
Yuki berangkat ke kampus dengan di antar suaminya. Bahkan laki-laki itu rela menunggu selama Yuki sedang masuk kelas. Sepertinya Pak Asher sudah terserang hawa-hawa kebucinan tingkat akut.
"Beneran mau nungguin aku? entar kamu bosen lho... lebih baik pulang dulu nanti aku bisa kirim pesan kalau udah mau pulang." Asher mengangguk sebagai jawaban.
"Belajar yang rajin, aku tunggu disini sekalian cuci mata," ujarnya sambil mrengut. Ya iya lah mrengut orang tadi tuh Asher akhirnya ngalah dan mau bersabar sampai nanti malam.
"Makasih suamiku... makin cinta deh aku, kalau cemberut gini kaya nggak ikhlas?"
"Kesel, tapi udah telanjur sayang. No komen lah udah sana masuk nggak usah senyam-senyum nanti aku makan di mobil."
"Ngancem nya mantul Pak. Hehehe... salim dulu dong." Yuki mengulurkan tangannya otomatis Asher menyambut. Tapi berhubung emang tingkat kemesumannya lagi akut, Asher langsung menarik Yuki dan meyambar bibirnya dengan rakus. Pagutan itu baru terlepas sesaat mereka berdua lebih tepatnya Yuki sudah terengah dan memisahkan diri.
"Ya ampun Mas... ihh... jangan gini dong, rambut aku? lipstik? Ah rese'... ini mah namanya." Asher terdiam, bukanya minta maaf ia malah sibuk mengamati Yuki yang sedang menggerutu panjang pendek dengan gaya cool dan tampang muka tanpa dosa.
Sumpah nyebelin banget.
Yuki melirik dengan sengit laki-laki itu tampak mengulum senyum.
"Masuk kelas dulu," pamitnya setelah merapikan dandananya akibat serangan senja. Namun sesaat sebelum Yuki turun Asher menahan lengannya.
"Apa lagi Mas... Dosenku galak lho nanti aku bisa telat."
"Maaf yang tadi sayang, jangan marah."
"Hmmm."
"Tuh kan jawabanya cuma gitu, marah beneran ya?"
Ngajak gelud nih laki bawaanya rese mulu.
"Assalamu'alaikum hubby..." pamitnya di manis-manisin.
"Waalaikum salam sayangnya Ayah dan Ski..." ucapnya sambil mengerling.
Selama Yuki masuk ngampus laki-laki itu menunggu di mobil dengan tenang, pria itu bahkan sampai ketiduran. Pukul setengah lima dan Yuki belum keluar dari kelas. Berhubung Asher sudah bangun dia menjadi bosen dan berniat mencari udara segar di luar kantor.
Pikirannya mendadak travelling agar bisa menjadi bagian dari kampus ini. Biar apa? biar bisa ngantor di sini dan tentunya mengawasi istrinya yang siapa tahu nakal kalau di kampus. Selama dia menimang-nimang asyik sendiri dengan lamunannya ada seseorang yang tiba-tiba menghampiri nya.
"Asher ya? ngapain di sini?"
"Bisma? ya Allah gue pangling. Lo ngapain di sini?"
"Ngajar lah, gue Dosen di sini? kamu?"
"Nganterin istri?"
"Siapa? Zumi kuliah lagi?"
"Bukan lah, Yuki nama istri gue?"
"Ooh... kirain? ya udah selamat menunggu."
"Pak Bisma?"
"Kamu kenal sayang?"
"Yuki salah satu mahasiswa yang aku ajar, jadi bukan hanya kenal lagi dia PJ di mata kuliah aku?"
"Iya Mas, Pak Bisma kenal sama suami saya?"
"Sahabat lama, dulu kuliahnya bareng," jawab Bisma sementara Asher dari tadi sibuk mengamati interaksi ke duanya yang sudah akrab saja, bukan hanya seperti Dosen dan mahasiswa namun lebih kepada teman.
"Ya udah kita pulang dulu Bisma?"
"Eh, bentar. Gue kan nggak tahu kalau lo udah nikah jadi sebagai ganti kadonya gimana kalau gue traktir malam ini makan malam, gimana?" tawarnya tulus.
Asher sebenarnya merasa ingin sekali menolak tapi merasa sungkan dan tidak enak. Ia ingin sekali cepat pulang dan hanya berduaan dengan istrinya di rumah. Namun apalah daya ekspektasi tak sesuai realita. Ia nanti harus menghargai undangan dalam acara makan malam dadakan.
"Apa nggak sebaiknya pulang dulu Mas," Usul Yuki demi mengingat ia yang sedang menyusui dan kalau terlalu lama menunggu bisa nyeri payudaranya.
"Iya ide bagus sih, nanti jam setengah delapan ya gue serlok."
"Oke, sampai ketemu nanti." Pamitnya kemudian pergi.
Dalam perjalanan pulang Asher tidak tahan untuk tidak bertanya. Padahal Yuki sudah menyenderkan kepalanya di jok dan menutup matanya, Yuki terlihat lelah.
"Sayang kamu kenapa bisa jadi pj nya Bisma sih?"
"Nggak tahu protesnya jangan sama aku nanti saat orangnya kalau ketemu."
"Eh, jawabanya tidak seperti yang ku harapkan."
"Emang aku harus jawab apa Mas? pada kenyataannya aku nggak ngerti alasanya." Asher terdiam, ia jadi bingung sendiri.
Oke fik, mengalah lebih baik dari pada akhirnya berantem.
Setelah perjalanan lima belas menit penuh drama mereka sudah sampai di halaman rumahnya. Asher merangkul Yuki di saat mereka tengah masuk ke rumah.
"Cuci tangan dulu Mas baru ke kamar?"
"Siap nyonya Asher Daharyadika," jawanya sambil lalu.
Asher berjalan ke wastafel dan mencuci tangannya dengan bersih di ikuti Yuki dari belakangnya mengantri, kemudian melakukan hal yang Asher lakukan.
Begitu Yuki sudah selesai mencuci tangan dan di rasa bersih, ibu dari satu anak itu menghampiri anaknya yang dalam gendongan baby sitter.
"Mbak Ski nya bobok?"
"Iya buk baru saja terlelap habis minum susu."
"Oh, padahal baru aku mau kasih, ya udah aku pompa aja."
Yuki menyiapkan pompa asi elektrik. Ia melakukan nya di kamar. Setelah mengambil duduk dengan tenang, Yuki langsung memasang alat pompa pada tempatnya. Perlahan tapi pasti sumber kehidupan untuk Ski mulai menetes ke dalam wadah yang sudah di siapkan. Dalam sekejap perasaan itu menjadi lega dan plong.
Asher memandang takjub mengamati secara detail apa yang sedang istrinya lakukan.
"Lihatnya gitu banget Mas?"
"Pengen jadi pompanya." Celetuk Asher asal.
"Ihh... mulutnya, otaknya bawaannya itu mulu Mas."
"Biarin, kenyataannya gitu." Cuek Asher masih terus mengamati Yuki yang mimik wajahnya berubah jadi lega.
"Alhamdulillah akhirnya enteng juga," ujar Yuki sambil menutup botol yang baru saja di isi susu lalu memberi tanggal pada botolnya. Kemudian berjalan ke luar kamar dan memasukkan nya ke dalam freezer.
"Udah sholat?" tanyanya demi melihat laki-laki itu terus mengekorinya.
"Belum, ayo bareng habis ini kan ada undangan makan malam dadakan nya si Bisma. Males banget aku tuh sebenarnya tapi nggak enak buat nolak."
"Kasihan Mas entar Pak Bisma kecewa lagi kalau kita nggak datang."
"Iya, kita kan harus bisa menghargai niat baik orang. Ayo isya'an dulu habis itu berangkat. Kalau cepet berangkat kan cepet pulang."
"Kaya lagi ngantri berobat ya?"
Hening
Ke dua sejoli itu sedang menunaikan sholat isya berjamaah di rumah. Lebih tepatnya di kamarnya.
"Aku bilang Mama dulu kalau kita ada undangan makan malam di luar," ucap Yuki sambil melipat mukena nya.
"Aku aja, kamu siap-siap cewe kan biasa ribet kalau dandan suka lama."
"Nggak juga, aku nggak lama-lama amat biasa aja."
Asher tidak lagi menjawab pria itu sudah melangkah ke luar kamar.