
''Racunnya sudah kami tangani tinggal tergantung pada pasien ... Apakah akan sadar apa tidak, karna racunnya sudah menjalar kejantungnya ... Kami hanya bisa berdoa yang terbaik.''
Alif mengangguk, ia bisa sedikit bernapas mendengar ucapan Dokter.
''Terima kasih,''ucapnya pada Ryan.
''Tidak perlu ucapkan terima kasih, Bila ia sembuh kunjungi rumahku,'' ucap Ryan tersenyum.
Rahmi telah dipindahkan keruang rawat.
Alif dan Ryan sama-sama menatap Rahmi yang terbaring lemah.
''Cepatlah bangun,'' gumam Ryan.
Bam!!
''Kalian kenapa gak nungguin sih!!!'' ucap Kelvin menggema diruangan itu.
Ryan dan Alif menatap Kelvin.
''Shttt ...'' Ryan menggunakan telunjuknya menyuruh Kelvin untuk tidak berisik.
''Sorry ...,'' ucapnya.
Ia berjalan mendekati Rahmi, pandangannya menjadi sendu melihat Rahmi terbaring lemah.
''Padahal kita janjian ketemu ini hari,'' gumam Kelvin pelan.
''Kita masih bisa adakan pertemuan lain,'' ucap Ryan menepuk bahu Kelvin pelan.
Alif menatap kedua pria didepannya. Mereka menganggap sebuah meeting kerja sama mereka bagaikan pertemuan keluarga. apa mereka tidak sadar bahwa proyek mereka bukan proyek yang main-main, bahkan uang yang dikeluarkan sudah tidak terhitung jumlahnya.
Benarkah mereka adalah dua pemimpin perusahaan ternama yang penghasilannya dapat membeli sebuah negara.
Puk.
Kelvin menepuk bahu Alif menyadarkannya dari lamunannya.
''Semoga ia cepat sembuh,'' ucap Kelvin memberi semangat.
Alif mengangguk, ia menatap Rahmi dengan sedih.
'Cepatlah sembuh.'
Ryan keluar dari ruangan itu, disusul oleh Kelvin yang juga ikut keluar.
Ryan berjalan kesebuah ruangan. Ia masuk tanpa mengetuk pintu.
''Bagaimana?'' tanya Ryan.
''Racunnya memang benar racun ganas dari luar negeri yang sekarang beredar dikalangan orang-orang seperti mereka'' ucapnya melihat data-data yang telah ia kumpulkan.
Ia adalah dokter yang menangani Rahmi sekaligus dokter pribadi keluarga Ryan.
''Penawarnya memang bekerja tapi kami juga harus berusaha keras mengeluarkan racunnya ... Kita bahkan tidak tau efek sampingny,'' ucapnya menghela napas panjang.
''Aku akan memantaunya terus,'' ucap Ryan dengan dingin.
Memikirkan betapa parahnya racun itu membuat emosinya menggebu-ngebu. Mereka sangat tidak manusiawi menggunakan racun itu pada adiknya.
Ryan tak habis pikir kenapa harus ada racun seperti itu diciptakan.
''Baiklah saya akan mengirim laporan perkembangannya kedepannya,'' ucapnya mengulurkan tangan pada Ryan.
Ryan menerima ulurannya dan mereka berjabat tangan.
''Jangan lupa transfer gajiku ... Aku tidak mau bekerja bagai robot siang dan malam tanpa bisa hidup untuk esok harinya,'' ucapnya tajam.
Ryan tersenyum miris, orang didepannya ini memang tidak ingin rugi.
''Tentu saja.''
....
Alif terus mengenggam tangan Rahmi, ia tidak mau gadis itu terbangun tanpa seorang pun disampingnya.
''Cepatlah sadar.''
Alif menatap wajah Rahmi lekat-lekat. Kenapa banyak orang yang ingin menyakiti gadis kecil, mugil sepertinya.
Drrtt.
Alif mengangkat handphonenya.
''Saya menemukannya tuan, tapi ia telah menghilang ... dan jejaknya tidak dapat kita ketahui,'' ucap sekretarisnya.
''Hmn, Baiklah.''
Alif memandang Rahmi dengan sendu. Rahmi terbujuk dengan lemah tapi pelakunya malah masih berkeliaran diluar sana.
''Maaf''
....
Alif terus berada disamping Rahmi, keadaannya terlihat kacau.
Merasa diambang batas, Alif berdiri. ia meninggalkan Rahmi dengan berat hati.
Ia harus pulang, ia harus istirahat agar dapat kembali menjaga Rahmi. Ia juga tidak bisa mengabaikan perusahaannya.
Alif kembali kerumah. Disana sudah ada Bibi yang menunggu mereka dari kemarin. Melihat Alif pulang sendiri, Bibi hani menjadi khawatir tidak melihat rahmi.
''Bibi siapkan makanan,'' ucap Alif kemudian berjalan kekamarnya.
Alif makan dengan perlahan. Rasanya tidak enak, rasanya ia mual melihat makanan yang ada.
Alif melihat kursi kosong yang biasa Rahmi duduki, pandangannya kemudian mengarah ke arah ruang tamu. Alif teringat saat ia membalut luka Rahmi dan tidur disampingnya.
Rasanya sepi dan sunyi tiada kehadirannya.
''T-tuan ... Nona k-kemana?'' tanya Bibi memberanikan diri.
''Rahmi sakit,'' ucap Alif pelan.
Bibi sangat terkejut mendengar ucapan Alif. terlihat diwajahnya guratan kesedihan.
''Bolekah Bibi menjenguknya?''
Alif menatap Bibi. Perempuan yang didepannya ternyata juga menyayangi Rahmi bahkan lebih dari dirinya. Ia bisa tau dari matanya yang terlihat begitu pedih mendengar Rahmi sakit. Apa yang akan dipikirkannya bila ia juga tau bahwa Rahmi sakit karna diracuni, itupun racun ganas yang telah memakan nyawa ribuan orang.
''Setelah ini saya antar ... Untuk sementara Bibi dapat merawatnya,'' ucap Alif kemudian ia menyudahi makanannya.
Mendengar ucapan Alif, Bibi tersenyum senang.
...
Alif mengantar Bibi kerumah sakit Rahmi dirawat, sementara ia kembali kekantor. Masalah kemarin harus ia selesaikan juga meeting yang tertunda.
''Nona kenapa bisa sampai seperti ini,'' ucap Bibi dengan sedih.
Tes.
Air matanya terjatuh melihat kondisi Rahmi. Pantas tuannya tidak mengatakan Rahmi sakit apa, karna bila tau ia akan khawatir. Tapi Bibi bukan orang bodoh, ia tau Rahmi keracunan. Bibirnya bahkan masih terlihat pucat, tubuhnya juga masih terlihat kebiruan meski sudha tidak begitu parah.
Bibi duduk disebelah Rahmi, ia merawat gadis itu dengan baik. Dokter serta suster sering datang untuk memeriksa kondisi Rahmi.
''Cepatlah sembuh nona,'' ucap Bibi pelan.
Ia sangat menyayangi Rahmi, bahkan ia telah menganggapnya seperti anak sendiri.
Selama ia menikah tak pernah sekalipun anak hadir dihidupnya. Suami pun tak berumur panjang, ia meninggalkannya dalam kondisi yang memperihatinkan
Lalu semenjak ia bertemu Rahmi, tingkahnya membuatnya hidup kembali. Kebehagianya menjadi kebahagian Bibi juga.
...
''Apa?!!!''
''Sial!! sial! sial! sial!! sial!! kenapa ia masih hidup!!''
''Sebenarnya berapa banyak nyawa yang kau punya!!''
''tidak berguna, rencana sekecil ini saja tak ada yang mampu!!''
''Tenanglah ... Kita bisa menggunakan cara lain,'' ucap temannya menenangkan-nya
''Benar! nyawamu pasti akan mati ditanganku!!''
...
Meski Alif mengadakan meeting tapi pikirannya terus memikirkan Rahmj, apa ia sudah sadar.
''Pak? Pak?!!''
Sekretaris Alif menepuk bahunya.
''Presentasinya sudah selesai pak,'' ucapnya memberi tahu.
Alif mengangguk, ia menutup meeting itu kemudian bergegas kerumah sakit tempat rahmi berada.
Alif menjalankan mobilnya dengan laju yang begitu cepat. Ia sampai dirumah sakit tanpa waktu yang lama.
Alif segera berjalan menuju tempat rahmi dirawat.
Syut.
Alif menatap Ryan yang juga sepertinya ingin menemui Rahmi.
Tanpa kata mereka berjalan bersamaan. mereka saling melirik seolah berbicara dalam mata.
Saat sampai didepan pintu kamar Rahmi dirawat, keduanya saling melihat melempar tatapan. bahwa siapa yanga akan membuka pintu.
Cklek.
Pinti terbuka dari dalam, ternyata Kelvin bari saja menjenguk Rahmi.
''Kalian janjian?''
''Tidak!'' kompak mereka.
Mereka saling memandang kemudian mengalihkan pandangan kearah lain.
''Kalian tidak masuk?'' tanya Kelvin melihat kedua manusia itu yang hanya diam didepan pintu.
Alif menghela napas panjang begitu juga Ryan. Mereka masuk kedalam, Kelvin yang ingin pulang ikut bergabung dengan mereka.
''Kapan ia sadar ...,'' tanya Alif pada Bibi.
Bibi menggeleng pelan bahwa ia tidak tau.
Alif juga Ryan menatap dengan sedih bahwa Rahmi yang selalu tersenyum kina hanya diam dengan wajah yang memucat.
'Cepat sembuh,' ucap mereka bersamaan dalam hati masing-masing.