
Rahmi pulang dengan ekspresi yang kacau. Matanya sembab hingga ia tidak bisa melihat dengan jelas. Ia melangkah dengan mata yang masih mengeluarkan buih-buihnya.
"Rahmi dari mana?" tanya Alif. Ia mencari istrinya kemana-mana karna sudah hampir 5 jam Rahmi tidak pulang-pulang.
Rahmi tidak menjawab pertanyaan Alif ia melewatinya begitu saja. Ia langsung pergi kekamarnya yang dulu.
Saat pintunya tertutup ia langsung terduduk dengan air mata yang mengalir deras. Rasanya menyesakkan bagaikan ditusuk ribuan pisau.
"Jadi... Selama ini aku hanyalah... ," lirih Rahmi.
Alif menatap pintu yang kini tertutup. Entah mengapa ia merasa ada sebuah dinding raksasa menghantam jarak diantara mereka hingga semakin jauh.
Sikap dingin Rahmi juga entah kenapa terasa menampar wajahnya.
Malam semakin larut tapi Rahmi belum bergerak sama sekali.
Syut.
Wajahnya terangkat, terlihat matanya yang begitu sembab hingga mata bulat itu menyipit.
Rasanya melelahkan menangis sepanjang hari. Ia berjalan kearah kasur merebahkan tubuhnya. Ia pikir saat ini ia harus berbahagia, tapi ia tidak akan bisa berbahagia lagi mengetahui kenyataan pahit kenapa Alif sekarang berubah.
Takdir, ia membenci takdir. Abby, Alif, Ryan, Kelvin, pengasuhnya yang ia anggap bunda juga April dan Adelya. Setelah pernyataan yang ia ketahui tentang mengapa Abby menikahkannya ia teringat masa lalunya.
Rahmi harus menelan pil paling pahit dalam kehidupannya. Tidak ada yang benar-benar tulus.
'Memang kata pepatah yang mengatakan kasih sayang orang tua yang melahirkan kita adalah cinta sajati adalah yang paling benar... '
Tes.
Air mata yang kering kembali terjatuh. Di manfaatkan, diremehkan, dihina, dikhianati. Akhirnya ia sadar mengapa dulu ia ingin melupakan segalanya.
Yang paling sakit bukanlah orang-orang yang memandangmu hina. Tapi keluarga yang engkau sayangi yang menyakitimu bagai orang asing.
Hidupnya kenapa harus begini. Apa yang ia miliki adalah anugrah bagi orang-orang tapi takdir mempermainkannya sehingga menjadi petaka baginya.
Star... Ia dipanggil star karna bagaikan sebuah bintang cahaya dimalam yang gelap. Kemampuan yang tidak wajar dengan kesempurnaan yang sudah pasti membuat semua orang iri.
Ingatannya yang kuat juga adalah petaka baginya karna bukan hal bahagia saja ia ingat tapi juga sebuah kenangan kelam. Setiap detik dan menit memorinya akan berputar membuatnya merasakan sesak sepanjang waktu.
Haruskah ia bersyukur dengan apa yang tuhan berikan padanya. Rasanya ia ingin membenturkan kepalanya agar melupakan segalanya kembali. Ia tak lagi bisa tersenyum setelah mengetahui segalanya.
Malam semakin larut melahap kesedihan yang Rahmi miliki.
Pagi datang menyambut perempuan yang tidak tidur sepanjang malam.
Cklek.
Rahmi keluar dari kamarnya dengan wajah dingin hingga dapat membekukkan siapapun.
"Rah.. Kamu gak apa?" tanya Alif khawatir melihat wajah pucat istrinya.
Rahmi menelan ludahnya berat. Sakit, hatinya sakit melihat laki-laki yang ada didepannya.
'Tidak! Seisi rumah ini menyakitiku.'
''Ya,'' dingin Rahmi.
Melihat perubahan Rahmi yang besar terasa terhantam batu didadanya.
"Rah... ," lirih Alif.
Rahmi melewatinya begitu saja. Semakin bersamanya ia semakin terluka.
Diruang tamu ia bertemu Abby yang sudsh sehat.
''Nak, kamu mau kemana?''
Rahmi melirik sekilas. Melihat wajah tanpa rasa bersalah itu membuat hatinya membuncah penuh amarah.
''Keluar.''
Abby tak lagi bertanya, ia hanya memendam rasa dihatinya.
'Tak ada yang benar... Tak ada yang salah... Tapi aku sudah tidak tahan, semuanya palsu. Apa kak Heira juga seperti mereka? karna Aku adalah Star?'
'Aku benci diriku yang terlahir dengan semua ini. Tapi aku juga tak bisa membenci kedua orang tua yang melahirkanku.'
Rahmi terduduk disebuah dahan kayu yang besar. sudah dua kali ia duduk disana, ditanah lapang dengan rumput yang menjulang tinggi membuatnya tidak terlihat, langit biru yang indah dengan awan putih yang mengembul. Rahmi mengangkat tangannya keatas, namun tak dapat mengapai apapun.
''Seperti namaku Star, tak tercapai dan tak bisa dicapai,'' ucap Rahmi tersenyum kecil. Nama yang berlebihan untuk membanggakannya kemana-mana.
Rasanya ia benci nama star tapi itu pemberiam kedua orang tuanya.
Rahmi kembali teringat kejadian kemarin.
...
''Rahmi Afifah... Tidak-kah kau merasa sedih, tepi tentu tidak karna kau tidak mengetahui apapun,'' gadis didepannya berucap dengan nada rendah.
''Apa maksudmu?''
''Namaku laila... Salah satu murid yang dekat dengan kyai Chandra. Selama ini kau dibohongi oleh semua orang... ''
Rahmi menatap perempuan didepannya tajam.
''Apa yang kau tahu!''
''Aku pernah mendengar Kyai bergumam pelan disuatu hari.''
''Jangan sampai ada yang mengetahuinya... Apa kau tidak tahu mengapa Kyai buru-buru menikahkanmu?'' tanyanya dengan sinis.
rahmi hanya diam, ia akan mendengarkan apa yang perempuan ini katakan sebelum mengambil keputusan mempercayainya atau tidak.
''Kyai tidak mau kejadian kecelakaan itu terungkap.''
''Kau tidak ingat hujan saat itu tidak begitu lebat, jalanan juga tidak terlalu licin tapi mengapa orang tuamu meninggal?''
''Itu sudah takdir,'' ucap Rahmi pelan.
Jres.
Sekilas ingatanya muncul. Saat itu jalanan tidaklah terjal dan baru akan turun hujan.
Bersamaan saat ingatan ia bersama orang tua kandungnya. Jadi, selama ini ia selalu salah mengenali, melupakan dan bimbang antara yang satu dengan yang lain.
Waktu kecelakaan orang tuanya memang hujan deras tapi kecelakaan saat bersama orang tua angkatnya tidaklah deras. Ingatannya tumpang tindih hingga rasanya ia sendiri bingung.
Pantas Heira tak mengenalnya dan mengatakan akan menjadikannya adik. Ryan yang menyayanginya begitu besar hingga mengorbankan banyak hal. Sekarang semua sudah jelas.
''Mobil Kyai melaju kencang hingga menabrak mobil kedua orang tuamu.''
Akhhh.
Brak!
Trang!
prak!
''Mobilmu terlempar jauh dari kejadian, bersamaan hujan turun dengan deras menghapus segala jejak kejadian seolah kecelakaan tak disengaja.''
''M-mungkin ini memang sudah kehendak Tuhan... ,'' ucap Rahmi lirih. Rasanya sesak mendengar cerita tersebut.
''Benarkah? Kau tau apa yang dilakukan Kyai? Ia hanya menolongmu lebih dulu karna guyuran hujan akan menghapus jejaknya. Lalu kau tau apa yang terjadi? mobilnya meledak! tapi Kyai hanya diam memandang tanpa bergerak untuk menyelamatkan kedua orang tua angkatmu yang berteriak meminta tolong!''
''TIDAK!!! BERHENTI!!''
Benar yang dikatakan Laila, ia ingat karna kesadarannya tidak sepenuhnya hilang. Ia mendengar suara teriakan ibunya yang meminta tolong.
Laila menguncang pundak Rahmi.
''Ia menikahkanmu karna kamu akan menghapus hasil kejahatan yang ia lakukan! Janji orang tuamu itu palsu! semuanya palsu! Bagaimana ia bisa tau orang tua kandungmu sementara kau bersama orang tua angkatmu! Lalu kenapa ia tidak memulangkanmu!! Semuanya karna Chandra itu pengecut dan penakut dengan keluargamu!!''
Rahmi memggeleng dengan menutup telinganya. Yang laila katakan benar, Abby tidak mungkin tau siapa orang tua aslinya sedang dia bersama orang tua angkatnya. Ibu pengasuhnya tidak akan mempertaruhkan kebahagiaannya.
Laila memaksa Rahmi untuk mendengarnya, ia menahan tangan yang Rahmi berusaha menutup telinganya.
''Lalu Alif... Kau pikir ia mencintaimu? Ia hanya memanfaatkanmu... ''
''B-bohong.''
Jiwa Rahmi terguncang, bohong bila ia tidak ragu tapi ingatan yang ia miliki lebih jelas dari apapun.
''Dia memanfaatkanmu karna kamu adalah STAR! Pewaris ternama yang hampir melengserkan KAKAKNYA SENDIRI!!! KAU ADALAH KEBENCIAN SEMUA ORANG!!
''AKU TIDAK MAU DENGAR LAGI!!'' teriak Rahmi menunduk menutup telinganya.
Wah! Dia hebat sekali.
Kenapa ia bisa sama persis menghafal dialog kata pelajaran itu, yah.
Katanya itu pelajaran untuk seorang profesor tapi ia sudah memahaminya dengan baik.
kudengar hak waris perusahaan diluar negeri akan diberikan padanya.
Bukan cuma ituloh katanya keluarga pamanya yang kehilangan harapan akan putranya juga akan mewariskan perusahaannya padanya
Semakin lama Rahmi semakin mengingat segalanya. Sejak kecil ia sudah memiliki prestasi yang luar biasa. Dirinya mulai dipanggil Star sebagai cahaya baru yang tak tergapai.
Karna kecerdasannya ia hampir melengserkan kakaknya yang belajar bertahun-tahun untuk menjadi pewaris.
Dirumahnya mulai ada perdebatan tentang hak waris.
Putriku juga hebat kenapa ia tidak boleh terjun kedunia bisnis!
Mama tidak boleh egois!! Ryan sudah ditetap sejak lahir yang memiliki tugas tersebut!
Papa pikir perempuan tidak boleh memimpin!
Bukan itu maksud papa mama!
Sepanjang hari mereka bertengkar didepan Ryan juga Rahmi. Wajah Ryan saat itu penuh kebencian. Tangannya meremas tangan Rahmi yang ia genggam.
Melihat Rahmi kesakitan Ryan langsung berubah ekspresi menjadi lembut.
Mengingat kejadian itu membuat dada Rahmi terasa teriris pisau.
''Hentikan... Aku tak ingin dengar apapun lagi.''
''Alif menyiksamu tanpa belas kasih bersikap baik karna kamu mewarisi hampir sebagian besar kekayaan yang dimiliki keluarga besarmu! Ia memanfaatkanmu agar bisa bekerja sama dengan perusahaan milik Kelvin juga kakakmu... Ryan!''
Lagi-lagi Rahmi tertampar kenyataan. Memang selama ini Rahmi sering dibawa keperusahaan agar dapat bertemu dengan Ryan juga Kelvin.
Surat wasiat kakek sudah keluar... Ia mewariskan perusahaan pertamanya pada putranya Khaidra (ayah Rahmi) dan perusahaan keduanya pada anaknya Keynan dan perusahaan ketiga yang baru didirikan pada cucunya... Afifah.
Semua orang terkejut Rahmi diwarisi perusahaan disaat umurnya masih 14 tahun.
Beranjak tahun kelima belas Ia mewarisi sebagian anak cabang perusahaan pamannya.
Posisinya sudah lebih tinggi dari siapapun. Ryan pun mulai dibanding-bandingkan. Semua orang memujanya.
''Semua yang mendekatimu hanya memanfaatkanmu!! Tidak ada yang tulus padamu! Apa kau tau apa yang Zahra lakukan!! ia mengambil ginjal ayah angkatmu untuk Kyai Chandara!!''
Degh!!
''CUKUP!! APA LAGI YANG INGIN KAU KATAKAN!!''
''Kau senang sekarang? Apa yang kau dapat adalah kebahagia bukan?'' Laila tersenyum sinis melihat perempuan didepannya hancur.
''Ryan... tidak begitu, keluarga tidak akan mengkhianati... ,'' ucap Rahmi lirih. Setidaknya ia harus membela kakaknya yang tulus padanya, tapi benarkah ia tulus padanya.
''Kau yakin? Sebagian besar hak waris keluarga ditanganmu. Bukankah dia seharusnya berusaha menyembuhkanmu agar kau bisa mengingatnya? tapi ia tidak melakukan apapun. Ia hanya diam agar kau tidak mengambil posisinya.''
Tak.
Rahmi berlari pergi semakin ia berada disana cahaya yang ia miliki perlahan-lahan akan habis dilahap kegelapan.
...
''Hahah... '' Rahmi tertawa renyah mengingatnya. Rasanya memilukan.
Kebahagian yang ia miliki sekarang adalah ilusi. Dikhianati, dimanfaatkan, disakiti, dibohongi, apalagi yang harus ia rasakan untuk menyempurkan kepahitannya.
''Pergi... Aku akan mengambil yang harusnya ku miliki.''