
''Rah, semoga kamu juga melihat matahari yang terang ini.''
Alif memandang keluar jendela. Saat itu ia juga terbangun dengan suasana pagi seperti itu, tapi dengan Rahmi yang tertidur dipelukannya.
Ia naik kemobilnya dan melajukannya ketempat dimana Rahmi berada.
Gerbang perguruan seni bela diri yang tinggi membuat lapangan yang begitu luas terlihat jelas.
Alif memandang dari kejauhan tanpa keinginan untuk berkunjung.
...
''Hmmm''
Rahmi merengangkan tubuhnya kekiri dan kekanan.
Suasana pagi yang cerah terasa menyejukkan.
''Hiyat!''
Pagi-pagi sekali para murid perguruan seni bela diri telah berlari mengeliling area sakte.
Terlihat Heira berlari dengan semangat memimpin para remaja yang bersemangat dipagi yang indah.
Rahmi berjalan pelan mengelilingi perguruan.
Pikirannya terasa jernih setelah berjalan-jalan.
'Aku sadar ... setelah beberapa waktu ini, diriku sakit bukan sakit biasa tapi penyakit psikis. Bila saja aku tak mengalami kejadian dimana diriku ditikam. Aku tak akan pernah mengetahuinya.'
Suatu hari Rahmi terbangun dari mimpinya. Ia memimpikan sebuah benda tajam menusuk dadanya, tenggelam dalam laut yang dingin.
Rahmi pikir itu adalah mimpi, tapi mungkinkah ada mimpi yang sama. Luka didadanya membuatnya sadar bahwa ia tidak memipikan sebuah mimpi tapi sebuah ingatan yang hilang.
Bagaimana bisa ia melupakan sebuah kejadian mengerikan yang baru saja dialaminya. Jadi Rahmi menyimpulkan bahwa ia sakit.
Dugaannya menjadi kuat dengan bertemuan Alif yang tidak ia ingat. Ingatan yang menyeruak itu juga ia sadari adalah ingatannya.
'Tapi kenapa terasa menganjal ... Apa tidak semuanya aku ingat?'
Dhuak!
Tanpa sadad ia berjalan tanpa melihat kemudian menabrak tembok perguruan.
Cring, cring.
Mendengar suara kerincing-kerincing Rahmi meihat keluar.
''Es krim, es krim. Rasa coklat, rasa melon, rasa apel, rasa cinta juga ada ... Ayok dibeli-dibeli!!''
Sebuah gerobak kecil yang menjual es krim dipagi itu berada disebrang jalan. Banyak anak-anak yang membeli es krim dipagi yang masih begitu dingin tersebut.
Rahmi juga tak dapat menahan godaan dari sebuah es krim. Ia menyebrang jalan dan membeli sebuah es krim.
Rahmi melihat es krim yang ada didalam kotak yang ada digerobak.
''Saya mau rasa stroberi.''
''Hoho, Nona suka warna cinta.''
''Warna cinta?''
''Warna pink.''
Rahmi melihat es krim yang berlahan ditaruh didalam sebuah wadah.
Air liurnya hampir menetes melihat warna pink tersebut terkena cahaya matahari begitu menyilaukam dan juga menggoda.
''Terima kasih, Nih ua-''
''Saya saja yang bayarkan.''
Rahmi menengok untuk melihat siapa yang sudah membayarnya untuknya.
''Tidak usah!''
Sret.
Rahmi menepis tangan Alif dan membayarnya sendiri.
''Rah ... '' panggil Alif lirih.
'Kupikir semua akan membaik,' batin Alif menatap Rahmi melangkah semakin jauh darinya membentang jarak yang semakin jauh hingga tak tergapai.
''Aku mencintaimu''
Degh!
Rahmi berhenti ditengah jalan kemudian berbalik menatap Alif.
''Kamu-''
PINNNNN!!
''RAHMI!!''
....
PRAK!
Kaca yang dipengangnya terjatuh dengan kesesakan yang mengalir di dadanya.
DEGH!
''APA YANG KAU LAKUKAN, ADELYA!!'' teriak Kelvin.
''Bukankah sudah jelas? Aku hanya menawarinya teh.''
Kelvin menggertakkan giginya. Ia benar- benar menyesal memiliki sebuah hubungan dengan perempuan licik yang ada didepannya.
Tina memegang dadanya yang semakin sesak hingga ia tidak dapat membedakan antara kenyataan dengan ilusi.
''Apa yang kau masukkan pada tehnya!!''
Adelya tersenyum miring, sepertinya benar bahwa kelemahan Kelvin adalah sekertarisnya yang selalu menemaninya.
''Kau tau ini apa?'' Adelya memperlihatkan sebuah bubuk yang merupakan obatnya.
BRAK!
Tina terjatuh dengan wajah pucat. Tubuhnya seperti digrogoti ribuan semut yang mengigit dadanya.
''Serahkan padaku!!!''
''Eits, Aku tidak mau transaksi yang tidak menguntungkan.''
''Hah?! Kau tidak takut hukum!''
Kelvin menggempalkan tangannya. Ia tidak bisa memilih diantara keduanya. Bila menuruti Adelya hal buruk akan terjadi, tapi bila ia tidak memilih sekertarisnya hidupnya akan hancur.
Glek.
''Baiklah.''
...
BRAK!!
CKITYY!
'Egh ... ' Rahmi memejamkan matanya.
Mobil dengan laju yang begitu cepat menabraknya.
Rahmi merasakan dentuman keras hingga tulangnya terasa linu.
''Huk, huk''
Sebuah darah keluar dari mulutnya. Ia manatap dengan sendu.
''Rah, kamu gak apa?''
Degh!
Rahmi membuka matanya perlahan.
'G-gak ... '
Rahmi memegang wajah Alif yang khawatir dengannya. Padahal kondisinya lebih parah dengannya.
''Apa yang kau lakukan!!'' Sebulir bening keluar dari mata Rahmi.
Alif tersenyum, ia senang Rahmi mengkhawatirkannya.
''Saya tidak apa, Rah.''
Dhuk!
Degh!
''Alif ... ''
''ALIF!!''
Rahmi mengguncang tubuh Alif tapi tidak ada respon.
Alif berlari melindunginya sebelum mobil tersebut menabrak tubuh Rahmi. Tubuhnya spontan berlari untuk melindungi istrinya. Sakit yang ia rasakan tidak berarti dibanding luka lecet yang diterima oleh Rahmi.
Kepala Alif terbentur, mengalirkan darah dari kepalanya. Tubuh yang ia pakai sebagai pelindung bertabrakan dengan aspal. Dari dalam mulutnya menetes darah.
...
Rahmi mengigit kukunya dengan gugup. Hatinya tidak tenang sama sekali.
''Dek, dulu. Alif gak bakal kenapa-napa,'' ucap Heira.
Rahmi menuruti ucapannya dan duduk disampingnya.
''Ini semua salahku,'' sesalnya.
''Gak! Jangan bilang gitu, Rahmi!''
Heira menatap manik-manik adiknya. Matanya memperlihatkan sebuah luka yang dalam, penyesalan, kekhawatiran, kesedihan, kemarahan.
''Rah, ini semua takdir. Takdir memang seperti itu, terkadang lucu juga membuat kita menderita.''
Rahmi menuduk dengan meremas pakaiannya.
''Maaf, Kak.''
Heira menghela napas kemudian ia tersenyum. Sekarang mereka hanya dapat berdoa yang terbaik.
''Tapi kamu gak apa?''
Rahmi tersenyum kecut, faktanya ia memang tidak memilki luka apapun.
''Hanya merah, Kak.''
Tin.
Ruang UGD terbuka memperlihatkan seorang dokter keluar menghampiri mereka.
''Pasien sudah aman, kami akan memindahkanya keruang rawat. Lukanya tidak begitu dalam namun harus tetap diperhatikan.''
''Kapan akan sadar, Dok?''
''Beberapa jam lagi. Sekitar 4 jam.''
Rahmi menghela napas lega. Jantungnya berdebar dan terasa hangat.
NYUT!
Rahmi memegang kepalanya yang terasa sakit. Ingatannya bersama Alif menyeruak masuk secara sempurna. Ingatannya telah kembali tanpa satupun yang ia lupakan.
Mengingat segalanya membuat hati Rahmi menjadi kacau.
''Kenapa, Rah?'' tanya Heira khawatir melihat wajah pucat dari adiknya.
''Kak ... Aku sudah ingat.''
Heira terdiam, ia tersenyum pilu mendengarnya.
''Apa aku jahat, Kak? Aku mengatakan akan memberinya kesempatan tapi ... ''
''Rah, Aku sudah bilang. Ini takdir'' Heira mengenggam tangan Rahmi.
...
Rahmi menatap mata Alif yang tertutup. Kini posisi mereka yang tertukar, dulu Alif yang menunggunya bangun.
Rahmi mengenggam tangan Alif dengan erat seolah bila ia lepaskan akan kehilangannya.
Set.
''Rah ... kamu k-kenapa?''
Rahmi membelalakkan matanya. Alif membuka matanya dan mengkhawatirkannya.
''S-saya s-sudah ingat ... Maaaf telah menyulitkan,'' ucap Rahmi dengan sebulir bening jatuh dipelupuk matanya.
''Tidak... Saya yang salah. Jangan minta maaf.'' Alif memaksa untuk tersenyum.
Ini adalah keputusannya, tidak ada hubungannya dengan Rahmi. Ia yang memutuskan akan melakukan apapun untuknya. Untuk seorang perempuan yang telah ia aniaya, perempuan yang selalu menurut, perempuan yang selalu bersembunyi bila melihatnya, perempuan yang terkadang tersenyum saat melihatnya. Alif tidak menyalahkan Rahmi.