Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Pulang!


''Rah ... Kamu mau pulang?'' tanya Heira menatap Rahmi yang membereskan barangnya.


''Maaf kak,'' ucap Rahmi pelan. Rasanya tidak enak harus meninggalkan Kakaknya yang sudah menemaninya.


''Tidak apa ... Apapun keputusanmu kakak akan selalu mendukung. Rumah ini akan selalu terbuka untukmu,'' ucap Heira memeluk Rahmi.


Mungkin bila Rahmi pergi ia akan ikut menjadi bayangannya. Tinggal ia keluarga satu-satunya. Orang yang memilikk keluarga tak akan pernah tau bagaimana rasanya hidup tanpa keluarga.


''Terima kasih kak,'' ucap Rahmi membalas pelukan Heira.


Rahmi mengangkat kopernya keluar. Diluar sudah ada Alif yang menunggunya.


''Ayok pulang.'' Alif mengulurkan tangannya pada Rahmi.


Rahmi menatap laki-laki yang ada didepannya, selama ini ia tak pernah bisa menatap mata itu secara langsung.


''Sudah pulang sana,'' ucap Heira mendorong Rahmi kepelukan Alif.


Hap!


Alif langsung menangkap Rahmi, ia tersenyum pada Heira mengucapkan terima kasih.


Heira mengangguk kemudian menutup pintu rumahnya.


Alif mengenggam tangan Rahmi, ia menarik kopernya.


Setelah mereka pergi Heira membuka pintu secara perlahan melihat kepergian adiknya.


''WOII RYAN TUNGGUIN!!!'' teriak Kelvin menarik kopernya yang besar dengan susah payah.


''Pftt,'' Heira terkekeh melihat kelakuan Kelvin.


''Buruan!!!'' teriaknya.


Mereka pulang menggunakan helikopter. Ryan sudah tiba lebih dulu untuk mengkonfirmasi dengan pilotnya. Tinggal-lah Kelvin yang lelet.


SYUT!


SHUSHSHHS!


angin kencang akibat helikopter terasa bagaikan badai yang meniup wajah Heira. Helikopter itu perlahan terbang hingga tidak terlihat lagi oleh mata.


Kini semua mata tertuju pada Rahmi. Rahmi menarik baju Alif bersembunyi dibalik lengannya.


Srustst!


Ryan mengusap-ngusap kepala Rahmi ia tersenyum tanpa mengatakan apapun.


Kelvin tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya.


Mereka seolah memahami Rahmi.


...


Sret.


Mata itu perlahan terbuka yang pertama kali ia lihat adalah sebuah tangan didekatnya. Rahmi menatap hingga keatas dan melihat Alif yang menatapnya dengan begitu intens.


Rahmi menatap sekitar, ia berada disebuah kamar yang begitu besar. Terasa tidak asing namun tidak mengingat dimana.


''Ini dikamar,'' ucap Alif mengusap kepala Rahmi menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya.


'Kamar ....''


Degh!


Rahmi langsung bangun, ia sadar sekarang ia berada dikamar Alif.


Perasaan ia masih dihelikopter terbang diudara. Bangun-bangun ia sudah tidur dikasur Alif.


''Ada apa?'' ucap Alif lembut.


Perubahan sikap Alif membuat Rahmi menjadi bingung. Ia menunduk dalam-dalam entah apa yang harus ia katakan.


''Aku kembali kekamarku dulu!!'' ucap Rahmi dengan wajah memerah berlari keluar.


''Rahmi!!'' teriak Alif ingin menghentikannya.


Dhuk!


Mendengar suara jatuh Alif buru-buru mengejar Rahmi.


''Barangku kemana??!'' tanya Rahmi terkejut.


''Sudah saya pindahkan,'' ucap Alif enteng.


''Saya ... saya diusir?'' ucap Rahmi pelan dengan air mata yang terjatuh.


Alif mengenggam tangan Rahmi ia menariknya kembali masuk kekamarnya. Ia memperlihatkan barang-barang yang Rahmi cari.


''Saya pindahkan kemari,'' ucap Alif mengusap kepala Rahmi.


Barangnya telah tersusun dekat barang-barang yang Alif miliki, bahkan mejanya dulu ada didekat meja kerja Alif.


''K-kenapa?'' tanya Rahmi menatap Alif.


Alif terkejut mendengar Rahmi bertanya kenapa.


''Maaf... Kita-kan memang sudah seharusnya begini sejak awal,'' ucapnya mengenggam tangan Rahmi.


''Sungguh?'' mata Rahmi tampak ragu dengan keputusan Alif bisa saja bila mereka tidak satu jalan lagi ia akan diusir keluar.


Alif tidak mengatakan apapun tapi matanya mengatakan bahwa ia bersungguh-sungguh.


Alif memeluk Rahmi dari belakang, sebuah pelukan yang tak pernah ia bayangkan akan mendapatkannya dari suaminya.


''Sudah mari tidur lagi,'' ucap Alif menuntun Rahmi.


Sore yang menjelang malam. Rahmi tertidur dipelukan hangat dari suaminya.


...


Tin, tin, tin.


Alif mematikan alarmnya. Ia tersenyum saat bangun yang ia lihat adalah wajah damai dari istrinya yang terlelap. Dia tak lagi membutuhkan obat tidur, Rahmi telah menyembuhkan sakit kepalanya juga insomnianya.


Benar kata dika ia sebenarnya tak butuh obat tidur karna apa yang ia lakukan bertentangan dengan hatinya.


Alif menuruni tangga secara perlahan, ia manatap seisi rumah yang entah mengapa terasa lebih hangat dibanding sebelumnya.


''Tuan ... Nona ... '' ucap Bibi pelan dengan khawatir.


Alif mengisyaratkan tangannya untuk tidak berisik agar Rahmi bisa tidur dengan lelap dirumah itu.


Memahami maksud Alif bibi tersenyum begitu lebar.


...


Matahari mulai menyusup kedalam kamar membangunkan seorang perempuan yang tertidur nyenyak diatas kasur yang begitu besar.


Syut.


Pling.


Pling.


matanya berkedip-kedip untuk mengumpulkan kesadarannya. Rahmi membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan tidurnya yang terasa nyenyak. Tiba-tiba ia teringat bahwa ia ada dikamar Alif.


'AKHH!!' Rahmi berteriak dalam hati dan terbangun melihat sekitar.


Ruangan itu terasa sepi sepertinya Alif sudah pergi.


'Bisa-bisanya aku tidur nyenyak!!'


Wajah Rahmi memerah dikala mengingat ia tidur dipelukan Alif.


'Hus, hus!!'


Rahmi mengipasi wajahnya yang terasa panas sambil menyingkirkan ingatan memalukan itu.


Rahmi turun dari kasur dan berjalan keluar kamar.


''Bibi!!'' seru Rahmi melihat Bibi membersihkan meja makan.


''Nona lapar?''


Rahmi mengangguk ia menghampiri bibi dan memeluknya.


''Kenapa nona?''


''Kangen,'' ucap Rahmi manja.


Bibi terkekeh ia memeluk Rahmi dengan gemas.


''Bibi siapkan dulu makanannya,'' ucap Bibi dan diangguki oleh Rahmi.


...


''Heira kau mau kemana?'' tanya Daniel melihat Heira memakai pakaian dengan rapi.


''Kembali ... '' ucapnya pelan.


''Begitu yah ... Apa karna Rahmi?'' tanya Daniel.


''Iya, aku akan melindunginya!'' ucap Heira tegas.


''Baiklah hati-hati dijalan,'' ucap Daniel melambaikan tangan.


Heira mengangguk dan siap untuk pergi.


...


Tok, tok.


Cklek.


''Rahminya ada?''


Bibi menatap laki-laki yang datang mencari majikannya.


''Maaf?''


''Ada! ada! Silahkan masuk. Saya panggilkan nona dulu,'' ucapnya mempersilahkan-nya masuk.


Ia duduk memandang seisi rumah ternyata adiknya tinggal dirumah seperti ini. Ryan datang dengan niat menjenguk Rahmi juga memperbaiki hubungan mereka.


Rahmi tengah duduk memandang tanamannya yang kian membesar dengan ciri khasnya masing-masing.


''Nona ada yang mencari nona,'' ucap Bibi menghampiri Rahmi.


Rahmi beranjak dan mengikuti Bibi.


'Siapa yang mencariku?' pikir Rahmi.


Saat sampai diruang tamu Rahmi mematung. Ryan duduk menanti adiknya. Rahmi tidak menduga Ryan akan datang langsung kerumahnya.


''Nona?'' Bibi berbalik melihat Rahmi tidak melanjutkan langkahnya.


''Ah! iya!'' Rahmi segera berjalan kemudian duduk disofa didepan Ryan.


''Kenapa Anda kemari?''


Ryan tersenyum kecut, padahal ia memanggil Heira dengan sebutan Kakak dengan begitu akrab. Tapi kenapa Rahmi begitu sulit mengatakan Kakak untuknya.


''Aku hanya ingin melihat adikku,'' ucapnya pelan.


Rahmi diam, sebenarnya ia tak menyalahkan Ryan. Tapi ia belum bisa berdamai dengan takdir, setiap melihat wajahnya dadanya akan terasa sesak.


''Aku ingin mengajak keluar.. Kapan kau ada waktu?''


''Nanti kutanyakan dengan Alif,'' ucap Rahmi mengalihkan pandangannya.


Ryan menelan salivanya berat, sesulit itukah adiknya berdamai?


''Baiklah. Saat waktunya tiba aku akan mengajakmu pergi melihat-lihat,'' ucap Ryan pelan.


Ia beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada Rahmi.


''Kakak pulang dulu.''


Rahmi hanya mengangguk tanpa mengantarnya.