Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Taman bermain.


Rahmi terbangun ditengah malam. Ia merasa kedinginan, ia bangun dan melihat sekitar. Langit sudah begitu gelap tapi Alif tidak ada disebelahnya.


Dikamar yang gelap terlihat sedikit cahaya dibalik pembatas meja kerja Alif.


'Alif belum tidur,' pikir Rahmi.


''Kenapa?''


Degh.


Rahmi tersentak ternyata Alif melihatnya dari tadi.


''T-tidak ....''


Rahmi tiba-tiba teringat akan kedatangan Ryan.


''Tadi Ryan datang ... Dia ajak aku keluar,'' ucap Rahmi pelan.


Tak.


Alif menutul laptopnya kemudian mendekati Rahmi dan duduk disampingnya.


''Kau pergi?''


Rahmi menggeleng, ditengah gelap mata Alif terlihat berkilau.


''Rahmi bilang akan tanyakan pada Alif dulu,'' ucap Rahmi sambil memainkan jari telunjuknya.


Alif mengusap kepala Rahmi, ia merebahkan tubuhnya bersama Rahmi.


''Pergi saja,'' ucap Alif memejamkan matanya.


Rahmi mendongkak melihat Alif. Melihat matanya terpejam Rahmi ikut memejamkan matanya.


...


''Nona bangun,'' ucap Bibi mengoyangkan bahu Rahmi.


Rahmi membuka matanya perlahan.


Degh!


''A-ada apa?'' tanya Rahmi terkejut melihat banyak pelayan datang kekamarnya.


''Nona akan pergi keluar, jadi tuan menyuruh kami membantu Nona bersiap-siap,'' ucap Bibi pelan.


''Ho'oh.''


Rahmi berdiri dan mereka membantunya bersiap-siap.


2 jam kumudian.


Tak!


Alif menengok saat mendengar suara langkah kaki.


Blush.


Wajah Alif memerah melihat Rahmi yang sudah berdiri didepannya dengan begitu menawan.


Warna biru gelap dengan riasan tipis cocok dengan Rahmi.


''Jelek?'' tanya Rahmi melihat Alif memalingkan wajahnya.


''Biasa saja! Sudah ayo jalan,'' ucap Alif segera pergi. Rahmi mengikuti langkah Alif.


Cklek.


Alif membuka pintu mobil depan dan menunggu Rahmi untuk naik.


Degh!


Rahmi teringat saat ia dulu duduk disana Alif memarahinya. Wajahnya menahan sedih ia dengan perlahan mendekati Alif.


''Saya duduk dibelakang saja.''


Menyadari Rahmi masih teringat akan ucapannya dulu, Alif hanya dapat merutuki dirinya.


''Tidak! Naik dan duduk disampingku!'' ucap Alif tegas tanpa ingin adanya penolakan.


Melihat Alif kekeh, Akhirnya Rahmi terpaksa duduk disana. Alif memutari mobil dan duduk didekat Rahmi.


Mobil melaju dengan perlahan, suasana pagi yang masih dingin tapi sudah begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang.


Rahmi membuka kaca spion mobil, semilir angin bertiup didepan wajahnya.


''Mau makan apa?'' tanya Alif.


Rahmi menengok, ia bisa makan apa saja tapi melihat Alif bertanya berarti ia harus memilih.


''Nasi goreng!''


''pftt'' Alif terkekeh mendengar jawaban Rahmi. Bukan makanan mahal tapi makanan sederhana, mungkin juga ia teringat akan Abby yang selalu memasak nasi goreng saat pagi hari untuk sarapan.


''Nanti kita singgah dan makan nasi goreng,'' ucap Alif melirik Rahmi yang asik melihat keluar.


...


Mobil sampai disebuah restorant. ia membuka pintu mobil untuk Rahmi sebelum gadis itu turun.


''M-makasih.''


Alif hanya tersenyum kemudian mengenggam tangan Rahmi menariknya kedalam.


Alif dan Rahmi duduk berhadapan, mereka memesan makanan sesuai keinginan Rahmi.


Rahmi memakan nasi goreng dengan lahap, meski rasanya berbeda dengan buatan abby tapi itu cukup untuk mengingatkannya.


Alif memandang Rahmi, ia tersenyum sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil didepan Rahmi.


''Ini apa?'' tanya Rahmi disela-sela makannya.


''Habis makan bukalah,'' ucap Alif dengan begitu senang.


Karna penasaran Rahmi buru-buru menghabiskan makanannya.


Setelah selesai Rahmi melihat apa yang ada didalam kotak.


Cring!


Sebuah gelang dengan ukiran bunga terbuat dari emas yang dihiasi berlian kecil disetiap pinggirnya.


''Saya tidak bisa menerimanya,'' ucap Rahmi meletakkan kembali kotak itu.


''Kenapa?'' tanya Alif tajam.


Rahmi menunduk, baginya cincin pernikahan mereka saja sudah cukup.


''Saya tidak bisa menerimanya karna terlalu mewah,'' ucap Rahmi merasa tidak enak.


Alif menghela napas ternyata Rahmi menolak bukan karna alasan tidak suka pemberiannya.


''Coba lihat didalam gelang itu'' ucap Alif tersenyum.


Rahmi memgambil gelang itu dan melihat dibaliknya.


''Rahmi Afifah... Muh Alif Al-Lail'' gumam Rahmi.


Terukir nama mereka digelang tersebut.


''Jangan merasa terbebani,'' ucap Alif memasangkan gelang itu ditangan Rahmi.


Sangat pas ditangannya seperti dibuat untuknya.


''Mari kita ketempat selanjutnya,'' ucap Alif menarik Rahmi pergi.


Melihat tangan Alif yang menariknya, terdesir sesuatu yang hangat mengalir didada Rahmi.


'Mungkin ini adalah arti sebuah keluarga.'


..


Mereka tiba disebuah taman bermain. Padahal taman itu begitu luas tapi kenapa sepi.


''Saya sudah pesan khusus untuk ini hari,'' ucap Alif menatap Rahmi.


Rahmi menatap balik dan tersenyum begitu lebar.


''Terima kasih,'' Rahmi langsung menarik Alif untuk menaiki bianglala yang tinggi.


Dari atas sana mereka melihat semua kawasan yang ada disana. Mereka berdua menikmati segala macam permainan yang ada, mengisi kekosongan yang hilang sejak mereka menikah.


'Apa Alif sudah melupakan Aminah,' pikir Rahmi memandang Alif yang memakan es krim dengannya.


''Kenapa?''


''Tidak,'' ucap Rahmi memalingkan wajahnya.


Ia tak mau yang ia rasakan hilang, ia harap Alif tidak akan mengingat Aminah lagi.


Syut.


Alif mengusap bibir Rahmi yang belepotan memakan es krim.


Blush.


Wajah Rahmi memerah, ia memalingkan wajahnya kesamping. Terkadang ia juga bertanya-tanya kenapa sikap Alif langsung berubah.


''Masih mau main?'' tanya Alif.


Rahmi mengangguk ia menunjuk wahana ekstrem yang ada disana.


''Tidak!! tidak boleh!'' ucap Alif cepat.


''Kenapa?'' tanya Rahmi pelan, padahal ia sudah sangat menantinya.


''Bahaya!'' ucap Alif tegas.


Akhirnya Rahmi mengalah dan hanya memainkan permainan yang tidak berbahaya.


Melihat Rahmi tampak murung Alif menghela napas.


''Baiklah, tapi satu saja'' ucap Alif mengalah.


Rahmi langsung semringah mendengar ucapan Alif. Ia memilih roller coaster yang ada didepannya. Ia sudah lama ingin menaikinya.


''WAHH!!''


Suasana tegang juga mendebarkan jantung begitu mengasyikkan bagi Rahmi, rasanya mau naik lagi.


''Bagaimana?'' tanya Alif.


''SERU!!'' ucap Rahmi kegirangan.


''Iya! iya ... Kita ketempat lain lagi,'' ucap Alif menarik tangan Rahmi.


Mereka menaiki mobil dan menyisiri jalan. Tak lama kemudian terlihat laut yang indah dengan suara ombak yang bergemuruh.


''Kita sampai,'' ucap Alif menepi mobilnya dipesisir pantai.


Rahmi turun dengan wajah berseri-seri. Langit yang kejinggaan dengan matahari yang akan terbit, lautan tampak berkilau bagaikan permata karna pantulan matahari, laut yang tampak tanpa ujung yang membuat semua orang bertanya kemana akan sampai, semua tampak indah dimata Rahmi.


Rahmi duduk didahan kayu besar sambil menatap Langit. Alif duduk disebelahnya dan ikut memandang langit. Mereka tidak mengatakan apapun tapi perlahan hati keduanya telah teringat.


Semakin matahari tenggelam sebuah cahaya mulai terlihat dipasir-pasir.


Itu adalah sebuah garis love yang besar dengan tulisan I love you.


Saat matahari benar-benar tenggelam, Alif berdiri didepan Rahmi ditengah-tengah kata-kata tersebut.


Sret.


Sebuah bunga mawar besar keluar dari balik punggung Alif, ia tersenyum bahagia dengan sedikit membungkuk dihadapan Rahmi.


''Aku mencintaimu,'' pernyataan Alif membuat Rahmi menutup mulutnya dengan air mata terharu.


Dia tidak pernah membayangkan sekalipun Alif akan melakukan hal tersebut untuknya.


''Aku juga mencintaimu,'' ucap Rahmi berlari kepelukan Alif.