
Satu tahun telah berlalu... Alif memandangi rumah yang tidak berubah. Banyak hal yang telah terjadi, Alif terkadang duduk ditempat Rahmi sering duduk memandangi tanaman yang ia tanam. Bunga yabg mereka tanam saat itu telah tumbuh, bijian buah yang rahmi tanam juga telah berbuah.
''Rah... Kau lihat langit yang biru... Mirip senyumnmu,'' ucap Alif pelan.
Sesekali Abby akan menelponnya menanyakan kabarnya. Terkadang terbesit dikapala orang-orang untuk menyuruhnya menikah kembali.
Alif selalu menolak dengan tegas, istrinya hanya satu dan hanya Rahmi seorang.
''Tuan, Nona Aminah datang.''
Alif sudah lelah dengan ini. Aminah pasti datang untuk menasehatinya lagi. Bahkan setelah keergian Rahmi ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi terhadap perempuan lain begitupun dengan mantan kekasihnya.
Alif beranjak kemudian pergi keruang tamu. Aminah duduk dengan rapi memandangi Alif yang tidak berubah satu tahun yang lalu. Sesekali Alif akan memakai pakaian berkabung mengingat istrinya.
''Kamu masih belum melupakannya.''
''Aku tidak akan pernah melupakannya. Berhenti membujukku, aku tidak bisa menerima orang lain lagi.''
Suatu hari Aminah datang untuk memberinya lembaran baru. Tapi Alif menolaknya, dia tidak mau menyakiti hati Rahmi.
''Tidak... Kali ini aku datang untuk memberi tahumu, Ini.'' Aminah menyerahkan amplop. Bukan sembarang amplop tapi undangan pernikahan.
''Kita benar-benar tidak ditakdirkan. Saat itu aku hanya kasihan melihatmu yang merindukannya, kini aku sudah memilih jalanku sendiri. Jangan terlalu berlarut dalam kesedihan,'' ucap Aminah pelan.
''Selamat... '' singkat Alif.
Aminah tersenyum kemudian beranjak dari duduknya. Dirinya tidak pernah menyangka akan memiliki takdir yang seperti itu dengan kekasih yang ia pikir akan bersamanya sampai akhirat.
''Takdir... ,'' Alif bergumam pelan. Ia memikirkan sesuatu.
Sudah berapa lama ia seperti itu, ia sudah lupa bahwa sudah lewat dari 1 tahun ia kehilangan.
Drtt.
Alif melihat handphonenya yang berbunyi. Wajahnya terkejut dengan senyum mengambang diwajahnya. Nomor yang telah ia nanti dari satu tahun lalu kini berdering.
''Assalamualaikum.''
''Waalaikumusalam,'' jawab Alif.
''Iya, datanglah kemari.''
...
Angin berhembus menerpa wajah perempuan yang duduk dibangku taman rumah sakit.
Pemandangan yang asing dengan orang-orang asing. Dia tahu ini bukan negara asalnya, apa ia dinegera terpanas, negara terkaya, negara terindah, negara termaju. Gadis itu tak memikirkan apapun. Dia selalu duduk memandangi langit. Kata orang-orang ia dibawa dalam keadaan parah, koma hampir satu tahun penuh dan sekarang sedang pemulihan.
''Humaira... Kok duduk disini?'' tanya Fatimah, seorang dokter yang selalu menemaninya. Kabarnya ia adalah kerabatnya, tapi gadis itu tau itu tidak benar. Ia tidak lupa ingatan maupun pikun. Ia hanya tidak tau cara untuk pulang dengan kondisi tubuh lemah dan mudah drop.
''Iya saya masuk sekarang.''
Gadis itu berjalan dengan dituntun. Setiap ia melangkah dirinya akan menjadi pusat perhatian, kamar rawat yang megah hanya dimilikinya seorang.
Gadis itu yakin dia berada dirumah sakit yang paling canggih diseluruh dunia.
Nona mau minum apa? Bib.
Robot itu berputar didepan mereka.
''Orang sakit tidak minum yang manis!'' ucap Fatimah pada robot itu.
Bib! Minuman hangat cocok untuk suhu yang dingin.
Ting.
air hangat keluar dari dalam tubuhnya.
''Nih, minum.'' Fatimah menyerahkan air itu dan diterima olehnya.
''Humaira, kamu masih sering sakit kepala?''
Gadis itu menggeleng pelan. Namanya jelas bukan Humaira, tapi dirumah sakit ia tercatat dengan nama Humairah. Ia hanya mengikuti apa yang ada. Siapa yang mengaturnya hingga ia berada disini masih menjadi tanda tanya untuknya. Tapi ia bukan orang jahat, ia dirawat dengan baik hingga sudah semakin sehat.
Fatimah segera pergi agar tidak menganggu tidur pasiennya.
Aku sering memimpikan hal-hal setiap tidur. Seperti sebuah film dimana pemerannya kadang bahagia juga sedih. Mimpi yang panjang seperti tanpa akhir dan setiap terbangun aku akan mendengar seseorang mengatakan cinta padaku.
Mata itu terbuka, dia cuma tidur selama dua jam. Dua jam itu pula bunga baru telah datang disampingnya.
Ia memandang keluar jendela dimana terlihat kemegahan kota yang indah dengan langit membentang luas tanpa terlihat ujungnya.
Humaira membuka laci, ia mengambil sebuah buku dan pulpen. Ia menuliskan beberapa kata yang tidak bisa ia ucapkan.
Ini aku... dalam kebingungan. Mimpiku adalah ingatanku, terkadang menyakitkan juga membahagiakan. Langit tak selalu indah juga tak selalu mendung. Aku ingin pulang tapi sakit yang tidak kuketahui membuatku tertahan bertemu dengannya. Kabarnya beredar dimana-mana tapi hanya orang yang mengirimku kemari yang mengetahuinya. Aku ingin pulang bertemu dengan mereka. Salah tak apa, memaafkan itu juga tidak buruk. Apa ia sudah membuka lembaran baru? Tapi aku ingin percaya meski telah dibuatnya hancur. Aku naif, ternyata perpisahan yang panjang membuatku sadar bahwa hidup sendirian itu menyakitkan. Diriku rindu masa-masa itu. Aku ingin pulang bertemu dengannya. Apa ia akan memaafkanku? Ternyata aku terlalu jahat untuk memahaminya.
Humaira meletakkan pulpennya serta bukunya. Ia bangun dan berjalan dengan hati-hati menuju jendela besar dikamar rawat tersebut.
'Langitnya indah. Kapan aku bisa keluar dari sini.'
Tring.
Pintu ruangannya terbuka. Dokter juga suster datang dengan membawa beberapa alat.
''Nona Humaira suka langit yah ... ,'' gumamnya pelan.
Ia mengangguk pelan kemudian duduk dibrankarnya.
Dokter tersebut memeriksa kondisinya dengan teliti. Dokter perempuan yang dikenal jenius perkembangan medis masa depan. Ia selalu datang setelah ia bangun, seperti telah diatur dengan baik.
''Tubuh anda sudah lebih baik. Apa pusingnya berkurang? Sesaknya masih terasa? Mimpi buruknya masih sering?'' Ia bertanya bertubi-tubi membuat Humaira tersenyum canggung.
''Saya sudah hampir tak pernah pusing, kadang-kadang sesak, mimpi buruknya hanya saat saya lelah.''
Dokter Aisyah mengangguk. Ia tersenyum kemudian memberikan sebuah hadiah padanya.
''Menerima sesuatu itu juga dapat mempercepat kesembuhan secara psikis.''
Humaira menerima hadiahnya kemudian melihat apa isinya.
'Coklat?'
''Shutt''
Ia menautkan jarinya dibibir, ia menggunakan bahasa bibir mengatakan ' Rahasia'
Humaira terkekeh kecil kemudian menyembunyikannya.
''Sampai bertemu nanti,'' pamit Dokter Aisyah.
Humairah melihat kepergiannyan. Ia mengambil coklat tersebut kemudian memakannya. Padahal ia masih masa pemulihan dan tidak boleh makan sembarangan. Tapi memang ia bosan makanan rumah sakit yang hambar.
'Manis.'
Hal ini sering dilakuakan Dokter Aisyah mengingat makanan rumah sakit yang dapat membuat pasien jenuh hingga tidak memiliki perkembangan. Dengan memberinya makanan manis, mereka akan teringat makanan enak yang bisa mereka makan jika sembuh hingga meningkatkan keinginan mereka untuk cepat sehat.
Humaira menunggu beberapa saat hingga waktu berjalan-jalan keluar ruangan.
''Humaira... Aku datang!'' ucap Fatimah membawa kursi roda.
''Aku bisa jalan,'' kata Humaira merasa heran dengan Fatimah yang memberinya kursi roda.
''Tidak apa! Mari istrihat sejenak. Jalankan juga lelah, apalagi dengan kondisi yang tidak sehat.''
Humaira menghela napas. Menurutnya itu tidak masuk akal. Semakin sering ia berjalan akan membuatnya cepat normal.
Puk!
Fatimah menepuk kursinya. Akhirnya Humaira duduk disana dan dorong oleh Fatimah untuk pergi ketaman.
Syuuuutttt.
Angin berhembus kencang menerpa wajah mereka.
''Rah... Kamu sehat?''