
"Jadi istri saya sakit apa Dokter? kenapa bisa tiba-tiba pingsan?"
"Istri Bapak kecapaian, tekanan darahnya sangat rendah, dan terlihat banyak tekanan, seperti ketakutan dan cemas ini yang menyebabkan turunnya tekanan darah dan detak jantung. Kalau prediksi saya sepertinya istri Bapak sedang hamil muda jadi saya sarankan untuk periksa lanjutan ke dokter obgyn." Keterangan panjang lebar dari Dokter dengan name tag Anggi.
Asher masih manggut-manggut paham sejurus kemudian dia baru bisa mencerna semua perkataan Dokter dengan cermat.
"Hah! HAMIL Dok? beneran? alhamdulillah...." Mata Asher berbinar senang.
"Sebaiknya untuk lebih memastikan di lanjutkan pemeriksaannya."
"Lakukan yang terbaik Dok, siap." Seperti menemukan jawaban dari sekian doa yang di gumamkan. Rasa bahagia yang membuncah langsung terpancar dari diri Asher yang hampir putus asa.
Ia berjalan keluar dengan hati bahagia. Sempat menelfon mama untuk mengabari kabar paling spektakuler dan menggetarkan jiwa dan raga. Bagaimana tidak dirinya akan menjadi seorang ayah dalam waktu dekat dan tentunya akan tetap bersama dengan istrinya.
Namun itu terjadi sementara sebab ketika ia kembali ke ruang perawatan di sana sudah ada Amar yang menunggu Yuki dengan duduk di kursi samping ranjang dengan tangan mengenggam erat tangan Yuki yang masih damai terlelap.
"Breng sek!" umpat Asher kesal, ia berjalan mendekat dengan langkah lebar. Asher langsung menarik tangan Amar dengan kuat dan menyeretnya agar keluar dari ruangan.
"Heh! Ini peringatan buat elo ya! Jangan deketin istri gue lagi. Atau gue bakal laporin elo ke kantor polisi karena mengganggu rumah tangga orang lain!" sarkas Asher marah, keras penuh penekanan, dia mencengkram kerah Amar dengan kuat.
"Gue nggak takut, laporin aja sana!" tantang Amar tak kalah sengit. "Gue dan Yuki sudah dekat dari sebelum lo mengakui dia jadi istrinya. Jadi gue bakalan maju terus sampai dapat."
"Lo nggak bisa maju karena gue nggak bakalan akan melepas. Dan ingat, camkan baik-baik Yuki sedang mengandung anak gue jadi lo jangan coba-coba bermimpi untuk mendapatkannya. Seujung kuku pun gue nggak akan ngebiarin lo menyentuhnya."
Asher mendorong Amar dengan cengkraman ke arahnya. Pria itu terlihat kaget dan shock begitu mengetahui kenyataan pujaan hatinya, orang yang selama ini dicintainya sedang hamil. Ia diam memaku di tempatnya, namun itu hanya bersifat sementara sebab ia kembali bangkit dan berkata lantang.
"Aku tidak peduli dia sedang hamil sekalipun, aku mencintai Yuki jiwa dan raga, semua yang ada pada dirinya termasuk kehamilannya. Gue bakalan terima. Lo memang bapak biologisnya tapi gue bakal jadi bapak sambungnya. CAMKAN!!" geram Amar lantang
Asher bersiap untuk maju hendak meringsek tubuh Amar dan mungkin akan membunuhnya. Namun suara nyaring Mama Rianti menghentikan langkahnya.
"Asher... jangan!! jangan main hakim sendiri, ini bisa merugikanmu sayang. Kamu mau di tuduh penganiayaan terus masuk penjara? terus membiarkan Yuki hidup sendiri tanpa kamu di sampingnya." Asher menggeleng lemah, ia menurunkan kadar emosinya dan mundur teratur menjauhi tubuh Amar yang sudah sempat di kuncinya. Hampir eksekusi.
Mama Rianti menenangkan putranya lalu memberikan kedua pria itu dengan sebotol air mineral yang sempat ia beli sebelum ke rumah sakit. Mama Rianti mengangsurkan untuk Asher terlebih dahulu.
"Minum dulu biar tenang." Ujar mama Rianti lalu berjalan mendekati Amar.
"Ini untukmu, minumlah supaya tenang." Mama Rianti memberikan satunya lagi botol yang tersisa. "Maafkan kelakuan anak tante." Asher melirik tak suka mamanya meminta maaf untuk dirinya. Jelas-jelas ia tak bersalah kekeh nya.
Akhirnya Amar pergi meninggalkan ibu dan anak yang masih terpaku saling tatap. Sebenarnya ia ingin sekali pergi ke ruangan Yuki, menjaga Yuki dan ada di samping nya namun karena situasi yang tidak memungkinkan akhirnya dengan berat hati ia pergi.
***
Yuki merasa dirinya tengah tertidur damai. Entah berapa lama ia tak sadarkan diri, terlempar dari raga yang di naungi. Yang Yuki tahu, saat dirinya terbangun sudah berada di tempat yang asing baginya. Kepalanya terasa berdenyut nyeri matanya sangat sulit untuk di buka.
"Yuki...."
Rungunya mendengar seseorang menggumamkan namanya. Suara seseorang yang tak asing baginya, seperti....?
"Yuki... kamu sudah sadar sayang."
Terdengar kembali suara itu. Akan tetapi untuk membuka matanya Yuki sangat berat. Yuki mencoba menggerakkan kembali jari-jari tangannya, dan berjuang keras agar mata itu bisa terbuka.
Suara derap langkah kaki yang mendekati nya, membuat Yuki lagi-lagi penasaran dengan apa yang terjadi pada dirinya. Dan saat Yuki mencoba dan berusaha keras mengerahkan kelopak mata, samar samar ia melihat cahaya bukan kegelapan lagi yang berada di alam bawah sadarnya.
Satu persatu orang yang yang berada di sekelilingnya dapat Yuki lihat meski tampak samar dan tidak nyata. Wajah samar Ayah dan bunda yang berada di samping ranjang, dan seorang lelaki yang menggenggam sebelah tangannya.
"Syukurlah kamu sudah sadar sayang..."
Yuki merasa genggaman tangan yang semakin kuat dan Asher lah yang melakukannya. Membuat ia merasakan aneh, ada perasaan hangat ikut menjalar di sekujur tubuhnya tapi juga ada rasa khawatir dan cemas. Entahlah?
Yuki berusaha mengendurkan genggaman tangan Asher. Ia mencoba untuk terduduk walau masih sedikit lemah. Asher terlihat langsung berdiri dan sigap membantu.
"Kenapa aku disini?" Tanyaku dengan kepala yang masih sedikit pening. Namun baru kemudian ia teringat kejadian beberapa jam yang lalu yang menyebabkan dirinya tumbang dan berakhir pingsan.
Yuki mengedarkan pandangan seperti ada sosok seseorang yang hilang dan sedang ia cari. Dan Asher tahu itu, Yuki pasti mencari Amar. Bukan apa-apa tapi ia merasa tidak enak sebab ia meninggalkan kantor di jam kerja. Amar sudah sangat baik padanya dan tentu ini akan sangat menyakitinya jika ia mengabaikannya.
"Yuki..." Mama Rianti seperti mengetahui kegelisahan pasangan suami istri itu. "Sepertinya mereka butuh waktu berdua, sebaiknya kita memberi ruang dan waktu untuk keduanya mengobrol bersama." Bunda dan Ayah membenarkan, apalagi mereka sudah di beri kabar Asher bahwa Yuki sedang mengandung anaknya.
Tinggalah Asher yang akan membicarakan ini berdua, ia berharap Yuki mau memaafkan dan menerima dirinya kembali dan tidak membenci kehamilannya. Asher paham, Yuki mungkin akan sedikit shok mengetahui kondisi dirinya mengingat seberapa ia sangat membenci suaminya saat ini.
Satu persatu orang-orang yang ada di ruang rawat meninggalkan tempat tersebut dan hanya menyisakan Yuki dan Asher. Setelah semua pergi dan barulah Asher membuka suara.