
Rahmi memandang langit yang biru terang dari kamarnya. Setiap melihat langit ia selalu merasa tidak asing dan merindukan sebuah kehangatan yang ia tidak ketahui.
Rahmi tak pernah melakukan hal berarti disana. Heira juga sibuk disana sini karna sebentar lagi ada turnamen antara organisasi bela diri.
''Rahmi...'' Heira masuk dengan semangat.
Heira melihat Rahmi yang melamun dengan memandang langit. Ia berhenti sejenak sambil menatap adiknya.
'Mungkin saja Rahmi tidak melupakan segalanya'
''Rahmi mau jalan keluar tidak?'' tanya Heira duduk didekat Rahmi.
Rahmi menengok, ia diam sebelum mengangguk pelan.
Heira menarik tangan Rahmi. Sepanjang mereka melewati tempat latihan para murid disana selalu membungkuk hormat.
Mereka pergi kesebuah mall untuk berbelanja. Heira membelikan Rahmi berbagai pakaian yang terlihat cocok untuknya.
''Kak... ini berlebihan,'' gumam Rahmi pelan melihat harganya.
''Jangan mengatakan itu, uangkan ada untuk dibelanjakan'' ucap Haira mengambil pakaian lagi untuk Rahmi.
''Tuhkan adekku memang cantik memakai apapun'' ucap Heira tersenyum lebar melihat pantulan diri Rahmi dikaca besar.
''Tolong dibungkus''
''Mari kita ketempat selanjutnya!'' seru Heira. Mimpinya untuk berbelanja dengan keluarganya akhirnya terwujud, uang ia keluarkan tidaklah penting baginya.
''Kak!!'' keluh Rahmi. Selama ini ia selalu menerima segalanya dari Heira tapi ia tak pernah bisa memberikan apapun.
''Hiduplah bahagia dengan umur yang panjang'' ucap Heira mengusap kepala Rahmi.
Greb.
Ia mengenggam tangan Rahmj dan menariknya untuk berjalan dengannya.
Syut.
Perasaan yang familiar ini membuat mereka berhenti.
Sepasang mata menatapnya dengan keterkejutan. Pandang tajam yang menusuk, juga pandangan yang bingung.
Untuk pertama kalinya Alif menyukai takdirnya. Takdir yang mempertemukan mereka disebuah mall yang ramai.
Alif tak akan pernah bisa melupakan sepasang mata yang cemerlang itu, yang menatapnya dengan senyuman, terkadang takut juga polos.
Alif menatap Heira, ia teringat akan mata sinis tersebut saat ia bertabrakan dengan seseorang beberapa hari yang lalu.
Haruskah ia berterima kasih pada sekertarisnya yang menyuruhnya melakukan pemeriksaan di beberapa perusahaannya.
''Kak?''
Heira berbalik menatap Rahmi yang bingung dengan situasi mereka.
dari jarak yang tak jauh Alif dan Heira saling memandang tapi tak mengatakan apapun.
''Rah... Ini aku Alif'' ucap Alif tersenyum dengan mengulurkan tangannya.
NNNNYYYYUUUUTTTTTT!!!
''AKH!!!''
Rahmi memegang kepalanya yang berdenyut kencang.
Ingatan tentang Alif menyeruak secara paksa kedalam ingatannya.
''J-jahat...'' gumam Rahmi pelan dengan wajah pucat ia gemetaran memegang baju Heira.
''Kamu pulang saja dulu!'' ucap Heira.
Alif menggertakkan giginya. Seberapa keras ia mencari istrinya dan ketika ia telah bertemu dengannya ia malah diperintahkan untuk pergi.
''Rahmi!!''
Alif menarik tangan Rahmi.
Degh!
Plak!!
Heira langsung menepisnya. Apakah Alif tidak sadar bahwa adiknya itu enggan melihatnya dan sedang ketakutan.
''Kamu jangan buat masalah.. Arnada tidak pernah bermain-main'' ucap Heira menggunakan namanya dalam dunia bela diri.
Alif memincingkan matanya mendengar nama Arnada. Pantas ia selalu familiar dengan mata tajam bagai singa itu.
Heira langsung menarik tangan Rahmi untuk pergi dari sana.
Tubuh Rahmi terguncang, dadanya terasa sesak dengan perasaan yang menganjal.
Ingatannya tidak masuk sepenuhnya. Ingatannya kacau dan bertindih-tindihan. Rahmi bahkan tidak dapat membedakan mana kenyataan, ilusi, bayakan, atau hanya kolusi.
''Rah..''
''Rah!!''
''RAHMI!!''
Heira mengguncang bahu Rahmi dengan kuat.
''Kamu...?''
Heira menghentikan kalimat yang akan ia keluarkan. Seberapa parah ingatan adiknya kacau.
Ingatan Rahmi bagai fragmen puzzel yang berantakan. Kapanpun dapat hancur dan tidak cocok.
Seiring berbagai kejadian mengerikan menguncangnya semakin parah ingatannya yang kacau.
Mungkin suatu keajaiban ia tidak gila meski sudah ada diantara ketidak warasan dengan kewarasannya.
''Kita pulang,'' ucap Heira menarik tangan Rahmi.
Setau Heira Rahmi memang memiliki masalah dengan psikisnya, tapi ingatannya yang kacau selalu menjadi tanda-tanya baginya.
...
Alif tiba dirumah dengan ekspresi menyeramkan. Apa yang ia lihat terasa menyesakkan untuknya.
Perlahan tatapannya berubah menjadi sendu. Ia mana bisa membenci istrinya itu.
''Ternyata selama ini kamu baik-baik saja, Rah'' gumam Alif.
Ia menyusuri rumah dan naik kekamarnya. Lorong kamar yang gelap menginggatkannya akan penyiksaan yang ia berikan pada Rahmi.
'Ingatannya kacau... Sama dengan Ryan'
Alif merebahkan tubuhnya diatas ranjang. ia meraba sekitarnya, dulu tempat itu hangat dengan Rahmi yang lebih sering tidur.
'Apa aku akan menjadi Ryan selanjutnya... Dibenci dan tak dapat melakukan apapun untuk mengubahnya'
''Tidak! Pasti masih ada ingatan yang belum Rahmi ingat!''
...
''Adelya kau memanfaatkanku'' ucap Kelvin ditengah-tengah rapat kerja sama mereka.
''Bukankah kerja sama memang seperti i.t.u presdir Kelvin?''
Kelvin menatap tajam wanita yang didepannya.
''Jangan membodohiku! kamu yang mengambil alih kapal saat itu karna kamu mengatakan ingin melihat lebih jauh kedalam lautan!!!''
Adelya memincingkan matanya.
''Apa yang kau maksud aku tidak tau'' ucapnya dengan tersenyum kecil.
''JANGAN BERCANDA!!!'' teriak Kelvin.
Untung mereka hanya mengadakan rapat kecil, bila tidak akan terjadi sebuah gosip berita besar.
Ia kehilangan sahabatnya karna wanita yang ada didepannya. Bahkan ia melukai seseorang yang ia anggap berharga
'Aku kehilangan sahabatku dan kau menikam Rahmi!!'
''Kejadian yang terjadi dikapal kau-kan pelakunya!!''
Adelya mengidikkan bahunya tidak tau.
''Jangan sembarangan menuduh. Kau tidak punya bukti apapun''
Kelvin menggempalkan tangannya. Rasa sesalnya memercayai wanita tersebut terasa mengebu-ngebu.
Dirinya yang terlalu mudah dibodohi juga dimanfaatkan adalah kelemahan terbesarnya. Ia mudah kasihan hanya dengan beberapa kata.
Hari itu Adelya datang padanya dengan wajah memerah, ia menangis tersedu-sedu. Ia meminta Kelvin untuk membiarkannya berada dikapalnya selama beberapa hari untuk melarikan diri bersembunyi diatas kapal. Karna hal inilah ia tidak bisa menemukan bukti apapun, dan buktinya pasti akan menyeretnya karna ia yang membiarkan Adelya tinggal dikapal tanpa sepengetahuan siapapun.
...
Drt, drtt, drt.
Ryan yang tergeletak diruangannya dengan tumpukan kertas yang berantakan dimana-mana. Ia bangkit dan mengangkat handphonenya.
''Kuharap aku bisa menebus kesalahanku melukai adikmu sedikit demi sedikit''
''KAU MAU BICARA APA HAH!!!'' bentak Ryan. Dengan tekanan batin yang ia rasakan dirinya menjadi sensitif dan mudah marah.
''Rahmi baik-baik saja... Ia bersama Heira,'' ucap Alif memberitahu tapi ia tidak mengatakan segalanya.
''Apa?!!''
''Rah-rahmi masih hidup...''
''Iya dan ia baik-baik saja''
Ryan tak mendengarkan ucapan Alif. Hatinya menjadi lega dengan air mata yang turun dimatanya.
''Syukurlah... syukurlah''
Ryan bersimpuh dengan tangan yang terus menggempal dengan bahagia.
Adiknya ditemukab dalam keadaan hidup juga terlihat baik-baik saja. Mendengarnya seperti sebuah air yang mengguyur hatinya yang hancur kemudian menumbuhkan sebuah harapan baru.
Ryan menatap dirinya yang kacau. Ia harus memperbaiki ruangannya juga dirinya. Ia tidak boleh bertemu adiknya dalam keadaan seperti ini.
''Rah.. Kakak tidak akan pernah menyerah''