Salah Meminang

Salah Meminang
Part 52


"Kangen...." Ke dua sahabat itu saling berhambur memeluk begitu bertemu.


"Astaga.... makin cantik aja bumil. By the way kita udah berapa lama nggak ketemu. Sumpah aura lo makin bersinar aja."


"Apaan sih gaje," elak Yuki sambil memilih duduk di bangku depan kost Gea.


"Lo juga makin cantik, tapi... kenapa nih kok kurusan?" Selidik Yuki menelisik.


"Kamu kesini sama siapa?" tanya Gea, semalam memang dua sahabat itu sudah bertukar pesan ingin bertemu mumpung momentnya pas sama-sama free kuliah hari ini.


"Di anter Asher sampai depan dia ke kantor nanti sore baru jemput."


"Jadi beneran lo udah baikan sama dia? syukur deh mungkin emang yang terbaik begitu."


"Tawarin minum dulu, ajak masuk kek atau apa? haus nih." Seloroh Yuki


"Iya iya... santai lah tinggal masuk. Mau minum apa bumil cantik?"


"Pingin jus nih kayaknya enak yang seger-seger."


"Kalau itu bentar gue minta tolong mbak Rina beliin." Mbak Rina penanggung jawab yang mengurusi dan membersihkan area kost Gea. Gea pun keluar dari kamar dan mencari sosok mbak Rina.


"Mbak Rin, tolong beliin jus tiga, sirsak satu, mangga satu dan yang satu terserah mau rasa apa buat mbak Rin. Eh sama lotek tiga bungkus, rujaknya satu aja."


"Siap mbak Gea, laksanakan." Setelah mengangsurkan uang seratus ribuan Gea kembali ke kamar kostnya.


"Tunggu bentar Ki, lagi di beliin kalau haus minum air putih dulu." Ujar Gea


"Boleh deh," Yuki langsung menuju dispenser lalu menuang air putih ke dalam gelas. Ia juga telah memonopoli cemilan Gea yang teronggok di atas meja.


"Jadi gimana-gimana, gue udah nggak sabar denger lo curhat."


"kalau boleh jujur, dari hati nih... aku ngerasa masih sedikit ragu tapi sejauh ini Asher banyak berubah jadi nggak salah kan aku kasih kesempatan yang kedua, apalagi sekarang aku mau punya anak gini, dia juga butuh ayahnya." Yuki mulai sesi curhatnya


"Nggak salah kasihan seratus persen sama anak lo nanti kalau pisah. Tapi gue jadi kasihan sama Amar, dia masih nungguin lo Ki."


Huhf....


Yuki menghembuskan nafas panjang.


"Dia cowok yang baik, sudah seharusnya mempunyai pasangan yang lebih pantas dan single tentunya. Aku udah lama nggak pernah kontak sama dia, terpaksa aku blok, aku bingung aja cara ngasih pengertian ke Amar. Jujur aku juga ngerasa bersalah dan nggak enak banget udah giniin dia mengingat betapa baiknya dia sama aku, tapi aku tidak bisa terus-terusan bersikap care sebab Amar menanggapi berbeda. Aku tidak mau memberi harapan yang bahkan aku sendiri pun tidak tahu ujungnya seperti apa?"


"Iya gue tahu sih... kalau gue di posisi elo juga gue pasti ngelakuin hal sama seperti elo. Nggak usah ngerasa nggak enak gitu lah... Amar lama-lama juga bakalan ngerti."


"By the way lo sekarang udah cinta sama suami lo?"


"Salah nggak sih... kalau pada akhirnya aku jatuh cinta sama Asher?"


"Nggak salah lah... apalagi ini jatuh cintanya pada pasangan halal sendiri. Yang salah itu kalau jatuh cinta sama suami orang."


Tok tok tok


"Mbak Gea pesanannya mbak...." suara mbak Rina mengantar makanan.


"Oke trims ya mbak."


"Sama-sama mbak Gea." Pamitnya lalu pergi meninggalkan kamar.


"Bumil makan dulu, nih aku beliin rujak, lotek plus jus sirsak kesukaan lo."


"Emang yang paling bisa bikin aku seneng." Yuki langsung berbinar mendapati makanan di depan matanya. Ia bahkan langsung menghabiskan lotek dalam waktu singkat.


"Lapar buk? rakus bener... baru pukul sebelas siang loh ini belum waktunya makan siang."


"Ikhlas nggak sih berisik amat."


"Double ikhlas lah.... nambah juga boleh, tapi beli sendiri."


"Pelit," sungut Yuki tapi tetep menghabiskan makanannya


"Oke deh sebagai gantinya besok sore gue traktir deh di kafe langganan kita dulu gimana?"


"Mantap siap..."


Mereka menghabiskan waktu di kamar dengan sesi curhat, nonton drakor kesayangan sampe nangis bombay dan diskusi kuliah yang blibet. Tak terasa Yuki sudah menghabiskan waktu berjam-jam di rumah kost Gea. Namun hingga jam lima sore Asher belum juga kunjung menjemput.


"Nginep sini aja Ki... seru-seruan bareng sampai pagi." Seloroh Gea antusias.


"Nggak bisa Ge, habis ini rencananya mau ke rumah Mamanya Asher. Kangen aku sama Mama Rianti."


"Martua lo? baik banget sih dia. Semoga aku lusa kalau menikah dapat martua yang baik kaya tante Rianti.


"Aamiin...."


"Lo istirahat aja dulu sambil nunggu. Gue mau mandi bentar."


Sementara Gea mandi, Yuki merebahkan dirinya di kasur Gea. Tempat kost Gea yang sekarang ini lebih luas dan nyaman juga bersih. Jelas mehong ini mah sebulannya.


Yuki kembali membuka aplikasi whatsapp namun belum ada tanda-tanda Asher mau menjemputnya. Pria itu bahkan tidak menghubungi dan menelfonnya seharian ini.


***


Asher memang seharian ini sangat sibuk. Ada sedikit masalah dengan data yang di berikan sekretaris nya. Data yang di kirim tidak sesuai dengan yang berada di lapangan alhasil dia harus mengecek ulang barang yang baru di terima. Selain urusan di kantornya ia juga ada kunjungan di kantor Papa Dika. Sehingga seharian ini benar-benar sibuk bahkan sampai tidak sempat makan siang.


Ia baru teringat akan menjemput Yuki di rumah kost sahabat nya itu setelah pukul enam lewat. Ia akan merampungkan urusan kantor untuk hari esok dan segera melajukan kendaraannya ke rumah temannya Yuki.


Sepanjang perjalanan ke sana Asher merasa gusar sebab seharian ini ia bahkan lupa memberi kabar atau hanya perhatian kecil untuknya. Asher semakin gusar tatkala sudah sampai di depan kost sahabat dari istrinya itu namun Yuki malah tidak mengangkat telfonnya.


Asher baru akan masuk melalui gerbang utama kost-kostan khusus putri begitulah tulisan yang tertempel di plat gerbang setinggi dua meter tersebut.


"Cari siapa Pak? mohon maaf tamu cowo di larang masuk kalau ada keperluan biar saya panggilkan."


"Istri saya lagi main di sini, tolong panggilkan mas namanya Yuki."


"Main di tempat kost siapa?"


"Aduh nggak nanya malah saya, teman istri saya namanya siapa?"


"Wah... yang kost di sini banyak Pak, coba di telfon dulu nanti saya antar ke dalam buat nyari kalau masih belum diangkat. Tapi bener kan situ suaminya."


"Iya lah emang di kira apanya." Kesal Asher sedikit memekik


___


"Ki... handphone lo nih dari tadi bunyi terus. Suami lo telfon!" Teriak Gea dari kamar, Yuki sedang berada di dalam kamar mandi.


"Bentar..!!" Saut Yuki dari dalam


Yuki menyembul dari balik pintu dengan wajah segar. Rasa kantuk yang sempat melanda berganti dengan gugup. Ia menerima panggilan dari Asher dan langsung bergegas ke luar dari kamar kost Gea.


"Aku balik dulu ya..." Mereka berdua saling berpelukan.


"Besok jangan lupa di tempat biasa." Ujar Gea mengingatkan


"Siap deh... oke bye sampai ketemu besok." Lalu kami berdua meninggalkan halaman kost Gea.


Lima menit setelah mereka sampai di mobil hanya keheningan yang melanda. Dan itu membuat Asher tidak tahan. Walau sebenarnya ia cukup capek hari ini tapi ia harus pro aktif.


"Sayang... kok diem aja. Sorry seharian ini pekerjaan banyak banget jadi nggak sempet kasih kabar. Ini juga belum selesai tapi masih ada hari esok. Ayolah jangan cemberut gitu... aku butuh moodbooster."


Yuki masih diam saja, pembawaan wanita hamil memang sulit di tebak bisa tiba-tiba ngambek atau bahkan menangis nggak jelas.


"Jadi ke rumah Mama?" sambung Asher setelah mobil yang di kendarainya berjalan berbaur dengan kendaraan lain.


Yuki diam saja namun ia mengangguk. Ia masih sedikit kesal karena pesan dan telfonnya tadi sore di abaikan. Bahkan ia berjanji tidak sampai petang tapi ini malah apa jemput sudah malam. Padahal ia sudah berjanji mengunjungi rumah mama Rianti di sore hari.


Asher menyunggingkan senyum melihat istrinya yang cemberut tapi tetap mengangguk patuh, itu menjadi sangat menggemaskan baginya. Tangannya terulur mengusap rambutnya perlahan lalu membawa tangan kanan Yuki ke dalam genggaman nya dengan sesekali menciuminya.