Salah Meminang

Salah Meminang
Part 57


Sudah satu bulan mereka tinggal di rumah Mama Rianti. Asher sebelumnya juga mengajak Yuki untuk tinggal berdua saja namun Yuki belum mau, dan Asher tidak mempermasalahkan itu, yang penting antara dirinya dan Yuki tinggal satu atap, Asher udah sangat bersyukur.


Selama satu bulan tinggal di rumah Mama Rianti, Asher benar-benar menjadi suami siaga. Dia membantu istrinya mengerjakan semuanya, mulai dari keperluan untuk Yuki sampai keperluan dirinya ia kerjakan sendiri.


Mengingat kehamilan Yuki yang sudah memasuki usia sembilan bulan, Asher hari-harinya dilingkupi rasa cemas yang mendalam, sebab ia sebentar lagi akan melihat istrinya yang kesakitan saat melahirkan, dan yang ke dua tentu saja rasa haru dan bahagia sebab dirinya benar-benar akan menjadi seorang Ayah.


Mengingat dirinya anak satu-satunya di keluarga Daharyadika, sudah barang tentu kehamilan Yuki adalah merupakan cucu yang pertama dan itu baik Mama Rianti maupun Papa Dika sangat bersemangat dalam menyambut calon cucu mereka.


"Sayang mau kemana?" tanya Mama Rianti cemas begitu melihat Yuki tengah malam menuruni anak tangga.


"Nggak ke mana-mana Ma, ambil minum haus?" jawab Yuki sambil berjalan ke arah dapur.


"Lho Mama kok belum tidur?" tanya Yuki kepo sebab sudah hampir jam dua belas malam mamanya masih terjaga.


"Mama belum bisa tidur sayang. Mama juga baru ambil minum. Ya sudah Mama ke kamar lagi ya?"


Tiba-tiba Asher datang dengan wajah cemas, ia setengah berlari untuk sampai turun ke bawah.


"Sayang, kamu di sini? Aku cariin juga," tanya Asher panik yang tadinya kesal menguap begitu saja ketika bertemu dengan orangnya.


"Mas, kamu ngapain bangun? Aku ambil minum mas."


"Kenapa nggak bangunin aku, hm? 'Kan Mas udah bilang jangan sungkan kalau butuh apa-apa bangunin aku," jelas Asher panjang lebar.


"Maaf Mas, kamu tidurnya nyenyak banget, lagian 'kan juga belum lama tertidur, aku nggak tega buat banguninnya."


"Terima kasih sayang udah pengertian sama Mas, tapi besok nggak boleh gitu bikin senam jantung malam-malam. Mas trauma banget bangun tidur ditinggalin sama kamu."


"Iya Mas ku sayang ... udah, ayo tidur lagi udah malam." Mereka berjalan ke arah kamar dan kembali istirahat.


Keesokan paginya saat Asher terjaga, ia melihat Yuki masih bergelung selimut tebalnya dengan nyenyak. Asher bangkit dari kasur, namun sebelum ia turun dari ranjang ia meninggalkan kecupan singkat di kening istrinya. Sudah menjadi kebiasaan Asher setiap pagi sesudah tidur dan malam sebelum tidur ia pasti akan mencium Yuki terlebih dahulu.


"Selamat pagi sayang ...." ucap Asher singkat terus turun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi.


Berhubung Yuki masih tertidur dengan nyenyaknya, setelah mandi Asher mencari baju gantinya sendiri. Biasanya setelah Asher terbangun dan mengucapkan selamat pagi, Yuki akan mengikuti bangun tapi kali ini tidak, bahkan bumil itu masih terlihat damai di bawah gelungan selimutnya.


Asher mendekat ke arah ranjang, ia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak istrinya sedikitpun, karena ia tahu setiap malam Yuki sudah susah untuk terlelap. Bentar-bentar bangun menuju kamar mandi. Begitulah hamil tua terlihat sangat kepayahan bagi penglihatan mata pria. Maka dari itu, Asher benar-benar ingin menjadi suami siaga untuknya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi dan Asher sudah siap dengan baju kantornya ketika Yuki membuka mata.


"Kalau masih ngantuk tidur lagi aja sayang, Mas bisa kerjain semuanya sendiri." Jawab Asher tenang melihat istrinya yang langsung terbangun dan hendak turun dari ranjang.


Asher membantu Yuki dengan menyangga tubuhnya dan menyiapkan sendal untuk di pasangkan di kedua kakinya, katanya supaya tidak dingin bila kakinya bersentuhan dengan keramik. Begitulah Asher dia benar-benar sangat manis memperlakukan Yuki sejauh ini.


"Makasih Mas," Yuki berdiri dari bibir kasur dan berjalan gontai menuju kamar mandi.


Setelah selesai dengan ritual mandi pagi Yuki segera berganti baju. Tapi hari ini ada sedikit rasa yang berbeda ketika Asher hendak berangkat kerja, ia seperti tidak ingin berpisah dengannya barang sedetik pun. Alhasil ketika Asher hendak pamit Yuki masih bergelayut manja di lengannya.


"Kenapa sayang... hm... kok pagi-pagi cemberut gini." Goda Asher demi melihat istrinya masih enggan melepas tangannya.


"Mas bisa nggak kalau hari ini nggak usah masuk kerja, aku mau di temenin seharian ini." Ucapnya sambil malu-malu walaupun ini bukan yang pertama Yuki bertingkah aneh seperti itu.


"Jadi ceritanya mau memonopoli aku seharian nih... boleh? tapi nanti aku dapat apa kalau temenin kamu seharian di kamar?" Seloroh Asher sambil menaik turunkan alisnya.


"Ih... genit ih, kok hobby banget minta imbalan, kesannya nggak ikhlas banget nemenin istrinya seharian." Suaranya mulai terdengar melow dan ini sungguh membuat Asher siaga satu. Kalau sudah begini ngalamat bumil ngedrama nangis sapanjang hari dan ini akan sangat menguji kesabarannya.


Karena kadang Yuki bersikap absurd yang menurutnya sangat patut di hindari bagi pria dingin seperti dirinya, seperti seharian melakukan aktivitas sesuai keinginannya. Hal contoh yang pernah terjadi Asher harus menyanyi sambil mengelus perut istrinya sampai Yuki puas dan itu sering terjadi bukan hanya sekali, atau menyuruhnya berjoget di depannya dengan gaya nyelneh asalkan Yuki bahagia, kalau sudah begini si Asher calon Ayah itu hanya bisa nurut dan banyakin stok sabarnya.


"Eh, jangan ngambek dong sayang... iya iya aku temenin, aku nggak ngantor deh hari ini." Final Asher kemudian yang diikuti lengkungan manis bibir istrinya.


"Asyik... beneran ya hari ini kamu milik aku seorang." Ucap Yuki senang dan langsung melepaskan cekalan lengannya.


Ia berjalan gontai menuju kasur dan duduk di bibir ranjangnya.


"Sini Mas, duduk di bawah sini menghadap sana." Yuki mengarahkan Asher untuk duduk di bawah lantai dan memunggungi dirinya, duduk di bawah Yuki, duduk dengan posisi Asher di lantai berselojor dan Yuki di bibir kasur dengan kaki bergelantungan.


"Diem ya sayang... aku mau kuncirin rambut kamu." Ucapnya serius namun calon Ayah itu hanya bisa menurut dan pasrah saja ketika rambutnya mulai di bentuk sesuai keinginan Yuki bagai mainan yang lucu untuk dirinya.


Ingin marah tidak bisa apalagi menolak keinginannya. Hal random paling aneh dalam sejarah hidupnya. Ia akan menurut apa saja yang di katakan Yuki selama ia mampu mengerjakan. Namun dalam hati kecil Asher dia tetap tersenyum bahagia melihat senyumannya. Senyum istrinya yang sangat berharga bagi dirinya. Dan mungkin hal-hal nyelneh seperti ini hanya akan di temui pada saat Yuki hamil saja mengingat sebenarnya istrinya itu wanita yang tidak neko-neko.


"Sayang ini beneran aku di kuncirin, nggak boleh di lepas entar aku jadi jelek loh." Ujar Asher memelas tapi entah mengapa malah terlihat lucu di mata Yuki, sehingga tak tahan untuk tidak tertawa.


"Nggak boleh, ganteng kok gaya terbaru untuk calon Ayah baru, sini sayang jangan cemberut kita selfi dulu..."


Ces.. stay... cekrek cekrek


"Ih... senyum dong... ulang-ulang, harus senyum ya..." Hahaha