
Rahmi duduk termenung, ia masih memikirkan perkataan sekertaris Alif beberapa hari yang lalu. Jika Alif benci padanya, ia tak akan mau menyelamatkannya, ia akan mengusirnya jauh-jauh hingga tak akan pernah bisa bertemu.
Tiba-tiba Bibi berlari kearahnya dengan tergesa-gesa.
''Nona ....''
Bibi tampak ngos-ngosan. Rahmi menatap dengan penuh tanda tanya.
''Tidak ada waktu lagi!!'' gumam Bibi segera menarik Rahmi masuk kerumah.
Entah apa yang terjadi Rahmi pun bingung, para pelayan lagi-lagi sibuk mendandaninya.
''Ayok buruan!! Tinggal beberapa menit lagi!!'' ucap Bibi sibuk memilih baju untuknya.
Jreng!
Rahmi menatap dirinya dipantulan cermin. Gamis yang biru cerah dengan kerudung biru malam, sepatu biru yang yang berkelap-kelip.
Bom!
Semua tampak berbeda. Ia jauh-jauh lebih cantik, make up yang tidak terlalu tebal tampak alami dengannya.
''Sudah cepat antar Nona!!!'' ucap Bibi mendorong Rahmi segera pergi.
Tak.
Melihat pintu rumah yang tertutup membuat Rahmi jadi bingung.
''Mari saya antar nona,'' ucap perempuan didepannya. Stelan yang rapi dengan senyum profesionalnya, pasti dia orang penting pikir Rahmi.
''Saya sekertaris ketiga dari Direktur,'' ucapnya membungkuk memperkenalkan diri.
Sret.
Rahmi mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Ia cukup terkejut melihat Rahmi, mungkin ia tidak sesuai dengan ekspektasi pikiran yang dipikirkannya tentang istri direktur mereka.
''Saya Rahmi ...,'' ucapnya pelan.
Ia menerima uluran Rahmi dan ikut memperkenalkan diri, ''Panggil saya Niana, Nona."
''Nian!'' ucap Rahmi tersenyum dan diangguki olehnya.
Rahmi naik kemobil, duduk dengan rapi. Rahmi menatap jalanan diluar, ternyata ia mengarah kekantor. Padahal baru beberapa hari yang lalu ia diusir oleh Alif, sekarang ia datang bagai seorang tamu yang diundang.
Syut!
Rahmi turun dari mobil, ia mengikuti langkah Niana menuju sebuah ruangan yang tak pernah Rahmi lihat.
Cklek.
''Nona tunggu sini sampai tuan datang,'' ucap Niana mempersilahkan Rahmi masuk.
Setelah Rahmi masuk, Niana menutup pintu tanpa dirinya didalam ruangan itu. Rahmi mengedarkan pandangannya melihat seisi ruangan yang mewah dan indah.
Matanya tiba-tiba menangkap satu sosok yang tengah membaca sebuah dokumen dengan begitu serius.
Rambut yang rapi, stelan yang mewah dan sebuah anting yang menangkap mata Rahmi. Anting berbentuk bintang.
''A-anu ....''
Ia mendongkak melihat siapa yang bersuara. Ia tersenyum begitu lebar melihat siapa yang datang. Ia tak akan lupa mata yang bulat yanf gemerlap itu, alis yang tebal, bulu mata yang lentik, bibir yang merah muda dan pipi yang kemerah-merahan.
''Star ...,'' gumamnya pelan. Ia berdiri dan melangkah mendekati Rahmi.
Saat ingin memeluknya Rahmi langsung menghindar.
''Ti-tidak boleh!!!'' ucap Rahmi lantang tanpa disadarinya.
Rahmi menutup mulutnya menyadari apa yang dilakukannya.
''Maaf!! Maaf!!'' ucap Rahmi menunduk takut.
Ia menghela napas dan mensajajarkan posisinya.
''Benar juga ... Sekarang kau sudah menikah,'' ucapnya tersenyum hangat, namun malah terasa begitu menusuk untuk Rahmi.
''Ayo duduk,'' ajaknya pada Rahmi.
Rahmi menatap orang yang didepannya, ia menatap Rahmi begitu intens.
''Makanlah ...,'' ucapnya pada Rahmi.
Didepan meraka tersaji berbagai cemilan yang tampak enak dimakan.
Rahmi menelan ludahnya, ia dengan ragu mengambil salah satu biskuit dan memakannya.
Jreng!
''Wah enak sekali!!!'' ucap Rahmi tanpa ia sadari.
''Pftt ....''
Rahmi tersadar akan kelakuannya, ia menunduk malu. Padahal ia tidak boleh bersikap kekanak-kanakan.
''Tidak apa ... Makanlah sepuasmu, aku bisa belikan tokoh-nya juga kalau kau mau,'' ucapnya senang.
''Ah ... Ti-tidak usah!!'' ucap Rahmi cepat, ia tidak mau membuat masalah.
''Baiklah ... Aku akan mengikuti keinginanmu,'' ucapnya tanpa berhenti tersenyum.
''S-saya ... Kenapa ada disini? Kau ingin bertemu denganku?'' tanya Rahmi ragu.
Ekspresinya langsung berubah sendu dan sedih. Suasana ruangan yang hangat kini berubah dingin.
''Benar ... Aku ingin melihatmu,'' ucapnya pelan dengan menunduk dalam.
''Ami sudah tumbuh besar. Tapi Ami tidak berubah,'' ucapnya dengan wajah tersakiti melihat adiknya tidak bertumbuh dengan baik, padahal usiany telah menginjak 20 tahun.
'bagaimana ia tau namaku? kupikir aku belum memberitahunya, lagi itu nama panggilanku' pikir Rahmi.
Ia mendekati Rahmi dan dengan wajah yang memaksakan senyumnya ia mengatakan, ''Kakak tidak akan pernah berhenti mencari dokter untukmu ... Kakak tidak akan pernah berhenti untuk melindungimu,'' ucapnya dengan teguh.
Rahmi hanya diam tak tahu ingin menjawab apa. Tapi hatinya menghangat mendengar penuturannya.
Lama mereka saling menatap, ia kembali pada posisinya lagi dengan senyum yang tak luntuk diwajahnya. Padahal banyak orang mengatakan ia pelit senyuman.
Rahmi melihat gelas kopi yang diminumnya habis, ia berinisiatif menawarkan diri untuk membuatkanya.
''Mau saya buatkan kopi?''
Ia cukup kaget dengan ucapan Rahmi, ia mengangguk pelan.
Rahmi segera berdiri mengambil gelas-nya. Ia pergi untuk mengisi kopi yang baru digelas itu.
Cklek.
Bersamaan dengan kepergian Rahmi Alif datang dengan semua sekertarisnya.
''Senang bertemu dengan Anda Tuan Ryan," ucap Alif sinis.
Setelah Kelvin yang datang dengan pengajuan syarat kerjasama harus menyertakan kehadiran istrinya, sekarang orang yang dihadapannya datang dengan tidak disangka-sangka dengan sebuah pengajuan kerjasama yang sangat menguntungkan. Tapi dengan syarat bahwa Rahmi akan mendapat bagian dari proyek mereka dan harus menyertakan kehadirannya.
Kenapa mereka semua tertarik dengan istrinya, terlebih dengan orang yang ada didepannya. Setiap ia berbicara tentang istrinya ia berubah menjadi lembut, laki-laki yang terkenal bagai elang dari utara karna kedinginannya terhadap orang-orang.
Meski ingin menolak tapi hal itu bisa memecah persaingan bisnis. Apalagi orang yang didepannya adalah penguasa raja bisnis, ia memonopoli segala bisnis yang ada. Semua bisnis berada dibawah naungannya.
Ryan hanya diam menatap dengan sinis.
Mereka saling menatap dalam permusuhan.
Drap!
Drap!
Mereka mengalihkan pandangan mereka kearah orang yang melangkah dengan cepat.
Rahmi berjalan setengah berlari dengan riang membawa kopi untuk Ryan. Ryan tersenyum begitu lebar melihat Rahmi yang datang kepadanya.
Syut.
Gdubrak!!
Brak!!
Semua orang terkejut melihat Rahmi terjatuh. Ia tidak sengaja menginjak gamis bagian depannya. Kopi yang dibawanya membasahi dokumen milik Ryan.
Ryan langsung menghampiri Rahmi, ia takut terjadi sesuatu pada adiknya itu.
''RAHMI KELUAR!!!''
Degh!
Rahmi ketakutan gemetaran, ia berjalan terpincang-pincang meninggalkan ruangan itu.
'Kacau, semua kacau,' pikir Alif.
''Maaf telah membuat anda melihat hal yang konyol. Tolong maafkan istri saya,'' ucap Alif tersenyum sambil menunduk.
Ryan memperhatikan Alif seksama.
''Kita bahas masalah ini lain kali. Sekertaris saya akan datang beberapa menit lagi,'' ucap Ryan segera pergi.
Ia pergi mengejar Rahmi.
''Ami!! RAHMI!!''
Rahmi berbalik, kondisinya tampak kacau berantakan.
Ryan berhenti didepan Rahmi, ia menuduk dan tersenyum kepadanya.
''Jangan menangis ... Jangan menangis untuk hal kecil, Ini untukmu,'' ucapnya memberikan sebelah antingnya pada Rahmi.
Rahmi menerimanya dan menatap Ryan dengan sedih.
''Maaf, Rahmi tidak sengaja,'' ucapnya pelan.
''Tidak usah dipikirkan. Air matamu lebih berharga dibanding dokumen yang hanya sebuah kertas,'' ucap Ryan pelan.
Syut!
Ryan kaget begitu juga Rahmi. Alif menarik Rahmi kebelakang-nya.
Mereka saling memandang dengan permusuhan.
''Rahmi mau pulang!!'' ucap Rahmi cepat.
Alif segera berbalik menarik Rahmi. Alif menyeret Rahmi kemobil membawanya pulang kerumah.