
Yuki melirik manusia yang sedang tersenyum manis ke arahnya. Sumpah gedek banget tapi ya mau gimana lagi, Yuki lapar juga butuh makan. Lagian ini kenapa sih baru juga ngemil roti tadi sore udah lapar lagi. Perasaan badan juga kurus nggak nambah-nambah tapi ***** makan banget.
"Ki, kok malah bengong sih...makan, mau sama apa?" Bunda membuyarkan lamunan Yuki.
"Eh, iya bun ini aku mau ambil." Yuki mengambil nasi, lauk secukupnya dengan perasaan kesal. Sementara Asher, Yuki melirik dia mulai mengambil lauk yang sama setelah bunda mempersilahkan.
Kami makan dalam diam, Yuki begitu menikmati masakan bunda yang terasa lebih nikmat. Ia jengah kala Asher terus menatapnya tanpa ragu padahal di sebelah kami ada bunda dan juga ayah. Ia menyelesaikan makan malam dengan secepat kilat, rasanya makan dalam pengawasannya membuat moodnya berubah buruk.
"Ki..." Ayah menyeru ketika Yuki berdiri dari duduknya.
Please ayah jangan memintaku untuk tetap disini.
"Tadi ayah yang menyuruh Asher masuk, kamu perlu ngobrol berdua, ayah yakin banyak yang kalian mau omongin."
"Aku ngantuk Ayah... capek juga lagian ini kan udah malam."
"Iya Ayah lebih baik aku pulang saja karena hari sudah malam, kasihan Yuki terganggu. Besok aku kesini lagi terimakasih untuk makan malamnya." Mulutnya bisa lancar banget ngomong kaya gitu padahal hatinya ngarep abis... si Yuki bakalan mau.
"Tuh kan orangnya aja ngerti kok yah," Aku langsung melesat ke kamar sebelum Asher beranjak dari tempat duduknya.
Asher pulang setelah makan malam usai. Ia tahu Yuki masih kesal tapi setidaknya keluarganya masih menyambut ku dengan begitu hangat.
***
Pagi harinya seperti biasa, Yuki sarapan sebelum berangkat ke kantor setelah berpamitan dengan ayah dan bunda gadis itu segera melangkah ke luar. Lagi dan lagi sebuket bunga mawar selalu teronggok di atas lantai dengan bertuliskan ungkapan sayang. Sudah tau lah siapa pengirimnya Yuki langsung mengambil dan membuangnya ke tempat sampah.
"Eh," tapi kemudian ia berbalik lagi, biasanya cuma ada satu tangkai tumben ini satu buket? Yuki penasaran, otomatis gadis itu langsung berbalik dan memungut lagi mawar itu, Yuki mengambil kartu ucapan itu, dan benar saja bunga itu bukan dari Asher melainkan dari Amar.
Entah harus senang atau susah tapi yang jelas bunga itu Yuki ambil dan ia taruh di atas bangku ruang tunggu di teras rumah. Ia hanya memungut kertas ucapan sambil bergumam pelan
"Amar, Amar."
Padahal kalau di pikir-pikir Amar itu paket lengkap, nyaris sempurna idaman para wanita tapi kenapa malah menunggu Yuki yang status saja bahkan belum jelas. Yuki mulai menyalakan motornya, setiap pagi ia berangkat ke kantor mengendari sepeda motor.
Tanpa Yuki ketahui dari tadi sejak Yuki ke luar rumah ada sepasang mata yang terus mengawasi. Pria itu Asher dia penasaran dengan Yuki yang sudah rapi pagi-pagi dengan pakaian seperti orang ingin masuk kerja bukan kuliah. Walaupun sebenarnya ia ingin menyapa tapi takut Yuki nya malah menghindar.
Asher terus mengikuti motor yang di kendarai oleh Yuki dari jarak yang lumayan jauh tapi masih tetap dalam jangkauannya. Untung pagi ini suasana kendaraan rame lancar jadi tidak memiliki kesulitan yang berarti. Asher tercekat di tempatnya kala melihat Yuki yang berhenti di depan kantor AW group.
Pikiran yang tadinya santai mendadak panas tatkala melihat Amar ke luar dari mobil dan langsung menyapa Yuki dengan tatapan penuh cinta.
"****," umpat Asher sambil memukul stir kemudi. kalau bukan karena nasehat Tomi pasti Asher sudah meringsek masuk dan memukul cowok bernama Amar itu. Sudah tahu Yuki punya suami masih di pepet terus kaya nggak ada cewek yang singgle saja.
Main cantik, menghadapi Yuki itu harus dengan lembut
Ucapan Tomi kemarin berputar-putar di otak Asher. Membuat pria itu sedikit banyak bisa menguasai emosi dirinya. Ia akan membiarkan semua berjalan sesuai rencananya. Sabar dulu baru kemudian akan dapat hasilnya.
Sementara Yuki sudah berada di kubikel dengan serentetan pekerjaan yang siap menyapa. Walaupun Yuki anak baru, tapi hampir semua yang berada di ruang yang sama sangat bersahabat dengannya. Ia beruntung karena selalu di temani orang-orang yang baik.
Di bilik sebelah Yuki ada gadis yang bernama Mala, ia sudah dua tahun bekerja di sana sejak kepemimpinan Pak Wibi.
"Ki, serius amat udah jam makan siang ini." Mala menghampiri ke meja kerja ku.
Setelah mengetuk pintu dua kali, Yuki masuk ke ruangan CEO itu.
"Masuk.." Seru Amar dari dalam
"Bapak panggil saya." Amar bukannya menjawab malah terkekeh geli mendengar panggilan yang Yuki tunjukan kepadanya.
"Panggil nama aja Ki... geli tahu. Emang aku bapakmu apa?" seloroh Amar sambil tersenyum
"Ya kan ini di kantor, masa iya panggil nama aja."
"Ini di ruangan saya, jadi panggilnya nama aja. Oke." Yuki mengangguk
"Terus ngapain menyuruh aku ke sini?"
"Temenin makan siang dong apalagi emangnya kalau siang-siang begini. Kamu mau makan apa?"
"Apa saja aku bisa makan. Eh tapi kok aku mendadak pingin soto, boleh nggak aku pesen soto?"
"Boleh lah, atau gimana kalau kita cari makan di tempat jualan soto yang enak."
"Mau sih, tapi apa nggak keburu jam istirahat habis."
"Aku boss nya Ki... emang siapa yang mau protes."
"Iya tahu... aku nya yang nggak enak sama yang lainya."
"Kamu nggak usah khawatir bisa aku jamin tidak akan ada yang berani gosipin kamu di kantor."
Terang saja semua baik dan terkesan sopan, padahal Yuki anak baru karena Amar sudah memberi peringatan untuk semua karyawan nya untuk bersikap baik pada Yuki dan jangan pernah membicarakan nya. Amar sudah mengantisipasi kesenjangan di kantor karena sudah pasti ia akan secara terang-terangan memperlakukan Yuki berbeda.
Setelah perjalanan lima belas menit dari kantor akhirnya menemukan kedai soto legendaris Pak Asep.
"Sini aja Ki, kata orang-orang mantap." Yuki mengangguk saja mengikuti langkah Amar
Mereka memulai masuk kedai, dan begitu masuk ke dalam kedai lumayan rame. Untung masih ada bangku kosong. Walaupun agak mojok tapi malah asyik tempatnya lumayan nyaman. Setelah memesan dua porsi soto mereka segera memulai makan.
Yuki baru saja menyuap soto yang ke tiga ke dalam mulut ketika pandangan matanya bertemu dengan manik mata Asher yang sudah merah padam seperti menyala-nyala.
Kaget!! sumpah kaget banget, tapi dalam sekejap sepertinya pria yang di sebelah Asher mampu menenangkan nya. Untunglah, sempat khawatir bakalan terjadi keributan.
__
Emosi Asher memuncak kembali tatkala melihat Yuki dengan asyiknya makan siang bersama dengan bocah itu lagi. Untung Alwi mengingatkan kalau ini tempat umum dan sebaiknya menyelesaikan masalah dengan istrinya di rumah.
Alwi yang selama ini menjadi asisten pribadinya sangat tahu tentang keberadaannya. Image harus di utamakan dalam situasi apapun toh sejauh ini nona Yuki masih dalam batasan.
"Seperti nya mereka cuma makan bersama Tuan, mohon jangan terpancing." Asher mengalah dan mendengarkan penuturan asistennya walaupun sebenarnya ia sendiri sudah sangat panas.
Ternyata seperti ini rasanya, sakit melihat orang yang kita sayangi begitu dekat dengan orang lain.