
Alif menggempelkan tangannya membaca dokumen yang ada dihadapannya. Perempuan didepannya ini telah merusak hubungannya dengan istrinya.
''Laila... Dari mana kau mengetahui segala yang kau beritahu pada istriku?!!''
Laila menelan ludahnya melihat tatapan menyeramkan dari Alif. Ia tidak pernah berpikir laki-laki yang selalu mengajar dipondok dengan lembut akan perubah seperti ini.
''JAWAB!!''
Emosinya tidak bisa ia kontrol lagi, rasanya ia ingin langsung menjebloskan perempuan yang ada didepannya kedalam penjara. Karnanya istrinya menyalah pahaminya.
''Tentu saja aku tahu sendiri,'' ucapnya angkuh. Ia tidak mau tunduk dihadapan Alif.
Grrrttt.
Alif menggertakkan giginya, itu semua adalah bohong. Perempuan didepannya telah mengabdi beberapa tahun dan jarang keluar apalagi pergi ketempatnya, pasti ada yang memberitahunya tentang informasi tersebut.
''Lebih baik kau katakan yang jujur... Kalau kau tidak mau segalanya terungkap!''
Laila memincingkan matanya apa yang akan dilakukan oleh laki-laki yang telah kehilangan cintanya. Tapi ia tidak peduli, sebuah penganggu telah pergi. Tentu saja ia senang dan tidak akan pernah melawatkan kesempatan sempurna yang telah ada.
''Aku akan mengatakannya... Tapi kau harus melepasnya untuk selamanya... Lagi pula kau tidak benar-benar tulus mencintainya.''
PRAK!
Gelas didepan Alif langsung dilemparnya. Sedikit lagi gelas itu akan mengenai wajah laila. Laila merinding melihat tatapan nyalang Alif.
''DIAM!! TUTUP MULUT BERACUNMU!''
''Kenapa? Yang kukatakan benarkan?'' ucap Laila sinis membuat kemarahan dalam diri Alif kian membuncah.
''DASAR PEREMPUAN TIDAK TAU DIRI!!!''
Laila menjadi emosi dikatai seperti itu. Laila menggempalkan tangannya dengan kuat.
''Apa hebatnya perempuan itu... Dasar buta!''
''DIAM!''
PLAK!
Alif melempar segala yang ada didepannya. Ruangannya berantakan, sekertarisnya hanya melihat dari kejauhan. Mereka baru akan turun tangan setelah keadaan sudah diluar kendali.
''Aku akan mempertimbangkannya jika kau bertunangan denganku. Lagi pula cepat atau lambat kau akan melupakannya,'' ucap Laila membusungkan dadanya.
Alif menatap jijik. Padahal perawakannya terlihat solehah dan puji-pujian selalu dilontarkan untuknya tapi lihatlah kelakuannya yang tidak berakhlak.
''Apa kau pantas... ,'' lirih Alif. Seumur hidup ia hanya akan menikahi satu orang dan orang itu adalah Rahmi.
Meski cinta selalu terlambat hadir. Tapi ia benar-benar mencintai istrinya. Namun pada kenyataannya ia memang memanfaatkannya pada awalnya. Istrinya patut marah tapi ia tidak akan mau istrinya dihina orang lain.
''APA DIA JUGA PANTAS! WAJAHNYA SAJA YANG CANTIK TAPI IA HANYALAH PEREMPUAN YANG MENAMPILKAN AURATNYA!''
PLAK!!
''DIA TIDAK SEPERTI ITU!''
''ITU KENYATAANKAN! IA HANYA BERPERAWAKAN SOLEH DIDEPANMU!''
Syut!
Hmp!
Niana membungkam mulut Laila dengan tangannya. Gadis itu tidak dapat melihat bahwa Alif sudah kehilangan kendali hingga bisa membunuhnya.
Laila memberontak tapi Niana tidak mau melihat tuannya melakukan hal buruk yang akan disesalnya.
Alif menghela napas begitu panjang untuk menenangkan dirinya. Tidak ada yang salah dengan yang dikatakan Laila tapi tidak semuanya benar. Saat Rahmi datang dia berpenampilan layaknya orang lain. Memakai pakaian mewah dengan rambut digerai yang memperlihatkan bagai tubuhnya yang tak boleh dilihat. Tapi Abby cepat mengubahnya, ia mengajarinya dengan baik hingga menjadi perempuan solehah hingga ia sendiri tak percaya melihat perubahannya.
Alif merasa bersalah, ia teringat akan perilakuny yang tak manusiawi pada istrinya.
''Bawa dia pergi! Kalian selidiki dari mana ia dapat informasi tersebut. Jangan lupa kasih tau Abby juga pengurus pondok untuk mendepaknya.''
''HMPHH!!''
Laila berontak ia ingin mangatakan sesuatu tapi Niana tidak membiarkannya berbicara apapun lagi.
Brak.
Pintu tertutup menyisahkan Alif sendiri diruangan yang berantakan.
Hari telah usai bergantikan malam. Alif pulang kerumah yang kini menjadi sepi tanpa kehadirannya.
''Tuan.. Tadi ada yang kirim ini,'' ucap Bibi menyerahkan sebuah map.
Alif melihat map itu dan membukanya.
Surat gugatan cerai.
Deg!
Alif meremas map itu. Ia melemparnya ke tong sampah. Ia tidak akan pernah mendatanganinya seumur hidup. Ia harus segera mengetahui kemana Rahmi pergi. Besar kemungkinan ia pergi ketempat Ryan. Tapi hari ini Ryan tidak datang mencari masalah dengannya. Bisa saja Istrinya pergi kesuatu tempat sendirian.
Alif diam seribu bahasa menatap makanan yang ada didepannya. Sup ayam, ayam goreng, ikan asam manis, udang balado, Alif teringat Rahmi akan sangat senang bila melihat menu yang tersaji.
kenapa disaat ia ingin bahagia selalu saja ada masalah yang menghampiri mereka. Seberapa enak makanan yang masuk kemulutnya tetap saja terasa hampa.
Saat memasuki kamar, sepi dan gelap seperti hidupnya tanpa Rahmi. Alif berjalan kearah ranjang dan menyentuh tempat dimana Rahmi selalu tidur. Tempat itu terasa dingin, dingin dan menusuk tulang-tulang.
Puk.
Alif menatap langit kamarnya, pernah satu kali ia tidak bisa tidur hingga ia usil dengan Rahmi. Ia menyentuh wajahnya dengan jemarinya hingga membuatnya terbangun. Alif masih ingat bagaimana istrinya itu bangun dengan wajah cemberutnya. Alhasil dari pagi Rahmi mengambek karna tidurnya terganggu. Alif harus ekstra super perhatian baru dimaafkan oleh Rahmi.
Syut.
Alif menutup matanya dengan lengannya. Berat, terasa berat sekali untuk mempertahankan kedamaian yang ia miliki. Dia tak lagi mendengar rengekkan manja juga senyum centil istrinya. Permatanya yang ia jaga membencinya. Tatapannya bagaikan ingin membunuhnya.
Menit, jam berlalu tapi Alif tak bisa tidur memori tentang Rahmi berputar dikepalanya. Meski yang ia lakukan hal sederhana namun terasa membahagiakan melakukan hal tersebut bersama istrinya.
Ting.
Sebuah notif muncul dihandphonenya. Alif melihat pesan dari siapa yang masuk.
Nona ada divila pantai laksara. Ia membeli vila tersebut tidak lama ini.
...
Pagi datang menjemput seorang perempuan yang akan berstatus janda. Ia Rahmi terbangun dari kasurnya ia membuka jendela besar yang menghadap kelaut. Kemarin ia sudah keperusahaan yang diwariskan untuknya. Meski sedikit cekcok tapi semua sudah teratasi. Turjunnya ia kedunia bisnis mungkim akan terjadi hal heboh bahwa anak konglomert yang hilang telah kembali.
Warisan kedua orang tuanya juga ia sudah mengurusnya tingga menghadapi penceraian juga kakaknya. Kedepannya pun pasti akan sulit karna persaingan bisnis akan melonjak naik. Ia juga masih harus waspada dengan Adelya direktur perusahaan dari KNY juga April anak Direktur RTM. Bisnis mereka cukup besar hingga akan sulit baginya apabila mereka berseteru.
Rahmi mempersiapkan diri untuk keperusahaannya. Ia harus melakukan banyak perombakan dalam perusahaannya yang telah terbengkalai selama beberapa tahun.
Ckelk.
Rahmi menyipitkan matanya melihat laki-laki yang ada didepannya. Ia tidak memencet pintu bel rumah bahkan menunggunya hingga ia keluar dengan sendirinya.
''Rah, bisa kita bicara... Apa yang kau tahu itu tidak semuanya benar.''
''Diam!''
Ia tidak akan goyah dengan bujukan Alif. Dirinya yakin bahwa itu adalah benar.
'Tidak semuanya benar? Berarti yang dikatakan Laila juga benar... '
''Jangan menghalangi jalanku!'' Rahmi menyingkirkan Alif dari hadapannya kemudian berjalan kemobilnya.
Greb!
''Rahmi! Dengar aku dulu!''
Plak!
Rahmi melepas genggaman Alif. Dirinya membenci laki-laki yang didepannya.
''Apa lagi yang ingin kau katakan!!''
Alif menatap sendu mata yang dulu menatapnya dengan perhatian kini hanya tersisa kebencian.
''Aku mencintaimu... Aku tulus mencintaimu.''
Rahmi menggempalkan tangannya. Ia benci dengar pernyataan cinta itu.
''Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali! Kenyataam kau memanfaatkanku tak akan berubah!!''
Alif memandang istrinya yang memiliki tubuh mungil. Ia harus menunduk untuk dapat melihat matanya.
''Rah, aku memang seperti itu awalnya tapi sekarang aku benar-benar menganggapmu istriku.''
''DIAM!! Aku tidak mau dengar apapun lagi!''
''Aku sudah menerima surat cerainya,'' ucap Alif tiba-tiba.
Rahmi menyunggingkan senyumnya.
''Kalau gitu cepat tanda tangani!''
Alif maju selangkah mendekati Rahmi.
''Aku sudah membuangnya dan tidak akan pernah kutanda tangani seumur hidup. Kamu akan selalu terikat denganku!'' Alif berucap didepan wajah Rahmi.
Jantung Rahmi berpacu dengan cepat. Ia takut, tubuhnya terasa lemas dengan pandangan Alif yang tidak akan membiarkannya begitu saja.
Set.
''Kyakk!! lepaskan aku!!''
Rahmi memberontak tapi sia-sia pukulannya terasa bagaikan hembusan angin bagi Alif.
Alif mengangkat tubuh Rahmi dengan mudah, mengunci pergerakannya agar tidak bisa kabur.
''Dasar bejat!!! Jahat!! Tidak tau malu!! Turunkan aku brengsek!!'' Makian, kian banyak terlontar dibibir mungil itu.
Telinga Alif terasa panas setiap mendengarnya.
''Makilah aku sepuasmu karna orang yang kau maki ini juga tak akan pernah melepasmu!''
Deg!
Jantung Rahmi terasa terhenti. Apa ia akan disiksa lagi.
Brak!
''KYAK!!!''
Rahmi berteriak karna Alif melemparnya kemobilnya dengan kasar. Punggungnya terasa sakit terbentur pintu mobil.
Alif mengunci pintu mobil membuat Rahmi tak bisa keluar.
''KELUARKAN AKU!!! LEPASKAN AKU!! BERANINYA KAU MEMPERLAKUKANKU SEPERTI INI!!!''
Alif tidak peduli ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya.
Rahmi tidak diam saja, ia melakukan berbagai cara agar Alif melepaskannya.
Prak!
Rahmi melempar sebuah besi dari belakang. Alif menahan besi itu agar tidak mengenainya. Rahmi benar-benar memberontak.
Prak!
Kaca mobilnya pecah. Melihat kelakuan Rahmi, Alif langsung membekam mulutnya.
''HMPHHHH!!''
CRES!
Alif menyuntiknya dengan obat bius. Akhirnya Rahmi menjadi tenang. Alif memandang wajah kacau istrinya, hatinya terluka. Tapi ia tidak mau melepaskannya, hingga ia nekat melakukan hal tersebut.
Mobilnya sampai dirumah. Ia menggendong Rahmi naik kekamarnya, ia menguncinya rapat-rapat.
Alif meletakkan Rahmi diranjang, ia melihat tangan Rahmi yang berdarah. Jantungnya terasa teriris, ia mengobatinya dengan perlahan. Kini ia kembali melihatnya tapi dengan keterpaksaan.
Alif membuka kerudung istrinya yang terlihat panas. Kepala perempuan itu terlihat memar, mungkin saat memberontak kepalanya terbentur. Bisa juga saat ia melemparnya kemobil.
''Rah, maafkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu... Entah sejak kapan kehadiranmu sudah bagaikan napas untukku... Maafkan aku istri kecilku.''