
Yuki baru saja mandi dan menatap jengkel tanda merah di lehernya yang cukup kentara. Suami mesumnya itu sengaja memberi banyak tanda di sekitar lehernya.
"Ya ampun... jelas banget lagi, mana pagi ini ada bimbingan, rese' banget deh suamiku," gumam Yuki sambil menilik penampilan dirinya di depan cermin.
"Apasih sayang... pagi-pagi udah di tekuk gitu mukanya." Asher berdiri tak jauh dari Yuki.
"Ini Mas ulah kamu, sengaja banget kamu kan? Mana banyak lagi." Yuki ngedumel panjang pendek.
"Itu artinya kamu milikku seorang, biar orang yang di dekat kamu tahu kalau kita begitu sangat harmonis dan saling menyayangi," jelas Asher tersenyum bangga.
Yuki menggerai rambutnya yang panjang, biasanya ia akan menyukai dengan menggulung jadi satu namun kali ini cukup dihindarinya sebab rambut panjangnya itu sedikit menyamarkan tanda merah yang terletak jelas.
"Dandannya nggak usah cantik-cantik."
"Aku nggak dandan Mas, ini cantik dari lahir," sombong Yuki sebal demi melihat suaminya yang bertambah posesif.
"Ya udah ayo sarapan dulu."
"Hmm," jawab Asher sambil mengekori istrinya yang berjalan mendahului. Sejoli itu melangkah lebar menuju ruang makan.
Pagi hari ini kediaaman Asher Daharyadika nampak sibuk, baik Asher maupun Yuki sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Yuki tengah menyantap sarapan paginya ketika Sky rewel, tidak biasanya bayi gembulnya itu menangis. Yuki langsung menghentikan acara sarapannya seketika.
"Mbak Sky kenapa? Kok tumben banget rewel gini, mana aku ada kelas lagi." Yuki mengambil alih Sky yang berada tak jauh darinya.
"Sepertinya demam Buk, ini mau tumbuh gigi jadinya rewel."
"Oh iya bener, sini ikut Bunda sayang."
Yuki tengah mengASIhi dengan kerepotannya makan pagi, Asher yang melihat itupun langsung mendekat ikut mengelus Sky. Tangan kekarnya terulur mengambil piring di meja makan dan menyuapi istrinya untuk melanjutkan sarapan.
"Dilanjutin sambil kasih ASI aku suapin," pinta Asher.
"Eh, emang bayi gitu ya kalau tumbuh gigi rewel?"
"Ada yang iya, ada yang nggak tapi untuk Sky ini kayaknya termasuk yang iya. Dua hari ini uring-uringan susah makan ternyata mau tumbuh gigi."
"Kasihan kamu dek, nggak enak makan ya?" Asher menghujani ciuman di kepala Sky, sesekali masih menyuapi istrinya dengan telaten sampai isi piring itu licin tandas.
"Makasih Mas," gumam Yuki setelah kenyang.
"Kamu nggak ngantor?"
"Nggak!" jawabnya santai.
"Kenapa? Libur terus?"
"Kerja dari rumah. Biar ada banyak waktu buat kalian."
"Owh... gitu."
Setelah Sky tenang dan anteng, Yuki menitipkan pada pengasuhnya sebab gadis itu harus bersiap-siap ke kampus.
"Kamu kenapa Mas? Kok ngikutin aku mulu dari tadi."
"Nggak pa-pa pengen ngikutin aja."
"Aku antar ya?" tawar Asher antusias.
"Boleh?" jawab Yuki cuek.
Jarak rumah dan kampus tidak begitu jauh sehingga dalam waktu kurang dari lima belas menit mobil Asher sudah berada berada di pelataran kampus.
Yuki merasa aneh ketika dirinya turun dari mobil dan Asher terus mengikutinya.
"Lho Mas, mau kemana? Aku kan harus masuk."
"Nungguin kamu, udah sana masuk good luck ya semangat."
"Makasih, aku masuk dulu."
***
Yuki tersenyum sumringah saat keluar dari ruangan dosen pembimbing. Kali ini dia bisa next bab tanpa harus melewati perdebatan yang cukup pelik. Dia bisa bernapas lega untuk jeda waktu dua minggu ini. Yuki masih mendekap draf skripsi dengan tas yang menggantung di bahu kirinya.
Semua agenda hari ini berjalan lancar, ia pun bisa langsung pulang ke rumah dengan senang. Ibu dari satu anak itu berjalan gontai melewati koridor kampus.
Ia langsung menuju parkiran namun tidak menemukan suaminya di sana. Gadis itu mencoba menghubungi lewat ponselnya tersambung namun tidak di angkat. Yuki lebih memilih menunggu sambil memainkan ponselnya setelah mengetik pesan singkat pada suaminya.
"Oh ya... pantes lama."
"Lancar bimbingannya? Kok senyum-senyum gitu. Jangan bilang senang karena habis ketemu Bisma."
"Aman terkendali, udah nggak sabar lulus dari sini. Biasa aja Mas aku tuh seneng karena bisa next bab."
"Semoga apa yang menjadi impian kamu tercapai." Ashe mengacak rambutnya, lembut.
"Langsung pulang atau mau mampir dulu."
"Super market sekalian Mas, mumpung udah di luar. Sekalian belanja bulanan aja."
"Siap cinta."
___
"Mau beli apa saja." Mereka sudah di dalam supermarket dengan Asher mendorong trolynya dan Yuki mengambil barang apa saja yang biasa untuk keperluan sehari-hari.
"Mas aku kok rada pusing ya," keluh Yuki di sela-sela belanja.
"Kamu kecapean kayaknya yank, tunggu di mobil saja biar aku yang handle belanjaan."
"Emang bisa?"
"Diusahain bisa, tolong kasih catatan saja yang harus di beli apa saja."
"Iya, aku tulis lewat pesan. Aku tunggu di mobil ya kalau bisa jangan lama-lama ini beneran aku pusing mana mual juga."
"Ya udah aku antar, belanjanya segini dulu aja. Atau mau ke rumah sakit."
"Nggak usah Mas, nggak pa-pa selesain dulu aja udah di sini juga nanggung. Aku bisa sendiri jangan khawatir." Yuki langsung berjalan keluar meunggu di mobil sementara Asher berjalan cepat mengambil apa saja yang ada di catatan.
Pria itu sedikit cemas, dan langsung bergegas keluar begitu menyelesaikan pembayaran. Sesampainya di mobil, Asher tidak menemukan Yuki.
"Kemana sih, katanya tunggu di mobil. Apa-apaan malah ngilang." Pria itu mencoba menghubungi lewat ponselnya.
"Dimana?"
"Toilet Mas, aku mual?" jawab Yuki di sebrang sana dengan nada lemes.
"Tunggu Mas kesitu." Sambungan dimatikan dan Asher langsung melesat menuju toilet umum.
"Ki... Yuki!" teriak Asher di depan pintu toilet wanita.
"Mas." Yuki keluar dari salah satu pintu toilet dengan wajah pucet.
"Astaghfirullah... sayang kamu pucet banget." Asher segera menggendongnya dan langsung membawa ke dalam mobil.
"Kamu pucet, minum dulu." Asher menyodorkan minuman kemasan yang sudah di buka sealnya terlebih dahulu.
"Kita ke dokter ya?" ucapnya khawatir.
"Langsung pulang aja Mas, aku pingin rebahan. Aku masuk angin kayaknya."
"Beneran, nggak mau ke dokter aja," tawarnya cemas.
"Iya Mas... ayo cepet jalan." Yuki lebih memilih memejamkan matanya sepanjang perjalanan pulang dengan Asher menggenggam tangannya sementara tangan lainya menyetir.
Setelah dua puluh tiga menit mereka sampai di rumahnya, Asher langsung turun dan menggendong istrinya membawa masuk ke dalam rumah. Membaringkan istrinya di kasur dengan perlahan.
"Istirahat dulu aku panggil dokternya aja kalau kamu nggak mau ke rumah sakit," ujar Asher. Pria itu menghubungi dokter yang sering di undang ke Keluarganya.
"Udah aku telfon dokternya, otw. Kamu sebenarnya kenapa sih.. kok tiba-tiba pucet gini. Jangan sakit aku paling nggak bisa lihat kamu terbaring lemes gini." Asher duduk bersila di ranjang sambil mengelus kepala istrinya dengan sayang sesekali menciuminya.
***
Hallo All...
Author mau kabulin buat kalian yang pingin dilanjut seasons 2 insyaAllah langsung aku up double bab sekaligus setelah ini tamat... yang udah kepo banget sama Sky dan jodohnya nanti kira-kira siapa ya...? yang pasti bakalan lebih seru. Di tunggu ya...
Sambil menunggu seasons 2 up boleh banget mampir di sini dulu ~>klik profil baca__ Love You More.