Salah Meminang

Salah Meminang
Part 60


Yuki merasa sudah tidak karu-karuan, panas, pegel, sakit, ngantuk dan juga lapar. Sekarang sudah pagi namun Yuki baru pembukaan tujuh itu artinya masih belum lengkap dan bertambah semakin sakit dan semakin sering rasa itu menyerang.


Asher terus merapalkan doa kebaikan dalam hatinya. Agar persalinan istrinya di berikan kelancaran dan kemudahan. Tak tega melihat Yuki terus merasa kesakitan namun ia juga tidak bisa melakukan banyak hal selain berdoa tentunya.


"Mass... huhf.... ssshhh...." Yuki terus mengatur nafas dengan mencoba merilekskan dengan menghirup udara banyak-banyak dan hempaskan begitu seterusnya. Ia berdiri menyandar di dinding dengan tangan kanan bertumpu pada dada Asher dan tangan lainya mengelus perutnya, wajah merah padam nya ia sembunyikan di dada suaminya.


Matanya terpejam sejenak begitu menikmati rasanya yang luar biasa saakiit sulit di definisikan.


"Mas... aku minta maaf ya Mas... saakiiit bangettt... Mas, nanti kalau aku tidak kuat tolong maafkan aku." Ucap Yuki yang terasa sangat mengkhawatirkan di telinga Asher.


"Kamu ngomong apa sih sayang, bisa pasti bisa pasti kuat... harus semangat kita sebentar lagi akan menyambutnya bersama." Tak terasa buliran bening itu keluar dari mata Asher. Iya, andai saja rasa sakit itu bisa di tukar biarlah ia yang merasakan saja, sungguh ia sangat menyesal pernah menyakiti ibu dari anaknya. Ternyata seperti ini banget perjuangan seorang ibu mengantarkan putranya ke dunia penuh dengan perjuangan, melewati rasa sakit yang luar biasa.


"Kamu pasti kuat sayang bertahan."


"Mas... ssshhh... tolong panggilin Dokter Mas ini sepertinya aku mau mengejan." Asher membimbing Yuki naik keatas brangkar.


Pyah...


Seketika air ketuban itu pecah di saat Dokter bersiap memeriksa. Dokter Dara sudah bersiap dengan pakaian medisnya.


"Ibu Yuki... tarik nafas bu... keluarkan... jangan mengejan dulu, nanti tenaga ibu habis ikuti intruksi saya, kalau terasa kencang... ambil ancang-ancang ibu mulai dorong..."


"Huh... huh... huh..."


"Iya rileks dulu, sudah pembukaan lengkap, bagus kalau terasa kencang dorong ya bu mengejan... ayo bu terus bu sedikit lagi... iya pinter, terus... nggak kuat rileks dulu... ibu ambil nafas."


"Dokter... Mas.... huh... huh... kenceng Dok..." Yuki melakukan sesuai instruksi Dokter Dara. Tangannya menggenggam tangan suaminya dengan Asher yang terus memberikan semangat.


"Ayo sayang bismilah kamu pasti bisa... I love you sayang... please bertahan kuat demi anak kita, aku dan kamu." Bisikan Asher di telinga Yuki di tengah-tengah deru nafas yang memburu dan rasa sakit yang amat luar biasa.


"Iya bu... ayo terus dorong, sedikit lagi kepala dedenya sudah mengintip terus dorong lebih semangatt...."


"Aaakhhh....!"


Oe oe oe....


Suara tangisan bayi menggema di seluruh ruangan.


"Alhamdulillah.... yes..." Ucap Dokter Dara penuh syukur ketika bayi mungil itu berhasil keluar.


Dan tepat pukul sembilan pagi bayi mungil dengan jenis kelamin laki-laki itu telah hadir dengan sehat dan selamat. '


Asher langsung mengucap syukur dengan berlinang air mata dan menghujani ciuman di puncak kepala istrinya dengan sayang.


"Terimakasih sayang, kamu hebat kamu kuat, i love you more sayang..."


Yuki merasa lega sekarang, rasa sakit dan pegal yang sempat hinggap hilang total berganti dengan perih di organ intinya namun semua itu terbayar sudah ketika melihat bayi mungil nan sehat itu bertengger di atas dadanya. Senyum nya langsung terbit seketika seakan semua rasa sakit tadi menguap begitu saja.


Setelah di lakukan IMD pada sang bayi, Dokter memberikan pada Ayahnya untuk di adzani.


"Bayinya cowok ya Bu Pak selamat ya silahkan di azani dulu Pak Asher dedeknya." Sesaat kemudian bayi mungil yang sudah berpindah tempat di dekapan sang Ayah itu mendengar suara adzan merdu menggema di sekitaran kepalanya.


Asher terus menatapnya tanpa jeda dengan senyuman. Kombinasi dirinya dengan istrinya dan dalam sekejap telah merubah status dirinya menjadi seorang Ayah. Sementara Yuki sedang di tangani Dokter untuk di bersihkan.


Yuki sudah berpindah di ruang perawatan dengan bayinya yang berada di dekapan sedang berusaha belajar mencari air sumber kehidupan bagi dirinya.


Asher duduk di kursi tepi ranjang dengan tangan yang sibuk mengelus dan sesekali menoel pipi merah si mungil yang sangat menggemaskan.


"Lucu banget anak kita... udah mulai pinter tuh cari putingnya."


"Iya Mas... kuat banget nyedotnya, masyaAllah geli... kamu lucu banget nak...." Senyum nya tak pernah luntur selalu terbit semenjak baby cowok itu hadir.


"MasyaAllah aku sampai lupa ngabarin orang rumah." Seketika Asher langsung mengambil handphone nya dan lihatlah banyak sekali panggilan dari Mama dan banyaknya lagi pesan yang masuk dari beberapa kontak yang ada di HP nya.


Asher segera mengabari Mama dan Ayah martuanya yang cukup syok, namun juga lega mendengar Yuki sudah melahirkan dengan selamat dan sehat ke duanya.


Ia juga menelfon asisten nya untuk meng-handle pekerjaanya di kantor untuk sementara waktu dan mengantarkan berkas tentunya bila butuh tanda tangan Asher.


"Siap Pak, siap. Selamat ya Pak atas kelahiran putra pertamanya." Seloroh Alwi di sebrang sana ikut merasa senang mendengar kabar baik dari bosnya.


"Satu lagi Al, awasi karyawan bernama Zura jangan sampai dia masuk ke ruangan saya dan laporkan semua kegiatan detail di kantor tentang apapun."


"Siap Pak, sisp!" jawab Alwi mantap.


Setelah selesai bertelfon ria Asher langsung kembali ke kamar dengan menenteng banyak makanan. Ia keluar sebentar mengisi perutnya dan belanja untuk bekal selama menunggu Yuki di rumah sakit.


Mama terlihat datang tergopoh-gopoh bersama Papa setengah berlari di Koridor rumah sakit.


"Sayang Yuki sudah lahiran?" Asher langsung menubruk Mama Rianti dan memeluknya.


"Asher udah punya anak Mah." Matanya kembali berkaca-kaca lagi.


Pak Dika dan Mama Rianti langsung masuk ke dalam kamar rawat inap dengan heboh dan langsung menuju ranjang di mana baby boy dan Yuki berada.


"Sayang... selamat ya sudah jadi seorang Ibu dan ini sekarang nenek." Tunjuk Mama Rianti bangga.


"Iya Ma terimakasih," jawab Yuki lemas.


"Sayang makan dulu," Asher mendekat ia mengambil nampan yang berisi makanan dari rumah sakit.


"Aku bisa makan sendiri Mas," protes Yuki demi melihat Asher yang bersiap menyuapinya.


"Biar Mas suapin sayang, udah diem jangan protes makan yang banyak." Ujar Asher kekeh.


Asher menyuapi istrinya dengan telaten, sedikit deni sedikit isi piring itu berpindah ke perut Yuki hingga menyisakan wadah kosong. Sementara adik kecilnya sedang bersama Mama Rianti.


"Pinter istri aku," seloroh Asher menilik isi piringnya.


"Ada yang mau di makan lagi," tawar Asher barang kali Yuki masih lapar. Namun, perempuan yang baru saja menyandang Ibu muda itu menggeleng sebagai jawaban.


"Mas..." Asher yang sedang membereskan nampan menoleh.


"Apa sayang, mau apa?"