Salah Meminang

Salah Meminang
Part 46


Asher merasa paginya berjalan begitu cepat, ia baru saja terlelap tapi sang mentari sudah menyambutnya dengan menelisik masuk di sela-sela korden. Asher mengerjap beberapa kali untuk membawa kesadaran nya ke dunia nyata. Semalam ia tidak bisa tidur karena terlalu senang bersama Yuki nya dalam satu kamar. Sehingga baru lepas subuh tadi Asher terlelap. Ia sudah terjaga namun sengaja masih ingin berlama-lama di tempat tidur.


Sama halnya dengan Yuki, ia juga tidak bisa tertidur semalaman karena merasa gelisah. Jujur tidur dalam satu ranjang dengan Asher membuat dirinya was-was. Namun syukurlah pria itu tidak menunjukkan sisi agresif yang sempat terlintas difikiran Yuki. Yuki sudah harap-harap cemas kalau sampai itu terjadi mungkin malam itu juga ia akan murka.


Asher terlihat damai, pria itu tidak ada tanda-tanda pergerakan apapun sampai pagi. Yang Yuki tahu Asher terbangun waktu subuh terus tidur lagi Yuki tidak tahu kalau sebenarnya pria itu baru terlelap sepagi itu.


Yuki berbalik, menghadap pria yang beberapa bulan ingin di lupakan dari hidupnya. Hatinya sedang berusaha berdamai dengan keadaan yang ada, apakah tetap menerima atau bertahan dengan perasaan gamang. Jujur ia terlalu takut untuk memulai, terlalu takut untuk menghadapi kenyataan yang mungkin akan sama. Sebab dalamnya hati tidak pernah ada yang tahu.


Lama Yuki termangu sambil mengamati pemilik wajah tampan jelmaan arjuna itu. Iya setelah di telisik dari jarak yang begitu dekat Asher begitu sangat tampan, rahang yang tegas, alis tebal, hidung mancung dan postur tubuh yang bidang sangat mungkin mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan, mungkin jika Yuki tidak hamil anaknya pria itu pasti sudah menyerah dengan mudahnya.


"Aku senang kamu mau menatapku Ki?" Asher menyeru dengan mata masih terpejam. Merasa dirinya tertangkap basah Yuki langsung berbalik badan namun Asher menahannya, pria itu bahkan mengikis jarak diantara keduanya.


"Jangan terlalu percaya diri, aku hanya sedang meneliti wajah orang yang sangat aku benci." Oh ayolah Yuki berfikir kritis bahkan pria ini bisa sangat kejam dan sadis.


"Beri aku cara agar bisa merubah benci itu menjadi cinta." Asher menatap lekat wajah Yuki, namun gadis itu malah mendorongnya dengan wajah bersemu.


"Bangun sana, aku mau pulang." Seru Yuki ketus, Asher tersenyum lalu bangkit dari tempat tidur.


"Sarapan dulu habis itu kita pulang." Ujarnya dengan merapikan tampilannya di depan cermin


Setelah selesai sarapan Yuki dan Asher meninggalkan tempat penginapan. Mereka menuju ke mobilnya yang semalam terparkir. Arus lalu lintas sudah lancar kembali pohon yang kemarin tumbang sudah disingkirkan.


Sepanjang perjalanan Yuki hanya diam saja, walaupun sesekali Asher mencoba membuka percakapan. Dia hanya menanggapi dengan gumaman.


"Ki, kita pulang kerumah mama ya."


Tuh kan nglunjak, dikira aku sudah memaafkan apa?


"Diam berarti iya," ucap Asher dengan pedenya


"Aku mau pulang kerumah Ayah."


"Aku boleh ikut tinggal disana? aku ingin dekat juga dengan anak kita." Ujar Asher memohon


Pria gila


"Dekatnya nanti saja kalau sudah anaknya lahir, sekarang dia tidak butuh kamu."


"Aku janji nggak akan ngapa-ngapain kamu, aku janji bakalan jaga jarak dan aku janji nggak akan ganggu kenyamanan tidurmu. Aku hanya ingin dekat dengan anak kita." Ujar Asher panjang lebar


"Beri aku waktu, beri aku kesempatan untuk bisa dekat dengan anak kita, setidaknya sampai anak kita lahir kalau kamu masih bersi keras dengan perpisahan itu, aku akan berusaha ikhlas setidaknya aku pernah menjadi seorang suami yang mendampingi istrinya dalam lelahnya berbadan dua."


Yuki diam saja ia tidak menanggapi ocehan Asher yang baru saja terucap. Semua wanita hamil pasti juga mau mendapatkan perhatian dari suaminya, Yuki tidak munafik dalam hal itu namun ia hanya sungkan dan bingung cara memulai, terlebih hatinya belum sepenuhnya yakin, masih abu-abu.


Setelah perjalanan kurang lebih tiga puluh menit mobil Asher sampai di halaman rumah Yuki. Yuki turun dengan Asher mengekor di belakangnya. Pas bertepatan dengan Ayah yang mau berangkat kerja.


"Maaf Ayah terlambat mengantar Yuki karena ada kendala di jalan." Semalam Asher sempat mengirim pesan ke ponsel orang tuanya dan martuanya. Agar mereka tidak cemas karena akan pulang terlambat, bahkan pagi seperti hari ini.


"Iya nggak pa-pa, sana masuk dulu. Ayah mau berangkat."


"Baru pulang Ki." Tanya bunda menatap dengan rasa lega


"Iya Bun, terjebak macet hujan besar dan pohon tumbang jadi mobil nggak bisa lewat." Kami tengah mengobrol di ruang tengah Yuki bahkan mengabaikan Asher di ruang tamu sendirian.


"Ki, pagi Bun," Asher menyusul ke dalam


"Eh, ada nak Asher kok dianggurin sih. Yuki.. bikin minum sayang."


"Biar aku aja Bun, Yuki pasti capek." Zura menyela


"Tidak usah repot Bun, aku juga udah mau pulang ini. Mau ke kantor ada meeting nanti siang semoga keburu." Lalu pandangan Asher menuju Yuki.


"Sayang... aku pamit dulu ya, nanti sore aku kesini lagi." Pamit Asher yang membuat Yuki seketika tercengang.


Apa tadi katanya Sayang? ah dia memang tidak tahu diri, selalu menyebalkan dan.... tapi kenapa hatiku jadi.... entah....


Karena tidak ada pergerakan dari Yuki sedikit pun, Asher beralih memandang perut Yuki dan tak di nyana dia mengelusnya kembali.


"Sayang... Papa kerja dulu." Pamitnya sambil mengelus perut Yuki.


Biarlah dianggap tidak tahu diri sekali pun selama ada kesempatan Asher akan menunjukkan perhatiannya. Ia akan menebus semua dosanya. Dia yang memulai dia juga yang harus memperbaiki semuanya. Asher akan memberikan semua perhatiannya agar luka itu bisa berangsur terkikis dan hilang diganti dengan cinta.


Sepeninggalan Asher, Yuki langsung ke kamar, dan di saat Yuki ingin sekali merebahkan diri karena merasa lega sudah di rumah, pintu kamar dibuka tanpa di ketuk.


"Zura? bikin kaget aja." Yuki terduduk dari baringnya


"Kamu balikan sama Asher, katanya nggak cinta kok balikan sih, bukanya udah mau cerai?"


"Aku nggak balikan tapi memang kita sedang berdamai dengan keadaan. Kamu kesini cuma mau tanya kayak gitu."


Zura menatap Yuki tidak suka, entahlah tapi yang Yuki tahu memang sifatnya dari dulu seperti itu. Makanya ia bersyukur gadis itu tidak tinggal di rumah Ayah.


"Terus kenapa semalam tidak pulang? malah pulang pagi berdua."


Please Zura aku tuh capek, bisa nggak sih lo tuh nggak usah sok sibuk ngurusin orang.


"Ki, kok diem sih semalam nginep di mana?"


"Kan tadi udah di jelasin, nggak bisa lewat mobi--."


"Terus nginep dimana?"


Yas*s***alam.... penting gitu gue jawab


"Lo nggak takut dia kecewain lo lagi? dia itu deketin lo lagi karena lo sedang hamil. Gue yakin deh orang setampan dan setajir dia bakalan gampang cari pengganti lo. Lagian gue masih yakin kalau Asher itu masih cinta mati sama kak Zumi."


Mungkin omongan Zura benar tapi kenapa terasa menyakitkan bila di dengar.