
Asher memejamkan matanya berusaha menyalurkan energi pada dirinya ke tubuh Yuki. Sentuhan sayang tangan istrinya mampu mengalihkan sedikit perasaanya yang masih kesal.
"Sayang, maaf tapi kakak tirimu selalu berusaha menjadi duri di rumah tangga kita." Yuki menghentikan kegiatan mengusap rambut suaminya.
"Kak Zura? Apa dia berbuat sesuatu lagi di kantor."
"Dia itu nekat sayang, karena merasa dirinya mirip dengan almarhum, dia menganggap aku mencintainya. Dia seperti jalang yang mengemis cinta padaku, aku risih lama-lama tidak nyaman terus begini dan puncaknya tadi siang aku memecatnya di kantor."
Hening
Yuki berusaha mencerna setiap kata yang di ucapkan suaminya. Ia baru saja jujur, walaupun terdengar sangat menyebalkan dan sedikit mengusik hatinya, tapi dalam hati Yuki senang. Itu artinya Asher sudah mulai terbuka terhadap dirinya.
"Kamu sudah melakukan hal yang tepat Mas, aku tahu kamu memutuskan sesuatu pasti karena ada sebab dan akibat, walaupun ini pasti tidak menjadi mudah untuk kita."
"Apa maksudmu sayang?"
"Zura itu diam-diam menghanyutkan, bermuka dua selalu berbicara manis di depan tapi mengatur rencana lain di belakang. Tapi sayangnya aku selalu tidak bisa mengatakan sejujurnya pada ayah dan bunda. Aku tidak tega melihat bunda Dyah pasti akan sangat kecewa mengetahui tingkah anaknya yang sebenarnya."
"Kamu sebenarnya tahu semuanya? kenapa kamu diam saat aku masih mengizinkan dia bekerja di kantorku, tidaklah kamu merasa takut dia akan merebut aku dari mu? Atau memang sebegitu tidak berharganya diriku di mata mu sehingga kamu bersikap acuh."
"Ya Allah Mas... kamu selalu gitu negatif thinking mulu. Aku percaya sama sang pemilik hati kemana dia akan pulang. Kamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama kan?"
"Kamu muter-muter sayang, aku tidak paham. Aku hanya merasa kamu tidak mencintai ku."
"Aku hanya berusaha memberi kepercayaan padamu, membiarkan hatimu tidak terkekang Mas, menentukan apa yang menjadi tempat singgah mu, aku tahu mungkin akan sakit pada akhirnya tapi aku tidak akan memaksa hati apabila dirimu merasa tidak nyaman, seharusnya kamu paham itu Mas, Aku bahkan menaruh rasa dan harapan sejak kita melakukan penyatuan yang pertama setelah kita bersama lagi tentunya. Sampai hari ini aku berusaha memupuk itu semua agar tumbuh menjadi cinta walaupun pada kenyataannya jalan yang kita lalui seterjal ini." Asher bangkit dari pangkuan Yuki, pria itu memandang wajah istrinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Apa itu artinya kamu mencintai aku sayang?" Yuki mengangguk sebagai jawaban detik berikutnya Asher langsung membawa tubuh nya kedalam rengkuhannya.
"Maaf, aku yang selalu tidak percaya dengan perasaan mu. Maaf, aku sempat meragukan itu sayang. Jangan pernah pergi atau berencana pergi meninggalkan aku sendiri. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian."
"Kita temui ayah dan bunda Mas, agar mereka tidak salah paham karena kejadian di kantor pasti akan membuat hati Zura terluka."
"Aku sudah memikirkan itu sayang, kamu jangan khawatir. Jangan bebankan pikiranmu dengan hal lain yang tidak penting cukup percaya padaku dan hanya boleh memikirkan aku dan Sky saja." Yuki mengangkat satu alisnya.
"Bolehkah sekarang aku percaya padamu? Aku masih kurang yakin."
"Apa yang membuatmu seragu itu?"
"Kamu yang kadang tidak percaya pada perasaan ku Mas?"
"Aku mau belajar percaya, tolong bantu aku mewujudkan nya. Jangan berdekatan dengan satu pria mana pun terutama Amar. Karena itu membuat aku sakit dan cemburu. Apa kamu bisa berjanji untukku?"
"Iya, aku janji. Maafkan aku yang belum tahu batasan. Maafkan aku, aku akan berusaha mengabaikannya."
"Terimakasih sayang, aku hanya ingin semua tentang kita tidak ada orang lain atau siapapun yang berusaha menjadi pihak ketiga. Hanya boleh percaya pada pasangan berjanji saling terbuka, memberi kabar dan menanyakan hal apapun yang mengganjal di hatinya. Kejadian kemarin sudah cukup menjadi ujian yang berharga. Kamu bisa kan?"
"Bisa Mas," Yuki mengganguk.
"Aku kangen sayang?" tiba-tiba Asher mendekat memandang wajah Yuki begitu lekat.
"M-mas kamu mau apa?" Asher tidak menjawab, pria itu langsung menyentuh bibir istrinya dengan lembut. Menyatukan rasa yang sedari tadi sudah ia tahan. Bibir semanis madu istrinya yang selalu membuatnya menjadi candu.
Yuki tahu Asher berusaha menahannya tapi sungguh dia pria normal yang bahkan harus dituntaskan hasratnya, dan Yuki sebagai istrinya harus siap sedia. Walaupun sebenarnya dirinya masih kurang begitu siap untuk malam ini.
"Maaf sayang, aku sangat merindukanmu," bisik Asher tepat di belakang telingannya sesaat setelah melepaskan pagutan mereka yang begitu memabukan. Yuki berusaha mengimbangi kenakalan suaminya yang mulai menjelajah pada tubuhnya.
"Lakukan sekarang juga, aku milikmu Mas," cicit Yuki dengan pipi yang bersemu merah.
Asher menggumamkan terimakasih, senyumnya langsung mengembang menghiasi wajahnya yang rupawan. Ia kembali menyatukan dirinya dengan sedikit lebih kuat tapi tetap lembut, membuat Yuki melayang seketika. Sentuhan tangan Asher di bagian titik mampu membuat Yuki meremang, merasakan sensasi yang berbeda dan lebih memabukan.
Tok tok tok
Pintu kamar mereka di ketuk dari luar, salah satu asisten rumah tangga di sini memberi tahu untuk makan malam. Dalam beberapa detik keduanya masih sama-sama terlena berusaha mengabaikannya.
"Non Yuki, Nyonya menyuruh Non dan Tuan Asher turun ke bawah untuk makan malam." Teriak ART dari luar karena tidak ada jawaban.
"M-mas... stop dulu ada yang manggil." Asher melepas dekapan Yuki dengan tidak rela.
"Nanggung sayang, aku ingin menuntaskannya," bisik Asher memohon.
"Ki... makan malam dulu sayang, Asher sekalian ada suatu hal yang pingin Mama sama Papa omongin." Itu suara Mama Rianti yang juga menyusul nya ke kamar.
"Iya Mah, bentar." Yuki menyahut kemudian bangkit dari kasur dan merapikan dirinya di depan cermin. Merapikan bajunya kembali yang sudah tidak beraturan dengan beberapa kancing yang terlepas.
Huhf
Sementara Asher, pria itu nampak lesu memandangi istrinya dengan perasaan kesal dan gemas, ini sudah setengah jalan membuat kepalanya seakan berdenyut mau pecah.
"Ayo Mas turun," titah Yuki sambil meraih tangannya.
"Pusing sayang, kamu nanti harus tanggung jawab."
"Hmm... lihat nanti."
"Tuh kan, aku tidak mau makan lah nggak lapar."
"Iya, iya... kita turun dulu nanti kita lanjutkan."
"Janji?"
"Iya Mas Asher sayang..."
Mereka turun ke lantai bawah menuju ruang makan dan betapa kagetnya Yuki ternyata di sana sudah ada Ayah dan juga bunda Dyah. Pantas saja Mama Rianti sampai menyusul ke kamarnya.
"Nah itu dia yang di tunggu udah datang." Mama Rianti tersenyum kearah kita memandang dengan tatapan menyelidik.
"Maaf Ma, tidak tahu kalau ada Ayah sama Bunda." Yuki dan Asher segera menyalami kedua orang tuanya.
"Lagi nanggung Pah, ini makanya aku jadi pusing," celetuk Asher dengan pedenya yang langsung mendapat pelototan tajam dari istrinya.
Semua orang memandang kedua sejoli itu dengan geli. Yuki hanya bisa tersenyum kikuk.