
Alif terbangun dengan perasaan dingin. Padahal ia tidur dengan suasana hangat karna memeluk Rahmi. Alif meraba sekitarnya dan tidak merasakan apapun. Ia membuka matanya lebar-lebar.
Deg.
''Rah?''
Tidak ada sautan. Alif mengelilingi kamar namun tak menemukan apapun. Alif bergegas turun mencari istrinya. Seorang pelayan lewat didepan Alif, ia langsung menanyakan tentang Rahmi.
''Liat istri saya gak? Badannya agak kecil.''
''Maaf tuan. Tapi saya tidak pernah lihat nyonya yang tuan maksud.''
Degh!
Alif mencari keseisi mansionnamun tak menemukan apapun.
'Gak... Gak mungkin cuma mimpi.'
''Tuan cari siapa?'' tanya kepala pelayan dimansion tersebut.
''Istri saya!''
''Nyonya tadi pergi kepasar dengan pelayan yang agak tua. Dia terlihat senang saat kami mengatakan akan kepasar.''
Alif bernapas lega. Ia duduk diruang tamu menunggu Rahmi pulang sambil menonton acara TV.
Direktur perusahaan MS melakukan amal bakti untuk mengenang sang adik. Diperkirakan biaya yang dikeluarkannya mencapai 3 triliun bahkan hal itu masih perkiraan. Direktur Ryan juga tak segan-sengan terjun langsung ketempat dan bermain bersama anak-anak panti. Tidak seperti yang terlihat ternyata direktur Ryan cukup ramah.
Alif mendengar berita yang dipaparkan. Sepertinya memang sulit bagi Ryan mengikhlaskan kepergian adiknya.
''Aku pulang!''
Alif menengok melihat Rahmi tersenyum begitu lebar dengan membawa snack ditangannya.
Rahmi melihat apa yang ditonton Alif.
''Kakak!'' seru Rahmi.
Ia langsung berlari kearah Alif. Alif merentangkannya tangannya untuk memeluk istrinya yang sudah pulang.
Set.
Rahmi melewati Alif begitu saja. Ternyata ia memperhatikan TV yang ada dibelakang Alif.
'Eh?'
Alif menahan rasa malunya dilihat oleh pelayannya dengan tingkahnya.
Alif berbalik melihat Rahmi yang menatap wajah Ryan yang bermain dengan anak-anak dengan intens.
''Kakak pasti sedih banget.''
''Mau saya telpon?''
Rahmi menggeleng. Ia tersenyum kepada Alif sambil meletakkan snack diatas meja.
''Lebih baik kita bertemu langsung saja.''
Alif mengangguk pelan. Rahmi duduk disamping Alif sambil memakan snack.
''Nih.'' Rahmi menyodorkam keriping snack didepan mulut Alif.
Alif memakannya dengan memandang istrinya yang tidak lepas menatap layar yang memperlihatkan wajah Ryan.
Berita TerHot. Kelvin terlibat skandal dengan sekertarisnya memiliki hubungan spesial dan dikabarkan memacari sekertarisnya juga Arnada juara bela diri yang tidak terkalahkan.
''Hah?!!''
Rahmi melirik Alif yang menepuk jidatnya.
''Itu tidak benar. Cuma gosip, Rah.''
Rahmi langsung menganti chennel TV-nya.
''Kamu selingkuh, Mas! Gara-gara aku sakit dirumah sakit begitu lama! kamu jadi selingkuh!! Teganya kamu, Mas!''
Plak.
''Iya!! Dan perempuan disebelah aku ini lebih baik dari kamu! Kami akan segara punya penerus! Gak kaya kamu mandul! Tanda tangani surat cerainya dan pergi dari kehidupanku!''
Tes.
''Rah, Rah!! kamu kenapa?!!'' tanya Alif melihat Rahmi menangis.
''Filmnya sedih. Istrinya sakit tapi suaminya malah selingkuh.''
Alif langsung menganti siaran TV-nya dan menanangkan Rahmi.
''Rah, cuma film.''
''Tapi bagaimana kalau nyata.''
''Gak, Rah! Ini tuh cuma film."
''Kalau Alif bakal ninggalin Rahmi-''
''Astagfirullah, Rah! Enggak Rah! Aku gak gitu! Aku tulus sama kamu. Aku cintanya sama kamu!''
Blush.
Wajah Rahmi seketika memerah. Mana mereka lagi diruang tamu yang sering dilalui para pelayan.
Alif sedikit tersipu setelah sadar ia ada dimana. Alif terlalu terkejut dengan ucapan Rahmi hingga tanpa pikir panjang mengatakannya.
''K-kita siap-siap untuk jalan-jalan!''
Rahmi mengangguk dan mereka bergegas kabur dari sana.
Brak.
''Fyuhh... ,'' Alif bernapas lega. Ia melirik Rahmi yang cemberut dengan wajah memerah.
''Rah, mau pakai baju couple?'' ucap Alif mengalihkan topik.
''Mau!'' girang Rahmi.
Alif buru-buru mencari kelemarinya.
''Nah!! Suka tidak?''
Rahmi melihat baju couple mereka dengan warna senada.
Alif melihat baju untuk perempuannya memanga agak besar.
''Istriku tetal cantik memakai apapun.''
Plak.
Rahmi melemparkan bantal yang ada didekatannya kepada Alif.
Alif tersenyum paksa kemudian memberikannya kepada Rahmi.
''Kamu balik badan!''
Alif berbalik badan sementara Rahmi berganti pakaian.
''Sudah.''
Alif berbalik melihat Rahmi yang terlihat imut dengan pakaian yang ia kenakan agak besar dibanding tubuhnya.
Rahmi memakai celana dengan jas sampai lututnya dengan mantel merah serta topi yang terbuat dari rajutan, kerudungnya mengembang sedikit menutup dada.
''Saya juga mau ganti baju.''
''Yaudah.''
Alif menatap Rahmi begitu pun sebaliknya.
''Balik badan, Rah.''
''Ah! Maaf!!!''
Rahmi berbalik badan menunggu Alif selesai, tapi didepannya malah ada cermin. Rahmi menutup matanya, ia melihat langsung dada telanjang yang megah itu.
Blush.
Pipinya panas sekali.
''Rah, bagus gak?''
Rahmi berbalik dengan wajah memerah.
Alif menatap noda merah dipipi Rahmi sampai ketelinganya. Matanya menangkap sebuah cermin besar dibalik tubuh Rahmi.
''Kamu liat apa?''
''G-gak liat apa-apa!'' ucap Rahmi cepat dengan menuduk. Alif sangat cocok memakai jas dan pas sekali dengan ukurannya sedangkan punyanya kebesaran.
Set.
Alif membalikkan tubuh Rahmi kearah cermin. Ia memegang pundak Rahmi sambil tersenyum
''Kamu ngintip aku ganti baju?''
''Aku gak sengaja!!'' ucap Rahmi menutup wajahnya dengan tangannya. Malu banget rasanya, dia seperti perempuan yang mesum.
''Gak apa kok! lihat aja sepuasnya.''
Ucapan Alif berhasil membuat Rahmi kehilangan harga dirinya. Bukan cuma wajahnya yang memerah bahkan tubuhnya ikut memanas terlihat jelas tangannya berubah menjadi merah.
Syut.
Rahmi langsung berjongkok menyembunyikan wajahnya.
Alif ikut berjongkok disebelah Rahmi dengan senyum yang begitu lebar.
''Kenapa, Rah?''
''Aku malu... Jangan lihat aku,'' ucap Rahmi tanpa menatap wajah Alif, ia menyembunyikan wajahnya dilengannya.
Beberapa menit berlalu. Rahmi akhirnya memberanikan diri mengangkat wajahnya.
Saat matanya menatap wajah Alif, Alif langsung memberikannya senyum menawan.
Blush!
''Rah?''
Rahmi kembali menutup wajahnya tapi langsung ditahan oleh Alif.
''Aku mau liat.''
Rahmi mengalihkan pandangannya dan berusaha menepis tangan Alif yang memegang wajahnya.
''Jangan pernah malu dengan dirimu, Rah. Kita akan bersama selamanya, melewati hal sulit maupun senang. Kita akan saling menemukan kekurangan juga kelebihan yang tak seberapa,'' ucap Alif mengenggam tangan Rahmi.
''Tapi aku malu,'' ucap Rahmi menatap mata Alif.
Alif mendekatkan wajahnya kemudian menyatukan keningnya dengan Rahmi.
''Rah ... Apapun, bagaimanapun, seperti apapun, kamu adalah istriku satu-satunya. Aku tidak masalah.''
Rahmi mengangguk pelan. Alif menjauhkan dirinya kemudian berdiri dengan mengenggam tangan Rahmi.
''Mau kemana dulu?'' tanya Alif.
''Kemana saja,'' jawab Rahmi dengan senyum bahagianya.
Mereka pergi dengan wajah berseri-seri. Pertama-tama mereka singgah membeli gulali yang dijual dijalanan kemudian berhenti untuk membeli es krim.
Alif tertawa terbahak-bahak dimobil melihat wajah Rahmi yang belepotan memakan es krim.
''Ihh!'' sebel Rahmi, ia mengambil tissu kemudian mengelapnya.
Dengan kesal ia menjejelkan mulut Alif yang menertawai-nya dengan tisu.
'Huk!'
Alif mengambil tissu tersebut kemudian membuangnya.
Mobil mereka terhenti disebuah area ramai yang mirip festival.
''Mau lihat?''
Rahmi mengangguk mengiyakan ajakan Alif.
Alif turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Rahmi. Alif mengulurkan tangan yang disambut dengan senyuma hangat dari Rahmi.
Mereka saling berpegangan tangan melihat berbagai penjual dengan aneka ragam barang dagangan yang tak pernah mereka lihat.