Salah Meminang

Salah Meminang
Part 61


"Apa sayang, mau apa?" Asher mendekat.


"Pingin ke kamar mandi tapi takut," cicitnya merasa canggung.


"Ayo aku gendong, minta ditemenin 'kan?"


"Bukan itu Mas..." Asher menautkan alisnya.


"Hm ... nggak pa-pa jangan ditahan nanti ngompol di sini gimana hayo?" selorohnya mencoba mengenyahkan pikiran yang membuatnya ngilu.


Gimana tidak ngilu coba sebagai seorang perempuan itu habis melahirkan terus di jahit kembali kan pasti perih tuh, apalagi baru beberapa jam yang lalu. Asher sendiri masih nggak sanggup ngebayanginnya, ini adalah salah satu kenapa para suami harus menambah rasa sayang terhadapnya. Istrinya rela sakit berjuang untuk anak kita, super sekali semua kaum Ibu itu ya?


"Jangan digendong aku bisa jalan sendiri." Yuki meringis ketika turun dari ranjang, terasa sulit untuk berjalan.


"Ayo pegangan sayang kalau nggak mau digendong kamu masih lemes lho ini." Yuki mengangguk membiarkan Asher memapahnya.


"Kamu keluar Mas, aku malu," usir Yuki halus.


"Aku sini aja, kamu nggak boleh di ltinggal sendirian."


"Nggak mau, cepet keluar dulu." Asher mengalah walaupun dia khawatir tetapi ia tahu Yuki merasa tidak nyaman di bawah pengawasannya.


"Aku tunggu di depan pintu, jangan dikunci kalau butuh bantuan jangan ragu. Aku ini suami kamu, semua yang menempel pada tubuhmu adalah milikku jadi kenapa harus malu," ujarnya percaya diri.


"Iya, iya cerewet banget sih, udah sana keluar awas jangan ngintip."


Sudah dari sepuluh menit berlalu, tetapi Yuki masih di dalam kamar mandi. Asher tidak tahan untuk berdiam diri saja.


"Sayang ... udah belum?" teriak Asher khawatir, dia terpaksa menggedor pintunya. Yuki keluar kamar mandi dengan menyembulkan kepalanya saja.


"Udah? Ayo sini keluar." Yuki menggeleng sebagai jawaban.


"Belum? Kenapa, sakit banget, aku masuk ya?" tanya pria itu khawatir.


"Eits jangan ... aku minta tolong mau?" ucapnya ragu.


"Apa sayang, hmm ... ngomong yang jelas."


"Tolong ambilkan pembalut, Mas," bisik Yuki sepelan mungkin takut mama dan papa mertuanya yang sedang bercengkrama di sofa mendengar.


"Oh ... itu, kenapa nggak bilang dari tadi."


"Mas," Asher yang hampir berbalik menoleh lagi. "Dua ya." Asher melangkah ke sisi ranjang ia membongkar tas pribadi Yuki dan mengambil benda keramat tersebut.


"Astaghfirullah ... kebiasaan ih dari dulu nggak pernah ketuk pintu." Yuki kaget setengah mati ketika Asher tiba-tiba masuk ke kamar mandi dengan pedenya.


"Sorry sayang, besok nggak lagi deh, janji. Ini ganti dulu."


Yuki mengambil benda tersebut dari tangan suaminya. "Kamu keluar dulu," usirnya sambil mendorong tubuh Asher agar menjauh dari ruangan 1× setengah meter persegi tersebut.


***


"Iya Mas, 'kan emang harus dikasih ASI setiap dua jam sekali," jawanya bijak.


"Gitu ya sayang, kenapa harus dua jam sekali nggak empat atau lima."


"Karena bayi usia 0 sampai tiga bulan membutuhkan kalori yang tinggi untuk tumbuh kembang tubuhnya Mas," jawab Yuki sambil mulai mengASIhinya.


"Pinter banget kamu sayang," Asher duduk di tepi ranjang tepat di belakang Yuki duduk, tangannya terulur mengacak rambutnya dan meninggalkan kecupan di kepala istrinya.


Keduanya sedang asyik bercengkrama ketika pintu kamar inap di buka. Seorang gadis seumuran istrinya yang datang, dia adalah Gea sahabat Yuki, tetapi yang membuat Asher sedikit tidak suka perempuan itu membawa Amar besuk bersama.


"Assalamu'alaikum ...." Salam gadis itu riang.


"Waalaikumsalam ...." Yuki begitu excited menyambut sahabatnya hingga tanpa sadar membuat Asher sedikit cemburu, lebih tepatnya kepada Amar.


"Selamat beb udah jadi ibu yang sempurna, gue seneng banget waktu lo ngabarin udah lahiran." Kedua sahabat itu saling cipika cipiki, lalu Gea duduk di bibir ranjang membuai pipi si mungil Sky.


"Selamat Ki atas kelahiran anak kamu, aku senang kamu bahagia." Amar sedikit mendekat lagi-lagi dia mengacak rambut Yuki dengan sayang.


"Khem ....!" Dehem Asher kesal melihat Amar yang dengan kurang ajarnya selalu bersikap manis dan menyentuh istrinya.


"Eh, ada Pak Asher? Sampai lupa. Senang bertemu denganmu Pak." Sapa Amar dengan nada yang apabila didengar Asher seperti tidak suka, penuh dengan penekanan dan terkesan terlalu nglunjak sebagai seorang rekan atau teman dari istrinya.


"Iya lah aku di sini, 'kan aku suaminya," jawabnya ketus sambil mendekati Yuki dan menghilangkan jejak tangan Amar di kepalanya. Asher mengusapnya lalu mencium dengan sayang di depan mereka. Dalam seperkian detik membuat tatapan pria itu sangat berbeda.


"Ih bayi kamu lucu banget ... mirip sama kamu ya?" Suara Gea lebih mendominasi di ruangan sehingga cukup mencairkan suasana tegang di antara mereka berdua.


Selang beberapa menit dia dibesuk, ada keluarga Yuki yang datang. Ada Ayah, Bunda dan juga ... Zura.


Bunda langsung memeluk Yuki dengan sayang, diikuti ayah yang mendaratkan ciuman di kepala Yuki dan bayi mungilnya penuh haru. Lalu Bunda mengambil Sky dari buaian Yuki untuk dibawa duduk di sofa berkumpul bersama Mama Rianti dan Papa Dika, mereka begitu bersemangat dan senang karena Sky adalah cucu pertama untuk mereka semua.


Sementara para orang tua bercengkrama ria, di sisi Yuki juga tengah asyik Gea dengan celotehnya. Yang sesekali menimbulkan gelak tawa diantara ke duanya. Berbeda sekali dengan Asher dan Amar yang hanya berdiam mengamati obrolan mereka yang menurutnya biasa saja.


Pikiran Zura langsung bisa membaca situasi yang tengah terjadi dengan pandangan Amar yang menatap Yuki secara terus-menerus dengan tatapan penuh makna.


"Ki ... aku bawain buah-buahan buat kamu? Mau coba yang mana biar aku kupasin?" tawar Amar yang langsung mendapat tatapan tajam Asher.


"Makasih Amar jadi ngrepotin, aku nanti ambil sendiri aja masih belum mau makan apa-apa," tolaknya halus.


"Nggak usah dimanis-manisin senyumannya, aku nggak suka kamu senyum buat dia," bisik Asher lirih tepat di belakang telinganya.


Yuki mengusap lengan suaminya, mencoba meyakinkan dengan isyarat tangan. Mengetahui situasi yang kurang kondusif, Gea berujar pamit, gadis itu berjanji besok akan datang kembali sendirian tentunya, agar bisa puas mengobrol dan keinginan itu iya utarakan melalui pesan singkat whatsapp.


"Beb, pulang dulu ya? Baik-baik dan sehat selalu pastinya," pamit Gea saling berpelukan.


"Aku pulang dulu Ki ... cepet pulih cepet sehat biar kita bisa jalan lagi." Amar emang rese, hobby banget mancing-mancing di air keruh.


"Nggak usah sentuh istri saya." Kali ini Asher benar-benar bersuara setelah kedua kalinya Amar mendekat dan hendak mengusap rambut Yuki. Tangannya langsung ditepis Asher dengan kasar.


"Sorry Pak, saya suka terlalu jujur." Kilahnya tanpa merasa berdosa. Gea langsung menyeretnya keluar dari kamar inap yang membuatnya sesak napas.