
Beberapa hari setelah kejadian itu Rahmi dan Alif menjadi menjauh. Mereka jarang bertemu dan bahkan tidak pernah bicara satu sama lain.
''Nona ada tamu!!''
Rahmi yang tengah membaca buku dikamarnya bertanya-tanya siapa yang datang.
Ia seger Bergegas turun melihat siapa yang datang, mungkinkah abby.
Saat sampai diruang tamu langkah cepatnya berubah menjadi langkah pelan.
Seorang perempuan dewasa yang terlihat elengan tengah meminum teh dengan anggun.
Sungguh jauh berbeda dengannya. Ia tidak dewasa juga anggun tapi kekanak-kanakan.
Rahmi duduk dengan tersenyum paksa. Ia harus tetap mengontrol ekspresinya, meski ia tidak begitu senang dengan tamu yang datang.
''Ada apa Aminah?''
Aminah menatap Rahmi kemudian menunduk dengan perlahan.
'Apa ia ingin mengambil Alif ....'
Rahmi menggempalkan tangannya, jelas ia akan tersakiti juga sedih. Meski tak mencintai, ia tidak ingin menderita dalam sebuah neraka. Perang batin setiap hari melihat suami dengan kekasihnya, ia enggan memilikinya.
''Saya datang hanya untuk melihat seorang gadis yang terlihat murung saat itu,'' ucap Aminah pelan.
''Tapi ia sudah bahagia,'' Aminah berucap dengan senyum tulus.
''Saya hanya datang ... Untuk melihat-lihat, tidak lebih,'' ucap Aminah memadamkan kemarahan dalam mata Rahmi.
''Kau datang hanya untuk melihatku?'' tanya Rahmi.
Aminah tersenyum dan berucap pelan, ''Mari berteman ...,'' ucapnya mengulurkan tangan pada Rahmi.
Rahmi menatap tangan itu. Haruskah ia menerimanya, haruskah ia berteman dengan kekasih suaminya.
''Ternyata sulit yah?'' gumam Aminah pelan.
Rahmi menggeleng, ia menjabat tangan Aminah dan mengangguk.
''Mari berteman."
Apakah ia harus bertaruh dengan kebahagiannya untuk mempercayai
perempuan yang ada didepannya.
Rahmi rasa ia bisa berteman dengannya. Selama mereka mengobrol aminah tidak pernah membahas sekalipun tentang Alif. Ia banyak bercerita tentang mimpinya.
Tanpa terasa waktu berlalu cepat. Aminah melihat jam ditangannya yang menandakan sore akan tiba.
''Sudah waktunya saya pulang,'' ucap Aminah beranjak dari duduknya.
Saat membuka pintu, Aminah tidak bergerak sama sekali. Ia mematung dengan perasaan yang suram. Rahmi menatap dari kejauhan.
'Apa mereka akan ....'
Rahmi takut dengan pemandangan yang ada didepannya. Alif pulang lebih awal, dan saat Aminah membuka pintu Alif ada didepannya.
''Lama tidak bertemu ...,'' guman Alif pelan.
''Ha.. Iya lama tidak bertemu,'' ucap Aminah pelan. Ia terlihat enggan bertemu Alif.
Alif bergeser agar Aminah bisa lewat.
''Assalamuaalaikum,'' ucap Aminah melangkah pergi.
''Waalaikumsalam,''jawab Alif
Rahmi menjawab pelan, ia melihat Alif yang memandang kepergian Aminah.
'Mereka masih saling mencintai,' ucap Rahmi didalam hatinya. Ia menunduk dengan sedih.
Mungkin ia akan menyesal seumur hidupnya berteman dengan kekasih suaminya.
''Apa yang ia katakan?'' tanya Alif duduk didepan Rahmi.
Rahmi menatap dalam diam, ia tak mau bercerita apapun.
Rahmi memilih berlari memasuki kamarnya. Ia tidak mau bertemu Alif, hatinya terluka bila harus tertampar kenyataan dari suaminya langsung.
Brak.
Rahmi menutup pintu kamarnya, ia menguncinya dengan rapat.
Rahmi terduduk dibalik pintu, ia menangis. Padahal ia pikir ia akan senang memiliki teman setelah sekian lama. Tapi apa gunanya bila teman itu menyakitinya. Meski ia tidak memiliki niat yang buruk dan tulus ingin berteman. Salahkanlah takdir yang mempermainkannya sedemikian rupa.
Mungkin jika ia tidak terjebak dalam situasi ini, ia bisa berteman dengan baik. Tapi status sebagai istri dan teman dari mantan kekasih suami. Ia tidak mau, ia tidak rela, hatinya melawan pikirannya.
Selama mengobrol, meski terasa asik, ia tetap tidak bahagia. Hatinya tetap sakit berbicara dengannya.
Biarlah ia dibilang egois, naif tidak berpandangan luas. Hatinya yang telah berkata begitu, ia tidak mau membohongi dirinya. Pura-pura baik, bersikap seolah baik-baik saja. Ia bukankah gadis yang begitu tegar. Ia lemah dan tak berdaya, mudah tersakiti juga tersinggung.
''Hiks ... Maaf tapi sulit menerimamu sebagai teman ... Bagaimana aku bisa berteman dengan perempuan yang dimata suamiku terlihat sebuah harapan ...,'' guman Rahmi pelan.
Dalam kamarnya, dalam waktu yang lama, terdengar suara isak tangis yang menyakitkan.
Rahmi menatap wajahnya dalam pantulan cermin, Ia terlihat kacau. Rahmi membuka kerundungnya, dimana rambutnya menjutai panjang hingga kepunggungnya.
''Lihatlah ... Kau bukan perempuan yang sempurna,'' ucap Rahmi dengan tersenyun.
Rahmi merebahkan tubuhnya kekasur, ia memeluk guling kemudian menyembunyikan wajahnya.
...
Malam telah tiba. Rahmi merasa lapar juga haus, tubuhnya terasa lemas juga panas karna menangis.
Rahmi keluar dari kamarnya menuju dapur. Para pelayan telah pergi kekamar mereka, lampu rumah telah dimatikan, bersisakan lampu untuk menerangi jalan saja.
Rahmi membuka kulkas dan memanaskan makanan tadi malam. Setelah selesai ia menyusunnya dimeja dapur kemudian bersiap untuk makan.
Set.
PRAK!
Tanpa sengaja Rasmi menyenggol gelas dan manjutuhkannya kelantai.
Rasmi langsung panik seketika. Ia mengambil beling kaca dan menaruhnya ditangannya.
Nyut.
Kepalanya terasa berdenyut juga berat.
Tes.
Darah mengalir dari tangan Rahmi.
''Apa yang kau lakukan?''
Degh!
Rahmi tersentak ia tak menyadari keberadaan Alif dari tadi, ia bahkan tidak sadar Alif berjalan dari kamarnya menuju dapur.
Plak!!
Alif berjalan dengan cepat dan menangkap tangan Rahmi. Pecahan kaca yang dipegangnya jatuh kelantai.
''Ma-ma-''
Drab!
Alif menarik tangan Rahmi, ia membawanya keruang tamu. Alif menyalakan lampu yang ada disebelah. Meski tidak terlalu terang. namun cukup untuk melihat luka Rahmi.
Alif berdiri meninggalkan Rahmi diruang tamu.
Rahmi termenung cukup lama. Air matanya kembali turun tanpa seizinnya
''Jangan menangis.. kuingin jangan menangis,'' hujan Rahmi menghapus air matanya.
Seberapa keras ia menahannya dan menghapusnya air matanya tetap turun dengan deras.
''Hiks ... Rahmi gak mau dikatai cengeng.''
Drab!
Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Rahmi buru-buru menghapus air matanya.
Ia menarik napas dan membuangnya. Rahmi melirik Alif yang menatapnya.
Alif menarik tangan Rahmi dan menganggukkan.
Rahmi berusaha sebisa mungkin agar tidak mengeluh kesakitan, ia mengigit bibir bawahnya agar tidak bersuara.
Melihat Rahmi yang bersikap seperti itu. Alif menekan luka Rahmi dengan kapas obat.
''Ish'' Rahmi tetap tidak bisa menahan rasa sakitnya.
''Jangan sok kuat,'' ucap Alif tanpa mengalihkan pandangannya.
Tes.
Alif melihat tangannya ditetesi sebuah benda cair mendongkrak, ia melihat Rahmi yang menahan tangisnya.
''S-saya t-tidak p-pernah ... S-sok kuat ..., '' ucap Rahmi dengan senguk-senggukkan.
Alif diam Memandang Rahmi yang menunduk dengan mata yang tak berhenti berair. Alif segera membalut luka Rahmi.
Puk.
Alif duduk disebelah Rahmi. Rahmi terkejut dengan apa yang dilakukan Alif, ia melirik Alif diam-diam.
''Menangislah bila itu terasa lebih baik,'' gumam Alif kemudian ia memejamkan matanya.
Set.
''Hik ... Hik.''
Mendengar perkataan Alif, air matanya turun semakin deras.
Dalam keheningan malam, terdengar isak tangis dirumah itu. Sepanjang malam mereka berada diruang tamu. Alif tertidur berdasarkan dibahu Rahmi dan Rahmi tertidur bersandar pada Alif.