Salah Meminang

Salah Meminang
Part 58


Yuki merasa harinya begitu cepat, rasanya baru kemarin ia dinyatakan hamil eh sekarang udah sembilan bulan aja. Walau begitu perempuan itu merasa agak khawatir dengan keadaan dirinya dengan semua kemungkinan yang mungkin saja bisa terjadi saat seseorang hamil tua.


"Sayang makan nya dihabiskan?" Titah Asher lembut.


"Aku kenyang Mas, nggak mood makan lagi." Keluh Yuki merasa menyesal melihat isi piringnya yang masih ada separonya.


"Mas suapin harus makan, dikit lagi."


"Mas... aku kenyang sayang...." Yuki memberengut.


"Oh ya sudah kalau kenyang," final Asher mengalah.


Mama Rianti yang berada di antara mereka pun cukup senang melihat tingkah anaknya yang cukup perhatian.


"Ma, Yuki ke kamar dulu ya?" Pamitnya dengan Mama Rianti yang masih merampungkan acara makan siangnya.


"Iya sayang, istirahat saja. Kalau malas makan nasi bisa di ganti dengan buah atau cemilan."


"Iya Mah nanti saja, masih kenyang."


Yuki merasa kepalanya sedikit berat dan siang ini ia putuskan untuk istirahat di kamar.


"Ayo sayang naiknya pelan-pelan." Asher memapah Yuki yang berjalan kepayahan menaiki anak tangga.


Kalau normalnya orang akan sampai dalam hitungan detik berbeda dengan Yuki sekarang yang membutuhkannya waktu sedikit lebih lama sebab kehamilannya yang sudah membesarkan menyebabkan ia harus berjalan pelan dan tentunya hati-hati.


Ceklek


"Mas... kamu temenin aku sampai tidur ya?" Entah mengapa Yuki merasa pergerakan bayinya hari ini sedikit berkurang dari biasanya. Ia juga merasa sedikit mual sepertinya masuk angin.


"Mas aku mau ke kamar mandi." Yuki berdiri dari pembaringan seperti biasa Asher akan siap sedia membantu Yuki berdiri dan menyiapkan sendal untuk nya.


"Ayo sayang pelan-pelan saja," Asher menginterupsi.


Sesampainya di kamar mandi Yuki merasakan bertambah pusing dan sedikit mual. Asher masih setia di dekatnya seperti biasa pria itu akan dengan telaten menemani istrinya di dalam.


"Kamu kenapa pucet?" Tanya Asher khawatir.


"Aku mual Mas, sepertinya masuk angin."


Asher kembali memapah Yuki yang berjalan menuju ranjang. Pria itu membantu istrinya berbaring di kasur, ia sedikit menumpuk bantal lebih tinggi agar tidur miring sang istri terasa nyaman.


"Udah bobok dulu sayang istirahat, nanti kalau masih ngerasa pusing dan nggak enak badan kita ke Dokter. Ibu hamil besar bahaya tidak boleh demam apalagi panas." Ujarnya fasih menirukan ala-ala wejangan Dokter Dara.


Sebelum merapikan selimut dan meninggalkan jejak di kening istrinya. Asher lebih dulu mengecek suhu tubuh Yuki yang masih di angka normal. Kini ia juga bisa istirahat setelah seharian bermain dengan bumil ternyata cukup lelah juga.


Namun bukan Asher namanya kalau bisa diam. Begitu di rasa cukup aman dan nyaman, ia segera duduk di samping istrinya yang terlelap dan bersiap memangku laptopnya. Ia Asher akan bekerja dari rumah. Siap mengecek berkas yang dikirim via email.


Setelah kemarin-kemarin sempat klimpungan dan nyaris gulung tikar, untung ada Papa yang siap menalangi dana perusahaan miliknya. Kehidupannya kemarin yang kacau sedikit banyak cukup menyita perhatianya jadi sudah barang tentu berimbas pada efek kerjanya. Bisa di hitung dengan jari ketika pria itu merasa jengah ia akan dengan santainya meninggalkan kantor begitu saja.


Efek domino yang terjadi pada keluarganya mampu di tangani tanpa harus menyebabkan Yuki nya tersakiti lagi. Ia tentunya berperan besar sebagai pemain utama atau yang meng-handle segalanya. Ia sempat takut Yuki akan merasa trauma sepanjang waktunya sebab dengan semua kemalangan yang terjadi pada hidupnya.


Untung saja Tuhan memberikan kesempatan ke dua untuk mereka sehingga Asher mempunyai kesempatan untuk memperbaiki nya yang keliru semasa menjadi suaminya.


Setelah berkutat dengan laptop berjam-jam akhirnya pekerjaan hari ini di anggap selesai saja. Ngomong-ngomong Yuki sudah bangun dari tadi loh. Wanita itu masih tiduran dengan tangan memeluk suaminya yang masih berkutat setia dengan laptopnya.


Tangan kanan sibuk bermain di atas keyboard laptop sedang tangan yang lainya menggenggam erat tangan Yuki yang menempel di perutnya. Sweet sekali mereka ya? Sesekali bibirnya mampir di puncak kepala istrinya memberikan sentuhan hangat yang mampu memberikan efek damai untuk ke duanya di sepanjang harinya.


Moodbooster nya bang Asher ya gitu, ia akan menjadi cowok paling manis sekomplek atau mungkin seibu kota bila sudah berdekatan dalam radius tanpa jeda.


Setelah mematikan tombol shut down pada laptopnya, ia mengemas dan menaruhnya di atas nakas tanpa mengalihkan posisi duduknya. Jangan tanyakan keberadaan tangan Yuki sekarang sebab tangan itu masih menempel sempurna memeluk perutnya.


Bumil hari ini benar-benar menempel bak perangko sampai-sampai kemanapun harus di dekte pawangnya.


"Mau kemana Mas," tanya Yuki ketika Asher dengan sengaja melepaskan cekalan tangan Yuki yang masih melingkar di pinggangnya.


"Mandi sayang, gerah," ucapnya jujur.


"Aku ikut, aku juga mau mandi." Jawabnya santai tanpa memperhitungkan apa yang akan terjadi setelahnya.


Asher mengangkat satu alisnya, senyum iblisnya muncul dari sisi tampannya.


"Oh ya tentu boleh dong sayang, ayo mandi bareng."


"Kamu mandiin aku dulu terus kamu setelahnya."


"Ayo sayang jangan bengong... katanya mandi?" Yuki menyeret tangan Asher dan membawanya ke kamar mandi.


"Sayang... calon Ayah sekalian nengokin baby nya boleh?" Pintanya dengan tatapan memohon. Kalau sudah begini mana ada laki-laki normal yang tahan.


"Nggak boleh, lagi nggak mood begituan." Salaknya sengit yang tentu saja membuat senyum tampan pria itu memudar seketika. Bagaimana jadinya nasib dirinya kalau hanya menyentuh saja tanpa tahan.


"Ah panas sayang, sesak yang dibawah sana udah nggak kuat."


"Ngomong apa sih Mas, belum juga ku buka bajunya. Nggak jadi ah aku mau mandi nanti saja." Yuki berjalan gontai ke luar dari kamar mandi tanpa merasa berdosa.


"Kamu kenapa ngikutin aku?" Tanya Yuki pura-pura bodoh dengan situasi yang sedang terjadi padahal udah kelihatan banget suaminya menatap dengan sayu.


"Minta dulu..." Rengeknya tak mau pergi dari hadapan Yuki. "Tanggung jawab dulu sayang please... sumpah nggak kuat."


Dengan gerakan terlatih ia mulai merapatkan diri setelah istrinya mengangguk pasrah. Membawa Yuki mengarungi lembah sungai kenikmatan yang tidak pernah akan puas di rengguknya.


Setelah mereka benar-benar merampungkan kegiatan panasnya. Ke duanya menutup dengan mandi basah bersama. Asher puas Yuki senang begitulah semboyan yang cocok di sematkan untuk ke duanya saat ini.