
Kukryukk!!!
Rahmi terbangun disaat ayam berkokok Matahari bahkan masih belum tampak, dinginnya sudah menusuk kedalam tulang-tulang. Malam dengan sedikit pencahayaan.
Syut.
Semilir angin dingin masuk kekamar Rahmi. Ia duduk memandang pemandangan yang ada diluar jendela. Persawahan yang luas tercium bau rumput yang pekat.
''rahmi?''
Rahmi tersenyum, ia membuka pintu.
''Heira ... Ada apa?'' tanya Rahmi.
''Mau jalan? Suasananya enak banget,'' ucapnya antusias.
Rahmi mengangguk, mereka keluar berjalan menyisiri jalan kecil yang becek.
Heira, saudara tak sedarah dari bundanya. Disaat Heira merantau, ia datang bersama kedua orang tuanya. Meski akhirnya Rahmi tau bahwa ia bukan anak kandung mereka.
Heira pulang setelah berkabung kematian orang tuanya. Ia tak lagi merantau, tapi menetap dirumah keluarga mereka yang lama.
Heira tau bahwa Rahmi adalah anak yang diangkat keluarganya. Hidupnya terasa hancur saat tau kecelakaan itu merengut orang tuanya.
Belum sempat ia berbagi kebahagian, belum sempat membalas budi tapi mata itu telah terpejam.
Dunia seakan main-main dengannya. Disaat ia berduka, Rahmi tak hadir entah apa alasannya. Dan tanpa ia duga adiknya itu malah menikah dengan orang asing dengan alasan tak memiliki keluarga lagi.
Heira berduka tapi ia tak bisa menangis. Ingin menyalahkan, tapi siapa yang harus ia salahkan. Rahmi sudah menderita lebih dari ia kira, ia tak bisa menyalahkannya terlebih Rahmi adiknya.
Takdir ... Takdir yang bermain dengannya. Ia benci takdir, sejak dulu ia membenci takdir.
Terlahir dengan tubuh lemah membuatnya dikucilkan. Terlahir sebagai perempuan membuatnya sulit meraih mimpi.
''Ra ... Kamu mau makan apa?'' tanya Heira pada Rahmi yang duduk didahan pohon yang jatuh.
''Saya akan makan apapun yang dimasak oleh Kakak!!'' ucap rahmi tersenyum begitu lebar hingga menampilkan giginya.
''Baiklah!!''
Heira menarik Rahmi untuk berdiri, ia berlari kearah hutan yang semakin dalam.
''Kak! Kita mau kemana?'' tanya Rahmi penasaran.
Ia tidak takut kegelapannya hutan, karma kehangatan tangan Heira yang lembut.
''Ketempat rahasiaku!!'' ucap Heira berbalik dengan senyum cengigirannya.
Rahmi tersenyum senang melihat wajah Heira yang begitu berseri-seri.
Disaat Rahmi tak dapat berdamai, ia memilih untuk pergi menjauh dari perkara yang ia benci. Ia merasa kehidupan sederhana lebih menyenangkan untuknya. Perasaan sederhana tanpa mamandang sosial, materi, pandangan orang-orang.
Saat pertama kali ia sampai disana. Ia hanya berharap sebuah ruangan sepi untuk menenangkan diri. Tapi ketika ia membuka pintu rumah, ia melihat cahaya. Itu adalah pertemuan pertamanya dengan Heira.
Meski canggung tapi Heira akan selalu menerima Rahmi. Ia sadar tak ada alasan untuk memusuhi sebuah keluarga. Setidaknya ia punya sebuah alasan yang tidak bisa ia ubah. Ia tidak sendiri, Rahmi adalah keluarganya.
''Kita sampai!!''
Rahmi menatap pemandangan didepannya. Sebuah pohon begitu besar dengan sebuah ayunan disalah satu dahannya. Sungai kecil yang mengalir mengitari pohon itu. Beberapa buah jatuh dari dahannya.
''Ayukk!!'' ajak Heira.
Rahmi dan Heira meginjak sungai itu yang membuatnya terciprat air dari sungai.
''Nah, ayok duduk sini!'' ucap heira memegang tali ayunan.
Rahmi duduk diayunan itu dan didorong oleh Heira.
''Wahhhh!!''
Rahmi dan Heira bermain disana. Heira memanjat pohon kemudian mengambil apel yang merah. Ia memberikannya pada Rahmi.
''Buah!!''
Heira bergelantungan diatas pohon. Kakinya diatas sementara kepalanya dibawah. I Memeluk apel itu kuat-kuat.
Rahmi terkejut hingga terjatuh dari ayunan.
''Ahkkk!!''
Dhuk!
Rahmi mengusap pantatnya yang terasa nyeri. Ia bangun dengan kesal memandang Heira.
''Bercanda!!!'' ucap Heira melompat turun.
Heira memberikan apel pada Rahmi dan disambut dengan hangat olehnya.
''Hap! Kak kenapa tau ini tempat??'' tanya Rahmi memakan apel itu.
Heira bersandar dipohon dan menepuk-nepuk tempat disebelahnya. Rahmi mengikuti intruksi Heira, ia ikut duduk disamping Heira dengan bersandar pada pohon.
Heira menaikkan tangannya, ia menunjuk langit yang biru dengan kedua tangannya. Ia tersenyum sebelum bercerita panjanh.
''Langit yang biru ... Sama dengan saat itu, Birunya membuat mataku silau karna matahari ....''
Rahmi mendengarkan dengan baik. Memang matahari sudah terbit dan silaunya menghalangi pemandangan. Dingin yang terasa menusuk kulit kini terasa hangat.
''Dulu saat ibu dan ayah pergi kekota ... ini tempatku bermain bersama kakek juga nenek-ku.'' Heira tertawa ringan.
Ia melihat Rahmi kemudia tersenyum sambil mengenggam tangannya.
''cantiknya wajahmu ... semilir angin bertiup suara candamu begitu indah ...,'' tanpa sadar Heira menyanyikan lagu yang sering dinyanyikan neneknya untuk mengantarnya tidur.
Heira menengok, ia tersenyum begitu lebar hingga menampilkan giginya.
''Benar! Aku sangat bahagia di saat itu.'' Setelah mengatakan itu, Heira menunduk dengan tatapan sedih.
''Tapi Takdir berkata lain. Kakek sakit dan pergi selamanya kemudian perlahan nenek ikut sakit juga bergabung dengan kakek. Ibu, ayah pulang dan aku mulai ingin melihat dunia luar."
''Disaat kau pergi aku datang ... ,'' ucap Rahmi pelan.
Heira terkekeh, Rahmi memang cukup pintar.
''Benar!''
Keduanya memandanh langit yang biru muda. Terhanyut dalam pikiran masing-masing.
''EOIII!!!''
Keduanya menengok keasal suara. Terlihat pria dengan pakaian yang kotor membawa camgkul berjalan kearah mereka.
''Oiii Dan!! Kenapa!?!!'' teriak Heira.
Heira berjalan menghampiri Daniel dan mereka mengobrol.
Heira berbalik, ia melambaikan tangan pada Rahmi.
''RAHMI!! PULANG!!!''
Rahmi bergegas berdiri dan menyusul mereka.
''Tunggu!!''
Meski sederhana tapi aku bahagia bersama mereka.
...
Sringg!
Heira menatap tajam sekumpulan orang yang berkumpul didepan rumahnya.
''Diluar nalar ... Kau meninggalkan segalanya hanya untuk ini?'' ucapnya sinis.
Heira menggertakkan giginya. Ia kesal melihat mereka yang seolah mengatakan bahwa yang ia pilih memalukan.
''Rahmi mundur ... Bersembunyi dibelakang pohon. Daniel kau lindungi Adikku'' ucap Heira menepuk bahu mereka.
Rahmi mengangguk, begitu juga Daniel.
Dibalik pohon Rahmi berdoa Heira tidak kenapa-napa.
''Heira kuat!'' ucap Daniel menenangkan Rahmi.
Meski begitu Rahmi tetap khawatir.
BUGHH!!
AKHHH!!
TOLONG!!!
Mendengar teriakan mengerikan, Rahmi menatap Daniel dengan khawatir.
''Tidak apa!! Tenang saja!!'' ucapnya menyakinkan Rahmi.
Dengan takut-takut Rahmi mengintip kebelakang.
''Masih mau?!!'' tanya Heira garang.
Ia menghabisi semua orang yang ada. Ia dengan tampang kesalnya menginjak orang yang mengatainya tadi.
''Hm?'' Heira menyadari Rahmi yang melihatnya. Ia tersenyum dan melambaikan tangan.
Rahmi menghampiri Heira, ia melihat orang-orang terpapar dengan bekas pukulan atau tendangan.
Heira melepaskan injakannya kemudian menghampiri Rahmi.
''Kau gak apa-apa?'' tanyanya pada Rahmi.
Rahmi menggembungkan pipinya kesal, bukankah seharusnya ia yang bertanya.
Menyadari tatapam kesal Rahmi. Heira terkekeh dan merangkulnya.
''Jangan menatapku begitu, akukan jadi merasa bersalah."
Laki-laki yang tadi diinjak Heira bangkit. Ia menatap Heira dengan lemas.
''Baiklah untuk sementara aku tak akan menganggumu,'' ucapnya membantu teman-temannya.
''Hah?!! Kau belum kapok?'' tanya Heira merentangkan tangannya untuk memukul orang tersebut.
Set.
Sebelum kena bongem ia sudah lebih dulu berlari dengan anggotannya.
''WOI!! KEMARI KAU PENGECUT!!''teriak Heira kesal.
Rahmi terkekeh melihat Heira, meski tampak kesal ia kelihatan senang.
''Apa yang kau tertawakan?'' tanya Heira bingung.
''tidak ada hehe."