
Rumah baru, kehidupan baru dan suasana baru. Yuki berharap di rumah yang akan mereka tempati ini selalu dilimpahi kasih sayang dan keberkahan.
"Selamat datang di rumah baru istriku dan juga anakku...." Asher menyeru riang.
Selalu ada cara untuk menjadikan pasangan kita bahagia. Hal-hal kecil lagi sederhana pun bisa menjadi wadah yang menarik untuk mengemas rasa sayang menjadi lebih bermanfaat dengan menjadikan pasangan kita sebagai prioritas utama. Seperti saat ini yang Yuki rasakan, Asher lebih banyak ngalahnya untuk banyak hari selama beberapa saat bersama. Pria itu sangat mencintai keluarganya.
Bruk!!
Pria itu menjatuhkan bobotnya di kursi sofa ruang keluarga setelah merapihkan banyak barang.
"Capek Mas? Kamu sih dibantuin nggak mau. Sini aku pijitin."
"Kasihan kamu nya juga capek, istirahat aja di kamar," jawab Asher santai.
"Hmm... belum ngantuk, Sky baru aja tidur dan ini masih terlalu awal untuk aku istirahat." Yuki meraih remot TV lalu mulai menyalahkannya menggonta-ganti chanel sesuai yang diinginkan.
"Sayang... duduknya sini dong?" Asher menepuk-nepuk sofa di sebelah nya.
"Bentar Mas aku mau buat minum dulu untuk teman nonton TV." Yuki bangkit dari tempat yang semula ia duduki menuju dapur. Ia akan menyeduh dua kopi susu sebagai teman begadang malam ini.
"Kopinya Mas?" tawar Yuki seraya membawa nampan.
"Kamu emang paling pinter membuat moodku baik sayang," ujar Asher sumringah.
"Malam ini mau makan apa? Mau masak belum ada stok di kulkas, delivery aja gimana?"
"Nggak mau makan?"
"Kenapa? Mas nggak laper? Kan belum makan?"
"Malam ini Mas mau makan kamu?"
Bugh
"Itu mah beda cerita Mas... serius dong."
"Ya aku serius." Asher tiba-tiba menatap Yuki lekat.
"Kamu kenapa sih, hm... kenapa lihatin aku kaya gitu."
"Cium dulu..."
Yuki menurut, gadis itu mencium sesuai permintaan suaminya.
"Kamu kenapa jadi manja gini?" tanya Yuki merasa aneh.
"Pusing, nggak enak badan."
"Tapi nggak panas," ujar Yuki sambil menempelkan punggung tangannya di kening Asher.
"Cuma pusing nggak demam jadi nggak panas."
"Kamu kayaknya kecapean deh Mas? pindah kamar aja istirahat kalau capek."
"Temenin, ayo sayang."
"Hmm..."
Sampai kamar Asher langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Yuki menyelimuti pria itu. Lalu meninggalkan jejak sayang di keningnya.
"Mau kemana?" tanya Asher begitu merasakan pergerakan Yuki.
Yuki mengambil alat tulis dan kertas, ia akan menggambar sketsa rancangan. Hal yang sering ia lakukan ketika sedang gabut, atau sekedar mengisi waktu luang untuk memperdalam kemahirannya.
Yuki juga pandai membuat desain interior rumah, bakat otak-atik penanya di atas kertas memang tidak bisa diragukan lagi. Gadis itu sebenarnya mempunyai bakat yang mumpuni. Ia bercita-cita suatu hari nanti bisa menjadi desainer sukses.
Yuki mengambil beberapa gambar sketsa miliknya. Ia bersama kedua rekannya sudah berencana melaunching kan sebuah acara fashion show, selain untuk tugas akhir kuliah sesuai job disk nya itu juga bisa menjadi jembatan untuk dirinya lebih maju satu langkah.
"Gambar kamu bagus-bagus banget," seru Asher yang tiba-tiba sudah ada di belakang kursi Yuki. Sedari tadi pria itu anteng berusaha untuk tidur tapi tetep tidak bisa merem.
Asher biasa tidur di dalam dekapan istrinya, jadi tanpa Yuki tidurnya akan susah. Begitulah kira-kira penjelasan nya.
"Kok nggak jadi tidur?"
"Nggak bisa tidur tanpa kamu?"
"Ck, gimana ceritanya katanya pusing? ya udah ayo aku temenin sampai kamu beneran merem."
"Udah nggak ngantuk." Asher mengambil beberapa lembaran kertas sketsa Yuki yang sudah jadi. Ia diam mengamati satu persatu gambar tersebut.
"Di acc di perusahaan Mas boleh?" ucap Yuki penuh harap.
Sejauh ini ketika Yuki menyinggung tentang pekerjaan Asher selalu menolak. Dia ingin istrinya full di rumah untuk dirinya dan juga anak-anak. Bukankah itu terlalu egois menurutnya, Yuki punya bakat dan lagi perusahaan Asher di salah satu bidang ada bagian yang membuat pola rancangan.
Hening
Yuki kembali meneruskan sketsa nya tanpa berharap Asher mau menjawabnya. Ini impiannya sejak dulu tapi sepertinya akan pupus karena bahkan suaminya pun tidak mendukung kemauannya.
"Kamu punya bakat, apakah setelah mimpi tercapai kamu tetap ada banyak waktu untuk aku dan anak-anak. Maaf aku terlalu egois, aku hanya takut kamu terlalu capek dengan kegiatan di luar."
"Aku cabut kata-kata aku Mas, ini kan cuma mimpi nggak harus sampai. Bukankah semua orang bebas bermimpi."
Ada rasa ngilu di hati Yuki ketika berkata demikian, alasan yang sangat klise menjadikan wanita hanya sebagai ibu rumah tangga agar full waktunya untuk keluarga. Yuki paham maksud Asher namun ia merasa ruang dan geraknya merasa di batasi ini adalah salah satu alasan Yuki dulu tidak bercita-cita nikah muda sebelum sukses.
"Apa jaminan yang bisa aku dapat kalau setelah kamu lulus mau bekerja," tanya Asher serius.
Jujur Asher lebih suka istrinya itu menjadi istri biasa saja. Bukan pegawai kantoran yang padat bekerja atau sampai menjadi desainer kondang dengan jam terbang tinggi. Ia hanya butuh Yuki untuk dirinya dan keluarga. Biarlah bekerja menjadi urusannya, sebagai laki-laki ia berfikir begitu apakah salah?
"Jaminan seumur hidup mencintaimu Mas, tanpa batas waktu. Aku tahu kamu dan Sky adalah prioritas aku. Aku tidak akan mengambil keputusan apapun tanpa izinmu."
"Aku bersedia menjebatani untuk tugas akhirmu, besok aku bawa gambar-gambar ini ke kantor. Tapi kamu harus janji bisa menepati omongan kamu."
"Iya, beneran Mas ngebolehin aku masuk ke perusahaan. Thanks you hubby." Yuki langsung menubruk tubuh Asher, memeluknya dengan wajah berbinar.
Ternyata membuat istrinya bahagia semudah itu, hanya untuk menyenangkan hatinya Asher harus rela berbagi waktunya. Impiannya simple sekali hidup yang bahagia bersama Yuki dan anak-anaknya. Asher cukup mampu membiyayai kehidupan yang layak untuk mereka jadi apakah terlalu egois untuk dirinya bila tidak begitu menyukai kalau istrinya ikut bekerja.
"Besok aku bisa dong datang ke kantor, bukan untuk mengantar katering ya?" selorohnya.
"Sekalian, datang jam makan siang aja bawain makan siang buat aku. Aku pingin makan makanan masakanmu saja setelahnya kita bahas masalah kantor."
"Oke baiklah," jawab Yuki antara senang dan juga sedikit kesal.
Asher ya tetap Asher sesayang apapun dia tetap pribadi yang keras dan tipikal yang tidak bisa di bantah. Yuki lebih baik mengalah dari pada harus debat. Baginya hidupnya terlalu lelah hanya untuk mengejar impian. Karena sejatinya impinya itu sama tak jauh berbeda dari suaminya. Hidup bahagia bersama keluarganya.
"Aku ada satu permintaan lagi kalau kamu minta di acc?"
"Apa?" tanyanya penasaran.
"Nggak boleh nolak kalau aku lagi 'pingin minta', kapanpun aku mau di manapun kita berada."