsung membalab mobilnya hingga menyamai kecepatan mobil Ryan.
Syut.
Ketiga mobil itu sampai dirumah sakit disaat yang bersamaan.
Alif keluar dari mobil dengan menggendong Rahmi.
''Dokter!!''
Melihat pasien yang datang, para suster segera berdatangan dan membawa Rahmi UGD.
Alif menunggu dengan begitu khawatir, bagaimana bisa Rahmi keracunan.
Alif mengambil handphonenya ia menghubungi sekertarisnya.
''Cari tau siapa pelakunya ...."
Tut.
Alif menghela napas panjang. Ia begitu khawatir.
Tiba-tiba pintu UGD terbuka. Alif menghampiri dokter dengan cepat.
''Bagaimana keadaan istri saya Dok?''
Dokter itu terlihat sedih. ia menghela napas panjang sebelum memulai berbicara.
''Maaf... tapi ini diluar kemampuan kami, racunnya sudah menyebar dan sulit ditangani''.
Degh!
Alif terduduk lemas, bagaimana mungkin gadis yang masih tersenyum itu kini telah dinyatakan tak bisa diselamatkan.
''Saya mungkin bisa membantu,'' ucap Ryan datang menghampiri Alif.
Alif berdiri dihadapan Ryan.
''Saya punya dokter yang bisa menyelamatkan-nya,'' ucap Ryan yakin.
Alif menelan salivanya berat. Apa tidak apa ia percaya dengannya. Tapi jika Ryan yang bilang, itu tak mungkin hal yang mustahil.
Alif mengangguk. Ryan tersenyum melihat keputusan Alif.
''Kalau begitu kita harus segera memindahkannya."
''Baiklah, saya akan mengurusnya secepatnya,'' ucap Alif.
...
Kini mereka berpindah rumah sakit. Rumah sakit milik Ryan.
Ryan berdiri menunggu Dokter keluar dari UGD. ia menyerahkan segalanya pada dokter yang ia percayai.
''Kenapa kau membantuku?'' tanya Alif.
Mendangar pertanyaan Alif, Ryan tersenyum kecut.
''Aku hanya tak mau kehilangan,'' ucapnya sendu.
''Meski kau menganggapku aneh ... Tapi inilah kenyataannya, aku tak mau kehilangan seseorang didepan mataku.''
'Terlebih adikku.'