Salah Meminang

Salah Meminang
Part 53


Asher sempat khawatir sebab di perjalanan menuju rumah Mama Rianti Yuki menampakkan wajah yang murung. Nggak jadi apa gimana hm? rasa lapar dan lelah membuatnya sedikit kesal namun ia tentu harus bisa menguasai emosi dirinya. Jangan sampai membuat Yuki merasa tidak nyaman.


Kami tiba di rumah Mama sudah pukul delapan malam. Mama menyambut Yuki seperti biasa dengan penuh kehangatan.


"Assalamu'alaikum...."


"Waalaikum salam.... "


"Ma, Pa, maaf datangnya terlalu malam, jadi nungguin lama ya Ma." Yuki berhambur dan langsung di sambut dengan sayang oleh Mama Rianti lalu mencium punggung tangan ke dua orang tua Asher dengan takzim.


"Maaf Ma tadi di kantor lagi lumayan sibuk."


"Iya sayang nggak papa yang penting sekarang kan udah sampai."


"Udah makan?"


"Belum Ma, malah belum sempat makan dari tadi siang."


"Lho mas belum makan? kerja boleh tapi jangan lupa makan dong mas. Kesehatan harus dijaga."


"Iya sayang, terimakasih sudah perhatian." Asher mengulum senyum melihat Yuki yang tiba-tiba sedikit mengkhawatirkan dirinya.


"Ya sudah ayo makan dulu, kita juga belum makan sengaja nungguin kalian."


"Menantu kesayangan... sini sayang... masuk, Mama udah masakin yang enak-enak nih. Kita makan malam sama-sama."


"Iya Ma terimakasih, maaf ya Ma jadi ngrepotin Mama nyiapin makan malam banyak banget."


"Lho ya nggak repot sama sekali dong sayang... Mama tuh seneng banget Yuki datang kesini, Mama berharap mau nginep malah."


"Sayang malam ini kita tidur di rumah Mama aja ya atau sekalian aja mulai dari sekarang tinggal di sini." Yuki terlihat sedang menimbang-nimbang


"Iya sayang tinggal disini ya? temenin Mama, Mama kesepian kalau Papa lagi kerja. Lagian biar Mama dan Asher bisa jagain kamu


"Untuk malam ini dulu aja Ma, mas selebihnya aku harus bilang sama Ayah secara langsung."


"Iya besok kita ngobrol ini ke Ayah." Asher berkata sambil mengelus puncak kepalanya.


"Ayo makan mau lauk pakai apa?" tawar Asher dan hendaklah mengisi piring Yuki.


"Kayaknya kebalik deh Mas, seharusnya aku yang ambilin kamu bukan kamu yang ambilin aku."


"Nggak papa sayang, you are my queen tonight." Jawab Asher mantap dan membuat seketika Yuki menarik sudut bibirnya menampilkan senyum.


Setelah acara makan malam selesai kami masih bercengkrama di ruang keluarga. Yuki senang Papa dan Mama Asher sangat baik, ia bahkan sudah tidak sabar menanti kehadiran cucu Daharyadika yang pertama.


"Sayang belum ngantuk? aku ngantuk nih...." Rengek Asher


"Bentar Mas, aku lagi asyik ngobrol sama Mama." Yuki merasa tidak enak kalau kalau harus ke kamar dulu sedangkan Mama Rianti masih semangat bercerita.


Sepertinya Mama Rianti mengerti gelagat Asher yang menginginkan berdua saja, dan ingin segera mengurung Yuki di kamarnya. Ia pun bangkit lalu mempersilahkan menantu kesayangannya itu beristirahat.


"Sayang ngobrolnya lanjut besok ya, udah malam kamu pasti cape butuh istirahat."


"Iya Ma, makasih untuk jamuan hari ini."


"Oke sayang jangan sungkan dong, anggap ini rumah sendiri."


Yuki dan Asher meninggalkan ruang keluarga dan segera menuju kamarnya.


"Aku mandi dulu sayang, gerah."


"Sekali ini aja sayang, nggak bisa tidur kalau lengket gini."


Asher segera melangkah ke kamar mandi sementara Yuki duduk di tepi ranjang dan mengambil handphone nya. Ia mengabari orang rumah bahwa hari ini tidak pulang dan menginap di rumah Mama Rianti.


Ceklek


Asher menyembul dari balik pintu kamar mandi dengan muka yang segar dan rambut basah. Ia hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawah nya saja. Asher melirik Yuki yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Sepertinya istrinya itu tengah sibuk ber chat ria.


Setelah memakai kaos lengkap dan celana pendek khas rumahan, Asher segera menyusul Yuki merangkak ke atas ranjang. Lalu duduk di samping Yuki yang masih setia dengan ponselnya tanpa menoleh.


"Sayang... ayo tidur, udah malam ini." Ucap Asher, ia meninggalkan jejak di kening istrinya lalu merebahkan dirinya di samping Yuki yang masih duduk dengan bersandar pada headboard.


Melihat Asher yang sudah rebahan dengan memiringkan badannya menghadapnya dan tangannya yang terus mengelus perut Yuki membuat Yuki seketika menaruh ponselnya dari genggaman ke dalam laci nakas.


"Tidur mas sudah malam." Ujar Yuki kemudian padahal dirinya juga susah tidur.


Hamil tua ternyata sangat luar biasa. Miring kanan salah, miring kiri nggak nyaman apalagi telentang lama nggak boleh, auto bengek dan sakit pada perut.


Huhf...


Rasanya nano-nano. Jadi begini ya rasanya hamil tua luar biasa.


"Kamu kenapa belum tidur sayang?" Asher yang merasa pergerakan kasurnya di sampingya membuat ia membuka mata seketika.


"Tempatnya nggak nyaman ya?" sambung Asher lalu bangkit dari pembaringan posisi duduk.


Asher pikir mungkin karena ini baru pertama Yuki tidur disini makanya ngerasa nggak nyaman. Padahal nggak sama sekali, malahan ini kasurnya empuk banget lebih empuk dari yang ada di rumah.


"Tempatnya nyaman Mas, cuma aku nya aja yang nggak tahu kenapa susah tidur."


"Kamu cape? haus atau mau makan sesuatu." Yuki menggeleng lalu mengangguk membuat Asher mengulum senyum sekaligus bingung.


"Tiduran aja biar mas pijetin kakinya kalau capek? atau mau makan apa biar mas ambilin."


"Mau minum mas haus, biar aku ambil sendiri aja. Kamu istirahat aja besok ngantor kan?"


"Iya nggak pa-pa kamu duduk aja ya biar aku ambil air putih yang hangat."


"Beneran nggak pa-pa sayang, udah diem disini tunggu mas." Yuki mengangguk patuh lalu iya duduk menunggu suaminya kembali ke kamarnya.


Tidak menunggu lama Asher pun datang dengan membawa segelas air putih hangat.


"Ini sayang, minum dulu."


"Makasih Mas," Yuki menerima gelas dari Asher dan segera meminumnya hingga setengahnya, lalu Asher segera meraih gelas habis Yuki dan menaruhnya di atas nakas.


"Udah tidur aja mas pijetin kakinya ya sayang kalau capek." Ujar Asher lalu membantu Yuki berbaring miring.


"Nggak usah mas, kamu juga capek kan istirahat aja."


"Capek dan lelahku untukmu sayang, semua akan sirna begitu melihat senyuman mu terbit."


Duh manisnya, nggak kuat aku kalau di perlakuan seperti ini.


Yuki masih merasa sungkan walaupun Asher sudah banyak berubah, namun tidak bisa di pungkiri hatinya begitu bahagia menerima setiap perhatiannya. Dia benar-benar menunjukan sifatnya yang sangat lembut dan begitu sabar.


Seperti malam ini Asher bahkan memijit kaki Yuki sampai istrinya itu terlelap. Padahal dia sendiri pasti capek tapi dia tetap memperhatikan dirinya yang entah mengapa membuat hatinya menghangat seketika.


Setelah memperhatikan istrinya yang sudah terlelap dengan nafas teratur, barulah ia bisa tidur dengan nyaman dan tenang.