Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Sadar.


Ryan datang menjenguk Rahmi. Ia selalu datang ketika Alif tidak ada.


''Anda datang lagi ...,'' ucap Bibi pelan.


Ryan tersenyum menanggapi ucapan Bibi. Ia memberikan sebuah makanan juga bunga putih.


Bibi menerimanya kemudian menaruhnya dimeja samping brankar.


Ryan berdiri disamping Rahmi. Dokter mengatakan bahwa perkembangannya lumayan baik, ia mungkin akan sadar dalam waktu dekat.


Setelah merasa cukup, Ryan pulang tanpa mengatakan apapun pada Rahmi.


...


Alif datang lebih cepat dari biasanya. Ia membawa makanan juga bunga untuk Rahmi.


Pandangannya tertuju pada makanan yang ada di meja juga sebuah bunga.


''Siapa yang datang, Bi?''


''Tuan ryan yang tadi datang, ia bawa makanan juga bunga,'' ucap Bibi menjelaskan.


Alif menghela napas, ia menaruh makanan disampingnya juga bunganya. Bunga mereka terlihat berbeda, bila ryan bawa bunga putih, Alif bawa bunga merah.


''Mawar putih, mawar merah ... Nona pasti senang banyak yang menjenguknya ini hari,'' ucap Bibi tersenyum.


Alif hanya mendengarkan, ia menatap Rahmi dengan pedih. Kapan ia akan bangun.


''Nona pasti akan senang melihat tuan peduli dengannya,'' ucap Bibi menghibur.


Alif mengalihkan pandangannya kearah Bibi, ia tersenyum menanggapi ucapannya.


Alif duduk sambil mengenggam tangan Rahmi.


'Cepatlah sadar.'


Bibi berpamitan untuk pulang karna Alif sudah datang. Alif menganggukkan kepalanya, setelah kepergian bibi tinggal-lah ia dengan Rahmi diruangan itu.


Greb.


Alif memegang tangan Rahmi dengan kedua tangannya. Tangannya masih begitu dingin hingga rasanya ia akan lupa betapa hangatnya tangan ini saat itu.


Tanpa terasa waktu berlalu dan tanpa sadar Alif tertidur dengan menganggam tangan Rahmi.


Syut.


Mata itu berkedip beberapa kali, ia melihat sekitar ruangan. Bau obat yang menyengat, langit putih juga selang infus ditangannya.


Rahmi telah tersadar tanpa siapapun menyadarinya.


Rahmi menatap kesamping. Ia menatap Alif yang menganggan tangannya begitu erat.


Ia tertidur begitu lelap, Alif terlihat begitu lelah. Terlihat jela guratan hitam dibawah matanya.


Rahmi kembali memejamkan matanya.


....


Syut.


Alif bangun, ia menggerjapkan matanya. Alif melihat Rahmi yang tertidur pulas, ia menyadari satu hal. Rahmi sudah tidak begitu pucat.


Alif melihat jam ditangannya. Ia sudah harus pulang untuk bersiap kekantor.


Greb!


Saat akan melangkah pergi, tangannya tertahan. Alif berbalik, ia tidak menduga akan melihat mata itu terbuka dan menatapnya dengan sendu.


Alif tidak mengatakan apapun, ia kembali duduk sambil mengenggam tangan Rahmi.


Melihat Alif disampingnya, Rahmi kembali memejamkan matanya. Rahmi kembali tertidur dengan menganggam tangan Alif.


...


Entah sudah berapa jam, tapi Alif tidak bergerak sama sekali. Ia terus menatap wajah Rahmi sambil berharap kapan mata itu terbuka kembali.


Cklek.


Pintu ruangan itu terbuka, terlihat Bibi datang dengan sebuah makanan ditangannya.


''Tuan tidak kekantor?''


Alif diam saja ia tak mau mengalihkan pandangannya pada Rahmi.


Melihat tingkah Alif, Bibi menghela napa.


Jelas-jelas saling menyayangi, tapi kenapa malah seperti orang asing didalam rumah.


Meski Bibi tidak tau apa yang terjadi sebelum ia datang. Tapi sikap mereka berdua sudah cukup menggambarkan awal dari bahtera pernikahan mereka.


Bibi duduk disofa, ia juga menanti Rahmi akan bangun.


...


Rahmi memimpikan sebuah mimpi yang panjang. Ia bingung yang mana kenyataan.


Disalah satu mimpi ia memimpikan sebuah rumah besar dengan berbagai pelayan melayaninya. Keluarga yang jarang bertemu namun sangat menyayanginya.


Dimimpi lain ia memimpikan sebuah keluarga sederhana dengan apa adanya, ia bahagia dengan mereka. Suka duka ia rasakan, rasanya lebih hidup dibanding mimpi sebelumnya yang terasa hampa, membosankan. Meski harus bekerja keras merasakan kesusahan, ia merasa lebih lega.


Rahmi membuka matanya perlahan.


Alif langsung berdiri dihadapan Rahmi, begitu juga Bibi. Mereka tampak bahagia melihat Rahmi membuka matanya.


''Saya panggilkan dokter!'' ucap Bibi keluar memanggil dokter.


Alif tak mengatakan apapun tapi matanya tak bisa berbohong bahwa ia begitu bahagia melihat Rahmi telah sadar.


Drab!


Dokter datang dengan seorang suster, ia memeriksa Rahmi. Dokter itu tersenyum, kondisi Rahmi telah membaik.


''Pasien sudah sadar dan perkembangannya cukup baik. Bila sudah sembuh sepenuhnya pasien sudah dibolehkan pulang.''


Semuanya tersenyum senang mendengar kabar baik tersebut.


Ryan dan juga kelvin yang mendengar berita itu sangat senang. Mereka dengan cepat datang melihat kondisi Rahmi.


Drab!


Suara langkah yang begitu cepat berasal dari Ryan. Ia tak sabar menanti bertemuannya dengan adiknya.


''Rahmi ...,'' gumamnya pelan saat melihat mata yang bersinar cemerlang itu serta pipi yang kemerah-merahan menatapnya.


Degh!


''Rahmi!!! Rahmi!!! bangun!!!''


Sebuah bayangan dimana Ryan berlumaran darah dengan wajah yang begitu kesakitan menghampiri Rahmi.


Jantungnya berpacu cepat, rasanya sesak. Kepalanya terasa nyeri, sesuatu seolah hilang dari dirinya.


Mimpi yang ia mimpikan berputar dikepalanya begitu cepat hingga rasanya mual.


''Hugh.''


Rahmi menutup mulutnya, rasanya perutnya terkoyak.


Ryan langsung menghampir Rahmi, begitu juga Alif.


''Rahmi ....''


Bayangan ibunya yang berubah-ubah terasa mengerikan.


JDAR!!


CKITTT!!


''Rahmi.'' Ryan berusaha memegang Rahmi.


Degh!


Melihat tangan Ryan yang menyentuhnya. Ia kembali teringat dimana Ryan dengan darah memeluknya begitu erat


Plak!


Rahmi langsung menepis tangannya. Napasnya tersenggal-senggal, wajahnya ketakutan bagai melihat hantu.


''Rahmi ...,'' Alif mengenggam tangan Rahmi erat.


Melihat Alif didekatnya. Tidak berhenti disitu, ia teringat perilaku kasar yang Alif berikan padanya.


Tangan yang tergores terasa sakit. Rahmj menatap tangannya, darah seolah mengalir disana.


'dingin.'


Tenggelam dengan cahaya yang semakin jauh.


Rahmi memeluk tubuhnya yang terasa kedinginan.


Kegelapan yang tak berujung.


Sesak dan menyakitkan, ruangan kecil tanpa cahaya juga makanan.


Disaat Alif dan Ryan ingin menenangkannya Rahmi berteriak enggan disentuh.


''ARGHHHH!!! PERGI!!!! PERGI!!!''


Deg!


Bukan cuma Ryan yang terkejut, Alif juga Bibi.


Ryan langsung menyampingkan egonya. Ia berlari keluar memanggil dokter.


Alif diam memandang dengan keterkejutan melihat Rahmi yang mengacak-acak rambutnya dan menyuruhnya pergi.


Pak!


Alif langsung menangkap kedua tangan Rahmi sebelum gadis itu semakin melukai dirinya.


''LEPAS!! MONSTER! LEPASKAN!!''


Rahmi memberontak, ia menangis tersedu-sedu diperlakukan seperti itu oleh Alif.


''PERGI!!''


Apa yang Rahmi rasakan begitu sesak, pedih, rasanya begitu menyakitkan.


''ARHH!!!''


Sebuah suntikan langsung diberikan dokter untuk Rahmi. Perlahan tenaganya melemah kemudian Rahmi terjatuh.


Alif menangkapnya kemudian membaringkannya dengan hati-hati.


Tes.


Air mata Alif terjatuh, kini ia berada diposisi Ryan 5 tahun yang lalu. Sesak dan menyedihkan tapi ia tak bisa mengubah apapun. Termasuk fakta yang merantainya untuk semakin dekat dengan Rahmi.


Dokter keluar setelah merasa semuanya aman. Disaat yang bersamaan Ryan berjalan menghampiri Alif.


BUGH!


Sebuah pukulan mendarat diwajah Alif.


''Ternyata benar ... KAU MENYIKSANYA!!!'' teriak Ryan menggema.


Ia pikir adiknya bahagia, tapi melihat reaksi Rahmi saat Alif menyentuhnya. Ia tau tatapan itu, tatapan orang yang menyakitinya.


Emosi Alif tersulut amarah. Ia juga melayangkan pukulan pada Ryan.


''JANGAN SOK PEDULI PADA ISTRI ORANG!!''


Melihat pertengkaran mereka, Bibi berusaha untuk memisahkan mereka.


''Tuan Alif, Tuan Ryan ...''


''BAGAIMANA AKU TIDAK PEDULI!!! BILA YANG KAU SIKSA ADALAH ADIKKU!!!''


Degh!


''Apa?!!''


''DIA ADIKKU!!!!''


''NAMANYA RAHMI AFIFAH STAR MAHESA!!!''


''Meski nama belakangnya tak pernah tercantum... Namun namanya terukir dalam hati keluargaku''


''Star nama panggilannya... Ami nama kesayangannya...'' gumam Ryan pelan.


''Dimana kau saat ia mengalami semuanya!l?'' tanya Alif sinis.


Mendengar pertanyaan Alif, Ryan menggertakkan giginya.


''JANGAN IKUT CAMPUR!!'' ucap Ryan melayangkan pukulannya


BUGH!


''SEHARUSNYA AKU YANG MENGATAKANNYA!!!'' Alif juga melayangkan pukulannya.


Merasa semakin parah, Bibi bergegas memanggil bantuan.


BAM!!


Pintu dibuka dengan keras. Dokter juga penjaga keamanan datang.


Mereka memisahkan Alif juga Ryan. Keduanya babak belur, ruangan itu juga kacau balau.


''Kalian sadar ini dimana? Jangan berperilaku seperti anak kecil!! Bila pasien sadar dan melihat kalian ... penyakitnya mungkin akan merenggut nyawanya!!''


Alif juga Ryan langsung memalingkan wajahnya mendengar penuturan dokter.


Mereka diusir keluar dari rumah sakit. Alif menatap Ryan sinis, begitu juga Ryan.


Ryan naik kemobilnya pergi menjauh, begitu juga Alif.


Ryan berhenti ditempat sepi. Ia keluar dari mobil.


''ARGHHH!!? KENAPA!! KENAPA!!!''


Melihat adiknya yang tersiksa membuat hatinya terasa tercabik-cabik. Penyiksaan macam apa yang telah Alif lakukan pada adiknya.


''Monster ...,'' gumam Ryan pelan.


Ia ingat jelas Rahmi meneriaki Alif dengan panggilan monster.


Ia tidak akan diam saja. Ia tidak punya siapapun lagi, ia akan melindungi adiknya.


...


Syut.


Mobil Alif berhenti ditengah jalan. Ia teringat kejadian beberapa saat yang lalu.


''Karma ... mungkin Abby benar ... Ini karma,'' gumam Alif dengan air mata yang menetes.


Ia tak dapat lagi membendung kesedihannya. Harus apakah ia agar bisa memperbaiki segalanya. Dari awal kesalahan membenci karna hal yang bukan keinginan gadis kecil yang tak tau apa-apa. Perasaan ego untuk menyiksa, hati yang tak rela.


Semuanya terlambat, tak ada yang bisa ia ubah lagi.


''Tidak! Rahmi masih hidup ... Selama napas masih terjaga untuknya. Aku masih bisa memperbaikinya,'' ucap Alif menghapus air matanya.