Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
STAR BANGUN!! JANGAN PERGI!!


BRAK!


CKIYTT.


WIIIIIYUUUUUU.


...


Ryan Berlari keruang UGD. Jantungnya terasa terhenti. Diberitakan kecelakaan terjadi dipersimpangan dermaga.


Mobil Alif terlempar bahkan meledak. Didetik-detik terakhir sebelum ledakan, Alif keluar dengan Rahmi beserta sopirnya berlumuran darah.


Kecelakaan tersebut memakan banyak korban.


Ryan menunggu seorang diri diruang tunggu. Menanti dan terus menanti.


Drab!


Ryan mengalihkan pandangannya kesuara langkah yang begitu cepat.


''Heira... ''


''Adikku tidak apa-kan!'' ucap Heira mengguncang bahu Ryan.


Ryan tidak berani menjawab. Heira pasti sudah tau jawabannya.


Heira mundur beberapa langkah, ia terduduk dikursi tunggu dengan begitu khawatir.


''Payah... Aku sama sekali tak bisa melindunginya.''


Berjam-jama berlalu tapi ruang UGD masih belum menandakan akan terbuka.


Semakin banyak dokter juga suster yang masuk. Berbagai obat-obatan juga alat medis selalu terkirim kesana. Seberapa parah kondisi Rahmi hingga ia harus berada didalam sana berjam-jam.


'Star, adikku kamu harus baik-baik saja'


'Rahmi, kamu harus bertahan' Heira mengatupkan kedua tangannya berdoa.


Ryan menunggu dengan khawatir jantungnya berdebar tidak karuan. Ia takut terjadi sesuatu hal buruk dengan adiknya. Terlepas dari kepergian orang tuanya, keluarganya sekarang tinggal adiknya.


'Aku tidak akan tinggal diam kalau terjadi sesuatu dengan adikku'


''Rahmi... Tidak apa?'' suara lemah Alif mengalihkan perhatian mereka.


Kepalanya diperban dengan tangan yang menggunakan penyanggah, kakinya terluka hingga membutuhkan alat bantu untuk berjalan.


''Kamu kenapa kemari! Seharusnya kamu menunggu saja! Dengan kondisi itu kau ingin membuat situasi semakin runyam!'' ucap Ryan.


Alif hanya tersenyum kecut. Kata Ryan benar, tapi saat teringat kondisi Rahmi ia tidak bisa diam ditempat saja.


Tin.


Ruang UGD terbuka.


Para dokter juga suster keluar satu persatu.


Firasat Ryan langsung berubah tidak enak.


''Kami minta maaf... Setelah berusaha sekuat tenaga tapi tuhan berkata lain.''


Degh!


Greb.


Heira langsung mencengkram kerah baju sang dokter.


''APA MAKSUDMU HAH!! ADIKKU MASIH HIDUP!''


Ryan menepuk bahu Heira.


Set.


Brankar dari ruang UGD keluar dengan tubuh yang telah terbujur kaku tertutupi kain putih.


''Gak! Gak mungkin!'' ucap Alif berjalan mendekat.


''Rah... kamu gak bakal ninggalin aku kaya gini-kan... Kamu harus nemenin aku sampai tua...''


Alif berjalan perlahan kemudian membuka kain putih itu.


Degh.


''STAR!! BANGUN!!! JANGAN BOHONGIN KAKAK!! GAK! INI GAK MUNGKIN!!! KAMU PEMERANNYA!! KENAPA KAMU YANG PERGI!!'' Ryan langsung histeris melihat wajah adiknya pucat pasih dengan tubuh kian mendingin.


Alif mengenggam tangan Rahmi begitu erat.


''Rah, jangan hukum aku kaya gini... ''


Dokter juga suster berusaha menahan Ryan tapi sia-sia. Ryan memeluk tubuh Rahmi kemudian mengguncangnya.


''STAR! BANGUN!!! INI KAKAK! RYAN! KAMU GAK BOLEH PERGI KAYAK GINI!!!''


''Rah... mi''


Tes.


Air mata Heira terjatuh dan semakin deras.


''RAHMI!!! JANGAN PERGI!! AYO BANGUN!!!''


Heira tampak histeris sama seperti Ryan.


Mereka kehilangan orang berharga dan tinggal satu-satunya keluarga yang mereka miliki.


Alif hanya menatap dalam kekosongan. Rasanya apa yang ada didepannya tidak nyata.


''Rah... Rah!! RAHMI!!!''


Alif menyingkirkan Ryan juga Heira dari sisi tubuh Rahmi, ia menatap sekujur tubuhnya. Tubuh itu menjadi dingin, pelukan hangat yang ia rasakan berubah menjadi dingin.


Alif mencengkram bahu Rahmi. Ia tidak mau ditinggal seperti saat ibunya pergi.


''RAH, BANGUN!!''


''Rah... BANGUN!! BANGUN, RAH!!!''


Alif terlihat seperti orang gila memeluk tubuh istrinya dan terus memanggil namanya.


Dokter berusaha memisahkan mereka dan membawa brankar itu keruangan otopsi sebelum dikramasi.


Dhuk.


Ryan terjatuh. Masih banyak hal yang belum ia tenjukkan, ia masih harus melakukan banyak hal. Tapi semua sudah terlambat.


Heira tetap berdiri dengan tangan dan kaki yang gemetaran menahan tangis.


Alif hanya menunduk begitu dalam dengan air mata yang turun bagaikan hujan.


Rumah Alif kini berdiri sebuah bendera kuning, bendera duka yang barisan jalanan telah penuh.


Kemarin digosipkan Star telah kembali. Tapi berita kematianya lebih mengguncang lagi.


Diantara orang-orang yang bersedih hanya beberapa yang benar-benar menangis.


''Alif... Aku-''


Alif tidak mengatakan apapun, pandangannya kosong. Ia telah kehilangan cahaya dalam hidupnya.


Rumah duka telah penuh dan perlahan-lahan menyisahkan beberapa orang yang akan mengantar jenazahnya.


Yang paling menyakitkan, Alif yang mengimami shalat jenazah istrinya.


''Rya... Aku turut berduka cita,'' ucap tunangannya.


Ryan menatap April dari atas hingga kebawah. Ia menggempalkan tangannya kemudian mengalihkan pandangannya takut akan menghancurkan acaran duka.


Sepanjang perjalanan mengantar jenazah banyak orang tak dapat menahan tangis.


''Nona... cepat sekali pergi... Huhuhu'' tangis Bibi Hani kian kencang. Ia merasa begitu kehilangan, mengingat tak akam ada lagi sosok kecil yang akan memanggilnya Bibi.


Bibi sudah menganggap Rahmi seperti putrinya. Bagaimana tidak, setiap saat ia akan bersembunyi dibalik roknya bila takut bertemu Alif. Sesudah itu Rahmi akan tersenyum cengigiran kepadanya.


Saat sampai ditanah pemakaman Ryan tetap harus berperan. Ia yang menurunkan jenazah adiknya dan Alif yang mengumandangkan adzan.


Heira menaburi bunga diatas kuburan adiknya.


Tinggal beberapa diantara mereka. Ryan yang awalnya tidak mau pergi dibujuk oleh tunangannya. Heira masih tetap disana dengan Alif.


''Heira ayo pulang... besok kita kesini lagi, kamu belum makan apa-apakan,'' ucap Karla menepuk bahu Heira. Heira mengangguk pelan kemudian beranjak dari sana.


Alif memandang kuburan itu, ia mengusapnya dengan begitu pelan bagaikan barang berharga.


''Makasih.''


...


Set.


Abby yang duduk dikursi dengan pandangan kedepan melihat kepintu.


Degh!


Alif datang dengan pakaian berduka, ia membawa foto Rahmi yang dikalungi bunga.


''Alif! A-apa yang terjadi?!''


''Abby... Rahmi udah gak ada.''


Degh!


Abby yang berdiri menghampiri Alif langsung terjatuh.


''Nak, kenapa kamu begitu cepat ninggalin Abby... ''


Alif menatap dari atas tanpa niat untuk membantu ayahnya.


''Alif!!! kenapa kamu gak nolong Abby!'' ucap Zahra keluar karna mendengar suara kegaduhan.


Zahra menatap penampilan Alif hingga foto yang kini terpasang bunga.


''Ra... Telah pergi... ''


Set.


Zahra ikut terjatuh dengan air mata yang mengalir.


''Hari ini aku berduka... Aku menshalati juga mengazankannya.''


Abby juga Zahra berdiri, mereka memeluk Alif begitu erat.


''Nak, yang tabah,'' ucap Abby menepuk bahu Alif.


''Abby sakit ginjal...''


Zahra juga Abby terkejut mendengar perkataan Alif.


''Benarkan, Abby?''


Zahra langsung berdiri didepan Kyai Chandra. Ia melihat tatapan menyeramkan dari Alif, ia bisa saja memukul Abby.


''Aku mau dengar... Alasan kalian yang sebenarnya,'' ucap Alif menalan ludahnya dengan berat.


Pengkhianatan paling akhir mungkin adalah keluarganya sendiri.


''Benar! Aku yang mengambil ginjal ayah Rahmi untuk Abby. Tapi itu untuk kepenti-''


''Diam! Apa kai tak pernah berpikir apa yang akan Rahmi rasakan bila mengetahuinya!''


''Tapi ia juga rela!''


''Tapi anak mana yang akan rela!!!''


''Jadi apa alasan kalian menikahkan Rahmi? Harta warisan? menutupi kesalahan Abby? Mencegah rahasia itu terbongkar bahwa Abby penyebab meninggalnya kedua orang tuanya?''


Abby menggeser tubuh Heira, Alif sudah tau semuanya.


''Benar ini salah Abby... Saat itu Abby mengendarai mobil dengan kencang karna akan menjemputmu.''


''Jangan menjadikanku sebagai batuanmu!''


Abby tersenyum kecut, ia tidak bermaksud seperti itu.


''Abby begitu terburu-buru menginggat hujan, jadi jalanan akan sepi... Tanpa Abby duga sebuah mobil berjalan perlahan dan ketika Abby menginjak rem, remnya blok. Mobilnya terlempar, Abby menyelamatkan Rahmi lebih dulu karna ia terlempar didekat Abby.''


''Lalu kenapa Abby berbohong tentang janji pernikahan!''


''Saat itu Abby terlalu terkejut untuk segera bertindak hingga didetik terakhir Abby baru bergerak untuk menyelamatkan mereka. Bila saja Abby bergerak lebih cepat mungkin tak akan ada korban.''


''Janji itu tidak bohong, hanya melenceng.'' Zahra menuntun Abby untuk duduk.


''Terakhir mereka memintaku menjaga Rahmi... Hanya itu.''


Alif memincingkan matanya, tapi Abby terlihat mengatakan yang sebenarnya.


''Lalu kenapa Abby menikahkannya begitu cepat!''


''Saat itu Abby mengetahui keluarganya. Abby ingin memulangkannya tapi saat itu Abby menemukan kenganjalan. Keluarga mahesa adalah kerabat jauh dari keluarga kita. Sebelum Abby menjemputmu Abby bertemu seseorang dari keluarga mahesa. Situasinya menyimpang, dan dugaan Abby benar. Dia berbahaya, ia melakukan eksperimen berbahaya. Tolong mengerti Abby, Abby menyelidikinya hingga sadar makna sebenar dari menjaganya.''


''Apa yang Abby temukan?''


''Rahmi salah satu percobaan dari eksperimennya. Ada sebuah data yang menunjukkan eksperimennya berhasil terhadap Rahmi.''


''Abbykan bisa menjaganya!!''


Abby menggeleng pelan.


''Tidak! Abby tidak bisa, makanya Abby menikahkannya denganmu. Perusahaan ibumu jatuh ketanganmu, dengan yang kamu miliki kamu bisa melindunginya.''


''Lalu kenapa kalian merebut ginjal Ayah Rahmi!''


''Ginjal tersebut dalam dunia kedokteran sah saja. Tapi harus ada izin keluarga, saat sampai dirumah sakit ayah angkat Rahmi terbangun. Ia sendiri yang menawarkan organ tubuhnya.'' Zahra mengeluarkan surat perjanjian yang sudah ditanda tangani.


''Mungkin yang kau dengar benar, tapi tidak secara menyeluruh,'' ucap Abby dengan sedih. Air matanya kembali menetes mengingat kepergian Rahmi.


Zahra memeluk Abby memberinya kehangatan. Alif hanya memandang dari kejauhan, setidaknya ia tidak akan ragu akan keluarganya.


Sekarang yang harus ia lakukan menangkap pelaku dari penyebab kecelakaan yang terjadi. Supir trak yang menabraknya dikabarkan kabur. Tapi Alif tau ia tidak akan biaa kemana-mana karna sudah masuk lingkup media.


Wajahnya telah tersebar hingga sulit keluar negeri dalam waktu singkat.